
“ Damn !” desis Fabian dengan wajah memerah dan kepala yang terasa panas. Dia tidak bisa menerima kekalahan ini! “ Siialan ! Siialan !”
Fabian melemparkan gelas ke dinding sampai pecah berserakan, lalu dia menyapu file-file yang ada di mejanya hingga berhamburan ke lantai. Kemarahannya butuh pelampiasan dan dia memilih untuk menghancurkan apapun yang bisa diraihnya.
Sekretarisnya Fabian yang mendengar suara riuh dari ruangan bosnya segera mencari tahu. Tapi baru saja pintu dibukanya , sebuah bundelan kertas melayang menuju ke arahnya dan dia segera menutup pintu agar tidak celaka.
“ Astaga, pak Fabian lagi kerasukan reog apa ya ?” perempuan bernama Misca itu mengelus dadanya. Dia masih mematung di depan pintu saat umpatan demi umpatan keluar dari bibir Fabian.
Karena tidak ingin ikut campur tangan dalam permasalahan bosnya, Misca kembali duduk di balik mejanya. Nanti jika emosi Fabian sudah reda, dia pasti akan disuruh membenahi kekacauan itu.
Misca yang menjabat sebagai sekretaris Fabian untuk menggantikan posisi Sarah cukup paham bagaimana watak atasannya. Fabian memang suka melampiaskan amarahnya dengan membanting atau memecahkan sesuatu. Mungkin dia pikir itu akan membuatnya merasa lega.
Satu jam kemudian , setelah emosinya reda, Fabian menyuruh Misca untuk membenahi ruangannya. Sedangkan dia sendiri langsung memanggil supir dan minta diantarkan ke sebuah hotel. Dia butuh pengalihan suasana agar segala gejolak emosi di dalam dirinya bisa tenang.
Fabian menghubungi salah seorang mucikarii dan meminta agar diberikan perempuan yang bisa menjadi pelampiasannya. Semenjak Nayara dikabarkan akan menikah dengan Zavian, Fabian sudah sering melakukan ini. Begini caranya melarikan diri dari rasa patah hati yang hebat.
Sesampainya di kamar, Fabian segera melampiaskan seluruh emosinya pada perempuan bayaran yang datang untuk memuaskannya. Dia pria beristri, tapi malah menyewa wanita bayaran untuk memuaskannya. Ketika bersama perempuan bayaran itu, dia malah menebut nama wanita lain yang bukan istrinya.
“ Nay….Oh!” Fabian mengeerang dengan suara beratnya.
Fabian memejamkan mata sambil membayangkan bahwa dia sedang bercinta dengan Nayara. Dia membentuk imajinasinya sendiri seolah mendengar suara dessahan manja dari Nayara. Dia mengingat lagi tatapan sayu penuh kepasrahan itu. Fabian menggeram panjang ketika imajinasi tentang Nayara membawanya pada sebuah kerinduan dan juga keinginan untuk kembali bersama . Tapi ketika membuka mata dan menemukan sosok wanita mengenakan riasan tebal berada di bawahnya , Fabian langsung dilanda rasa kecewa.
Bukan Nayara yang kini sedang meladeninya bergumul,tapi wanita yang tidak dikenalnya. Kemudian, di saat itu, Fabian akan menyaksikan bagaimana mimpi-mimpi dan keinginannya terhadap Nayara telah hancur tanpa sisa . Perempuan itu kini bukan lagi miliknya.
Nayara telah berlabuh di pelukan Zavian dengan begitu bahagia. Sebuah kenyataan pahit yang membuat Fabian merasa patah hati begitu dalam.
“ Siialan !” ucap Fabian kesal.
Dia melepaskan penyatuan dengan wanita di bawahnya, lalu membiarkan perempuan itu bekerja memberinya kenikmatan . Sayangnya, tidak ada lagi kenikmatan yang tersisa di dalam diri Fabian. Semuanya terasa hambar dan hampa. Bahkan sentuhan sensual dari wanita bayarannya tidak bisa membuatnya kembali berhasrat.
Seolah-olah gairahnya telah padam dan tersimpan hanya untuk satu nama. “ Sudah. cukup . Aku bosan !” ujar Fabian sambil mendorong wanita itu menjauh darinya.
“ Tapi mas belum keluar, lho. Ayo saya bantu keluarin.” ucap wanita itu.
“ Gak usah ! Pergi sana !” bentak Fabian.
Wanita yang mengenakan riasan tebal dan rambut di cat warna karamel itu menatap Fabian dengan keheranan. Baru kali ini dia mendapatkan pelanggan yang tidak mau dipuaskan.
“ Pakai bajumu dan keluar dari sini. Bayaranmu sudah aku transfer ke bos mu . “ jelas Fabian.
“ Oke.” sahut wanita itu pasrah.
Hari ini tidak ada satupun yang berjalan dengan baik. Fabian merasakan kepalanya penuh oleh berbagai permasalahan pekerjaan, sementara itu dadanya sesak karena rasa cemburu. Bahkan setelah pulang ke rumah, rasa kalutnya tidak kunjung hilang. Dia menolak untuk bergabung di meja makan dan memilih mengurung diri di ruang kerjanya.
Dia tetap ingin merebut Nayara dari Zavian, tapi ia juga memikirkan tantangan papanya yang meminta agar di menunjukkan kehebatannya.
Untuk pertama kalinya Fabian merasakan kegelisahan yang luar biasa hingga napasnya terasa sesak. Selama ini papanya tidak pernah memberi beban apapun. Fabian bebas melakukan apa yang dia mau tanpa harus merasa bertanggung jawab atas tindakannya.
Selama ini papanya selalu bangga terhadap sekecil apapun pencapaian yang dilakukannya, bahkan papanya sering berkata bahwa Fabian memang layak untuk menggantikan dirinya menjabat sebagai CEO . Tapi setelah Zavian membuat perusahaan sendiri, Fabian langsung dianggap sebagai anak yang tidak berguna. Rasa bangga papa terhadapnya hilang begitu saja.
Bahkan Fabian diancam akan dihapus sebagai penerus sosok Adrian Rayyansyah . Bayangan empuk kursi CEO dengan seluruh kekuasaannya kini terusik oleh kecemasan.
“ Siial !” umpat Fabian dengan perasaan teramat gusar.
Pada siapa lagi Fabian harus meminta bantuan agar tetap bertahan ? Entahlah. Fabian tidak menemukan jawabannya. Dia kalut sendirian.
...----------------...
Sementara di kediaman Zavian yang tenang dan damai, Evy tengah tersenyum menyeringai sambil menatap pria yang sudah ia ketahui niat busuknya.
“ Mas bisa minta tolong gak ?” Evy menghampiri Bram dengan wajah yang dibuat begitu panik.
__ADS_1
“ Eh? Minta tolong apa?” tanya Bram dengan sedikit keheranan .
“ Tolong pasangin bola lampu di dapur. Tadi tiba-tiba putus dan saya gak bisa menggantinya.” ujar Evy memberi alasan.
“ Masa cuma masang bola lampu aja kamu gak bisa?” balas Bram.
Bram mempertanyakan sikap Evy yang dia rasa hanya berpura-pura . Soalnya Boris sudah memberitahu bahwa ART yang tampak polos dan lugu ini adalah seorang bodyguard Nayara. Rasanya aneh jika ada orang yang berani mempertaruhkan nyawa demi menjaga majikannya tapi tidak berani mengganti bola lampu.
‘ Tapi perempuan ini belum tahu siapa kau.’ gumam Bram dalam hati. Lagi pula , masuk ke dalam kediaman Zavian juga merupakan misi khusus yang diberikan oleh Fabian.
“ Ya sudah. Sini kubantu.” ujar Bram dengan senang hati.
Evy membukakan pagar lalu menutupnya dengan cepat. Dia berjalan duluan dan mengajak Bram masuk dari pintu samping yang langsung terhubung ke kitchen yang ada di lantai satu.
Saat Bram masuk ke dalam dapur dan mengamati seluruh ruangan dan tidak memperhatikan gerak-gerik sosok ART yang meminta bantuannya. Kemudian Evy menunjuk salah satu lampu yang sedang tidak menyala. “ Itu, Mas yang perlu diganti.”
“ Gampang ini mah.” gumam Bram.” Mana lampu penggantinya ?”
“ Ini.” jawab Evy.
Bram menoleh ke arah wanita itu, tapi dalam waktu singkat kepalanya mendadak dihantam kuat oleh benda keras hingga dia terhuyung ke belakang. Bram merasakan kepalanya pusing dan pandangan kabur seketika. Laki-laki itu jatuh terjerembab ke lantai yang dingin.
“ Mudah sekali diperdaya.” ucap Evy dengan sinis.
Setelah itu dia menggeledah badan Bram dan menemukan pisau serta dua buah ponsel laki-laki itu. Evy membuka ponsel Bram menggunakan sidik jari dan membawa ke hadapan Zavian .
Zavian menerima ponsel itu dan menemukan kontak kakaknya di sana yang diberi nama
‘ Bos Fabian,’ Zavian kemudian menghubungi Fabian menggunakan ponsel Bram.
Tidak butuh waktu lama lagi Zavian untuk mendapatkan jawaban dari seberang sana. Suara Fabian langsung menyapa indera pendengarannya dan membuatnya merasa marah.
“ Ada kabar apa tentang Nayara, Bram ?” tanya Fabian.
“ Lho, maksudnya apa ini?” tanya Fabian. Tapi dia segera menyadari bahwa laki-laki yang bicara dengannya bukanlah Bram tapi adiknya , Zavian.
“ Gue harus kasih tahu papa tentang kelakuan lo ini atau lapor ke polisi?” tanya Zavian dengan penuh ancaman. “ Memangnya dengan cara rendahan seperti ini lo pikir Nayara bisa balik lagi jadi milik lo, hah ?” bentak Zavian yang mulai hilang kesabarannya.
“ Gue udah bilang kalau suatu saat nanti Nayara bakalan jadi milik gue lagi.” balas Fabian tak mau kalah. “ Sejak awal Nayara milik gue, dia cuma milih lo karena sedang patah hati. Kalau suatu saat dia melihat perjuangan gue untuk dapetin dia lagi, pasti dia akan berbalik ngejar gue!”
“ Selamat bermimpi, Bro ! Terus aja lo menghayal! Padahal Nayara gak bakalan mau balikan sama lo !” cibir Zavian yang sudah teramat kesal. “ Oh iya, orang suruhan lo ternyata cupu juga, ya. Sama kaya yang nyuruh !” kemudian Zavian mematikan sambungan telepon dengan penuh emosi.
Di tempatnya, Fabian tak kalah marah. Kadang Fabian bertanya di dalam hati, kenapa Zavian mudah sekali mengetahui rencana busuknya? Atau , mungkinkah orang-orang sewaannya yang tidak becus bekerja?
Kemarin Boris ketahuan dengan mudah dan dibuat luka oleh perempuan lugu yang menyamar sebagai ART itu. Sekarang, Bram juga ketahuan bahkan tertangkap dengan telak.
Fabian benar-benar meradang di dalam hatinya. Dia kesal bukan main. Apalagi ketika Zavian meneleponnya menggunakan ponsel Bram dan mengancam dengan dua pilihan. Rasanya Fabian semakin terhina saja.
“ Shitt ! Gak ada satupun dari mereka yang becus kerjanya !” ujar Fabian murka.
" Buang-buang duit aja menyewa para orang-orang tidak berguna ini!”
Sedangkan di kediamannya, Zavian bertanya kepada Evy tentang kenapa dia mudah sekali mengetahui orang-orang yang berada dalam penyamaran seperti itu.
“ Kenapa kamu mudah mengenali mereka sebagai musuh yang akan mencelakai Nayara?” tanya Zavian penasaran pada Evy.
“ Insting dan firasat kita itu kadang gak pernah salah, Pak.” jawab Evy dengan santai.
“ Waktu itu aku melihat laki-laki yang pakai seragam ojek online mondar- mandir di jalanan depan rumah. Tidak hanya sekali, tapi sering banget dia menatap ke rumah ini. Firasatku mengatakan bahwa itu sebenarnya bukan ojek online tapi orang yang menyamar untuk mencari tahu keadaan rumah ini. Apalagi saat aku menemukannya menguntit kami sampai ke swalayan, sudah pasti itu orang jahat . Makanya aku langsung kasih peringatan dia dengan menggores lengannya.”
“ Ini juga, masa pekerja taman perumahan tapi setiap hari kerjanya di depan rumah ini terus. Dia kira hal seperti itu gak akan jadi perhatianku?” tanya Evy sambil terkekeh.
__ADS_1
Zavian menganggukan kepalanya dengan samar. Dia beruntung merekrut Evy yang punya insting bagus dan cermat dalam mengamati suasana. Zavian percaya Evy bisa melindungi Nayara.
“ Good job. Gaji dan bonus untukmu bulan ini sudah kukirim .” ucap Zavian kemudian.
Evy mengangguk puas.” Thanks, Bos !”
Setelah itu Evy menemui Bram yang sudah dinaikkan ke mobil dalam keadaan terikat. Perempuan itu menyetir keluar komplek perumahan dengan maksud mengantarkan laki-laki penguntit itu pada orang yang menyuruhnya.
“ Masih untung pak Bos gak nyuruh gue ngabisin lo !” ucap Evy santai sambil melirik ke arah kursi penumpang dimana Bram dalam kondisi terikat erat.
Bram hanya bergumam tak jelas karena mulutnya ditutup lakban hitam. Hanya matanya saja yang melotot ke arah spion tengah . Evy menyalakan musik dan sesekali mengikuti liriknya. Setelah mengemudi sekitar setengah jam, akhirnya Evy tiba juga di depan kediaman keluarga Rayyansyah.
Zavian sendiri yang menyuruhnya untuk mengirim Bram ke sini. Laki-laki itu merasa kesal karena Fabian terus menerus mengganggunya. Padahal Zavian sama sekali tidak pernah mengusik Fabian.
Evy kemudian turun dan menarik tubuh Bram sampai jatuh ke paving blok di depan pagar tinggi bercat putih itu. Mata Bram melotot ke arah Evy sambil bergumam tidak jelas, mungkin dia sedang mengumpat.
Evy memencet bel berulang kali dengan rasa tidak sabaran. Dia tidak ingin membuang banyak waktu hanya dengan berdiri di depan pagar sambil menunggu. Tidak lama kemudian seorang laki-laki datang menghampiri Evy.
Pintu pagar tidak langsung dibuka. Laki-laki hanya berdiri di balik pagar sambil mengintip lewat jeruji yang berukir.” Cari siapa, Mbak?”
“ Gak cari siapa-siapa. Saya cuma mengantarkan hadiah untuk pak Fabian. Silahkan panggil beliau untuk melihat hadiahnya.” ujar Evy.
“ Letakkan barangnya di drop box yang ada di situ, Mbak. Nanti saya ambil. “ kata laki-laki bernama Surya itu sambil menunjuk sebuah kotak khusus di sisi kanan pagar.
“ Males ah, berat. Gak muat juga.” timpal Evy sambil menggeleng. Mending kamu panggil pak Fabian sekarang biar dia bisa lihat kiriman spesial untuknya.
Evy merogoh kantong jaket denimnya dan menjatuhkan dua buah ponsel milik Bram.
“ Ini hape lo.” ucap Evy.
Bram berkali-kali mengumpat di dalam hati. Dia menyesali kebodohannya yang percaya bahwa perempuan kampungan itu tidak mengenali dirinya.
Selesai bicara begitu, Evy segera naik ke dalam mobil dan melaju meninggalkan Bram dan juga pekerja rumah itu. Saat mobil Evy menjauh, laki-laki itu membuka pagar untuk melihat kiriman yang diantarkan perempuan itu.
Alangkah kagetnya Surya ketika menemukan sosok pria dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal. Mengingat ucapan Evy tadi, dia segera berlari masuk ke dalam rumah dan bergegas menemui Fabian.
“ Ada kiriman untuk Tuan di dekat pagar. “ ucap Surya dengan was-was .
“ Kiriman apa?” tanya Fabian.
“ Kirimannya orang , laki-laki dalam posisi terikat. Perempuan tadi bilang kalau saya harus panggil Tuan Fabian.” jelas Surya.
Awalnya Fabian tidak ingin meladeni ucapan Surya , tapi rasa penasaran mendorongnya untuk turun ke bawah menuju pagar rumahnya. Fabian terbelalak melihat laki-laki dalam kondisi terikat itu menatapnya penuh permohonan.
“ Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Fabian setelah melepaskan lakban di mulut Bram.
“ Pak Zavian, Bos.” jawab Bram .
Jadi inilah sosok Bram yang selama ini menjadi mata-matanya. Mereka belum pernah bertemu secara langsung karena hanya berkomunikasi lewat telepon saja.
Fabian menggeram marah, lalu menyuruh Surya untuk melepaskan ikatan di kaki dan tangan Bram . Beruntung suasana sedang sepi sehingga tidak ada yang melintas dan melihat keberadaan Bram dalam kondisi terikat. Bisa-bisa nama keluarga Rayyansyah dapat masalah jika ada yang melihat kejadian ini.
“ Zavian siialan ! Berani sekali dia menghinaku dengan cara seperti ini.” umpat Fabian geram.
Dia baru saja hendak menelepon Zavian dan melontarkan umpatan kasar pada adiknya itu tapi adiknya telah dulu menelepon.
“ Kurang ajar !” umpat Fabian saat telepon tersambung. “ Apa maksudmu mengirim dia ke sini, hah ?”
“ Aku meladeni permainanmu !” jawab Zavian dengan tegas. “ Bagaimana ? Apa kamu menyukai pembalasanku, Mas Bian ?” sindir Zavian.
.
__ADS_1
...****************...