
“ Sejak awal kau memang sengaja mengaku hamil anakku dengan tujuan ingin menipuku, ya?” pertanyaan Fabian terlontar dengan suara rendah namun terkesan begitu dingin. Pria itu membuka dasinya sambil menatap ke arah Sarah.
“ Maafkan aku, Mas. Kumohon, maafkan aku.” Sarah langsung berlutut di hadapan Fabian yang hanya menatapnya dengan sorot mata tajam.
“ Mudah sekali kamu meminta maaf setelah apa yang kamu lakukan padaku,” desis Fabian marah.
Rasanya dia ingin sekali mencekik wanita itu sampai mati. Tapi niat itu urung dilakukannya karena hanya akan menambah daftar masalah di dalam hidupnya.
“ Pulanglah ke rumah ibumu malam ini juga,” titah Fabian tanpa menatap Sarah. “ Keluar dari rumah ini tanpa membawa apapun !”
“ Gak, Mas. Aku gak mau. Tolong jangan usir aku.” mohon Sarah dengan wajah memelas.
“ Kau pikir aku masih sudi menerimamu, hah?” bentak Fabian yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. “ Tidak ada hakmu untuk tinggal di sini !”
“ Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, Mas,” Sarah masih saja terus mengiba pada Fabian. Ia berharap pria itu luluh dengan semua yang ia katakan.
“ Kamu berharap aku bisa menerima anakmu dengan pria lain untuk tinggal di sini, hah? Jangan mimpi, Sarah!” cibir Fabian semakin emosi.
“ Kalau kamu tidak mau anak ini tinggal bersama kita, setelah lahir nanti kuberikan pada ibuku atau kutitipkan ke panti asuhan. Dengan begitu kita bisa melanjutkan pernikahan ini dan aku akan melahirkan anak yang benar-benar darah dagingmu,” ujar Sarah.
Prang !
Fabian melemparkan vas bunga ke dinding di belakang Sarah hingga membuat wanita itu terdiam dan pucat pasi.
“ Tutup mulutmu, wanita sialaan ! Jangan buat aku membunuhmu malam ini!” teriak Fabian marah luar biasa.
Fabian kemudian menyeret Sarah keluar dari kamar untuk turun ke lantai bawah. Tidak dipedulikannya Sarah yang menangis meraung-raung meminta dikasihani.
“ Bian ! Ada apa ini ?” Mama Widya kaget bukan main melihat kondisi Sarah. Papa Adrian juga ada di sana dan menyaksikan dengan tatapan mata meminta penjelasan.
“ Mulai sekarang, aku menceraikan Sarah. Dia bukan istriku lagi!” ungkap Fabian pada kedua orang tuanya.
“ Jangan sembarangan, Bian ! Istrimu sedang hamil!” ucap Papa Adrian.
“ Dia memang hamil tapi bukan anakku yang ada di dalam kandungannya!” teriak Fabian dengan lantang.
“ Apa ? Jelaskan maksud ucapanmu!” geram Mama Widya.
Fabian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kertas pernyataan tes DNA tadi. Lalu dibukanya kertas berlipat itu dan diserahkannya pada Mama Widya .
__ADS_1
“ Aku sudah melakukan tes DNA terhadap janin yang dikandung Sarah. Ternyata hasilnya negatif dan aku bukanlah ayah biologis dari janin itu !” jelas Fabian.
Mama Widya yang membaca hasil tes itu sontak membelalakkan mata. Kemarahan tercetak jelas di wajahnya.
“ Lagipula, Sarah sudah mengaku bahwa dia memang bermain dengan laki-laki selain diriku,” jelas Fabian lagi.
“ Jadi kamu menipu kami, hah?” bentak Mama Widya dengan wajah yang sudah merah padam karena marah.
“ Berani-beraninya kau melakukan ini pada kami !Dasar perempuan licik!”
“ Maafkan aku… Maaf.” ucap Sarah terisak-isak.
“ Usir wanita ini dari rumah kita!” sahut Papa Adrian.
“ Jangan !” seru Mama WIdya sambil mengangkat tangannya. “ Terlalu mudah jika dia hanya sekedar diusir setelah mengambil begitu banyak keuntungan dari kita. Aku mau perempuan ini dipenjara atas kasus penipuan!”
Sarah yang mendengar itu langsung meraung-raung meminta dikasihani. Tapi kemarahan Mama Widya tidak kunjung surut. Dia merasa menyesal karena dulu telah menyetujui Fabian bertanggung jawab atas kehamilan Sarah.
“ Aku tidak akan mengampunimu!” ucap Fabian kemudian.
Sarah menoleh ke arah pria itu dan menemukan sebuah cara untuk membuat Fabian ikut hancur. Sarah menghapus air matanya dengan cepat.
“ Maaf, Mas. Karena perbuatanku ini kamu jadi terbukti mandul dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Maafkan aku,” ujar Sarah dengan wajah pilu . Padahal di dalam hatinya dia yakin sekali bahwa Fabian takut orang tuanya tahu rahasia ini.
“ Maaf kalau gara-gara ini kamu jadi ikut melakukan tes kesuburan dan ternyata harus menelan kenyataan pahit bahwa dirimu bermasalah. Maaf, kalau aku mengungkap fakta bahwa kamu tidak bisa menghadirkan keturunan Rayyansyah dari benihmu,” ujar Sarah lagi.
“ Tutup mulutmu, siialan!” bentak Fabian. Ingin rasanya dia menampar mulut Sarah sekuat tenaga.
“ Bian, apa benar kamu melakukan tes kesuburan?” tanya Papa Adrian. “ Apa kamu serius?”
Fabian menghela napas dengan lelah, sedangkan Sarah tertawa di dalam hatinya. Di antara kegagalan rencana besarnya dan juga ancaman menakutkan, setidaknya dia punya sedikit hiburan saat melihat wajah Fabian yang tertekan.
Kemudian Fabian merogoh surat keterangan yang diberikan oleh dokter padanya. Dibuka lipatannya dan dilihatnya dengan mata berkaca-kaca. Teringat olehnya segala kebodohan yang telah dia lakukan terhadap Nayara. Lalu rasa sesal menggulung-gulung di dalam dadanya hingga membuatnya menangis.
Fabian menyerahkan kertas itu pada papa Adrian. “ Ini hanya tentang takdirku saja,” ujar Fabian lemah. Ada kegetiran dan juga kesedihan di dalam suaranya yang bergetar.
“ Dalam keterangan itu disebutkan bahwa aku normal dan sehat, aku tidak mandul !”
“ Demi anak yang aku kandung, tolong kasihani aku. Jangan penjarakan aku,” mohon Sarah sambil bersujud. Air matanya mengalir deras tak terbendung.
__ADS_1
“ Sulit bagiku memaafkanmu,” ujar Fabian dengan rasa geramnya.
“ Biar saja dia pergi,” kata Papa Adrian memberi keputusan. “ Tapi jangan biarkan dia membawa apa-apa dari rumah ini.”
“ Gak adil, Pa! Dia sudah menipu kita dan mengambil begitu banyak keuntungan dari pernikahan ini,” sela Mama Widya tidak setuju.
Papa Adrian bergerak mendekat, lalu berbisik di telinga istrinya. Dia tidak ingin terkesan membela kelakuan Sarah yang sudah menipu keluarganya. “ Tidak hanya dia yang salah tapi anak kita juga bersalah karena bermain gila dengannya,” ucap Papa Adrian.
Mama Widya mendelik sebal, tapi kemudian dia terpaksa menyetujui keputusan suaminya untuk mengusir Sarah. Seorang pelayan ditugaskan untuk menggeledah semua badan Sarah dan memastikan tidak ada yang dibawa oleh perempuan itu.
Bahkan cincin yang dulu disematkan oleh Fabian ketika mereka menikah juga dilepaskan . Sarah menangis dengan seluruh rasa sakit hatinya karena tidak rela cincin bertahtakan berlian itu lepas dari tangannya.
“ Kamu tidak berhak atas secuil hartaku,” ujar Fabian dengan angkuh. “ Kembalilah pada pria yang telah menghamilimu itu, minta pertanggung jawabannya.”
Malam itu, Sarah diseret keluar dari kediaman keluarga Rayyansyah tanpa ada satupun yang mengasihani. Segala perhiasan dan barang-barang mahal yang didapatkan selama menjadi istri Fabian terpaksa ditinggalkannya begitu saja.
Sarah benar-benar terusir dalam keadaan menyedihkan, Sebagai sedikit bentuk rasa empati karena Sarah dalam keadaan hamil, maka Fabian meminta seseorang untuk mengantarkan Sarah ke kediaman orang tuanya.
Setelah Sarah pergi dan menghilang dari pandangan mereka, Papa Adrian dan Mama Widya menatap Fabian dengan sorot mata penuh kasihan. Ditatap seperti itu, Fabian malah menangis tersedu-sedu tanpa malu.
Teringat lagi percakapan pribadinya dengan dokter yang menjelaskan hasil tes kesuburannya. Sebuah fakta yang membuat Fabian merasa benar- benar bodoh tak tertolong.
“ Jadi aku tidak mandul?” tanya Fabian sambil menatap dokter di hadapannya.
“ *Tidak ,”jawab dokter itu dengan tegas. *
“ Hasil analisis menunjukkan bahwa pak Fabian memiliki spermaa yang baik dari segi kualitas dan bentuk. Pergerakan spermaa anda juga aktif.”
“ Tapi kenapa mantan istriku tidak hamil saat menikah denganku selama satu tahun?” tanya Fabian .
“ Kadang memang sudah takdirnya begitu,” ujar dokter dengan tenang. “ Bahkan ada pasangan suami istri yang tidak kunjung diberikan keturunan selama bertahun-tahun padahal kesuburan mereka tidak ada masalah. Tapi setelah mendekati masa menopause istrinya malah hamil. Itu yang namanya takdir.”
“ Aku juga tidak bisa menghamili perempuan lain, lihat saja perempuan itu,” tangan Fabian menunjuk ke arah pintu keluar dimana Sarah sedang menunggunya. “ Kupikir anak yang dia kandung itu anakku, tapi ternyata bukan.”
“ Mungkin saja pria lain yang berhubungan dengannya lebih dulu menanam 'saham' jadi anda tidak kebagian tempat,” seloroh dokter itu dengan lugas. Dia tampak berusaha menenangkan Fabian yang sedang kalut. Meski pada akhirnya tidak berhasil juga.
Sekarang, ingin rasanya Fabian menyalahkan takdir atas apa yang terjadi pada dirinya dengan Nayara. Tapi jika mengingat kebodohannya, Fabian juga harus memaki dirinya. Seandainya waktu itu dia tidak tergoda oleh Sarah, mungkin Nayara masih menjadi istrinya. Bisa jadi pada tahun-tahun berikutnya Tuhan akan menitipkan darah dagingnya di rahim Nayara. Mengingat keduanya sama-sama subur tanpa ada kendala.
Sayangnya, Fabian terlalu gegabah dan tidak sabar. Dia telah mengambil langkah ceroboh hingga membuat segalanya menjadi berantakan.
__ADS_1
.
...****************...