Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Sumber masalah


__ADS_3

Setelah dua minggu berlalu Fabian akhirnya keluar dari persembunyiannya . Dia mendatangi kantor polisi untuk memenuhi panggilan atas kasus video porno miliknya. Fabian tidak bisa terus menerus mengelak karena dia diancam akan dijemput paksa jika tidak bersikap kooperatif. 


Mama Widya telah menyiapkan pengacara untuk mendampingi Fabian. Tapi meskipun begitu, bukan berarti Mama Widya ada dipihak Fabian. Dia telah berjanji untuk tidak akan memberi pembelaan apapun terhadap tingkah anaknya yang sangat keterlaluan itu.


“ Mama seharusnya membelaku !” seru Fabian marah. 


“ Mama akan membelamu jika kamu sudah mengambalikan aset perusahaan yang kamu gadaikan dan melunasi hutang-hutang itu !” ujar Mama Widya dengan tegas. 


“ Mama lama-lama ikutan norak juga, ya.” ucap Fabian dengan sinis.


“ Kalau kamu tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula, maka jangan pernah berharap Mama akan berpihak padamu. Kamu , sudah membuat papamu down dengan semua kejadian ini !” tegas Mama Widya. 


“ Siialan !” maki Fabian dengan kasar.


Dengan ditemani pengacaranya, Fabian memenuhi panggilan kepolisian dan di sana dia bertemu dengan Sarah. Wanita itu tampak santai dan terlihat bahagia setelah melakukan sebuah tindakan yang mengacaukan keluarga Rayyansyah dalam sekejap. Sarah juga ditemani oleh pengacaranya dalam memberikan kesaksian.


“ Kau akan hancur di tanganku, jalaang !” ujar Fabian marah. 


Sarah hanya tertawa kecil tanpa raut ketakutan.” Sayangnya kamu sudah hancur duluan , Fabian Rayyansyah. Aku bahkan penasaran , apakah setelah ini kamu masih ingin mencari pelacur dan meminta mereka untuk berperan sebagai Nayara.” Sarah tertawa lagi. “ Oh iya, aku yang memberitahu Zavian bahwa selama ini kamu memiliki kelainan dan selalu berfantasi terhadap istrinya. Bagaimana? Enak dihajar adik sendiri ? Enak dong, yaa…”


“ Brengseek !” maki Fabian kemudian.


“ Laki-laki bodoh yang otaknya cuma selang*kangan sepertimu memang gampang sekali dihancurkan,” kekeh Sarah semakin menjadi-jadi. “ Aku senang sekali melihat laki-laki angkuh sepertimu hancur dalam sekejap hanya gara-gara skandal murahan. Aku benar-benar menikmati hiburan yang luar biasa ini,” tukas Sarah kemudian.


Fabian menggeram marah , ingin sekali menghajar Sarah tapi tidak bisa. Akhirnya dia hanya menyimpan rasa kesalnya sendirian. Tapi dia berjanji akan memberi balasan pada Sarah. 


Kabar tentang Fabian yang menggadaikan aset perusahaan dengan jumlah fantastis akhirnya sampai juga ke telinga Zavian dan anggota keluarga Rayyansyah yang lain. Semuanya kecewa dan mengutuk tindakan Fabian yang gegabah itu. Tante Tania bahkan sampai menangis membayangkan jerih payah orang tuanya akan menjadi berantakan setelah ini. Apalagi keadaan papa Adrian yang ikut memburuk dari waktu ke waktu.

__ADS_1


Semuanya kemudian meminta Zavian agar membantu perusahaan Rayyansyah, tapi Zavian tetap pada pendiriannya. Dia tidak akan ikut campur mengurus kekacauan yang dibuat oleh kakaknya itu. 


“ Para pemegang saham mendesak agar dilakukan RUPS luar biasa. Aroma-aroma kehancuran perusahaan keluarga kita sudah mulai menguar,” ujar Tante Tania .


Papa Adrian yang mendengar kabar itu hanya bisa meneteskan air mata . Jangankan untuk bertindak tegas seperti yang dilakukannya selama ini, untuk menggerakkan tanganya saja dia tidak mampu. Jauh di dalam hatinya dia menyesali segala sikapnya terhadapan Zavian dan terus menggantungkan doa agar anaknya itu mau turun tangan membantu kesulitan ini.


Di sisi lain, Fabian berkali-kali menghubungi Hendri untuk menanyakan perihal kerjasama yang mereka laksanakan. Tapi hingga detik ini, Hendri tidak juga berhasil dihubungi. Sementara itu tekanan demi tekanan dari pihak perusahaan dan juga keluarga Rayyansyah semakin menjadi-jadi.


Hingga pada akhirnya, Fabian mendapat kabar bahwa Hendri telah melarikan diri ke luar negeri membawa uang puluhan milyar hasil gadaian aset perusahaan Rayyansyah. 


“ Kurang ajar !” teriak Fabian semakin frustasi. 


Tidak ada satupun orang yang berpihak padanya. Panggilan dari polisi kembali datang dan statusnya sudah naik menjadi tersangka. Penjara menanti dirinya di depan mata dan kehancuran bersiap untuk menggulungnya tanpa ampun.


Di titik ini, Fabian merasa dirinya hampir gila. 


“ Kamu gak mau ngasih solusi untuk kami, gitu ?” tanya Tante Tania dengan sorot mata penuh tuntutan. 


“ Coba saja Tante tanya saja solusinya pada Fabian. Soalnya hutang perusahaan terbit atas persetujuan Fabian dan juga Papa. Tidak ada kewenangan ku di sana sama sekali,” jawab Zavian. 


“ Papamu tidak pernah menandatangani surat itu. Fabian yang memalsukan tanda tangan papamu !” jelas Tante Tania.


“ Nah, itu Tante tahu sumber masalahnya siapa. Lalu kenapa memaksaku untuk ikut andil di sini ?” tanya Zavian. Jujur saja, dia mulai muak dengan sikap keluarga Papanya yang terus menerus memberi tekanan seperti ini.


“ Vian, please ! Tante gak tahu lagi harus bicarain ini sama siapa. Semuanya mendadak kacau dan buntu begini. Tante pusing.”


“ Aku juga pusing,” sahut Zavian. “ Aku juga punya pekerjaan sendiri yang meminta untuk diperhatikan.” 

__ADS_1


“ Ini perusahaan keluarga kita, lho. Sebagai anggota keluarga Rayyansyah seharusnya kamu lebih mementingkan ini dibandingkan hal yang lain. Memangnya kamu mau melihat usaha yang dibangun oleh kakekmu ini tumbang begitu saja?” 


“ Seandainya perusahaan ini tumbang, tetap saja bukan aku penyebabnya.”


“ Kamu egois, Vian !” bentak Tante Tania kesal. Dia telah berkali-kali membujuk Zavian agar kembali pada perusahaan Rayyansyah tapi terus ditolak.


“ Berhenti menjadikanku tumbal untuk membenahi kekacauan seperti ini !” balas Zavian tak kalah kesal.


Pekerjaan Zavian banyak hingga nyaris bertumpuk-tumpuk. Untung saja dia memiliki partner kerja seperti Yudha yang mau menangani sebagian dari pekerjaan itu. Sehingga Zavian  merasa bebannya sedikit lebih ringan. Tapi tetap saja, kepalanya penuh oleh berbagai pemikiran . Tentu saja Nayara menjadi fokus utamanya saat ini.


Wanita itu akan segera melahirkan dalam waktu dekat dan Zavian harus menemaninya. Itulah kenapa Zavian jengkel saat disuruh membenahi kekacauan di perusahaan ayahnya. Karena selain merepotkan, dia juga tidak punya banyak waktu mengurus semua itu. 


“ Perjanjian ini busuk sekali,” ujar Zavian sambil mendorong berkas yang dibawa oleh Tante Tania. “ Fabian tidak hanya bodoh, tapi juga telah kehilangan akal sehatnya.”


Zavian telah membaca satu per satu klausul yang tercantum dalam salinan surat perjanjian hutang yang telah disetujui oleh Fabian. Oleh karena itu, Zavian semakin mantap tidak mau melibatkan diri dalam kisruh yang ada di perusahaan milik papanya itu. Kecuali ada perjanjian yang jelas. 


Seperti kebiasaan buruknya, Fabian tidak terlalu suka turun tangan secara langsung mengerjakan pekerjaannya. Dia senang sekali melimpahkan tugas pada orang lain lalu menerima hasil saja. Begitu juga dengan setiap klausul yang ada di dalam surat perjanjian itu. Semuanya dibuat oleh Hendri tanpa berdiskusi dengan Fabian. Kakaknya yang egois dan bodoh itu tinggal membubuhkan tanda tangan tanpa membaca isinya terlebih dahulu. Tidak heran jika setiap klausul sangat menekan dan membuat pihak Raya Corp memiliki pegangan yang lemah.


“ Saranku hanya satu,” ujar Zavian. “ Segera temui Fabian dan minta -pertanggungjawabannya. Hanya dia yang pantas untuk menanggung semua ini.”


Zavian tidak sedang bersikap egois. Dia bisa saja mengatasi semuanya dengan cepat, tapi tentu hal itu tidak akan dilakukannya. Jika ingin membantu, maka Zavian harus menunggu moment yang tepat . Dia butuh persiapan matang jika ingin berperan kembali di dalam perusahaan ayahnya. Hal penting lagi, dia tidak akan memposisikan diri sebagai sosok putra kedua keluarga Rayyansyah karena itu hanya akan membuat Fabian membencinya. Tapi Zavian akan muncul sebagai sebatas rekan bisnis yang menawarkan solusi sekaligus meraih keuntungan. 


Tidak sekarang, tapi nanti. Fabian harus diberi pelajaran agar sadar akan perbuatannya. Laki-laki itu harus tahu bahwa tidak semua masalah yang diciptakannya akan diselesaikan oleh keluarganya. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2