
“ Zavian udah ngasih kabar bakalan datang, Ma?” Fabian datang dan duduk di seberang meja. Dia menatap menu yang tersaji satu per satu.
“ Belum, “ jawab Mama Widya dengan pelan.” Hapenya gak aktif dan pesan Mama juga gak dibalas.”
“ Kayaknya dia gak bakalan datang, deh. Udah jam segini,” sahut Fabian kemudian .
Mata Mama Widya menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Sampai detik ini dia masih berharap Zavian akan datang untuk merayakan ulang tahunnya. Mama Widya masih percaya bahwa Zavian masih sama seperti dulu, patuh, penurut dan selalu mementingkan Mamanya.
“ Lagian, Zavian sudah terlalu tua untuk merayakan ulang tahun dengan cara seperti ini,” ujar Fabian kemudian. Dia menunjuk kue tart dengan lilin-lilin kecil di atasnya.” Dia bukan anak kecil yang akan mengatupkan tangan untuk make a wish sambil berharap doanya menjadi kenyataan. Itu kekanakan sekali, Ma.”
Mama Widya mengernyitkan kening dan menatap Fabian dengan sorot mata tidak suka.
“ Kenapa Mama tumben sibuk nyiapin semua ini? Biasanya juga gak peduli sama ulang tahun Zavian, ingat aja enggak ,” cibir Fabian.
“ Mama peduli sama Zavian,” ujar Mama Widya dengan tegas.” Gak masalah ini terlihat kekanakan atau gimana , yang penting Mama mau merayakan ulang tahun Zavian.”
Fabian menatap mamanya dengan sorot mata yang ganjil karena dia tahu persis seperti apa perlakuan Mama Widya. Selama ini tidak ada perayaan khusus untuk ulang tahun Zavian. Makanya, dia tidak tahu apa yang telah merasuki mamanya sampai menyiapkan semua ini demi Zavian.
“ Sudahlah, Ma. Zavian gak mungkin datang,” balas Fabian lagi.
“ Mama yakin dia akan datang,” ucap Mama Widya dengan percaya diri.” Mama akan menunggu dia datang sampai nanti.”
“ Ya, sudahlah,” ucap Fabian . Dia selalu terkesan tidak peduli terhadap apapun urusan mamanya. Kemudian Fabian pergi meninggalkan Mamanya.
Ada rasa nyeri di dalam hati Mama Widya saat mendapati usahanya untuk menyenangkan Zavian harus sia-sia. Bahkan hampir dua jam setelahnya , Zavian tidak kunjung datang. Ponselnya masih tidak aktif dan pesan dari Mama Widya juga tidak dibalas.
__ADS_1
“ Zavian kayaknya beneran gak akan datang,” ujar Mama Widya dengan nada miris.
Ini kali pertama Mama Widya membuat perayaan untuk ulang tahun Zavian setelah sekian lama. Tapi ternyata gagal.
Sebelum jam dua belas malam dan tanggal berganti, Mama Widya memutuskan untuk menyalakan seluruh lilin kecil di atas kue itu. Lalu dia mengatupkan telapak tangannya. Dia membuat sebuah permohonan.
‘ Semoga Zavian memaafkannya dan kembali seperti dulu.’
“ Ya Tuhan, aku tidak mau Zavian pergi dari hidupku,” gumam Mama Widya. Dia masih ingin memiliki sosok Zavian yang penurut dan begitu mencintai Mamanya. Sayangnya, sorot mata penuh luka dan juga wajah kecewa Zavian kembali terbayang di dalam ingatan Mama WIdya.
Seandainya waktu bisa diulang, dia akan menyisihkan sedikit waktu yang dimilikinya untuk memberi perhatian terhadap hal-hal kecil tentang Zavian. Mama Widya ingin sekali membalas semua rasa sayang dan cinta yang selama ini diberikan Zavian untuknya. Sebelum segalanya terlambat , seperti saat ini.
Tangan Mama Widya terkatup erat dan tetes demi tetes air mata berjatuhan di pipinya. Dia menangis seorang diri dalam kesunyian. Zavian tidak mengatakan bahwa dirinya pilih kasih secara terang-terangan , tapi kalimat yang mempertanyakan seberapa dalam rasa sayangnya telah menjelaskan perasaan Zavian.
“ Pa, kupikir kamu adalah ayah yang pilih kasih. Tapi ternyata aku juga begitu,” gumam Mama Widya dalam tangisannya.
Selesai merayakan ulang tahunnya dengan manis bersama sang istri, Zavian langsung mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Mereka bercerita dan membicarakan banyak hal. Termasuk keinginan Zavian untuk memberi Zeano adik bayi yang disambut protes oleh istrinya.
Nayara berkata bahwa Zean masih terlalu kecil untuk punya adik. Meskipun begitu, mereka tetap bercinta setelahnya, tanpa pengaman apapun.
“ Tidurlah, aku akan memelukmu ,” ucap Nayara saat menemukan wajah lelah suaminya yang tidak tertahankan lagi.
Zavian dengan senang hati melabuhkan kepalanya di dalam pelukan sang istri. Rasanya nyaman sekali dipeluk seperti itu, hingga tanpa menunggu lama dia sudah tertidur dengan lelap. Bersama Nayara , Zavian menemukan sosok anak kecil di dalam dirinya hidup kembali. Dia akan bermanja - manja sepuasnya karena tahu istrinya akan menyambut segalanya dengan baik. Zavian merasa bahagia dan terpenuhi ketika Nayara memperhatikan dan memanjakannya dengan sikap menyenangkan.
Paginya, Zavian terbangun dalam perasaan yang jauh lebih lega. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengaktifkan ponsel dan menemukan pesan dari Mama Widya. Keningnya berkerut sejenak.
__ADS_1
“ Ada apa, By?” tanya Nayara yang melihat raut wajah suaminya.
“ Mama menungguku tadi malam,” jawab Zavian.
Nayara berjalan mendekat ke arahnya sambil mengikat rambut. Lalu wanita itu duduk di sisi Zavian.” Haruskah kita datang ke rumah Mama hari ini ? Kayaknya semalam Mama mengadakan perayaan untuk ulang tahunmu. Aku baca di grup Mama mengundang keluarga yang lain tapi mereka tidak bisa datang.”
“ Gak usah,” gumam Zavian pelan.
” Lagipula, Mama tidak akan ingat kalau kemarin tanggal kelahiranku kalau saja aku tidak mengingatkannya.”
“ Apa gak kasihan sama Mama, By?” tanya Nayara dengan hati-hati.
“ Mama punya dua anak tapi hanya menganggap bahwa anaknya cuma satu. Rasanya aku yang harus dikasihani di sini,” ujar Zavian,
“ Tapi Kamu sudah punya aku dan Zean,” ucap Nayara kemudian.” Kenapa masih mengasihani diri sendiri ? Apa kami tidak cukup?”
Zavian meraih pinggang istrinya dan memeluk wanita itu seerat mungkin.
” Seandainya aku tidak memilikimu, mungkin aku tidak akan ada di sini sekarang. Aku bersyukur memilikimu.”
Nayara menepuk-nepuk punggung suaminya dengan pelan. Selama ini dia belajar bagaimana memahami perasaan suaminya. Jadi, ketika Zavian berkata bahwa dia ingin memberikan Mama Widya sebuah silent treatment , maka Nayara tidak memberi protes apa-apa . Mungkin itu yang terbaik di antara begitu banyak pilihan yang lain untuk membalas sikap Mama Widya.
Maka untuk selanjutnya, Zavian menghindari Mama Widya dan malas berurusan dengan mamanya itu. Zavian juga meminimalisir percakapan mereka karena di sana hanya akan ada nama Fabian sebagai buah bibir utama Mama Widya.
.
__ADS_1
...****************...