
“ Jangan bicara begitu, Nay. Iya, aku salah tapi kamu gak boleh berpikiran untuk pergi dariku,” ujar Zavian.
“ Kamu selalu menggampangkan perasaanku, By. Setiap kali ada masalah, kamu hanya merasa perlu minta maaf tapi gak pernah mencoba untuk mengerti . Apa karena kamu tahu kalau di sini aku gak punya siapa-siapa untuk mengadu ?” kesal Nayara.
“ Astaga, Sayang. Aku gak pernah berpikiran sepicik itu,” sanggah Zavian dengan cepat.
Nayara menjauh dari Zavian dan mulai menangis . Akhir-akhir ini perasaannya gampang sekali terluka. Kemarahannya masih tersisa tapi tidak tahu harus berkata apa . Akhirnya dia memilih menangis dan berharap perasaannya lega setelah itu.
“ Maafkan sikapku yang akhir-akhir ini sering keterlaluan dan membuat kita bertengkar. Tapi sungguh, Nay…. Aku gak pernah berkeinginan kamu menjauh dariku apalagi sampai meninggalkanku,” ujar Zavian.
Nayara masih diam dan sesekali menghapus air matanya. Zavian mendekat dan memeluk istrinya dengan erat.
” Makasih ya, kamu masih mencintaiku sampai saat ini. Meski aku banyak sekali melakukan kesalahan.”
“ Siapa bilang aku masih cinta sama kamu?” tanya Nayara dengan suara sengaunya.
“ Kamu masih menungguku pulang, kamu masih menantikan kedatanganku, kamu masih marah saat aku lupa janji sederhana yang pernah aku ucapkan. Itu artinya kamu masih mencintaiku, Nay.” Zavian menjatuhkan kepala di pundak Nayara seraya menghirup aroma tubuh istrinya.” Gak kebayang kalau kamu sudah cuek gak peduli sama aku dan gak membutuhkanku lagi, pasti rasanya menyakitkan karena itu artinya kamu sudah tidak mencintaiku lagi.”
Nayara harus mengakui perasaannya terhadap Zavian. Mungkin kemarahan yang ditunjukkannya hanyalah sisi lain dari bentuk rasa cintanya terhadap sang suami.
“ Gak apa-apa kamu sibuk, gak apa-apa kalau kamu mengutamakan pekerjaan, tapi please…..luangkan waktumu untukku dan juga Zeano,” ujar Nayara yang mulai berhenti menangis.
“ Iya, aku akan melakukan itu ,” sahut Zavian.
“ Gak apa-apa juga kalau kamu mau pulang larut malam, tapi jangan abaikan pesan-pesanku.”
“ Maaf, Sayang.”
Tidak ada lagi percakapan setelah itu, Zavian memeluk Nayara dengan erat dan mengucapkan maaf berkali-kali. Dia menyadari kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Pekerjaannya memang penting, tapi Nayara dan Zean jauh lebih penting diantara semuanya.
Keesokan harinya, Zavian benar-benar menepati janjinya . Dia masih pulang larut malam tapi pesan Nayara telah dibalasnya. Dia hanya berharap agar istrinya tidak marah lagi. Pertengkaran mereka selalu menyisakan perasaan tidak enak dan itu akan membuat Zavian merasa terus bersalah.
Saat mendapati Nayara sudah tertidur duluan seperti sebelumnya, ada rasa sedih menyusup ke dalam diri Zavian. Dia membungkuk dan mencium wajah istrinya, lalu matanya menemukan sebuah benda dan secarik kertas di atas nakas.
Zavian meraih benda itu dan terkejut, lalu dibacanya tulisan yang ada di sana. Senyumnya terbit lalu perasaannya dilanda haru sekaligus bahagia.
__ADS_1
‘ Maaf kalau akhir-akhir ini sikapku menyebalkan dan selalu marah-marah. Kupikir ini karena efek red days, tapi ternyata di perutku ada calon adik Zean. Maaf ya sayang, I Love You.”
Zavian tersenyum lebar, dielusnya testpack bergaris dua itu. Lalu dia kembali memeluk istrinya.
Setelah membaca pesan dari Nayara yang sukses membuat bahagia, malam itu Zavian tidak bisa memejamkan mata hingga menjelang pagi. Dia menatap wajah lelap istrinya dan merasa bersalah membiarkan Nayara melewatkan banyak hal sendirian. Padahal tujuannya membawa Nayara ke sini agar kehidupan mereka menjadi lebih tenang dan bahagia, bukan untuk menelantarkan wanita itu.
Setelah ini, Zavian sepertinya harus menyusun ulang rencananya. Ada banyak hal yang tidak sejalan dengan rencana awalnya. Zavian terlalu lama larut dalam ambisinya sehingga mengabaikan Nayara yang telah merelakan hidup demi menemaninya. Benar-benar tidak adil sama sekali.
“ By….” panggil Nayara pelan dengan suara seraknya sambil menggeliat kecil dalam pelukan Zavian.” Sudah lama pulang, ya ?”
“ Kira-kira dua jam yang lalu,” jawab Zavian.
“ Tidurlah, kamu pasti capek.”Nayara berkata sambil menyurukkan wajahnya ke ceruk leher sang suami.
“ Kira-kira sudah berapa minggu ?” tanya Zavian yang masih penasaran.
Nayara mendongakkan wajahnya dan menatap sang suami. Ditemukannya sepasang mata yang sedang memancarkan sinar bahagia.
“ Kamu sudah membaca pesanku ?” tanya Nayara.
” Sudah.”
“ Aku belum cek berapa usianya. Tapi tadi sore aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan untuk pemeriksaan awal,” jelas Nayara.
“ Aku senang sekali, akhirnya Zean akan punya adik setelah ini,” ujar Zavian.
“ Padahal aku ingin menjadikannya anak tunggal yang kaya raya,” celetuk Nayara sambil terkekeh.
Zavian tertawa sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Nayara. Saat ini jam empat pagi dan mereka masih sempat bercanda. Rasanya bahagia sekali. Sesuatu yang hampir tidak pernah mereka lakukan semenjak pindah ke sini karena Zavian sibuk mengejar ambisinya, sedangkan Nayara harus melewati malam dengan kesepian.
Zavian tidak perlu meminta Nayara untuk kembali tertidur karena wanita itu telah memejamkan mata duluan dan larut dalam mimpinya. Pelukan hangat Zavian memberikan rasa yang begitu nyaman dan membuat Nayara bisa tidur dengan mudah. Atau mungkin inilah yang ditunggu-tunggunya selama ini.
Saat pagi , Zavian menjadi orang pertama yang bangun dan meninggalkan ranjang . Dia mencuci muka dan menggosok gigi, lalu berjalan menuju ranjang anaknya dan berjongkok di sisi tempat tidur Zeano.
“ Pagi, jagoan Daddy….” sapa Zavian saat mata putranya terbuka. Ada sahutan kecil tanpa arti disertai rengekan seperti hendak menangis. Zavian segera mengulurkan tangan dan meraih anaknya ke dalam pelukannya.” Ssstt…. Calon kakak tidak boleh menangis.”
__ADS_1
Rengekan Zean berhenti dan dia memegang leher ayahnya dengan erat. Zavian bersenandung kecil untuk menenangkan anaknya, lalu selanjutnya dia menyiapkan air hangat untuk memandikan Zeano. Zavian memang tidak segesit Nayara dalam mengurus anak, tapi dia juga tidak mengalami kendala yang berarti. Semuanya berjalan lancar dan Zeano tampak nyaman dipegang oleh ayahnya.
“ Lho, By….” Nayara sedikit keheranan melihat Zavian yang baru saja memasangkan baju Zean setelah anaknya selesai dimandikan. “ Zean sudah dimandikan ?”
“ Sudah nih,” jawab Zavian.” Mana sudah wangi lagi.”
“ Memangnya kamu gak pergi kerja ?” ucap Nayara sambil berjalan mendekat ke arah suami dan putranya.
“ Gak,” jawab Zavian singkat. Dia telah selesai mengancingkan baju putranya dan tertawa puas melihat hasilnya. “ Wah, anak kita sudah semakin besar saja dan sebentar lagi punya adik.”
Zavian menoleh ke arah Nayara yang memandang keduanya dengan perasaan takjub. Zavian meraih istrinya agar mendekat dan mereka berciuman sebentar. Lalu ketiganya berjalan menuju pantry dengan Zean yang ada di dalam gendongan Zavian.
“ Jam berapa kamu membuat janji dengan dokter kandungan ?” tanya Zavian sambil duduk di stool.
“ Siang nanti sekitar jam satu,” jawab Nayara.
“ Hm, oke,” sahut Zavian.
Nayara tidak perlu bertanya karena dia sudah yakin sekali sang suami akan menemaninya nanti. Itulah kenapa suaminya yang workaholic memutuskan untuk tidak berangkat kerja hari ini.
Dan memang benar, siangnya Zavian menemani Nayara memeriksakan kehamilannya dan mengucap syukur saat dokter menyatakan bahwa istri dan calon anaknya baik-baik saja . Saat mereka pulang, mereka sempat singgah untuk berbelanja lalu menemani Zeano bermain di salah satu playland.
“ Sepertinya aku akan sangat bahagia kalau seandainya kamu punya waktu lebih sering menemani kami seperti ini, “ ucap Nayara lirih.
Ada rasa perih dan juga nyeri yang menampar Zavian dengan telak. Dia mencoba meraih tangan istrinya dan mengelusnya dengan lembut. Sudah berkali-kali Zavian mengucapkan kata maaf hingga mungkin saja telinga sang istri penuh oleh kata-kata itu. Saat ini yang perlu Zavian lakukan hanyalah membuktikan bahwa dia tidak akan membuat istrinya merasa diabaikan lagi.
Saat pulang ke rumah, Zavian segera menelepon Austin dan mengatakan bahwa dia mungkin akan mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Dia menjelaskan situasi saat ini dan temannya itu mengizinkan dengan lapang dada.
Sesuai dengan keputusannya tadi malam, Zavian memutuskan untuk mereset kembali rencana-rencananya. Dia masih berambisi untuk mengembangkan bisnis tapi tidak boleh mengabaikan istri dan anaknya. Apalagi saat ini ada calon anak keduanya yang sedang hidup di rahim sang istri.
Tidak ada yang lebih berharga dibandingkan keluarganya. Dan Zavian akan memperbaiki apa yang telah rusak akibat pilihannya yang keliru.
.
...****************...
__ADS_1
Maaf aku baru Up dari kemarin lagi bener² sibuk, aku usahakan hari ini 3 bab ... Tungguin yaa.. Saranghae 🫶🫰