
Menjelang sore, seorang perempuan datang ke rumah Zavian dan mengatakan bahwa dia dari salah satu agen penyalur yang telah di kontak Zavian. Nama perempuan itu Evy dan dia tampak cekatan dalam melakukan berbagai hal.
Saat pertama kali melihat Evy. Nayara langsung menanyakan umur perempuan itu , ia terkejut saat tahu bahwa Evy ternyata seumuran dengan Zavian. Padahal awalnya Nayara berpikir kalau Evy baru saja tamat sekolah karena perempuan itu memiliki tubuh yang kecil mungil.
“ Saya akan bekerja dengan baik, Bu. Pokoknya Ibu dan Bapak tidak akan kecewa dengan hasil kerja saya.” ujar Evy dengan senyum lebarnya.
“ Saya cuma mau kamu memprioritaskan istri saya.” sahut Zavian dengan tegas. Matanya menatap Evy dengan tajam dan penuh arti.
Evy mengangkat jempolnya dan berkata.
” Siap, Majikanku !”
Nayara tertawa melihat sikap Evy yang ceria dan sepertinya mudah untuk bergaul. Sedangkan Zavian memutar bola matanya jengah. Apalagi saat pertama kali mencicipi masakan Evy, Nay langsung merasa cocok dengan kehadiran perempuan itu. Sementara suaminya tidak memberikan pujian apa-apa, lagipula dia tidak ingin memuji perempuan lain. Karena kata pujian hanya akan keluar dari mulutnya untuk sang istri.
“ Dengan adanya Evy, aku bisa sedikit lega meninggalkanmu di rumah ini untuk bekerja.” ujar Zavian.
“ Terima kasih ya, By. Aku seneng banget punya teman untuk diajak ngobrol.” balas Nayara.
Zavian hanya tersenyum senang melihat istrinya yang merasa puas atas apa yang dilakukannya. Seperti biasa , Zavian akan mencium Nayara terlebih dahulu sebelum berangkat kerja .
“ Hati- hati ya , By.” pesan Nayara setelah memastikan penampilan suaminya rapi dan pantas. “ Cepat pulang, nanti aku kangen.” rengek Nayara dengan manja .
“ Tanpa disuruh pulang aku juga selalu pengen pulang karena kepikiran sama kamu terus.” balas Zavian sambil menangkup pipi Nayara. “ Kamu emang ngangenin banget. “ Lalu ia ciumi seluruh wajah istrinya dengan gemas .
Nayara tertawa dan kemudian berjalan menggamit lengan Zavian sampai ke halaman. Setelah itu Zavian masuk ke dalam mobilnya dan membuka kaca untuk melambaikan tangan.
Nayara masih berdiri di tempatnya walaupun Zavian sudah hilang dari pandangannya. Setelah beberapa saat kemudian, barulah Nayara masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Zavian bekerja seperti biasa . Siangnya, saat menghadiri meeting penting Zavian melihat Fabian telah duduk duluan di salah satu kursi yang ada di meeting room. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah hampir seminggu Zavian keluar dari rumah orang tuanya .
Kali ini Zavian sendiri yang akan memimpin rapat karena pembangunan proyek baru yang akan dilaksanakan mengalami kendala. Ada kesalahan yang dibuat oleh tim marketing dalam sebuah iklan sehingga bersangkutan dengan politik. Itu sangat riskan sekali terhadap nama perusahaan yang pada prinsipnya tidak boleh menunjukkan keberpihakan terhadap salah satu golongan.
Disaat Zavian sedang serius menyampaikan materi meeting urgent ini, Fabian justru mengalihkan pikiran pada ponsel yang dibawanya ke bawah meja. Dia tersenyum senang ketika mendapat pesan baru dari orang kepercayaannya .
Boris ; Hari ini nyonya Nayara belum keluar rumah. Tapi dia hanya ditemani oleh seorang ART yang sangat lugu.
Fabian : Awasi terus keadaan di rumah itu. Segera kabari aku jika Nayara luput dari penjagaan Zavian.
Boris ; Siap, Bos !
Sejauh ini Fabian puas dengan hasil kerja Boris yang cakap dan profesional. Apa saja kemauan Fabian selalu dituruti oleh laki-laki itu. Termasuk memata-matai keadaan rumah baru Zavian meski harus menyamar sebagai ojek online.
Fabian mengangkat wajahnya bertepatan ketika Zavian selesai berbicara. Saat menatap adiknya itu, Fabian menemukan sorot jengkel di wajah Zavian terhadapnya. Bagaimana tidak, Zavian sedang melaksanakan proyek yang seharusnya berada di bawah tanggung jawab Fabian.
Para peserta yang ada di dalam ruangan terutama divisi marketing mengangguk paham. Mata Zavian menyapu seluruh peserta secara menyeluruh dan kembali berhenti pada Fabian. Tapi kali ini dia merasa bahwa tidak perlu membuang energi untuk merasa jengkel terhadap kakaknya itu. Jadi, Zavian memutuskan untuk mengabaikan Fabian.
Saat rapat selesai , Zavian kembali ke ruangannya dan peserta rapat langsung membubarkan diri untuk melakukan tanggung jawab masing-masing. Begitu juga dengan Fabian yang berjalan dengan riang menuju ruangannya.
Sebelum duduk di kursi kebesarannya, Fabian menyempatkan diri mengelus papan nama yang terletak di sudut meja kerjanya. Tulisan Vice of CEO itu diusapnya dengan penuh kebanggaan. Melihat Zavian kerepotan mengurus proyek hasil idenya, Fabian justru merasakan begitu banyak kepuasan.
“ Jangan harap hidupmu bisa tenang, adikku yang bodoh.” bisik Fabian sambi meletakkan papan nama itu dengan hati-hati.
Setelah itu Fabian duduk di kursi kebanggannya yang terasa empuk . Dia memikirkan rencana selanjutnya untuk membuat Zavian berada dalam posisi sulit. Kalau bisa, Fabian akan membuat Zavian tidak punya waktu untuk memejamkan mata sedetik pun.
“ Kamu mengambil Nayara dariku maka aku akan membalasmu dengan cara yang setimpal. Akan kubuat kamu kesulitan dalam menjalani hidup . Bahkan untuk bernapas pun kamu akan merasa sakit .” gumam Fabian dengan seringai mengerikan . “ Kamu harus tahu bahwa seorang adik harus selalu mengalah pada kakaknya. Jadi jangan berpikir akan menang saat berhadapan denganku.”
__ADS_1
Sementara itu di ruangannya, Zavian menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Rasa kesalnya belum juga hilang meski Fabian telah enyah dari pandangan matanya. Untuk meredakan emosi itu, dia menatap layar ponselnya yang menampilkan potret wajah Nayara yang sedang tersenyum.
“ Cantik sekali. “ gumam Zavian. Ibu jarinya mengelus layar ponselnya seolah-olah gerakannya sedang menyentuh wajah istrinya secara langsung.
Hanya dengan melakukan hal sederhana seperti itu, Zavian seperti mendapatkan semangatnya lagi. Kepala dan perasaannya dipenuhi oleh bayangan Nayara yang sanggup menyingkirkan segala bebannya.
...----------------...
satu minggu kemudian
Fabian yang sedang di kantor tak dapat menahan rasa senangnya karena setelah menunggu selama seminggu, orang suruhannya memberi kabar bahwa Nayara saat ini keluar dari kediamannya untuk berbelanja ke swalayan dan yang membuatnya merasa di atas angin, Nayara keluar hanya dengan ART nya saja tanpa pengawalan siapapun.
Fabian setengah berlari keluar dari ruangannya dan menelusuri lorong kantor dengan tergesa- gesa . Dia mengabaikan Zavian yang menatapnya dengan sinis. Disaat seluruh tim pontang panting bekerja demi keberhasilan proyek yang digagasnya, Fabian malah seenaknya pergi tanpa memikirkan orang lain. Zavian tidak tahu saja bahwa saat ini kakaknya sedang mengincar Nayara.
Sementara itu di sebuah swalayan , Nayara mendorong troli sambil mengamati rak display . Dibelakangnya , Evy yang tampak lugu dan kampungan mengikutinya dengan langkah pelan. Sesekali dia akan terantuk pada punggung Nayara dan buru-buru minta maaf .
Di ujung lorong, Boris yang sedang mengawasi Nayara tampak cermat mengamati perempuan itu. Telinganya terpasang earphone untuk berkomunikasi dengan tim yang telah dipersiapkannya .
Saat Nayara melewati laki-laki itu, Boris menyeringai samar. Sekarang Boris menemukan alasan kenapa Fabian sangat tergila-gila pada istri adiknya itu. ‘Cantik sih !’ batin Boris.
Setelah Nayara menjauh, Boris baru menyadari bahwa lengannya terasa perih. Dia mengangkat lengan dan menatap jaket kulit mahalnya yang sobek cukup panjang. Goresan itu cukup dalam hingga menembus kulitnya.
Boris merasakan darah mengalir hingga ke punggung tangannya dan menetes ke lantai. Pria itu buru-buru menekan lukanya agar menahan pendarahan. Melalui earphone yang terpasang di telinganya, Boris mendengar sebuah perintah tegas dari Fabian yang meminta agar Nayara disekap dan diculik ketika sedang berada di parkiran .
Dia mengiyakan dengan cepat. Segalanya sudah diatur sedemikian rupa oleh timnya.
.
__ADS_1
...****************...