Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Melepas topeng di wajahnya


__ADS_3

“ Gila kamu, Za!” seru Mama Widya menggelengkan kepala. Didorongnya kertas berisi detail yang harus jadi jaminan itu. Total keseluruhannya tentu saja sangat fantastis , puluhan milyar.” Kamu berniat merampok Mama, hah?” 


“ Nominal ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kepentingan anak kesayangan Mama,” sahut Zavian dengan santai namun ada kesan mencemooh di dalam suaranya.” Bahkan Mama sempat ingin bunuh diri seandainya dulu Fabian tidak selamat. Itu artinya, harta tidak akan pernah sepadan dengan Mama yang berani bertaruh nyawa. Iya, kan, Ma ?"


Wajah santai , senyum mengejek dan kata-kata penuh sindiran itu terasa memuakkan. Wajah Mama Widya sontak memerah dalam sekejap. Dia tidak menyangka Zavian akan melakukan hal ini padanya. 


Kemana Zavian si anak baik yang selalu mematuhi setiap ucapannya ? Kenapa semuanya mendadak menyebalkan begini ? 


“ Kamu bersikap seperti ini pasti karena pengaruh Farhan atau Tania . Iya,’kan?” tuduh Mama Widya secara spontan.


“ Aku yang memutuskan semua ini sendiri tanpa perlu meminta pendapat siapapun,” jawab Zavian dengan tegas. 


“ Gak mungkin !” 


“ Ma…..” 


“ Siapa yang telah mempengaruhimu, Za? Katakan !” bentak Mama Widya dengan wajah merah padam yang tak kunjung surut. 


Kemarahan Mama Widya tidak terbendung lagi. Sudah lama dia ingin mendapatkan kepastian atas keinginannya tapi ternyata Zavian malah membuat segalanya menajdi rumit. Segala perjanjian dan juga jaminan berjumlah puluhan milyar itu benar-benar membuatnya murka. 


“ Aku tahu Mama tidak pernah menyayangiku sebanyak kasih sayang Mama pada Fabian. Aku juga tidak akan meminta  Mama untuk mengorbankan banyak hal, Tapi pernahkah Mama setidaknya memahami perasaanku? sedikit saja.” 


Ucapan itu sontak membuat Mama Widya terdiam. Dia beradu tatap dengan Zavian yang kini memancarkan raut kesedihan di wajahnya. Ada luka tak kasat mata yang terbaca jelas . 


Zavian yang selalu terlihat baik-baik saja kini melepas topeng di wajahnya. Dia menunjukkan sisi lain dari dirinya yang selama ini disembunyikannya . Segala kesedihan dan rasa saki yang selama ini ditahannya terlihat jelas. 


“ Katakan padaku, Ma. Selama ini Mama menganggapku sebagai apa ?”


“ Kamu anak Mama, Za,” ujar Mama Widya dengan hati-hati. Kemarahannya surut dan digantikan oleh perasaan yang mendadak tidak enak.


“ Kalau Mama memang menganggapku sebagai anak, pernahkah Mama mengingat hal-hal kecil tentangku?” tanya Zavian kemudian.


“ Kamu kenapa bicara seperti ini, sih?” tanya Mama Widya.


“ Hari ini aku ulang tahun,” ujar Zavian sambil menatap lurus ke arah Mamanya. Ada kegetiran yang terpancar jelas di sana.


” Umurku tiga puluh satu tahun sekarang. Tapi sepertinya Mama tidak pernah ingat kalau setiap tanggal 5 Juli telah melahirkanku ke dunia ini.” 

__ADS_1


“ Vian, bukan begitu…….” Mama Widya mencoba mengelak namun gagal. Dia tidak bisa menyangkal apapun karena nyatanya, dia memang melupakan hari ini sebagai tanggal ulang tahun Zavian. 


“ Mama datang ke sini bukan karena ingat bahwa pada hari ini ulang tahunku. Tapi karena Mama ingin menempatkan Fabian pada posisi bagus yang menurut Mama jauh lebih penting. Sikap Mama telah menjelaskan bahwa aku dan Fabian berada di kasta yang berbeda. Posisi Fabian di hati Mama jauh lebih tinggi dibandingkan diriku. Di dalam hati dan pikiran Mama hanya ada Fabian yag harus diprioritaskan. Sementara aku….”


“ Za, dengarkan penjelasan Mama.”


“ Aku hanya sebatas anak yang sudah mama lahirkan. Itu saja.”


“ Gak , Za. Mama juga sayang sama kamu, kok.” 


“ Benarkah?”


“ Iya ! Jangan meragukan rasa sayang Mama padamu !”


“ Sesayang apa ?” tanya Zavian lagi. Dia ingin tahu secara pasti. 


Mama Widya memerlukan waktu beberapa saat untuk berpikir dan jawabannya terdengar tidak natural. Sebuah kesalahan fatal yang semakin membuat Zavian merasa tersinggung. Karena setelah itu, segala ucapan Mama Widya terkesan dibuat-buat dan seperti sedang membujuk anak tantrum agar bersikap tenang. 


“ Bagaimana jika aku bunuh diri tidak bisa diselamatkan, apakah Mama juga ingin melakukan hal yang sama untuk menyusulku?” tanya Zavian kemudian.


“ Pembicaraan kita selesai ,” ucap Zavian setelah menunggu Mama Widya yang tak kunjung memberi jawaban atas pertanyaannya. 


Zavian kecewa dan dia menunjukkan perasaan itu secara terang-terangan. Ia berjalan cepat meninggalkan Mama Widya sendirian di dalam ruangan itu. Dia berputar melewati teras yang berdebu untuk sampai ke bagian belakang bangunan. Zavian membuka kancing kemejanya paling atas dan mengambil rokok untuk disulut ujungnya menggunakan korek. 


Semenjak Nayara hamil dan Zean lahir , Zavian sudah jarang sekali merokok. Dia bukan perokok aktif dan hanya akan melakukan sesekali saja , tapi akhir-akhir ini Zavian selalu menjadikan nikotin sebagai pelarian sesaat ketika pikirannya kalut. Seperti saat ini. 


Zavian bisa mendengar ucapan Mama Widya yang meminta asistennya untuk mencari Zavian. Sepertinya wanita itu belum puas bicara dengan Zavian atau mungkin belum merasa cukup mengutarakan perdebatannya. Beberapa saat kemudian Zavian bisa mendengarkan langkah tergesa berjalan ke arahnya.


Perempuan berkacamata bernama Hannah itu berdiri tidak jauh darinya. Tapi dia malah membeku saat menerima tatapan tajam dari Zavian.


“ Katakan pada Mama bahwa kamu tidak melihat siapa-siapa di sini !” ucap Zavian dengan pelan, namun tegas. 


Hannah mengangguk lalu berjalan kembali menemui Mama Widya. Perempuan itu bisa saja berkhianat dan memilih setia pada Mama Widya, tapi nuraninya berkata bahwa berbohong adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini. Jadi dia mengatakan tidak menemukan Zavian dimana-mana dan mendapat decak kecewa dari Mama Widya. 


“ Kita pulang saja, “ ujar Mama Widya.


” Sepertinya Zavian sedang ada dalam kondisi mood yang buruk sampai gak mau diganggu.”

__ADS_1


Wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan lokasi dimana Zavian sedang mengerjakan proyek barunya. Sepanjang perjalanan pulang, Mama Widya terus melamun sambil memikirkan Zavian. Ada rasa nyeri menyengat hatinya saat mengingat kembali wajah putranya yang sendu dan penuh kesedihan. 


Sekarang Zavian ulang tahun dan Mama Widya melupakan hal sekecil itu. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya. Dia tidak pernah menjadikan momen hari kelahiran Zavian sebagai sesuatu yang spesial. 


Zavian sendiri masih berdiam diri sambil merokok hingga ponselnya bergetar. Ada nama istrinya di sana dan Zavian tersenyum. Seperti ada ikatan batin yang kuat di antara mereka, dimana Zavian butuh penghiburan dan Nayara seolah memahami itu. Diinjaknya puntung rokok untuk mematikan bara api sebelum menjawab panggilan itu.


“ Ada apa sayang ?” tanya Zavian dengan suara lembut. Seolah dia sedang baik-baik saja. 


“ Sibuk banget ya, By?” Nayara bertanya dari seberang telepon.


“ Mmm, iya.” jawab Zavian. 


“ Oh , pantes. Makanya pesanku belum kamu balas juga,” sahut istrinya. 


“ Maaf sayang..maaf. Soalnya belum sempat pegang hape lama-lama . Memangnya kamu tadi ngirim pesan apa, sayang ?” 


“ Kamu buka aja pesannya terus langsung dibalas . Aku butuh jawaban kamu sebelum nanti malam.” 


“ Okee tunggu, ya.” 


“ Kamu hari ini ulang tahun,lho. Aku sudah nyiapin kejutan, jadi jangan pulang telat.” 


“ Lho, bukannya tadi pagi sudah diucapin?” Zavian menggaruk kepalanya sekilas.


“ Malam ini ada perayaan kecil-kecilan,” sahut Nayara .” Zean juga ikut ngasih kado.” 


“ Zean mau ngasih kado? Apa tuh?” tanya Zavian penasaran.


“ Rahasia,” jawab Nayara. 


Zavian tertawa lepas . Selanjutnya ada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bernada penuh perhatian. Pertanyaan template yang terus di ulang -ulang tapi tidak membuat bosan karena dari sana Zavian merasa bahwa Nayara selalu memperhatikan hal-hal kecil di dalam hidupnya. 


.


...****************...


Syedih 🥹 kasihan Zavian jadi pengen peluk, tapi takut dijambak sama Nayara 😂

__ADS_1


__ADS_2