Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Menolak Warisan


__ADS_3

“ Jadi Papa ngasih perusahaan buat lo?” tanya Fabian pada adiknya dengan wajah yang begitu tajam. Setelah itu Fabian mendecih sinis. “ Gue gak tahu apa yang terjadi di belakang gue selama Papa sakit. Tapi kayaknya semua ini udah diatur banget, ya.”


“ Harusnya kamu yang menemani Papamu selama beliau sakit. Tapi kenyataannya kamu malah gak peduli sama sekali dan selalu sibuk dengan duniamu  sendiri. Terus sekarang kamu protes?” balas Tante Tania yang muak melihat tingkah laku keponakannya itu. 


“ Ya, jelas aku protes dong !” seru Fabian dengan berapi-api.” Semua orang tahu kalau sejak awal Papa udah bilang kalau gue yang akan jadi CEO di perusahaan kita . Tapi sekarang tiba-tiba Papa malah mengalihkan semuanya pada Zavian, apa ini gak keterlaluan ?” 


“ Keterlaluan apanya?” sergah Tante Tania tak mau kalah. “ Mas Adrian sudah membuat keputusan yang tepat dengan mengubah surat wasiat itu di akhir hidupnya. Dia tidak ingin usaha yang dibangun oleh ayah kami hancur di tanganmu !” 


“ Gue tahu kalian gak suka sama gue. Jadi kalian bersekongkol untuk memaksa Papa mengubah surat wasiatnya sewaktu sakit,’kan ? Kalian pasti udah memprediksi semua ini bakalan terjadi!” Fabian kemudian melontarkan tuduhan tanpa bukti yang membuat semua orang bertambah muak padanya. 


“ Bian ! Kamu jangan nuduh sembarangan, ya !” bentak Mama Widya sambil melotot ke arah anaknya itu.


“ Akui saja kalau kalian memang berniat menyingkirkan gue dengan cara seperti ini !” ucap Fabian lagi.


“ Kami gak perlu bersusah payah untuk menyingkirkanmu, Bian. Karena kamu akan tersingkir dengan sendirinya bersama sifat burukmu yang memalukan itu !” desis Tante Siska yang juga ikut bersuara.


“ Benar ! Harusnya kamu berkaca dan sadar diri kenapa papamu sampai mengubah surat wasiatnya. Mulai dari kasus video panasmu sampai terlibat penggunaan narkoba, semua perbuatan burukmu itu yang bikin Mas Adrian sakit-sakitan da akhirnya meninggal !” timpal Tante Tania. 


Fabian mengepalkan tangannya sambil menatap kedua adik kandung Papanya itu . Dia tidak bisa menerima tuduhan yang menganggap dirinyalah penyebab kematian sang Papa.


“ Bukan gue yang menyebabkan Papa sakit-sakitan sampai meninggal !Tapi Mama !” Fabian bersuara dengan lantang sambil menunjuk ke arah Mamanya.


Semua orang terkesiap kaget, termasuk Zavian yang langsung hendak menghajar Fabian. Beruntung Nayara yang ada di sisinya segera menahan gerakan Zavian dengan mendekap lengannya kuat-kuat.


“ Mama yang awalnya ingin menggugat cerai Papa dan bikin Papa menderita sakit jantung sampai kolaps ! Kalau bukan gara-gara Mama , mungkin Papa gak akan sakit-sakitan !” teriak Fabian.


“ Mamamu ingin menggugat cerai juga karena gak tahan melihat Mas Adrian yang selalu membela kelakuan busukmu ! Semua gak akan terjadi kalau kamu gak menjadi penyebab semua ini !” balas Tante Tania. 

__ADS_1


“ Berhenti nyalahin gue !” seru Fabian.” Kalian semua breng—” 


Braakk !


Umpatan Fabian terpaksa terhenti karena suara gebrakan yang mengejutkannya. Fabian dan semua orang menatap Zavian yang kini berdiri dengan wajah menahan amarah. Dia yang sejak tadi diam karena merasa syok setelah mendengar wasiat papanya, kini tak mampu lagi menahan diri.


“ Berhenti menyalahkan Mama dan orang lain, Badjingan !” teriak Zavian dengan sorot mata menyala penuh amarah. “ Lo mau menguasai perusahaan milik Papa? Silahkan ambil ! Gue juga gak sudi mengurus perusahaan bermasalah yang hampir pailit  karena terlibat hutang. Bikin repot dan nambah beban hidup aja !”


Kedua adik Papa Adrian tampak terkejut mendengar ucapan Zavian. Begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.


Zavian menoleh ke arah Pak Indra yang sejak tadi terjebak dalam pertikaian keluarga kliennya. Sebagai seorang pengacara, dia sudah sering menghadapi situasi ini. Dimana para ahli waris akan ribut perkara sengketa warisan. Tapi Pak Indra tidak menyangka jika keluarga Rayyansyah yang terlihat harmonis dari luar ternyata memiliki sisi gelap seperti ini. 


“ Pak Indra, saya secara sadar menolak untuk melaksanakan wasiat terakhir dari Papa yang meminta saya bertanggung jawab atas Raya Corporation. Nanti saya akan membuat surat penolakan resmi dan silahkan diajukan ke pengadilan !” ujar Zavian.


“ Zavian !” teriakan itu tidak hanya datang dari kedua adik Papa Adrian, tapi juga dari Mama Widya. Semuanya menatap Zavian dengan sorot mata terkejut dan juga khawatir.


“ Vian, kamu gak boleh begini,” lirih Tante Tania dengan mata penuh kesedihan. Terbayang di pelupuk matanya bagaimana perusahaan yang dibangun oleh ayahnya akan berakhir menyedihkan.” Tolonglah, Za……”


“ Di saat perusahaan itu masih berjaya, Fabian yang digadang-gadang akan menjadi penerusnya. Sekarang ketika segalanya hampir roboh aku yang disuruh bertanggung jawab. Enak aja ! “ cetus Zavian dengan wajah kesal.


Zavian menarik tangan Nayara agar meninggalkan ruang keluarga. Tapi sebelum langkahnya benar-benar pergi, Zavian berbalik dan menatap Fabian yang kini hanya bisa terdiam.


“ Status lo sekarang adalah pelaku tabrakan maut yang mengakibatkan korbannya meninggal dunia, selain itu lo juga dicurigai sebagai pengguna narkoba. Sekarang polisi masih menunggu di luar untuk membawa lo ke penjara !” ucap Zavian.


Setelah itu Zavian benar-benar pergi meninggalkan suasana hening yang mencekam. Hanya helaan napas mereka masing-masing dan jarum jam yang terdengar. Lalu Tante Tania berdiri diikuti oleh suaminya.


“ Ini kan yang kamu mau ?” tanyanya pada Fabian .

__ADS_1


Tante Siska juga ikut berdiri bersamaan dengan helaan napas beratnya. “ Kamu dan segala egomu yang luar biasa itu akan selalu menang, Fabian. Selamat ya…”


Langkah-langkah itu kemudian menjauh meninggalkan ruangan yang terasa sesak oleh berbagai emosi di dalamnya. Ada kesedihan dan juga rasa sakit yang bertebaran di udara dan terhirup bersama setiap helaan napas. Rasanya teramat menyesakkan.


“ Mama minta maaf kalau seandainya kamu berpikir Mama orang yang menyebabkan kepergian Papa,” ujar Mama Widya kemudian.” Tapi… Papamu mengubah surat wasiatnya tanpa tekanan dari siapapun. Beliau melakukan itu begitu sadar dari kritis setelah kolaps akibat melihat skandal video panasmu.” Ada isakan kecil yang terdengar dari Mama Widya yang semakin tampak rapuh.


“ Zavian tidak pernah meminta apa-apa pada papamu karena dia tahu bahwa selama ini kamu merasa paling berhak atas segalanya. Zavian tidak pernah berniat mengusikmu, dia tidak serakah dan tidak sama sepertimu.” lanjut Mama Widya.


Wanita paruh baya itu menghapus air mata yang mengaliri pipinya, lalu menoleh ke arah Fabian yang kini tampak gelisah di tempatnya duduk.” Mulai sekarang, silahkan jalani hidup yang kamu mau, Bian.”


Selesai berkata begitu, Mama Widya kemudian berdiri dan beranjak pergi. Langkahnya disusul oleh pak Indra yang menjadi orang terakhir meninggalkan Fabian sendirian.


Seperti ucapan Zavian, polisi masih berada di luar rumah dan menunggu kehadiran Fabian. Tidak hanya itu, ada juga wartawan yang menyusul ke kediaman keluarga Rayyansyah setelah menerima kabar duka atas meninggalnya Papa Adrian. 


Sebagai pengacara yang ditugaskan Zavian untuk mendampingi kasus Fabian, Aldi sempat terlibat adu argumen dengan polisi yang hendak menciduk kliennya. Tapi pada akhirnya Aldi menyerah dan ia menyerahkan agar Fabian dibawa ke kantor polisi malam itu juga untuk dimintai keterangan.


Tidak ada yang membela saat Fabian digiring masuk ke dalam mobil polisi. Semua anggota keluarga tampak diam dan bungkam, lalu melepaskan kepergian Fabian dengan tatapan datar. 


Malam itu, ketika suasana masih berduka dan kuburan ayahnya belum kering, Fabian telah memulai perjalanan hidup yang menyedihkan. Dia menghadapi segalanya sendirian tanpa ada satu orang yang mau menemaninya. Tidak ada lagi sosok Papa yang akan melindungi dan memenuhi setiap keinginannya.


Setelah melewati berbagai pemeriksaan dan juga tes urin, akhirnya Fabian dinyatakan sebagai tersangka atas sederet kasus yang menjeratnya. Polisi tidak lagi melepaskannya karena dikhawatirkan akan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. 


“ Maaf, Pa. Aku menyesal….” gumam Fabian seorang diri. 


Dia meringkuk di lantai penjara yang dingin bersama seluruh penyesalan yang tidak ada artinya lagi. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2