
“ Hari ini Zavian pulang,” ucap Mama Widya. Tangannya terulur membersihkan sudut bibir Fabian menggunakan tisu.” Dia akan bawa pulang Nayara dan juga kedua anaknya.”
“ Mama senang dia pulang?” tanya Fabian pelan. Ditatapnya kedua mata Mama Widya yang memancarkan sinar bahagia penuh antusias. Wanita itu bahkan berhias dan menggunakan lipstik merah untuk memulas bibirnya. Wajah lelah dan pucatnya kini tersembunyi di balik riasan yang berhasil menutupi segala rasa sakit dan kesedihannya.
“ Iya, Bian. Mama senang akhirnya Zavian pulang,” ucap Mama Widya. Ditatapnya Fabian dengan kedua mata yang memancarkan kesedihan.” Mama juga memintanya untuk pulang ke rumah. Gak apa-apa ,’kan?”
Fabian melepaskan dessah napas sedikit kasar. Entah kenapa, pertanyaan Mama Widya yang meminta izinnya untuk membawa Zavian kembali ke rumah sedikit mengusik. Apalagi setelah itu Mama Widya kembali berkata, “ Mama gak tahu berapa lama Zavian bakalan tinggal di sini. Sekarang yang penting Zavian pulang dulu ke rumah kita. Setelah itu terserah dia saja, apakah nanti mau menyewa apartemen atau hotel,” ujar Mama Widya.
“ Ma, aku gak pernah melarang Zavian untuk balik ke rumah,” ujar Fabian.
Mama Widya menatap dengan sedikit terpana.
” Ba-bagus kalau begitu.”
Fabian memejamkan mata sambil menarik napas . Akhir-akhir ini Fabian telah banyak mengalah pada perasaannya sendiri. Sisi egois yang selama ini selalu menempati peran terbesar di dalam kepalanya mendadak lemah. Dia tidak bisa marah tapi juga tidak otomatis senang. Perasaannya hampa tanpa ada gairah hidup yang menyertai.
Lalu beberapa menit kemudian Fabian melihat Mama Widya menelpon dan nyaris melonjak kegirangan. Kabar tentang Zavian yang kini sudah sampai di bandara benar-benar begitu membuat wanita itu bahagia. Sebenarnya Mama Widya ingin sekali menyambut kepulangan Zavian ke bandara, tapi dia tidak tega meninggalkan Fabian di rumah sakit.
“ Zavian sudah sampai bandara. Dia beneran pulang, Bian.” ujar Mama Widya.
“ Kalau Mama mau pulang ke rumah untuk menyambut kepulangan Zavian gak apa-apa, kok,” sahut Fabian kemudian.
“ Gak. Biar Zavian aja yang ke sini,” ucap Mama Widya.
Fabian hanya bergumam samar. Dia pasrah saja dan merasa tidak bisa ikut larut dalam kebahagiaan yang kini sedang melingkupi mamanya. Perasaan Fabian hambar dan tawar.
Sementara itu di bandara , Zavian berjalan sambil menggendong putrinya. Di sisinya ada Nayara yang menggandeng tangan mungil Zeano.
“ Welcome home,” bisik Nayara.
Zavian menoleh sambil tersenyum.” Rumahku yang sesungguhnya adalah tempat dimana kamu berada, Sayang.”
__ADS_1
Dua tahun yang lalu , ada luka yang Zavian bawa saat dia memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya . Berkali-kali dia berharap agar luka batinnya terobati dan dia bisa bernapas dengan tenang. Tapi akhirnya Zavian sadar bahwa jarak dan waktu hanyalah sebagai perantara atas kesembuhan rasa sakitnya. Di balik itu semua, dirinya sendiri yang harus menyembuhkan segala rasa sakit di dalam dadanya, bukan waktu, bukan jarak , bukan siapapun.
Lalu sekarang, saat menginjakkan kaki kembali di tanah air, Zavian merasakan dadanya dipenuhi oleh rasa lega. Setelah dua tahun pergi, kali ini dia kembali dengan situasi yang sedikit berbeda. Dadanya terasa jauh lebih lapang dan perasaannya menjadi ringan. Mungkin karena dia telah memutuskan untuk memberi maaf pada segala hal yang menyakitinya, lalu berdamai dengan masa lalu yang menyedihkan.
Salah satu negara bagian Amerika yang selama dua tahun ini ditinggalinya memang mengagumkan. Tenang, nyaman dan indah. Tapi bagi Zavian, Jakarta tetaplah tempatnya pulang. Segala kebisingan dan sesak yang ada di sini selalu membuatnya jauh lebih hidup. Zavian temukan lagi bahwa sebagian dirinya masih tertinggal di Jakarta dengan segala keriuhannya. Mungkin karena di kota ini masih ada Mama Widya, sosok ibu yang menjadi tujuan atas kepulangan Zavian.
“ Mama meminta kita langsung pulang ke rumah,” ujar Zavian setelah Nayara dan kedua anaknya duduk nyaman di dalam mobil.” Tapi sekarang Mama masih di rumah sakit.”
“ Kalau begitu, kita langsung ke rumah sakit?” tanya Nayara.
“ Iya, sebaiknya begitu. Kita temui Mama dulu,” jawab Zavian.
Setelah itu mobil meluncur di jalanan menuju rumah sakit tempat dimana Mama Widya sedang berada. Akan sangat aneh rasanya jika pulang ke rumah tapi sosok Mama yang seharusnya menyambut kedatangan mereka malah tidak ada. Itulah kenapa Zavian dan Nayara memutuskan langsung menuju rumah sakit.
Mama Widya sedikit terkejut saat pintu ruang rawat Fabian diketuk dari luar dan sosok Zavian bersama Nayara muncul di sana. Dia segera memeluk Zavian dan menangis karena terharu. Akhirnya anaknya benar-benar pulang setelah menghukum dirinya dengan jarak yang begitu jauh.
Fabian menyaksikan semua itu dari ranjang tempatnya berbaring. Tatapannya getir sekali. Apalagi saat melihat Nayara yang kini tampak semakin cantik dengan aura keibuan yang begitu kuat.
Fabian merasakan matanya menghangat, lalu air matanya berjatuhan meninggalkan jejak basah di sisi wajahnya. Buru-buru Fabian hapus air matanya dengan ujung lengan baju. Dia tidak sedang ingin menangisi apapun saat ini.
“ Mas……” Zavian kini duduk di sisi ranjang dan Fabian mencoba menatap adiknya itu. Mama Widya dan Nayara memilih menepi seolah ingin memberi ruang pada dua orang saudara yang selama ini selalu berjarak.
“ Inget pulang juga, Lo,” ujar Fabian dengan nada sarkas di dalam suaranya.
“ Ingatlah,” jawab Zavian dengan santai. Fabian tidak bisa menangkap perasaan marah atau dendam dari raut wajah Zavian.
Atau mungkin , satu-satunya orang yang menaruh dendam di sini hanya Fabian saja ?
Setelah apa yang terjadi padanya, seharusnya Zavian marah. Tapi sekarang , pria itu tampak santai seolah tanpa ada beban yang mengganggunya. Zavian juga menciptakan suasana tenang agar Fabian bisa bicara tanpa ada perasaan apapun yang tertinggal.
“ Lo harus sembuh dong, Gue udah janji mau merayakan ulang tahun Zean di rumah,” ujar Zavian.
__ADS_1
“ Lo tahu gue gak bakalan bisa sembuh,” tukas Fabian dengan suara menahan getir.
“ Seenggaknya lo harus keluar dari rumah sakit ini,” ucap Zavian lagi.
“ Gue gak bisa janji ,” ucap Fabian lirih. Tidak ada yang bisa dijanjikan oleh Fabian tentang kesembuhannya, karena tubuhnya begitu lemah dan bisa tumbang tanpa bisa diprediksi.
Zavian lalu memegang tangan Fabian yang kini teramat kurus. Diamatinya jari-jari rapuh itu sejenak dan berkata,” Salah satu alasan gue pulang adalah gue pengen menemani lo.”
“ Vian, lo gak perlu jadiin gue sebagai alasan dari keputusan lo untuk pulang.” sanggah Fabian. Dia menggeleng dan tampak muak .
Zavian menghela napas dan menatap kakaknya yang kini terbaring lemah.
“ Gue inget waktu dulu Papa selalu bilang supaya gue harus jagain lo, gue harus bantuin lo, dan gua harus ada sebagai penopang hidup lo. Selama ini gue benci banget setiap kali diminta Papa buat jagain lo, seolah-olah gue yang harus bertanggung jawab atas hidup lo. Padahal sebagai kakak, lo yang harusnya jagain gue.”
“ Lo gak perlu mengasihani gue.” sanggah Fabian dengan cepat.
Dia jelas sadar bahwa sejak dulu Zavian adalah bayangan khusus yang diciptakan Papa Adrian untuk dirinya. Zavian adalah orang yang akan membantu dan bertanggung jawab menyelesaikan seluruh kekacauan yang diperbuat Fabian.
“ Gue gak lagi mengasihani lo, tapi gue sedang berusaha untuk menjadi adik lo aja,” ujar Zavian.
Fabian mendadak membeku mendengar ucapan Zavian. Dia seolah disadarkan bahwa selama ini Zavian terlalu banyak mengalah pada dirinya yang egois. Dia juga menyadari bahwa Zavian telah melakukan banyak hal untuk dirinya. Sedangkan Fabian justru menganggap Zavian sebagai orang asing dan sebagai lawan yang harus disingkirkan.
“ Lo gak cuma punya Mama yang akan jagain lo, tapi lo juga masih punya gue, adik lo,” ucap Zavian.
Saat ini Fabian tidak dapat menahan sesuatu rasa sesak di dalam dadanya. Air matanya kembali tumpah bersama seluruh penyesalan yang menggulung-gulung di dalam hatinya. Seandainya waktu bisa diputar ke masa lalu, Fabian ingin mengulang seluruh hidupnya demi memperbaiki setiap kesalahan yang telah diperbuatnya.
“ Sekarang gue ngerti kenapa Papa selalu nitipin lo ke gue. Ini bukan tentang siapa diantara kita yang jadi kakak atau siapa yang jadi adik, tapi karena Papa memandang gue sebagai satu-satunya saudara lo,” ucap Zavian. Tangannya masih menggenggam tangan Fabian dengan begitu erat.
.
...****************...
__ADS_1