Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Membawa Mama pergi


__ADS_3

Keesokan harinya, Zavian datang menemui Om Farhan dan mengajak laki-laki itu untuk bicara. Seperti yang Zavian ketahui selama ini, Om Farhan adalah tipe laki-laki penyabar yang lebih mudah untuk diajak bicara. Lagipula, pembahasan mengenai perusahaan Rayyansyah memang lebih baik dibicarakan dengan orang yang terlibat langsung di dalamnya. Sehingga memandang keadaan secara realistis dan memikirkan solusi dari setiap permasalahan dengan jernih. 


“ Om sudah dengar dari Tantemu kalau kamu menolak untuk membantu perusahaan yang kini sedang terombang-ambing,” ujar Om Farhan membuka percakapan.” Tantemu kayaknya frustasi banget mendengar jawabanmu.”


“ Bukan menolak membantu, Om, tapi menolak untuk memegang perusahaan itu kembali. Soalnya Tante Tania memintaku menanamkan modal dan menjalin kerjasama dan jika kukabulkan permintaannya maka otomatis aku akan kembali memegang perusahaan itu. Tapi sebagai gantinya aku sudah menyarankan Tante supaya  mengajukan proposal bisnis kepada Yudha,” jelas Zavian. 


“ Om paham kok, Tapi Tantemu mana bisa memahami alasanmu dengan baik. Dia tahunya kamu menolak.” tukas Om Farhan. 


“ Dulu Yudha mengakhiri kontrak kerjasama antara perusahaan kita karena memang tidak ada keuntungan di bawah kekuasaan Fabian. Sekarang kalau Om mau mengajukan proposal bisnis padanya, aku yakin dia akan menerimanya karena sudah tahu sebagus apa kinerja Om dalam memegang perusahaan Rayyansyah,” jelas Zavian kemudian. 


“ Om akan coba melakukan itu. Semoga dengan begitu keadaan menjadi lebih baik. Yaa, tapi Om harap kamu tetap bantu dari belakang dengan bicara pada Yudha,” balas Om Farhan.


“ Pasti, Om . Kalau proposalnya memang bagus pasti Yudha sendiri yang akan memintaku untuk menyetujuinya,” tanda Zavian. 


Om Farhan mengangguk dan dia tampak antusias. Mungkin sejak awal Zavian memang harus bicara dengan Om Farhan saja. Karena sebagai laki-laki, keduanya tidak terlalu banyak membawa perasaan dan emosi pribadi di sini. Percakapan mereka murni berisi tentang pandangan dan keputusan mengenai bisnis semata. 


“ Mungkin aku akan kembali tapi bukan sekarang. Karena saat ini aku harus membuat keadaan Mama menjadi lebih baik. Itu tanggung jawab terbesarku sekarang,” ujar Zavian. Dia menatap ke arah Om Farhan dan meminta agar laki-laki itu memberinya pengertian. 


“ Perusahaan itu masih terombang-ambing karena masih menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti. Sekarang Om yang memegangnya dan tahu apa keputusanku. Jadi, kuharap setelah ini Om tidak ragu-ragu lagi dalam membuat keputusan,” tukas Zavian. Dia memberi keyakinan kepada suami Tantenya itu untuk terus melangkah dan percaya pada dirinya sendiri. 

__ADS_1


“ Sebenarnya Om cuma butuh teman untuk bicara seperti ini,” ungkap Om Farhan. “ Selama ini Tantemu selalu bicara tentang nama besar ayah dan kakaknya. Dia tidak tahu bahwa ketika dia membicarakan nama Rayyansyah, itu akan membuat Om agak sedikit minder. Karena walau bagaimanapun juga, posisi Om adalah sebatas menantu dan orang asing.” 


Zavian juga sadar bahwa selama ini Mama Widya juga sering merendahkan posisi Om Farhan yang hanya sebatas menantu di keluarga Rayyansyah. Jadi, jika Om Farhan melakukan sesuatu yang besar maka dia akan dipandang sebagai sosok laki-laki ambisius yang ingin menguasai harta Rayyansyah. Tapi disaat sulit, dia harus bertanggung jawab memperbaiki keadaan. Benar-benar tidak adil. 


“ Sekarang Om yang memegang perusahaan itu, jadi lakukan apa yang terbaik agar perusahaan kembali jaya seperti dulu. Aku yakin Om bisa melakukannya,” tukas Zavian penuh keyakinan. 


Om Farhan tertawa kecil , dia tampak tersipu tapi juga menggenggam keyakinan untuk dirinya sendiri. Dia berterima kasih kepada Zavian yang telah menaruh kepercayaan kepadanya. 


“ Mamamu pasti lagi capek banget, ya.” ucap Om Farhan setelahnya.


Zavian mengangguk pelana. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berada dalam tekanan mental dan emosi. Mama WIdya termasuk hebat bisa melewati semuanya sendirian tanpa ada Zavian di sisinya. Lalu sekarang, wanita itu tampak benar-benar kelelahan dan mengaku kalah. 


Om Farhan mengangguk dan dia setuju dengan Zavian. 


Mereka masih satu keluarga dan seharusnya tidak terpecah hanya karena urusan duniawi yang membuat silau. Oleh karena itu, segalanya harus kembali dimulai dengan cara yang baik. 


Zavian dan Om Farhan sepakat bahwa mereka harus memperbaiki keadaan agar tidak berlarut-larut dalam kerusakan. Tidak perlu terburu-buru asal segalanya berjalan dengan sebagaimana mestinya. 


Sepertinya ucapannya, Zavian akan membawa Mama Widya pergi bersamanya. Dia ingin Mamanya sadar bahwa di luar sana ternyata masih banyak kebahagiaan untuk diraih. Dia ingin membuat wanita itu selesai mengejar ambisi dunia dan menjalani hidup di masa tua dengan tenang. 

__ADS_1


“ Gimana kalau Zia biar Mama saja yang peluk,” ujar Mama Widya sesaat setelah pesawat lepas landas dan mereka menempati kursi first class dalam penerbangan menuju Amerika. 


“ Dad, ayo kita main puzzle,” seru Zean sambil mengeluarkan kotak mainannya. 


“ Boleh, ayo kita selesaikan pecahan-pecahan gambar ini,” sahut Zavian dengan semangat. 


Nayara menatap ke kursi di sebelahnya dimana Zavian dan Zean mulai sibuk menyusun kepingan puzzle. Zavian sengaja membawa mainan agar anaknya tidak bosan sepanjang perjalanan dan dia akan menemani bocah itu. 


“ Mereka kompak sekali,” ucap Mama Widya yang ikut menatap interaksi anak dan Ayah itu. 


“ Mereka selalu begitu, Ma,” ucap Nayara sambil tersenyum lebar. 


Sekarang mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang diyakini akan memberikan suasana dan kebahagiaan baru. Mereka menarik diri dari segala permasalahan dan kerumitan yang pernah terjadi. Mereka melambaikan tangan seraya mengucap selamat tinggal pada masa lalu yang kelam, lalu membuka tangan untuk memeluk masa depan yang penuh arti. 


Suatu saat nanti , mereka akan kembali pada satu titik temu setelah masing-masing berhasil memahami keadaan dan meredakan dendam di dalam dada.


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2