
Harusnya Papa Adrian beristirahat di rumah setelah dirinya divonis menderita penyakit jantung kongestif yang melarangnya bekerja terlalu keras . Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Fabian bekerja tanpa pengawasan. Fabian tidak secakap Zavian dalam mengambil keputusan penting atau menyelesaikan pekerjaan dengan tangannya sendiri.
“ Jika ada Zavian mungkin sekarang aku sudah bisa pensiun dan istirahat dengan tenang,” ujar Papa Adrian secara terang-terangan.
Papa Adrian memang sengaja berkata demikian karena dia ingin memotivasi Fabian. Tapi Fabian jelas tidak bisa menerima hal itu karena merasa harga dirinya tersinggung.
“ Jangan membanding-bandingkan antara aku dan Zavian !” seru Fabian dengan wajah kesal.
“ Kalian berdua memang memiliki perbedaan yang layak untuk dibandingkan,” tukas Papa Adrian dengan sorot mata meremehkan.
” Coba lihat adikmu, bahkan selama dia sakit pasca kecelakaan saja perusahaannya tetap berjalan dengan baik dan masih meraup keuntungan dengan berbagai kerjasama. Proyek yang dijalankannya juga berlangsung aman tanpa kendala. Sedangkan dirimu, dalam keadaan sehat saja tetap tidak becus dalam bekerja.”
“ Brengssek !” sentak Fabian sambil menggebrak meja. “ Aku muak melihat cara Papa yang semakin keterlaluan dari hari ke hari!”
“ Kamu yang keterlaluan, Bian. Lihat hasil kerjamu yang sama sekali tidak becus !” bentak Papa Adrian tak kalah kesal.
Setelah berkata begitu , Fabian segera meninggalkan kantor dan memacu mobilnya menuju sebuah club. Setelah memperlihatkan kartu identitas dan juga kartu member, ia berjalan masuk ke dalam ruangan remang-remang yang hanya dihiasi lampu strip berwarna kuning. Musik menghentak memenuhi pendengarannya dan dia berjengit sesaat.
Fabian memilih sebuah sofa di sudut ruangan dan meminta agar pelayan membawakannya minuman beralkohol. Di tempat ini Fabian tidak perlu meminta muciikari untuk menyediakan perempuan untuknya. Karena para wanita akan mendatanginya dan duduk di pangkuannya dengan sukarela.
Seperti saat ini , saat dia telah menenggak minuman sebanyak lima gelas dan kesadaran mulai menipis, seorang wanita datang dan duduk di pangkuannya. Paha wanita itu terekspos semakin jelas ketika mengkungkung pinggang Fabian. Belahan gaun yang rendah memperlihatkan pemandangan indah yang membuatnya bergairah.
Wanita itu tersenyum pada Fabian yang mulai tipsy. Mereka berciuman sekilas dan wanita itu tertawa kecil sebelum kembali melumaat bibir Fabian dengan lebih dalam. Tangan Fabian menurunkan tali kecil gaun itu hingga jatuh di lengan sang wanita. Kemudian tangannya menjamaah bagian belakang sambil meremass kuat.
Dari kejauhan, seseorang mengamati kelakuan pria itu dengan ponsel di tangannya. Dia mengabadikan pemandangan di sana melalui tangkapan gambar yang menyorot jelas pada wajah Fabian.
“ Kau mengusirku, menghinaku dan membuat hidupku hancur dalam waktu semalam. Aku bahkan harus kehilangan anakku karena perbuatanmu,” gumam seseorang dengan kilatan dendam di matanya.
Ya, wanita itu adalah Sarah yang beberapa hari ini memutuskan untuk memata-matai kegiatan mantan suaminya itu. Dia telah menyimpan dendam akibat perlakuan buruk Fabian terhadapnya.
Wanita di pangkuan Fabian menoleh ke arahnya dan Sarah mengedikkan dagu sebagai isyarat agar wanita suruhannya menciptakan pemandangan yang jauh lebih erotis. Sesaat kemudian dia tersenyum sinis saat melihat Fabian jatuh ke dalam perangkap dendamnya.
“ Kau akan hancur di tanganku, mantan suamiku !”
...----------------...
__ADS_1
Pintu ruangan Fabian diketuk dari luar dan sekretarisnya muncul di ambang pintu untuk memberitahu kedatangan sang CEO. Fabian mengerutkan kening kurang senang karena merasa tidak ada janji dengan Papanya. Apalagi sekarang Fabian sedang memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi tentu saja dia tidak bisa menolak Papanya yang datang berkunjung ke ruangannya.
“ Duduk,Pa,” ujar Fabian yang berdiri dari kursi kerjanya.
Papa Adrian buru-buru mengangkat tangannya dan melarang Fabian untuk datang menghampirinya.” Kamu duduk di sana saja, Bian.”
Fabian yang tidak mengerti kenapa Papanya tiba-tiba datang berkunjung tetap saja menghampiri Papa Adrian dan duduk berhadapan di sofa.
“ Aku sedang ada banyak kerjaan,Pa,” ucap Fabian tanpa basa-basi.” Kalau nanti pekerjaanku tidak selesai Papa malah marah-marah dan bilang aku gak becus kerja.”
“ Makanya Papa bilang supaya kamu tetap duduk di kursimu dan terus bekerja,” balas Papa Adrian.
“ Terus Papa ngapain ke sini?”
“ Lihatin kamu kerja.”
“ Pa….” Fabian ingin sekali meremass dan mengacak-acak rambutnya. Tapi sadar bahwa nanti sore dia masih ada pertemuan dengan klien yang mengharuskan agar tampil rapi.
“ Kenapa sih?”
“ Iya. Aku melakukannya sesuai dengan arahan Papa,” jawab Fabian dengan wajah masam.
“ Bagus, kalau begitu aku juga ingin mendengar alasan mereka mengajukan resign,” ujar Papa Adrian.
Fabian menghela napas dalam-dalam sambil berusaha menetralkan raut wajahnya. Dia tidak ingin menunjukkan wajah kusut yang akan membuat Papanya semakin mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan. Fabian kemudian kembali duduk ke belakang mejanya dan membiarkan Papanya sendirian di sofa.
TIdak lama kemudian sekretaris Fabian memberitahu bahwa pegawai yang dipanggil oleh Fabian sudah datang. Fabian segera menyuruh sekretarisnya agar mempersilahkan pegawai itu masuk ke ruangannya.
Seorang wanita berjalan ke dalam ruangan dan mengucap permisi dengan sopan. Wanita bernama Meisya itu menyapa Papa Adrian sebelum dipersilahkan duduk di kursi yang ada di hadapan Fabian. Meisya adalah pegawai dengan status permanen yang sekarang menjabat sebagai staff accounting . Rekam jejak karirnya bagus dan tidak pernah bermasalah terkait pekerjaannya.
Agak sedikit mencurigakan jika ada karyawan dengan status permanen yang ingin mengajukan pengunduran diri di situasi seperti ini. Padahal karyawan lain berlomba-lomba menciptakan rekam jejak yang bagus agar segera diangkat sebagai karyawan tetap.
“ Langsung saja ke topik utama, saya ingin tahu apa alasanmu ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini,” ujar Fabian mencecar wanita itu.
“ Karena saya punya alasan pribadi terkait pengunduran diri ini,” jawab Meisya dengan sopan.
__ADS_1
“ Kamu sudah diterima kerja di tempat lain?” tembak Fabian dengan cepat.” jawab saja dengan jujur.”
“ Saya ingin mengembangkan potensi di dalam diri saya dan kebetulan saya menemukan sebuah tempat yang dirasa cocok,” jelas perempuan itu membenarkan tuduhan Fabian.
Fabian mendengus pelan mendengar alasan klise yang dibalut kalimat profesional itu. Sebelumnya Fabian memang sudah tahu bahwa Meisya telah diterima diperusahaan milik Zavian. Itulah kenapa dia memanggil Meisya ke sini.
Suasana semakin bertambah tidak enak saat Fabian melirik ke arah Papa Adrian dan menemukan laki-laki itu sedang mengawasinya.
“ Alasanmu terlalu klise. Padahal perusahaan ini telah memberimu wadah agar bisa mengembangkan potensi dengan baik,” sindir Fabian yang langsung membuat Meisya mendadak salah tingkah. “ Apa keuntungan yang kamu dapatkan di tempat kerja barumu ? Apa gajinya lebih besar daripada apa yang kamu dapatkan di sini?” tanya Fabian lagi.
“ Sebenarnya saya sedang hamil, pak,” jawab Meisya.
“ Lalu apa masalahnya jika kamu sedang hamil?” tanya Fabian kemudian.” Kamu tetap bisa bekerja di sini meskipun sedang hamil.”
“ Saya ingin mendapatkan waktu yang cukup untuk pulih setelah melahirkan nanti.”
“ Perusahaan ini juga memberikan cuti melahirkan kepada karyawannya.”
Meisya memilih untuk diam dan Fabian merasa kesal sendiri. Apalagi Papanya terus menatap dengan sorot mata penuh tuntutan.
“ Memangnya apa keuntungan yang akan kamu dapatkan dari perusahaan barumu itu?” tanya Fabian .
“ Di sana diberikan cuti melahirkan selama empat bulan dan keringanan pulang dua jam lebih cepat untuk dua bulan selanjutnya. Di sana, ada bonus melahirkan dan gaji tetap dibayar full selama cuti berlangsung. Tidak hanya itu,cuti khusus juga diberikan kepada pria yang istrinya melahirkan.” jelas Meisya dengan detil tanpa terlewat sedikitpun apa yang membuatnya memilih bekerja pada perusahaan Zavian.
Papa Adrian yang menyimak sejak tadi tiba-tiba merasakan telinganya mendadak sakit mendengar alasan dari Meisya. Dia teringat dulu bahwa Zavian pernah mengajukan peraturan yang serupa untuk cuti bagi karyawan yang akan melahirkan. Tapi Fabian menolak usulan itu, alasannya bahwa karyawan harus tetap produktif apapun alasannya.
Sekarang, karyawan mengundurkan diri karena kebijakan perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan. Papa Adrian merasa menyesal karena telah menolak usulan Zavian waktu itu.
“ Saya tawarkan gaji dua kali lebih tinggi , bagaimana?” tawar Fabian kemudian.
“ Saya tetap pada keputusan yang telah diajukan ,Pak,” jawab Meisya bersikukuh.
Fabian menarik napas dalam-dalam lalu menatap Papanya yang sedang menggelengkan kepala. Akhirnya mau tidak mau, Fabian harus melepas karyawan yang telah bekerja selama bertahun-tahun di sini. Setelah Meisya keluar, Fabian merasakan aura intimidasi yang semakin pekat dari Ayahnya.
.
__ADS_1
...****************...