
Sebulan setelahnya , Zavian datang berkunjung ke kediaman Mamanya bersama anak dan istrinya. Keluarga mereka masih rutin berkumpul di kediaman Rayyansyah seperti kebiasaan yang selalu dilakukan Papa Adrian saat semasa hidupnya. Bahkan semua keluarga duduk di meja makan tidak ada yang menggantikan posisi papa Adrian. Kursi utama itu terlihat megah. sunyi, dan hampa tanpa ada yang mau menempati.
“ CEO baru sudah terpilih,” ujar Zavian memberitahu semua orang. Meskipun kabar ini sudah beredar sejak tadi siang, tapi Zavian tetap mengatakannya secara langsung.” Selamat untuk Om Farhan yang kini menjabat sebagai CEO baru di perusahaan kita.”
Laki-laki yang duduk di sisi Tante Tania itu tersenyum seraya mengangkat gelasnya.
“ Terima kasih sudah memberiku kepercayaan mengurus perusahaan ini.”
“ Aku yakin Om Farhan akan bekerja dengan baik dan membuat perusahaan ini kembali jaya seperti dulu .” sahut Zavian .
“ Thank you,” balas Om Farhan sekali lagi.” Aku akan bekerja lebih keras agar pemilik saham terbesar di perusahaan ini tidak menggelar RUPS dadakan untuk memecatku.”
Semua mata menatap ke arah Zavian dan laki-laki itu hanya tersenyum samar. “ Itu bisa saja terjadi jika timbul masalah internal yang mengancam kelangsungan perusahaan seperti kemarin.”
Fabian yang ada di antara mereka hanya bisa berdiam diri. Sejak tadi tidak ada orang yang memedulikannya. Semua orang tidak menyukainya atau lebih tepatnya membencinya. Meski tidak ditunjukkan secara terang-terangan.
Saat ini semua perhatian tertuju pada Zavian yang semakin berwibawa dan kharismatik. Apalagi setelah menjadi seorang ayah, dia tampak semakin berbeda.
Fabian menatap adiknya dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Dia sudah tahu bagaimana sepak terjang Zavian selama dua bulan terakhir dalam menyelamatkan perusahaan. Adiknya itu bahkan mengutus beberapa orang untuk mengejar Hendri yang kabur ke Australia dan menyita seluruh aset milik pria itu. Semua uang yang sempat dibawa kabur diambil kembali dan langkah hukum terus berjalan.
Zavian adalah sosok hebat yang menjadi pemilik saham terbesar di Raya Corp setelah membeli dua juta lembar saham di sana. Secara tidak langsung, dialah penguasa yang berhak untuk menyetujui setiap kebijakan krusial dan juga menentukan siapa yang akan menjabat sebagai CEO.
“ Aku sudah selesai,” ujar Fabian. Dia meninggalkan meja makan tanpa ada satupun yang menahan untuk tetap di sana. Tidak ada yang peduli padanya. Hanya tatapan Mama Widya yang mengiringi kepergian Fabian.
Saat hendak menuju kamarnya, Fabian mendengar suara rengekan bayi dari sebuah ruangan. Dengan penasaran, dia mendorong pintu yang sedikit terbuka dan matanya tertuju pada ranjang kecil di sana. Tidak ada pengasuh yang menjaga bayi mungil itu. Makhluk rapuh itu sendirian tanpa perlindungan.
Langkah Fabian mendekat dan menatap bayi laki-laki yang memiliki kemiripan dengan Zavian. Fabian pernah mendengar bahwa bayi ini diberi nama Zeano. Nama yang bagus, tapi Fabian tidak ingin menyebut nama itu.
“ Kamu….. anaknya Zavian, ya.” gumam Fabian. Seutas seringai sinis terbit di bibirnya.
Ia masih berdiri di dekat ranjang bayi ketika Zavian versi mini itu merengek sambil memasukkan jempol ke dalam mulut. Ada berbagai kecamuk perasaan yang tumpah ruah di dalam dadanya. Anak ini terlahir dari rahim Nayara, wanita yang sampai saat ini masih sangat diinginkannya.
Sejenak Zavian berpikir jika dulu dia bersabar dan terus bertahan bersama Nayara, mungkin bayi ini akan menjadi anaknya. Sayangnya, hingar bingar dunia dan kenikmatan semu terlalu menggoda. Fabian memilih jalan berbeda dan meninggalkan jejak kelam yang menjadi penyesalan terbesarnya hingga kini.
“ Aku mencintai ibumu tapi membenci ayahmu,” ucap Fabian pelan. Ditatapnya kedua bola mata polos yang menggemaskan itu.
Beberapa saat kemudian rengekan bayi itu semakin keras beriringan dengan geliat tidak nyaman. Lalu suaranya berubah menjadi tangisan yang melengking kencang. Bahkan seluruh tubuh mungilnya memerah ketika menangis.
__ADS_1
Fabian mendadak kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan bayi yang sedang menangis. Apalagi tidak ada siapa-siapa di ruangan ini selain dirinya. Bahkan pengasuh bayi itu pergi entah kemana.
Saat hendak mengulurkan tangan ingin mengangkat bayi itu, pintu ruangan disentak dari luar dan Nayara muncul dengan wajah cemas. Tiba-tiba saja wanita itu mendorong Fabian agar menjauh dari ranjang bayi. Zeano yang sedang menangis kencang segera diangkat dan didekap oleh Nayara.
Tidak lama kemudian Zavian datang dan matanya tertuju pada Fabian. Ada kemarahan yang terpancar sebelum Zavian menyerang Fabian yang masih berdiri di sana.
“ Lo ngapain ada di kamar anak gue, hah ?” Zavian mendorong Fabian dengan kencang hingga punggung laki-laki itu membentur dinding.
“ Gue cuma kebetulan lewat dan gue juga gak ngapa-ngapain!” jawab Fabian sambil mendorong balik Zavian agar menjauh darinya.
“ Jangan bohong !” Zavian kembali membentak kakaknya itu.
“ Gue tadi denger anak lo nangis, makanya gue masuk !”
Kecurigaan terhadap Fabian tak kunjung surut meski laki-laki itu telah membela diri. Fabian mendadak jengah dan dia tidak terima Zavian mengintrogasinya seolah-olah dia berniat jahat pada anaknya itu. Padahal dia memang tidak menyentuh Zean seujung kuku pun. Jadi bukan salahnya jika bayi itu menangis . Semua tuduhan Zavian sangat tidak berdasar, pikir Fabian.
Satu-satunya kesalahan Fabian hanyalah melangkahkan kaki mendekati bayi itu. Padahal harusnya dia sadar diri bahwa saat ini dirinya sedang tidak disukai oleh orang-orang. Jadi, ketika dia ada di dekat Zean saat bayi itu menangis, maka segala tuduhan tertuju pada dirinya sebagai penyebab kekacauan.
“ Ibu, bapak. Maaf saya tadi ke toilet karena sakit perut.” perempuan yang mengenakan setelan berwarna biru muda datang dan langsung meminta maaf dengan wajah penuh rasa bersalah.
Perempuan itu hendak mengambil Zean dari dekapan Nayara tapi usahanya ditolak. Nayara malah menyuruh perempuan itu untuk menghangatkan ASIP karena yakin anaknya sedang merasa gelisah akibat haus.
Bayi di dalam dekapan Nayara masih menangis meski tidak sekeras tadi. Tidak lama kemudian, Mama Widya dan keluarga yang lainnya ikut datang dan menyesaki ruangan itu.
Semua mata tertuju pada Fabian dengan sorot yang menghakimi, membuat sekujur tubuh laki-laki itu mendadak panas dingin. Ada bisik-bisik bernada hujatan dari mulut mereka yang berhasil membuat situasi semakin kacau.
“ Kamu apain anak Zavian, Bian ?”
“ Zean baik-baik aja kan ?”
“ Apanya yang luka?”
“ Apa Fabian yang bikin Zean nangis?”
Pertanyaan-pertanyaan bernada tuduhan membuat Fabian merasa kesal dan marah. Apalagi tatapan sinis tertuju ke arahnya tanpa jeda. Semua orang sibuk mencurahkan perhatian pada anak Zavian yang kini sedang berada dalam pelukan ibunya.
“ Gue gak ngapa-ngapain, ya ! Bukan gue yang bikin anak ini nangis !” teriak Fabian membungkam pertanyaan sinis dan penuh tuduhan itu.
__ADS_1
“ Terus kamu ngapain di sini?” pertanyaan itu terlontar kembali dari mulut Tante Siska. Seolah-olah menegaskan bahwa keberadaan Fabian di ruang bayi ini bukanlah sesuatu yang wajar dan pantas.
“ Gue cuma kebetulan lewat dan dengar tangisan bayi. Makanya gue masuk untuk melihat,” jawab Fabian.
“ Cuma masuk aja? Gak sampe nyakitin kan?” tuduh Tante Siska lagi.
“ Gak ! Gue gak ngelakuin apa-apa sama bayi ini. Nyentuh aja enggak !” jawab Fabian dengan tegas.
“ Tapi kok Zean bisa nangis kenceng banget ?”
“ Mana gue tahu! Memangnya kalau dia nangis terus itu salah gue ?” hardik Fabian mulai muak.
Tante Siska dan yang lainnya hanya mengedikkan bahu sekilas . Tidak ada di antara mereka yang percaya pada pembelaan Fabian meski dia telah memberi penegasan berkali-kali. Tatapan penuh tuduhan itu masih tertuju padanya.
“ Kita gak ada yang lihat Fabian ngapain aja tadi. Jadi kita gak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, entah Zean beneran nangis karena rewel atau karena hal lain,” timpal Tante Tania.
“ Gue bisa bersumpah kalau gue gak ngapa-ngapain anak ini!” teriak Fabian lagi yang mulai frustasi.
“ Coba badannya Zean diperiksa dulu, siapa tahu ada luka,” ujar Tante Tania.
Fabian mengepalkan tangan menahan emosi yang semakin membuncah di dalam dadanya. Ingin sekali dia menyumpal setiap mulut lancang yang telah menuduh seolah-olah dirinya begitu jahat. Tapi tangan Mama Widya terulur dan memeluk putranya itu dengan erat.
“ Sepertinya gak ada luka, Tante. Zean cuma haus sementara pengasuhnya pergi makanya dia menangis,” jelas Nayara memberitahukan keadaan anaknya tanpa bermaksud membela Fabian. Ia hanya mencoba menenangkan situasi yang tiba-tiba menjadi kacau.
“ Mending bawa ke dokter aja gak, sih. Harus cepat diperiksa karena takutnya jangan-jangan—”
“ Udah gue bilang , gue gak ngapa-ngapain !” bentak Fabian menyela ucapan tantenya itu. Dia menatap semua orang dengan sorot mata penuh luka.
” Gue tahu kalian semua benci sama gue ! Dan gue juga benci lihat kalian semua ! Tapi gue gak akan tega juga nyakitin bayi yang gak bersalah ! Jadi, kalian berhenti menuduh gue !”
“ Kami gak nuduh, cuma khawatir aja !” seru tante Siska.
“ Siapa sih yang gak khawatir anaknya dekat- dekat dengan orang yang—”
“ Diam !
.
__ADS_1
...****************...