
Fabian menatap nanar punggung wanita yang baru saja menamparnya . Pipinya terasa perih dan panas , tapi hatinya jauh lebih sakit.
“ Astaga, Nay…” Fabian bergumam lirih.
Dia benar-benar tidak suka melihat Nayara bersikap begitu manis terhadap Zavian. Dia tidak rela. Tidak akan pernah rela. Tapi sekarang dia mengutuk dirinya yang telah berkata keterlaluan sampai membuat Nayara menangis.
Sementara itu , Nay tidak langsung menuju ruangan Zavian. Dia menuju toilet terlebih dahulu untuk menangis dan meredakan rasa sesak di dalam dadanya. Dia menutup kloset dan duduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Air matanya mengalir deras dengan isakan yang tertahan.
Ucapan Fabian barusan sangat menyayat hatinya. Dia terluka dengan begitu hebat. Saat menikah Fabian memberikan luka yang dalam padanya dan kini saat sudah bercerai pun mantan suaminya itu masih saja memberikan luka untuk nya. Apa salah dirinya, pikir Nayara.
Dia sadar bahwa selama ini hidupnya memang bergantung pada keluarga Rayyansyah. Jangan pikir Nayara merasa beruntung hidup di lingkaran keluarga ini. Dia bahkan merelakan hidupnya terpasung hanya demi alasan balas budi. Saat pernikahannya dinodai oleh perselingkuhan, Nay hanya bisa merendam jantung dengan air mata. Dan kini, Fabian malah menghinanya serendah itu.
Setelah cukup lama berdiam diri di toilet, Nay kemudian mencuci wajah di wastafel agar seluruh jejak air matanya menghilang. Dia juga melakukan touch up riasan wajah agar terlihat segar kembali.
Saat menemui Zavian di ruangannya, Nay bersikap seperti biasa . Seolah-olah dia tidak merasakan luka sama sekali. Sayangnya, Zavian terlalu peka untuk melihat seluruh kesedihan yang kini menggelayut di wajah calon istrinya.
“ Sini , biar kupeluk.” ucap Zavian sambil merentangkan tangannya.
Nayara menatap pria itu sejenak, lalu dia melangkah dengan begitu pelan. Mungkin karena dirasa terlalu lama, Zavian mendekat dan langsung merengkuhnya ke dalam dekapannya. Setelah mengurai pelukan, Zavian menangkup pipi Nay dengan telapak tangannya.
“ Kok bisa cantik banget sih calon istri aku.” ujar Zavian sambil menatap dengan gemas.
“ Jangan gombal!” balas Nayara. Didorongnya sedikit dada pria itu agar berjarak . Lalu Nay menyerahkan paper bag berisi kopi untuk Zavian.
Zavian menerima paper bag itu kemudian menarik pelan tangan Nayara untuk duduk di sofa. .” Kopinya enak, makasih ya.” ucap Zavian sesaat setelah meminum kopi yang dibawa Nayara untuknya.
“ Kopinya udah dingin, ya ?” tanya Nayara dengan penuh sesal. Seharusnya dia tidak berlama-lama di toilet agar kopi yang dibawanya tidak dingin.
“ Gak terlalu dingin, kok. Hangatnya pas.” jawab Zavian sambil menyesap kopinya lagi. Dia tampak berusaha menghibur Nayara dan mengapresiasi usaha wanita itu, “ Tadi jadi menemui WO yang dipilih mama ?”
Nayara mengangguk pelan.” Jadi.” jawabnya.
__ADS_1
“ Wajahmu tampak sedih. Mau bercerita denganku?” tanya Zavian hati-hati. Ia tak ingin memaksa andai Nay belum mau bercerita padanya.
Nayara tampak bimbang selama beberapa waktu, kemudian dia menatap Zavian. Mungkin Nayara seperti sebuah buku yang terbuka sehingga Zavian dengan mudah membaca apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Rasanya mustahil untuk menyembunyikan apa yang dia rasa karena pria itu sudah tahu bahwa Nayara sedang menyimpan sebuah kesedihan. Jadi, Nay memutuskan untuk membicarakan keraguan yang tiba-tiba muncul di hatinya.
“ Bagaimana kalau pernikahan ini kita tunda?” tanya Nayara ragu-ragu.
“ Alasannya apa?” tanya balik Zavian yang merasa aneh karena tiba-tiba Nay berubah pikiran, sedangkan sampai pagi tadi Nay masih bersikap seperti biasa bahkan sudah menemui WO. Tak ada tanda-tanda keraguan dari diri Nay sebelumnya. Tapi Zavian tak mau mencecarnya dengan terburu-buru ia membiarkan Nayara mengungkapkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
“ Aku…. belum siap, Za.” lirih Nayara.
Zavian meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.” Ada yang mengganggumu?”
Nayara menundukkan kepala sambil mengingat lagi ucapan Fabian tadi. Rasanya dadanya kembali sakit dan air matanya mengambang ke permukaan. Membuat pandangannya terasa kabur.
“ Pasti ada sesuatu yang terjadi padamu, Nay. Pasti ada yang mengganggu perasaanmu.”ujar Zavian mencoba menebak apa yang terjadi pada Nayara dalam rentang waktu beberapa jam kebelakang. ” Tadi pagi kamu masih baik- baik saja. Ayo jujur padaku, kita cari solusinya bersama-sama.” lanjut Zavian lagi.
“ Lalu?” Zavian menatap Nayara dengan perasaan berdebar khawatir, karena ia tahu seperti apa Fabian. Sudah pasti kakaknya yang masih belum rela melepas Nayara telah memprovokasi wanita di hadapannya ini sampai membuat Nay tiba-tiba berubah pikiran secepat itu.
“ Dia… dia bilang aku ini piala bergilir.” kata Nayara terbata-bata. Lalu air matanya kembali luruh tanpa bisa dicegah. Dia menunduk dan menangis lagi. “ Dia membuatku merasa seperti wanita murahan, Za.”
Zavian beringsut dan memeluk Nayara. Dielusnya kepala wanita itu dengan penuh rasa sayang. Dengan sabar ditunggunya agar emosi Nayara reda. Setelah itu barulah dia mengambil kesempatan untuk bicara.
“ Fabian hanya sedang cemburu dan tidak terima dengan keputusan kita berdua.” jelas Zavian setelah berhasil menenangkan Nayara. “ Kemarin dia juga datang ke ruanganku untuk memprovokasi tapi aku tidak terpengaruh sama sekali. Dengan sikap Fabian seperti itu, sepertinya kita sudah berhasil membuatnya sakit hati. Bukankah memang itu tujuan kita membuat kesepakatan pernikahan ini.”
Nayara menghapus air matanya menggunakan tisu. “ Iya, tapi entah kenapa mendengarnya menghinaku begitu, rasanya hatiku sakit, Za.”
“ Aku tahu.” jawab Zavian sambil mengangguk . “ Tapi kalau kamu memutuskan untuk berhenti dan menggagalkan rencana kita, itu artinya kamu memberi kesempatan kepada Fabian untuk menang. Dia hanya akan merasa puas melihatmu berada dalam rasa sakit akibat ulahnya.”
Zavian mengusap sisa air mata di wajah Nayara. “ Jangan pedulikan apapun ucapan Fabian yang akan membuat mentalmu down. Ayo bersemangat lagi dan kita lanjutkan rencana awal. Kamu punya aku untuk tempatmu bersandar, Nay. Kamu gak sendirian.”
__ADS_1
Melihat bagaimana usaha Zavian agar dia kembali percaya diri, Nay memutuskan untuk mengangguk. Dia telah terlanjur membuat kesepakatan dengan Zavian dan terlambat untuk berputar arah.
Jadi, Nay akan melanjutkan rencananya untuk membakar Fabian dalam rasa sakit hati yang sama. Jika dia menangis, itu artinya Nayara kalah. Dan dia membenci kekalahan setelah Fabian dan Sarah berbahagia di atas penderitaannya.
“ Kamu sudah makan?” tanya Zavian lagi. Sekarang suasana hati Nayara sudah terlihat membaik.
“ Aku lagi diet.” jawab Nayara seraya menggeleng samar.
Zavian mendengus samar, ditelitinya penampilan Nayara dari atas sampai bawah.
" Sudah kurus gitu masih mau diet. Ayo, makan bersamaku.”
“ Tapi, Za….” Nayara ingin menolak ajakan pria itu. “ Aku pulang aja ya.”
“ Kamu ada riwayat sakit Maag, Nay. Jangan sampai kondisi kesehatanmu membuat kamu tumbang sebelum hari pernikahan kita.” ucap Zavian bersikukuh. “ Aku akan memastikan kamu makan terlebih dahulu, setelah itu kamu boleh pulang.”
Dengan sedikit memaksa, Zavian membawa Nayara keluar dari ruangannya. Dia menggandeng tangan wanita itu menuju food court yang ada di lantai dua belas.
Selama ini tidak banyak karyawan yang tahu bahwa Nayara adalah istri Fabian Rayyansyah. Di saat seperti ini , Nay bersyukur dulu Fabian menyembunyikannya dari publik.
Mereka berdua bisa berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut tanpa rasa khawatir. Sesampainya di food court , Zavian memilih sebuah stall yang menyediakan menu aneka soto dan sup.
Mereka duduk berhadapan dan Zavian bisa menatap seluruh wajah Nayara yang selalu tampak cantik di matanya. Mereka bercakap- cakap dengan santai sambil menyantap makanan yang dipesan. Berkali- kali Zavian meyakinkan Nayara bahwa pernikahan mereka akan menciptakan sebuah kebahagiaan yang baru.
Seluruh keyakinan yang ditanamkan oleh Zavian membuat Nayara menjadi lebih percaya diri. Bukan dia yang akan tersakiti, tapi Fabian lah orang yang harus mati dalam rasa sakit hatinya.
.
...****************...
Aku gak tau knp, aku udah up Wedding Agreement semalam bareng sm Zavian dan Nayara tapi entah knp sampai sekarang masih di review terus.. padahal gak ada kata kata yg aneh, yg vulgar jg ga ada, cerita kaya biasa aja.. sebel bgt ! sambil nunggu Aryan, baca Zavian aja dl ya..
__ADS_1