Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Penyelamat


__ADS_3

“ Gak, Bian. Mama sangat menyayangimu. Mama selalu memikirkanmu dan Mama gak malu punya anak sepertimu.”ujar Mama Widya dari seberang. Ada rasa panik di dalam suaranya saat dia berusaha meyakinkan Fabian berkali-kali.


“ Jangan bilang goodbye gitu, Bian. Kamu gak boleh ninggalin Mama, kamu harus tetap di sisi Mama.” wanita itu kembali menjerit histeris.


Tidak ada lagi sahutan dari seberang dan telepon terputus tepat setelah Fabian mengucapkan salam perpisahan . Mama Widya langsung panik dan perasaannya sangat tidak enak. Dia bermaksud melacak lokasi ponsel Fabian tapi sayangnya anaknya itu malah mematikan GPS yang ada di ponselnya sehingga sulit untuk mengetahui dimana keberadaannya saat ini. 


“ Fabian, please…. Jangan tinggalin Mama.” Mama Widya berkali-kali memohon di dalam hatinya sambil terus menangis. 


Ada rasa sesal di dalam dada Mama Widya karena selama beberapa hari belakangan ini telah mengabaikan Fabian. Seharusnya dia terus menjadi penopang untuk anaknya yang sedang dilanda musibah. Seharusnya dia tidak menunjukkan rasa kehilangan Zavian di hadapan Fabian yang berhasil menimbulkan rasa cemburu. 


Di saat seperti ini, Mama Widya sadar bahwa ternyata begitu sulit membagi kasih sayang secara adil. Kedua anaknya akan terus berebut dan mempertanyakan kepada siapa kasih sayangnya yang paling besar tercurah. 


Mama Widya hanya meratapi kepergian Zavian selama beberapa hari tapi Fabian telah menaruh prasangka bahwa Mama Widya tidak menyayanginya. Fabian merasa tersakiti hanya karena Mama Widya tidak lagi memperhatikan dirinya yang sedang sakit. Padahal selama bertahun-tahun, Mama Widya selalu memihak kepadanya. Bahkan Mama Widya menjadi satu-satunya orang yang membela Fabian disaat yang lain menghujat kelakuannya.


Sedangkan di sisi lain, Zavian selalu dipaksa mengalah sepanjang hidupnya. Disaat dia sedang sakit, Mama Widya tidak begitu memperhatikannya. Mama Widya hanya datang melihat keadaannya lalu berpesan kepada pelayan untuk memperhatikan jadwal  minum obat Zavian. Bukannya mengecilkan jasa Mama Widya, bukan…. Tapi kenyataan memang begitu.


Bahkan ketika dulu Zavian mengalami patah tulang kaki akibat dicelakai papanya sendiri, Mama Widya tidak berperan banyak dalam merawatnya. Semua diambil alih oleh Nayara yang waktu itu sedang mengandung. Tidak ada usaha khusus yang dilakukan Mama Widya demi kesembuhan Zavian. 


Lalu, setelah segala ketimpangan itu terjadi selama bertahun-tahun , bagaimana bisa Fabian berkata bahwa dia tidak disayangi ?


Egois sekali.


“ Kamu jahat banget kalau seandainya beneran ninggalin Mama,” ujar Mama Widya yang mulai putus asa karena sambungan teleponnya tidak kunjung diangkat. 


Dalam rasa paniknya, Mama Widya masih bisa berpikir jernih dan meminta asistennya memanggil ahli IT. Dia harus mengetahui lokasi dimana Fabian saat ini. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk melacak keberadaan Fabian melalui sambungan telepon yang terkoneksi ke satelit milik provider yang digunakannya. 


“ Lokasi terakhirnya ada di Rafflesia Tower,” ujar Asisten Mama Widya yang panggilannya terus terhubung dengan ahli IT di seberang sana . 


“ Cepat kesana dan temukan anakku !” teriak Mama Widya panik.


Asisten Mama Widya langsung meminta dua orang suruhannya untuk datang ke sana demi menemui Fabian. Mereka diperintahkan memakai motor supaya cepat, sedangkan Mama Widya bersama asistennya berangkat menggunakan mobil.


Sepanjang jalan, asisten Mama Widya menelepon pihak pengelola gedung dan meminta agar mengecek CCTV yang mungkin menangkap keberadaan Fabian di sana. Setelah menyebutkan ciri-ciri fisik Fabian, baju terakhir yang dipakai, serta plat mobilnya maka pihak pengelola gedung mengkorfimasi bahwa memang ada laki-laki dengan ciri-ciri tersebut memasuki gedung melalui pintu sebelah barat. 


Mama Widya mengatupkan tangan dan memohon di dalam hati agar dia masih diberi kesempatan berkumpul dengan anaknya. Dia tidak ingin mendapat kabar duka apapun. Karena seluruh kesiialan yang terjadi padanya akhir-akhir ini sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa ada di dalam neraka. 


“ Ya, Tuhan lindungi anakku. Fabian tidak boleh pergi meninggalkanku.” Mama Widya terus berdoa. 


Mama Widya sadar bahwa dirinya bukanlah sosok religius , tapi untuk kali ini, dia berharap Tuhan masih mau mendengar dan mengabulkan doanya. 

__ADS_1


Saat mereka telah sampai di depan Rafflesia Tower , Mama Widya dengan mudah menemukan mobil Fabian terparkir di sana. Dia segera turun dan berlari memasuki lobi dengan tergesa-gesa. Tapi langkahnya mendadak terhenti saat mendengar keributan dan teriakan ngeri dari orang-orang. 


“ Ada yang bunuh diri !” teriak mereka sambil terus berlarian ke arah sayap kanan Rafflesia Tower. 


Mama Widya mengerjapkan mata, lalu menggelengkan kepala. Dia takut sekali. Takut jika prasangka buruknya menjadi nyata. 


“ Bu, ayo kita ke sini.” ajak asisten Mama Widya. 


Mereka berjalan tergesa menuju pusat keributan yang terjadi di sana. Asisten Mama Widya berjalan lebih dulu dan mencari informasi tentang siapa orang yang telah mengakhiri hidup dengan melompat dari ketinggian itu. 


“ Laki-laki berusia sekitar tiga puluh empat tahun, badannya kurus, rambutnya sedikit gondrong dan memakai kemeja biru.” Asisten Mama Widya menyebutkan ciri-ciri dari pelaku bunuh diri yang didapatkannya. 


“ Gak ! Itu gak mungkin Fabian !” seru Mama Widya sambil berteriak cepat. 


Mama Widya segera mendekat demi melihat korban bunuh diri yang membuat dadanya berdebar kencang. Saat melihat seorang laki-laki yang terkapar di lantai dengan keadaaan mengenaskan , Mama Widya nyaris menjerit. Wajah korban tidak bisa terlihat jelas karena posisi jatuhnya menelungkup dengan kepala pecah yang digenangi darah. Tapi melihat pakaian dan postur tubuh korban itu, Mama Widya seolah melihat anaknya sendiri. 


“Gak ! Gak ! “ Mama Widya menggelengkan kepalanya dengan histeris.


“ Bu, ciri-cirinya mirip dengan Mas Bian, “ ujar Asisten Mama Widya.


Dunia rasanya berhenti berputar di titik itu juga dan Mama Widya mendadak kehilangan pegangan. Dia merasakan pandangannya menggelap dan seluruh tubuhnya lemas sekali. Kakinya bahkan tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya yang terasa semakin lemah. 


Mama Widya dibawa ke tempat sepi untuk disadarkan. Asistennya terus mencoba mengembalikan kesadaran wanita itu dengan berbagai cara. Beberapa saat kemudian, dua orang suruhan Mama Widya datang dan mengatakan bahwa korban bunuh diri itu bukanlah Fabian. 


“ Serius deh, itu bukan Mas Fabian. Aku sudah melihat wajahnya secara langsung dan meneliti identitasnya,” jelas laki-laki itu.


” Seratus persen bukan Mas Fabian.”


“ Syukurlah,” ujar asisten Mama Widya. 


Sedangkan Mama Widya belum pulih dari pingsannya meski telah diusahakan berbagai cara. Setelah menunggu lama barulah Mama Widya bangun dan dia langsung menangis. Tapi asistennya segera menenangkannya.


“ Itu bukan Mas BIan, Bu ,” ujar asistennya menjelaskan keadaan. 


“ Masa sih?” tanya Mama Widya sambil menghapus air matanya. ” Bukannya ciri-ciri yang disebutkan memang mirip dengan Fabian?”


“ Banyak orang yang pakai kemeja biru dan semua itu cuma kebetulan saja.” Jelas Asistennya sambil menunjuk dua orang suruhan tadi.” Mereka sudah memastikan bahwa itu bukan Mas Fabian .”


“ Lalu Fabian mana ?” tanya Mama Widya sambil menghapus sisa-sisa air matanya. Dia belum sepenuhnya lega jika belum melihat sendiri keberadaan anaknya. 

__ADS_1


“ Tidak tahu , Bu. Kami sudah mencari Mas Fabian di sekitar sini tapi tetap gak ditemukan,” ujar orang suruhannya. 


“ Cepat cari ! Aku gak mau tahu, pokoknya Fabian harus ketemu ! “ bentak Mama Widya dengan tegas. 


Mama Widya kemudian menemui salah seorang polisi yang datang kesana untuk mencari tahu sendiri tentang identitas korban bunuh diri itu. Dan benar, itu bukan Fabian. 


Sementara itu, di rooftop Rafflesia Tower , Fabian duduk di lantai. Sikunya lecet dan berdarah tapi rasa sakit itu diabaikannya saja. Seorang perempuan berdiri berkacak pinggang sambil menatapnya dengan sorot mata jengkel. Perempuan itu baru saja menarik dan mendorong tubuhnya menjauh dari pagar pembatas hingga jatuh terluka.


“ Dasar bodoh ! Orang-orang berpikiran singkat sepertimu memang bodoh !” hujat perempuan itu.” Kamu gak tahu bahwa tindakanmu akan sangat merugikan pemilik gedung ini ? Hah ?” 


“ Itu bukan urusanku,” jawab Fabian tak kalah sengit.” Dan kau …… perempuan siialan ! Kenapa suka ikut campur dalam urusan orang, hah ?”


Perempuan itu mengacungkan telunjuk tepat ke hadapan Fabian, matanya menyorot sengit penuh kemarahan.” Aku tidak akan ikut campur dalam urusanmu kalau kau berniat mengakhiri hidup di tempat lain. Kau boleh bunuh diri, tapi jangan di sini !”


“ Apa hakmu melarang-larangku , hah ?!” bentak Fabian kemudian . 


“ Jelas aku berhak karena ayahku adalah pemilik gedung ini. Dan setiap bulan hampir ada lima kasus bunuh diri yang terjadi  di sini. Itu sangat merugikan kami karena ada banyak rumor menyeramkan yang membuat para penyewa mulai merasa ragu dan mulai memutus kontrak sewanya !” seru perempuan itu. 


“ Brengssek !” umpat Fabian kesal. 


Setiap kali berniat mengakhiri hidup, maka ada saja halangan yang membuat niatnya tidak terlaksana. Entah apa maksud Tuhan yang selalu mengirim penyelamat agar dia selamat dari aksi bunuh dirinya. Mungkinkah ini adalah hukuman dari Tuhan seperti yang pernah diucapkan Zavian dulu ?


“ Pergi ke tengah laut, sana ! Ceburkan dirimu di sana dan mati dengan tenang tanpa membuat orang lain rugi !” ucap perempuan itu lagi. 


“ Berisik !” hardik Fabian kesal. Dia berdiri dan bermaksud untuk turun melalui tangga darurat. Tapi hal yang membuatnya jengkel adalah keberadaan perempuan yang terus mengikutinya . 


“ Kenapa kau mengikutiku ?” tanya Fabian jengkel. 


“ Aku harus memastikan orang bodoh sepertimu tidak mengakhiri hidup di sini ! Kalau kamu mau mati cari tempat lain ! “ ujar perempuan itu sambil melipat tangan di depan dada. 


Fabian menuruni tangga satu persatu dengan seorang perempuan yang terus mengikuti langkahnya. Ada suara gerutu disertai hujatan yang terdengar menjengkelkan , tapi Fabian berusaha mengabaikannya. Saat mereka berjalan di salah satu lorong yang ada di lantai dua puluh lima, lalu perempuan itu menerima telepon dari seseorang dan umpatannya semakin keras. 


“ Brengssek ! Orang bodoh ini memang menyusahkan !” ujar perempuan itu.


Fabian yang mulai jengah mendengar umpatan itu sontak menoleh ke belakang dengan dahi berkerut. Dia kesal sekali mendengar bagaimana perempuan itu mengumpatnya dengan mudah. 


“ Ada orang bodoh selain dirimu yang baru saja melompat dari lantai lima belas. Siaalan !” ucap perempuan itu. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2