Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Tangis penuh sesal


__ADS_3

“ Aku ingin menyusul Zavian, aku ingin membawanya kembali pulang,” ujar Mama Widya di sela tangisannya. 


“ Farhan bilang pada kami kalau Zavian membawa anak dan istrinya ke Amerika . Tapi Amerika itu luas, Mbak. Ada lima puluh negara bagian dan kita tidak tahu Zavian ada dimana saat ini,” jelas Mama Widya. 


Dada Mama Widya mendadak sesak dan dia seperti kesulitan bernapas. Ditatapnya potret Zavian dengan seluruh rasa pilu yang merundung perasaannya. 


“ Aku tidak menyangka kalau Zavian akan bersikap begini,” ujar Mama Widya.” Dia benar-benar menghukumku.”


“ Gak usah merasa menjadi orang yang paling tersakiti atas kepergian Zavian. Dia memutuskan untuk pergi karena sudah muak dan sakit hati selalu diperlakukan tidak adil,” ucap Tante Tania dengan begitu tajam . 


“ Jangan menyudutkan di saat seperti ini, Tania !” seru Mama Widya sambil membelalakkan mata. 


“ Jelas semua salah Mbak Wid,” balas Tante Tania dengan wajah muak. “ Zavian tidak akan pergi jika Mbak Wid bersikap adil dan bisa memahami perasaannya dengan baik.”


“ Iya….iya… Aku yang salah di sini !” seru Mama Widya dengan bibir bergetar sedih.


“ Baguslah kalau sudah sadar. Sebagai seorang anak, aku juga akan melakukan hal yang sama jika ada dalam posisi Zavian. Setiap kali ada masalah, maka dia yang dipaksa turun tangan membereskan kekacauan. Setelah keadaan membaik, maka Mbak memaksa Fabian untuk kembali masuk ke perusahaan padahal dialah yang menjadi sumber masalah. Wajar kan kalau Zavian merasa lelah dan memilih pergi ?” ucap Tante Tania dengan berapi-api.


Mama Widya menghapus air matanya dengan punggung tangan sambil menahan isakan. Rasa sakit di dalam dirinya semakin menjadi-jadi saat mendengar penjelasan adik iparnya. 


“ Sekarang kalian gak usah merasa terpuruk dan berlama-lama menyesali keadaan. Silahkan jalani hidup sebagaimana mestinya karena inilah hasil dari perbuatan kalian berdua !” ujar Tante Tania semakin tegas. 


Tante Siska mengusap bahu kakaknya sambil menggeleng pelan. Dia paham bagaimana rasa kecewa yang dirasakan oleh kakaknya itu. Ini bukan hanya tentang Om Farhan yang memilih mengundurkan diri dari perusahaan Rayyansyah, tapi karena keadaan yang mendadak kacau akibat keegoisan Mama Widya.  


“ Berhentilah menangisi kepergian Zavian,” ketus Tante Tania . “ Aku justru berharap dia segera sukses di tempat barunya. Karena berlian akan tetap menjadi berlian meski terkubur jauh di dalam lumpur.”


“ Mbak, sudah,” bisik Tante Siska.” Mereka sedang dalam keadaan bersedih akibat kepergian Zavian . Jangan ditambah pula dengan ucapan yang menyakiti hatinya.”

__ADS_1


“ Sorry , aku tidak ahli dalam urusan berbasa-basi,” jawab Tante Tania. 


Tidak lama kemudian , Tante Tania memilih pulang dan meninggalkan iparnya itu. Dia memang tidak bisa menahan diri jika sudah merasa kesal. Ucapannya bisa saja jauh lebih pedas jika harus mengingat bagaimana menyebalkannya kelakuan Mama Widya selama ini. 


“ Tania benar-benar membenciku gara-gara suaminya harus mengundurkan diri dari perusahaan Rayyansyah,” gumam Mama Widya.


“ Dia sudah lama kecewa melihat sikap Mbak Widya,” sahut Tante Siska dengan jujur. 


Mama Widya hanya bisa menangis dan merasakan bahwa disaat seperti ini dia hanya butuh dukungan. Tapi dia juga sadar bahwa keluarga dan iparnya tidak bisa melakukan itu karena sudah terlanjur kecewa . 


Tante Siska hanya menghela napas dalam-dalam . Seperti apapun dia menghibur Mama Widya, tetap saja usahanya tidak akan membuahkan hasil. Karena hanya kehadiran Zavian yang bisa menyembuhkan rasa sakit di dalam dadanya saat ini. Tapi itu adalah hal yang mustahil karena Zavian tidak akan pulang hanya untuk menghibur Mamanya. 


Dari hari ke hari , keadaan Fabian semakin bertambah parah dari hari ke hari . Dia tidak pernah lagi pergi ke kantor karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Hingga suatu hari, Fabian tumbang dan tidak sadarkan diri. Dokter pribadi yang selama ini merawatnya menyarankan agar Fabian dirawat di rumah sakit untuk mendapat pengobatan intensif atas penyakit serius yang dideritanya. 


“ Maafkan Mama , Bian. Selama ini Mama terlalu menangisi kepergian Zavian sehingga mengabaikan dirimu,” ucap Mama Widya penuh sesal. Dia menoleh ke arah Tante Siska yang menjadi satu-satunya orang yang bersedia datang setiap hari untuk melihat keadaannya.” Tolong aku merawat Bian , Sis.”


Sementara itu, Tante Tania menolak dengan terang-terangan dan berkata bahwa dia ada urusan yang jauh lebih penting. Tidak sama seperti Tante Siska yang bisa menempatkan diri dalam situasi kacau ini, Tante Tania masih menyimpan rasa kesal terhadap keluarga iparnya itu. 


Karena Mama Widya ataupun Tante Siska tidak bisa menemani Fabian berobat ke rumah sakit, akhirnya seorang pelayan rumah diminta untuk menjaga laki-laki itu. Fabian kemudian dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan intensif khusus karena dia mengidap HIV reaktif. Ruangan dan alat medis yang dipakainya dipisahkan secara khusus dan perawat yang menanganinya harus memakai APD lengkap. 


Fabian dirawat di rumah sakit selama dua minggu hingga dia benar-benar pulih. Setelah itu dia masih harus dihadapkan pada persoalan rumit yang kini menerpa perusahaannya. Ada masalah di berbagai divisi yang membuatnya semakin pusing. 


Masih dalam keadaan kurang fit, Fabian sudah bekerja ke kantor karena ada banyak urusan yang membutuhkan keputusannya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Fabian benar-benar pusing menjalani semua ini sendirian. Biasanya ada Om Farhan yang bisa diajak diskusi, tapi sekarang dia tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak berpikir untuk mencari solusi. 


Ditambah pula dengan pemutusan kontrak kerjasama oleh perusahaan milik Zavian yang kini dipimpin oleh Yudha. Saat Fabian protes, maka Yudha dengan mudah mengelak tanpa rasa bersalah. 


“ Dulu Zavian menjalin kerjasama dengan perusahaan Raya Corp hanya atas rasa kasihan semata. Dia ingin membuat perusahaan milik ayahnya kembali maju dan mendulang keuntungan melalui kerjasama dengan perusahaan kami. Tapi sekarang, aku tidak mau melanjutkan kerjasama ini lagi. Aku ingin mencari keuntungan dari perusahaan lain yang jauh lebih baik, “ ujar Yudha dengan tegas. 

__ADS_1


“ Tapi kontrak kerjasama kita masih tersisa enam bulan lagi dan itu tidak bisa diakhiri secara sepihak !” seru Fabian dengan geram.


Yudha tertawa sinis, dia membawa salinan kontrak kerjasama bisnis yang dulu telah disepakati oleh kedua belah pihak. Telunjuknya mengarah pada salah satu klausul yang dilewatkan oleh Fabian.


“ Di sini disebutkan bahwa kami berhak memutus hubungan kerjasama secara sepihak jika perusahaan kalian melakukan wanprestasi dan berpotensi menimbulkan kerugian untuk kami,” jelas Yudha.


Fabian terperangah hebat. Rasa sakit fisiknya belum pulih sepenuhnya tapi dia sudah mendapatkan hal mengejutkan seperti ini. 


“ Pemutusan kontrak ini telah memenuhi syarat yang diajukan. Perusahaan yang kamu pimpin kurang memberikan profit dan berpotensi membuat kami rugi,” ujar Yudha lagi.


“ Tapi di sini Zavian menandatanganinya dan seharusnya hanya dia yang berhak memutuskan ini,” ujar Fabian yang masih mencoba mengelak.


Yudha hanya  tertawa kecil .” Di sana tertulis atas nama CEO dan kebetulan Zavian yang menjabat saat itu. Tapi sekarang akulah  CEO yang sah dan berhak menentukan keputusan penting,” jelasnya. 


“ Kamu gak bisa melakukan ini !” sergah Fabian mendadak panik.


“ Kenapa tidak ?” balas Yudha dengan begitu santai. “ Keputusan yang kuambil berdasarkan tentang poin penting dari perjanjian kerjasama kita yang telah terpenuhi. Kamu tidak bisa berpura-pura bahwa perusahaanmu baik-baik saja setelah CEO sebelumnya mengundurkan diri.”


“ Aku berjanji akan bekerja keras agar kita sama-sama meraih keuntungan,” ujar Fabian. 


Sayangnya, Yudha sudah tidak percaya lagi. Terlalu banyak hal bobrok yang ditemukannya dalam tubuh perusahaan ini. Dia tidak akan mempertaruhkan perusahaannya demi kerjasama tidak menguntungkan. Dan, ini adalah salah satu bentuk usaha Yudha dalam menjaga perusahaan yang telah dibangunnya berdua dengan Zavian. 


“ Sorry, aku tidak ada urusan dengan permasalahan dalam keluarga kalian. Jadi, jangan sangkut pautkan keputusanku dengan apa yang dulu dilakukan oleh Zavian,” ujar Yudha tak terbantahkan.


Mau tidak mau, Fabian harus menyetujui apa yang ditetapkan oleh Yudha . Dengan perasaan miris, dia menandatangani perubahan kontrak yang semula dijanjikan akan berlangsung selama satu tahun menjadi enam bulan saja. Fabian tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menyerah. Karena pada kenyataannya, Raya Corp memang sedang ada dalam masalah genting. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2