Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Amarah, kecewa dan cemburu


__ADS_3

Fabian masuk ke dalam kamar rawat papanya sambil terus berpikir keras. Sampai detik ini, hasratnya untuk memiliki Nayara belum pernah surut sedikit pun. Persetan dengan kehamilan Nayara yang semakin membesar, bagi Fabian tidak ada yang bisa menghalangi rasa cintanya pada sosok mantan istrinya itu.


“ Mama kemana?” tanya Fabian saat tidak mendapati sosok Mama Widya di ruang rawat Papanya. 


“ Tadi katanya mau ke ruangan sebelah melihat Zavian,” jawab Tante Tania. 


“ Oh,” balas Fabian singkat. Dia menatap Papanya yang sedang diselimuti raut wajah sendu. Pria paruh baya itu tak bersuara, tapi Fabian tahu bahwa Papa Adrian ingin dia mendekat. “ Masih sakit, ya Pa?” 


“ Hmm,” gumam Papa Adrian. Lama Fabian duduk di samping Papanya dan mereka saling terdiam. Fabian sudah memahami bagaimana situasi saat ini , apalagi tentang kisruh antara kedua orang tuanya. 


“ Papa menyesal, Bian,” ucap Papa Adrian dengan begitu pelan. Pria itu menarik napas dalam dengan susah payah. Dadanya terasa sakit, perih dan juga panas.


Hanya kehadiran istrinya yang bisa membuat suasana menjadi sedikit lebih baik, tapi sayangnya wanita itu enggan mendekat setelah menyuarakan keputusannya. 


“ Gak perlu menyesal, Pa,” ujar Fabian dengan nada suara sinis. “ Setidaknya kita sudah berusaha membuat keadaan berjalan sesuai dengan keinginan Papa. Ya, walaupun kita gak pernah menyangka kalau ternyata Mama akan ikut campur.”


Papa Adrian melirik ke arah adik perempuannya sekilas sebelum bicara


“ Mamamu…. dia minta cerai.” 


Tergambar rasa sakit yang cukup jelas di dalam suara Papa Adrian saat bicara begitu. Fabian tahu dan dia hanya menganggukkan kepala dengan pelan. “ Mama sudah bilang padaku.” 


“ Papa gak mau cerai dari Mama, Bian,” ucap Papa Adrian dengan lirih.


“ Ck ! gak usah ditanggapi serius, Pa. Mama itu cuma menggertak saja,” sanggah Fabian dengan decakan kurang senang. “ Akan aku pastikan keluarga kita menghalangi niat Mama yang ingin bercerai dari Papa. Papa tenang saja.”


Papa Adrian tetap saja bernapas dengan resah meski anaknya telah memberikan penghiburan padanya. Kepalanya disesaki oleh berbagai hal yang membuat beban perasaannya semakin berat. Apalagi sekarang adik-adiknya juga ikut salah paham terhadap Mama Widya.


“ Kamu sudah melihat kondisi Zavian?” tanya Papa Adrian kemudian.


“ Untuk apa?” tanya Fabian dengan wajah kurang senang. “ Dia akan baik-baik saja karena tidak ada satupun yang bisa membuatnya goyah. Bahkan malaikat kematian sekalipun enggan mendekatinya. “


“ Mamamu ada di sana ,” ujar Papa Adrian kemudian.


“ Biar saja, Pa. Sejak dulu Mama memang lebih sayang pada Zavian, kok,” tukas Fabian semakin sinis.


Papa Adrian memejamkan mata dengan hembusan napas lemah. Teringat lagi di benaknya bagaimana Mama Widya selalu berpihak kepada Zavian sejak dulu. Dan sebagai bukti cintanya pada Zavian, Mama WIdya sampai tega ingin meninggalkan suaminya.

__ADS_1


“ Panggil Mamamu ke sini, Bian.” pinta Papa Adrian 


Fabian mengangguk lalu berjalan keluar. Tapi dia tidak segera menuju ruangan sebelahnya dimana Zavian sedang dirawat di sana. Fabian hanya termenung di depan pintu untuk beberapa saat, tapi setelah itu dia menjauh dan melangkah menuju lift hendak turun. Dia tidak ingin membantu memperbaiki hubungan kedua orang tuanya. Karena sesungguhnya, Fabian sedang menikmati suasana ini.


Fabian yakin sekali bahwa dia akan menerima banyak keuntungan dalam situasi yang kacau ini. 


Sementara itu di ruangan Zavian, Mama Widya duduk di sofa sambil menatap interaksi antara Zavian dan Nayara. Sementara Evy menepi dan duduk di balkon sambil mengutak- atik ponsel di dalam genggamannya.


Saat ini Nayara sedang menyuapi Zavian makan dengan cekatan . Nayara memperhatikan tekstur sampai suhu makanan agar suaminya yang sedang sakit bisa makan dengan nyaman. Sesekali Nayara menghapus sudut bibir Zavian dengan tisu untuk membersihkan sisa makanan dari sana. 


Mama Widya menghapus sudut matanya yang mendadak basah. Pemandangan di hadapannya benar-benar menggugah nuraninya sebagai seorang ibu. Sejak kecil Zavian telah dipaksa untuk melakukan berbagai hal sendirian. Zavian tumbuh dengan sangat mandiri. 


Sekarang, ada seorang perempuan yang mendampingi Zavian di saat terpuruknya. Ada seseorang yang merawat dan memberikan begitu banyak cinta untuk ankanya. Lantas, bagaimana bisa sepasang manusia yang saling mencintai itu harus dipisahkan hanya karena ambisi dan keegoisan ?


“ Mama kenapa menangis ?” Nayara kini berdiri di hadapan ibu mertuanya. Dia telah selesai menyuapi Zavian dan tangannya terulur menghapus air mata Mama Widya yang berjatuhan.


“ Gak apa-apa ,” ucap Mama Widya sedikit gagap. Dia menghapus air mata di wajahnya dan menghela napas dalam-dalam. 


“ Mama sudah makan? Aku suapin, ya ?” ujar Nayara.


" Gak usah, Nay. Mama belum lapar dan kalau pun lapar nanti bisa makan sendiri,” sahut Mama Widya memberi penolakan halus.


“ Mas butuh apa lagi?” tanya Nayara pada Zavian.


“ Butuh kamu,” goda Zavian. Pria itu tersenyum lebar seraya menatap wajah istrinya. .


Nayara tertawa sambil mengusap wajah suaminya dengan gerakan lembut dan pelan. Ada luka di pelipis Zavian yang mulai mengering dan segera sembuh. “ Aku ada di sini untukmu, By. Kapan pun kamu butuh, aku akan selalu ada.”


“ Terima kasih , sayang. Sekarang kamu makan juga, ya. Jangan sampai anak kita kenapa-napa,” ucap Zavian.


Nayara mengangguk cepat. Dia mengambil paper bag berisi makanan yang tadi dibawakan oleh Evy. Lalu Nayara makan di hadapan suaminya sambil bercerita hingga makanannya habis. Semua pemandangan itu tertangkap jelas oleh mata Mama Widya yang sejak tadi memperhatikan keduanya.


“ Kalian  gak boleh berpisah,” gumam Mama Widya dengan pelan. “ Kalian harus tetap bersama sampai nanti.”


Seminggu setelah dirawat Papa Adrian akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Meskipun begitu, sikap Mama Widya masih saja dingin terhadapnya. Tidak ada yang bisa menggoyahkan niat wanita itu untuk menghukum suaminya dengan perceraian. 


“ Mbak Widya masih mau menggugat  cerai Mas Adri? “ tanya Tania dengan hati-hati.

__ADS_1


“ Iya," jawab Mama Widya dengan tegas. Dia menatap adik iparnya dengan sorot mata yang tidak pernah terbaca dengan jelas.


“ Mbak, kita bicarakan ini dengan kepala dingin,ya,” ujar Tania membujuk istri kakaknya itu.


Mama Widya menggeleng tegas,” Mungkin keputusanku terlihat salah dimata kalian, tapi hanya diriku yang bisa mengerti kenapa akhirnya aku sampai pada titik ini. Aku muak dan lelah, Tania.”


“ Tapi situasinya seperti ini, Mbak. Mas Adrian sedang sakit dan dia butuh pendampingan dari Mbak Widya,” bujuk Tania lagi. Kali ini suaranya melunak demi melancarkan bujukannya.


“ Gak bisa Tan. Mas Adrian tidak membutuhkanku lagi,” balas Mama Widya disertai gelengan kepala. “ Dia hanya butuh tempat dan kesempatan untuk melancarkan segala ambisinya. Dia tidak menginginkanku sebagai pasangan hidupnya.”


Tania hendak bicara lagi, tapi Mama Widya segera berlalu pergi. Kabar tentang keretakan hubungan Adrian dan Widya telah menyebar ke seluruh anggota keluarga Rayyansyah. Satu per satu dari mereka turun tangan membujuk Mama Widya agar berdamai dan menyurutkan keinginannya untuk meninggalkan suaminya.


Sayang sekali, keputusan itu sudah bulat dan tidak ada lagi yang bisa mengganggu gugat.


Sedangkan Fabian masih mencari kesempatan untuk mendekati Nayara. Dia mengawasi gerak-gerik Evy dan menunggu kapan wanita itu keluar dari ruangan rawat Zavian. Setelah memastikan Evy pergi, Fabian segera masuk dan menyelinap ke dalam ruangan dimana Zavian sedang dirawat. Tujuannya tentu saja ingin menemui Nayara di sana. 


Sayangnya, langkah Fabian terpaku saat mendapati Nayara sedang berciuman dengan Zavian. Mereka tampak begitu mesra dan juga penuh cinta. Zavian yang masih terbaring di ranjang menahan kepala Nayara agar tetap membungkuk menyerahkan bibirnya. 


Fabian merutuk di dalam hati. Kecemburuan menguasai hatinya dan dia mengumpat pelan. 


‘ Kenapa Zavian selalu beruntung dalam segala hal?  Termasuk dalam mendapatkan Nayara.’


Lalu, seolah menyadari keberadaannya, Nayara menjauh dari wajah suaminya dan menatap Fabian dengan sorot mata mengejek. Begitu juga dengan Zavian yang terkekeh pelan sambil menjilat sudut bibirnya. 


“ Ada apa?” tanya Zavian pada kakaknya yang kini berdiri mematung tanpa suara.


“ Sepertinya Evy lupa mengunci pintu.”


“ Aku…..” Fabian tidak bisa bersuara lebih lanjut. Dia hanya menatap Nayara dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa amarah, kecewa dan juga cemburu.


Sedangkan Nayara yang bisa memahami sorot mata Fabian langsung menyunggingkan senyum sinis. “ Aku mencintai suamiku. Berhentilah bermain-main dan berharap bisa memuaskan ego kamu dengan segala cara agar aku beranjak dari sisi Zavian! “ ketus Nayara. 


Fabian menggigit bibirnya dengan sedikit kuat hingga rasanya begitu sakit. Tapi luka di dadanya jauh lebih sakit lagi. 


“ Kamu salah jika berpikir bahwa situasi ini akan membuatmu bisa mendapatkan celah. Karena tidak ada yang bisa membuatku meninggalkan suamiku !” tegas Nayara. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2