Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Cara Fabian meredakan emosi


__ADS_3

Di saat Zavian sedang berbahagia dengan kelahiran anaknya, Fabian justru merasakan hal sebaliknya. Semenjak video panas dirinya yang diunggah Sarah ke media sosial, keberuntungan seakan-akan lenyap dari hidup laki-laki itu. Hidupnya dirundung kesialan yang terus menerus mendatangi. 


“ Pokoknya saya gak mau tahu ! Kamu harus  bisa membuat saya lolos dari jerat hukum ! Fabian berteriak frustasi.


“ Akan saya usahakan , Pak . Tapi kita tetap harus mengikuti prosedur hukum yang berlaku,” ujar pengacara itu. 


“ Halah, gak usah ribet deh ! Aku gak mau ikut sidang yang hanya akan membuat namaku semakin buruk. Kalau bisa beri saja polisi itu uang agar menghentikan kasus ini,” ucap Fabian dengan kesal.


“ Saya gak bisa melakukan itu pak, Soalnya Nyonya Widya —”


“ Persetan dengan Mama !” seru Fabian semakin murka. Dia tahu bahwa segalanya semakin bertambah rumit saat mamanya tidak berpihak kepadanya. “ Kalau kamu gak mau mengikuti kemauan saya, sebaiknya lepaskan saja kasus ini ! Saya bisa cari pengacara lain yang mau menuruti keinginan saya dibandingkan kamu !”


“ Saya sudah diamanahkan untuk menghandle kasus ini,” jelas pengacara itu.


“ Kalau begitu, ikuti kemauan saya !”


“ Saya harus mendiskusikannya dengan Nyonya Widya terlebih dahulu. Dan beliau berpesan supaya anda harus menempuh jalur hukum sebagaimana mestinya.”


“ Hei… Kamu ini pengacara yang dibayar untuk mendampingi kasusku. Harusnya kamu membelaku dan mengusahakan supaya aku terbebas dari jerat hukum !”


“ Tugas saya memang memberi pendampingan dalam menjalani proses hukum, tapi bukan berarti saya harus mencurangi keadilan.”


“ Sok idealis!” rutuk Fabian dengan geram.

__ADS_1


Penetapan status tersangka atas dirinya telah membuat Fabian nyaris gila. Belum lagi tekanan dari keluarganya yang mendesak agar permasalahan di perusahaan segera terselesaikan. Sedangkan Hendri masih tidak dapat dihubungi sama sekali. Kabar terakhir dari orang suruhan Fabian mengatakan bahwa keluarga Hendri ikut pergi meninggalkan kediamannya. Sehingga tidak ada lagi yang bisa diminta pertanggung jawaban. 


“ Siial !Siial ! “ Fabian tidak bisa berhenti memaki keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Disaat sedang panik dan pusing begini, biasanya Fabian akan menyewa wanita bayaran untuk membuatnya senang. Tapi setelah kejadian yang menimpanya, Fabian sepertinya mulai berhati-hati dalam bermain. Dia tidak mau menyewa wanita sembarangan lagi karena takut tersandung kasus yang sama.


Untuk meredakan emosinya, Fabian memilih melajukan mobilnya menuju sebuah klub. Kali ini dia tidak mendatangi klub yang biasa dikunjunginya, tapi memilih sebuah klub yang ada di kawasan sebuah hotel yang cukup jauh dari tempat tinggalnya . Tak apa asalkan dirinya bisa melampiaskan rasa lelah dan emosinya di sana. Tentu saja dengan tujuan agar tidak ada yang mengenalinya.


Saat memasuki klub malam itu, dia disambut oleh suara musik yang bising . Fabian tidak kebagian sofa karena semuanya sudah full booked sehingga dia memilih duduk di sebuah stool yang ada di sisi meja bar. Asap rokok bercampur dengan aroma alkohol yang kuat dan Fabian sudah terbiasa dengan semua itu. 


“ Sendirian aja, Mas?” seorang wanita berpakaian seksi berdiri di samping Fabian seraya tersenyum menggoda. Lalu tanpa basa - basi , seolah mereka sudah saling mengenal lama, wanita itu menyelipkan tubuhnya di antara kedua kaki Fabian yang terbuka. Wanita itu mengambil gelas bir di tangan Fabian dan mencuri satu tegukan , kemudian dia menertawakan pilihan minuman Fabian.” Need a room?”


Fabian menimbang-nimbang sejenak. Ada kekhawatiran yang muncul di dalam dadanya saat mendapatkan tawaran itu. Fabian tidak mau memperpanjang masalah jika seandainya wanita ini berniat merekam adegan ranjangnya untuk dijadikan alat untuk mengancam. 


 “ Gak,” tolak Fabian. Lagipula wanita ini tidak termasuk tipe kesukaannya. Fabian menyukai wanita dengan rambut hitam panjang dan tidak menggunakan riasan tebal. Bayang Nayara masih tetap bertahan di kepalanya dan dia menginginkan wanita yag serupa dengan mantan istrinya itu. Bukan sosok dengan rambut menggunakan warna karamel dengan make up bold seperti ini.


“ Mm.” Fabian hanya menggumam tidak jelas dan membuat wanita itu merasa telah menemukan sosok polos yang bisa ia kibuli. Padahal Fabian hanya sedang menyesuaikan diri dengan suasana baru karena ia baru pertama kali menginjakan kaki di klub ini. Wanita itu belum tahu saja bahwa Fabian adalah seorang player dan tidak sepolos kelihatannya.


Fabian hanya berharap wanita itu segera pergi tapi ternyata harapannya tidak terkabul. Karena wanita itu masih bertahan di sisinya dan menawarkan pilihan lain. 


“ Kayaknya Mas lagi banyak masalah nih, keliatan pusing banget,” ujar wanita itu sok tahu. “ Mau ikut bersenang-senang denganku?”


Saat Fabian tidak kunjung memberi jawaban , wanita itu kembali melancarkan godaan. “ Sayang banget lho, udah masuk ke sini tapi cuma duduk diam sambil minum. Ayo, kutemani bersenang-senang.”

__ADS_1


“ Aku lagi gak mau ngeroom,” tegas Fabian. Dia tidak berminat melihat penampilan wanita di hadapannya meski bagian tubuh itu terbuka sana- sini. “ Gak mau terlalu mabuk juga. Karena setelah ini aku harus mengemudi pulang."


“ Bersenang-senang gak harus ngeroom, kok. Ayo ikut aku,” wanita itu langsung menarik tangan Fabian melintasi kerumunan orang-orang.” Namaku Liza ,” ucap wanita itu setengah berteriak karena suaranya berlomba dengan dentuman musik.


Fabian diam saja saat tangannya digenggam dan dibawa menuju lantai dua. Ternyata suasana di sana tak kalah ramai dengan yang ada di bawah. Bahkan semua sofa juga penuh dengan suara dentingan gelas saling beradu. Orang-orang tertawa, merokok, lalu minum. Semuanya tampak menikmati malam ini. 


Wanita bernama Liza itu mengajak Fabian duduk di salah satu sofa yang ada di pojok ruangan. Ada sebuah vas bunga besar yang terletak di sisi kiri meja seolah sengaja diletakkan di sana. Cahaya dari strip light di loteng tidak terlalu kuat dan hanya memberi penerangan seadanya.


“ Mau coba ini , Mas?” tanya wanita itu sambil menyerahkan sebatang rokok ke arah Fabian.


Fabian jelas tahu apa yang sedang dipegang wanita itu. Rokok bukan sembarang rokok, itu hanya rokok yang beredar dikalangan tertentu saja dan tentu sangat dirahasiakan. 


“ Bayar berapa nih?” tanuya Fabian.


“ Gak mahal-mahal amat, cuma seharga beli kopi kok,” jawab Liza dengan kerlingan penuh arti. 


Fabian tertawa dan menerima rokok itu. Luzi membantu menyalakan korek dan mengarahkan ke ujung rokok milik Fabian. Satu hisapan masuk ke dalam paru-paru Fabian, belum ada efek yang terasa. Tapi setelah hisapan ketiga, Fabian mulai merasa sebuah sensasi menyenangkan mengambil alih kepalanya. 


Segala pemikiran berat yang dibawa Fabian tadi perlahan-lahan menghilang dari kepalanya. Dia merasakan ketenangan yang selama ini dinanti-nantikannya. Kini ia sama seperti para pengunjung lain yang merokok sambil memegang gelas berisi alkohol. Lalu tawanya pecah saat menemukan hal lucu dari cerita Liza. 


Setelah satu batang rokok habis, Fabian memintanya lagi dan Liza dengan senang hati memberikannya. Tidak lama kemudian, tawaran Liza untuk bersenang-senang di dalam sebuah kamar diterima oleh Fabian. 


Dia melupakan penampilan Liza yang tidak sesuai dengan seleranya. Fabian juga melupakan bayangan Nayara yang selama ini tersimpan di dalam memorinya. Bagi Fabian yang penting malam ini dia bisa melepaskan segala beban berat yang menggelayuti kepalanya. 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2