Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Tidak akan pulang


__ADS_3

Mama Widya semakin gencar mencari tahu dimana keberadaan Zavian dan Nayara saat ini. Bahkan Mama Widya pernah menyogok pihak imigrasi agar membocorkan kemana Zavian pergi. Tapi tentu saja usahanya tidak membuahkan hasil, karena jauh sebelum itu Zavian telah memberi uang tutup mulut kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Makanya, jejak Zavian tidak kunjung ditemukannya sampai detik ini. 


Enam bulan setelah kepergian Zavian, situasi di perusahaan Rayyansyah semakin kacau. Mama Widya sibuk bolak-balik mengurus segala hal seorang diri. Bahkan Mama Widya menjual beberapa asetnya kemudian uang itu ia gunakan untuk diinvestasikan kepada perusahaannya , meski di bulan berikutnya hal itu menjadi sia-sia karena perusahaan sedang mengalami kerugian. 


Sementara itu Fabian tidak bisa diandalkan karena kondisi kesehatannya yang terus memburuk. Sedangkan Om Farhan yang berulang kali dibujuk untuk kembali ke Raya Corp tetap menolak. 


Kesombongan Mama Widya telah menginjak-injak harga diri Om Farhan, sehingga ketika dia diminta untuk kembali maka Om Farhan dengan tegas menolaknya. Pantang baginya untuk kembali menempatkan diri di sana setelah menerima begitu banyak cacian dari saudara iparnya itu.


Hingga akhirnya Jerry yang pernah menjabat sebagai Vice of  CEO terpilih sebagai CEO baru melalui rapat umum  pemegang saham, Meski posisi CEO sudah kembali terisi tapi tidak lantas membuat keadaan pulih begitu saja .


Ada beberapa rencana proyek baru yang terpaksa dihentikan karena kekurangan anggaran. Belum lagi penolakan dari beberapa karyawan yang tidak terima dengan pembaruan sistem upah. Mereka merasa dirugikan dan memenuhi kolom pengaduan dengan berbagai keluhan, bahkan ada yang sampai menghujat. 


“ Seandainya Zavian ada di sini, mungkin keadaan tidak akan seburuk ini,” gerutu Mama Widya,” Sedikit lagi perusahaan Rayyansyah akan tinggal nama ! Hancur semuanya.”


“ Gak usah ngeluh ! Semuanya terjadi gara-gara dirimu, Mbak .” sahut Tante Tania tanpa menoleh ke arah iparnya. 


“ Kamu gak berniat membujuk suamimu untuk kembali ke perusahaan kita? Apa dia sudah lupa bahwa dia harus bertanggung jawab terhadap harta peninggalan mertuanya ?” tanya Mama Widya dengan sinis. 


“ Tentu saja aku tidak akan melakukan itu,” ujar Tante Tania.” Sudah dihina berulang kali tapi masih mau dijadikan kacung, suamiku tidak sebodoh itu.”


Tante Tania menatap Mama Widya dengan sinis,” Lagipula, menjaga harta yang dimiliki oleh keluargaku bukanlah tanggung jawab suamiku,” tukas Tante Tania.


Mama Widya menenggak minumannya dengan perasaan gusar. Telah lama rasanya Zavian menghilang dan situasi semakin memburuk. Sekarang, Mama Widya sengaja bergabung dengan para sosialita wanita yang bermain golf. Tujuannya tentu saja ingin mendekati mereka dengan maksud supaya suami-suami dari perempuan kaya itu mau menanamkan modal di perusahaan Raya Corp.


Sayangnya, para wanita kaya itu malah menjauh dan memilih menyibukkan diri bermain golf. Hanya Mama Widya dan Tante Tania yang memilih berteduh di atas buggy car.


“ Oh iya, aku menyarankan Mbak Widya supaya kembali melakukan tes darah pada Fabian,” ujar Tante Tania kemudian. 


“ Kenapa anakku harus melakukan itu ?” tanya Mama Widya.


“ Kudengar Fabian akhir-akhir ini sering tumbang, ya. Makanya dia harus cek darah di laboratorium untuk mengetahui apakah jangan -jangan status penyakitnya sudah meningkat dari HIV menjadi AIDS ,” ucap Tante Tania. 

__ADS_1


“ Mulutmu kurang ajar sekali,” sahut Mama Widya penuh emosi.


“ Bukan bermaksud kurang ajar, tapi aku hanya sedang mengkhawatirkan Fabian dan orang-orang di sekitarnya,” balas Tante Tania. 


“ Kamu hanya sedang mengejek dan menghina anakku, Tania. Padahal anakku juga keponakanmu juga !” seru Mama Widya. 


“ Justru karena dia keponakanku , makanya kuberi saran ini. Mbak Wid juga sangat egois dengan memaksanya terus berinteraksi dengan orang banyak, padahal ada resiko tinggi di balik itu,” ujar Tante Tania.


Sayangnya, Mama Widya terlanjur sakit hati mendengar ucapan yang terkesan merendahkan dari iparnya. Akhirnya dia memilih pergi meninggalkan padang golf tanpa sempat mengayunkan stik yang dibawanya sejak tadi.


“ Ck ! Masih saja angkuh meskipun telah mendapat cobaan,” gumam Tante Tania mencibir kepergian iparnya.


Sesampainya di rumah, Mama Widya langsung mencari Fabian. Ada rasa sedih di dalam dirinya saat melihat Fabian terkapar tak berdaya di atas kasur. Tubuhnya terasa begitu lemas dan susah untuk digerakkan.


“ Kita ke rumah sakit ya, Bian,” ucap Mama Widya .


“ Gak, Ma ,” jawab Fabian sambil menggelengkan kepala.” Aku gak mau…..”


“ Kita harus tes darah lagi,” ujar seorang dokter pada Mama Widya. 


“ Lakukan saja,” jawab Mama Widya dengan pasrah. Dia menatap bagaimana wajah Fabian tampak kuyu tanpa rona sedikit pun.


” Berikan yang terbaik untuk anakku, dia satu-satunya yang kumiliki sekarang.”


Keesokan harinya, hasil tes laboratorium keluar dan hasilnya sangat mengejutkan. Ternyata apa yang ditakutkan oleh Mama Widya terjadi juga. Pantas saja Fabian sering tumbang karena penyakit laknaat itu telah menggerogoti badannya dari dalam dengan sangat menyedihkan. Fabian yang semula hanya mengidap HIV reaktif, kini telah naik menjadi pengidap AIDS.


Kematian menunggu di depan mata Fabian. Dia bahkan merasa bahwa malaikat pencabut nyawa kini tengah mengawasinya setiap detik. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Fabian selain menangisi  jejak masa lalunya. Sebanyak apapun air mata yang tumpah, itu tidak akan mengubah apapun. Dia adalah seorang pendosa yang kini sedang menuai karma atas kesalahannya di masa lalu.


“ Gak mungkin,” desis Mama Widya dengan air mata yang bercucuran.” Jangan menghukum kami dengan begitu kejam, Ya Tuhan…” 


Lama sekali Mama Widya menangis seorang diri . Dia meratapi nasibnya yang siial dan selalu dipenuhi oleh kepedihan. Jika bisa mengulang waktu, maka Mama Widya ingin kembali pada masa lalu. Ingin sekali dia memperbaiki jalan hidup yang telah dirusaknya dengan sengaja. 

__ADS_1


Saat sedang menangis meratapi diri, asisten Mama Widya memberitahu tentang kedatangan Yudha . Laki-laki itu duduk di hadapan Mama Widya dan tersenyum dengan sopan. Sesaat kemudian, Yudha mengulurkan ponselnya kepada Mama Widya.


“ Ada telepon untuk Tante dari Zavian.”


Mama Widya langsung merebut ponsel itu dan berbicara dengan dada yang mendadak terasa begitu nyeri. Dia telah mencari anaknya kemana-mana tapi tidak kunjung menemukannya. Sedangkan orang lain bisa dengan bebas bicara dan berhubungan dengan Zavian. Dan saat ini, Mama Widya sadar bahwa Zavian sendiri yang tidak ingin berhubungan dengannya.


Rasanya sakit sekali, hingga Mama Widya menahan diri untuk berteriak melampiaskan rasa nyeri di dadanya. Hanya ada kesedihan yang menghiasi setiap tarikan napasnya.


“ Vian……” panggil Mama Widya dengan lirih.


” Anak Mama…..”


“ Ma…..” suara Zavian terdengar di seberang sana. Nada suaranya masih sama, lembut dan hangat.


Membuat Mama Widya semakin merasakan kepedihan yang teramat sangat. Ingin sekali dia memeluk tubuh anaknya dan mengadukan nasib yang sedang tidak mujur. 


“ Aku sudah memaafkan Mama untuk semua yang pernah terjadi di dalam hidupku. Sampai detik ini aku masih menyayangi Mama sama seperti dulu. Tidak ada yang bisa menggeser posisi Mama di hatiku.”


Mama Widya menggeleng dengan isakan yang semakin terdengar pilu. Air matanya jatuh sederas hujan. Rasa nyeri menyengat dadanya tanpa ampun. 


“ Mama tahu kan, kalau aku sangat menyayangi Mama.”


“ Iya Mama tahu, tapi sekarang pulang ya. Temani Mama di sini.”


“ Mama harus kuat menghadapi semuanya meskipun tidak ada aku di sana.”


“ Mama tidak sekuat itu, Za. Mama butuh kamu.”


“ Maaf Ma. Aku tidak akan pulang.”


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2