Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Menghukum dengan cara menyakitkan


__ADS_3

Gara-gara Fabian dinyatakan positif HIV, Nayara juga menjadi parno terhadap dirinya sendiri. Dia mendadak cemas dan tidak bisa tidur. Walau bagaimanapun, Fabian adalah mantan suaminya meski tidak tahu entah kapan laki-laki itu menderita penyakit menular mematikan .


Perempuan itu bahkan memaksa agar ikut melakukan tes medis untuk mengetahui apakah dirinya tertular atau tidak . Padahal Nayara sadar bahwa dia tidak pernah lagi berhubungan sekss dengan Fabian pasca laki-laki itu ketahuan berselingkuh dengan Sarah. 


“ Aku yakin kamu bersih dan tidak kenapa-napa,” ujar Zavian mencoba meyakinkan istrinya. “ Lagian kalau memang dirimu ketularan penyakit itu, pasti sudah ada tanda-tandanya selama setahun terakhir ini.”


“ Tapi aku  tidak akan tenang jika tidak melihat buktinya secara langsung,” balas Nayara. 


Akhirnya Zavian menemani Nayara ke rumah sakit untuk melakukan tes kesehatan. Bahkan Zavian juga ikut serta meskipun dia yakin sekali bahwa dirinya bersih dari segala bentuk penyakit menular. Walaupun bukan laki-laki suci, tapi ketika masih lajang Zavian tidak mau berhubungan dengan sembarangan perempuan . 


Satu-satunya perempuan yang membuat Zavian berani melakukan sekss berulang kali sebelum menikah hanyalah bersama Nayara. Karena saat itu, dia yakin sekali bahwa Nayara akan menjadi miliknya. Dan itu memang terbukti hingga sekarang. 


Saat hasil tes mereka keluar , keduanya dinyatakan bersih dan tidak memiliki masalah kesehatan apapun. Sekarang Nayara bisa bernapas dengan lega, sementara Zavian hanya tersenyum tipis. 


Sekarang tidak ada lagi keraguan di dalam diri Nayara. Dan mereka kini yakin bahwa Fabian tertular penyakit itu dari para wanita bayaran yang disewanya. 


...----------------...


Zavian sedang berjalan ke meeting room saat panggilan dari Mama Widya masuk ke ponselnya. Zavian menjawab sambil berjalan dan mendadak menghentikan langkah ketika mendengar kabar mengejutkan. Untung saja sekretaris yang membuntuti langkah Zavian tidak menabrak punggung laki-laki itu. 


“ Kenapa dia bisa melakukan itu ?” tanya Zavian dengan kesal. 


“ Kami kecolongan,” jawab Mama Widya dengan panik. “ Fabian menenggak semua obat yang ada di dalam botolnya dan ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri. Sekarang Mama sedang menuju rumah sakit. Kamu susul ke sini, ya.” 


Zavian menghela napas sejenak. Hari ini ada meeting penting bersama para petinggi perusahaan dan Zavian harus hadir. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan Mamanya dan membiarkan wanita itu menghadapi masalah sendirian. 


Hingga akhirnya, Zavian berkata,” Iya, Ma.” 


Setelah sambungan telepon itu terputus, Zavian masuk ke dalam meeting room. Di sana sudah ada Yudha yang sedang berbincang dengan pak Bagas selaku manajer QC. Saat Zavian duduk di kursinya, semua peserta rapat mendadak menghentikan kegiatan, termasuk Yudha. 


“ Kalau meeting ini aku tinggal gak apa-apa kan ?” tanya Zavian sambil menatap ke arah teman sekaligus partner kerjanya itu.” Aku ikut rapat sebentar tapi abis itu harus pergi.”


“ Memangnya kamu mau kemana ?” tanya Yudha. 


“ Mau ke rumah sakit, baru aja ditelepon kalau ada masalah ,” jawab Zavian. 


“ Tentang Fabian lagi ?” 


“ Iya.” 


Yudha yang selama ini sudah paham bagaimana kisruh keluarga Rayyansyah yang selalu menyita waktu mencoba memahami keadaan. Lagipula, Yudha tahu bagaimana perkembangan Fabian yang selama ini memang menjadi pusat masalah di keluarga Rayyansyah . Jadi , dia mengangguk sambil mengangkat tangan mempersilahkan Zavian menjalankan rencananya. 

__ADS_1


“ Gak apa-apa, kok. Silahkan aja. Ada sekretarismu di sini yang akan ngasih resume setelah ini,” sahut Yudha sambil menunjuk ke arah Laura. 


Zavian mengangguk lega dan berterima kasih atas pengertian yang diberikan oleh Yudha . Saat rapat dimulai. Zavian memimpin dengan serius dan tetap tenang. Setelah sampai pertengahan meeting , barulah Zavian pamit undur diri dan menyerahkan kepemimpinan pada Yudha. 


Ada beberapa panggilan tidak terjawab yang masuk ke ponselnya dan semuanya dari Mama Widya. Zavian segera meminta sopirnya untuk melaju ke rumah sakit dan dia menelepon Mama Widya saat di perjalanan. 


“ Tenang ya, Ma. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana ,” ujar Zavian menenangkan Mamanya. 


“ Dokter bilang kalau kondisi Fabian kritis setelah keracunan obat,” sahut Mama Widya sambil tersedu-sedu. “ Dan Mama cuma sendirian di sini.” 


Zavian paham bahwa saat ini Mamanya pasti sedang panik menghadapi Fabian yang melakukan usaha bunuh diri. Jadi, yang dilakukan oleh Zavian hanyalah memberi hiburan kecil agar Mamanya tidak terlalu cemas . Saat ini hanya Zavian yang dimiliki oleh Mama Widya untuk berbagai keluh kesah dan juga tempat mencari perlindungan. 


Anggota keluarga yang lain tampak kurang respek terhadap Mama Widya pasca meninggalnya Papa Adrian . Apalagi saat Mama Widya mengajukan penangguhan penahanan dan membawa Fabian pulang ke rumah. 


Saudara- saudara yang lain tidak setuju dengan keputusan itu dan merasa bahwa tindakan Mama Widya terlalu berlebihan dalam memanjakan Fabian, Padahal kehancuran keluarga ini bermula dari laki-laki itu. 


Bahkan Zavian pernah mendengar ucapan Tante Tania yang tidak akan pernah mau mengurus segala hal yang berurusan tentang Fabian. Wanita itu tampak muak dengan segala tingkah Fabian selama ini yang selalu membuat masalah. Jadi, wajar saja jika saat ini Mama Widya sendirian tanpa ada yang mau menemaninya. 


Zavian tiba di rumah sakit tiga puluh menit kemudian dan dia segera memeluk Mama Widya yang tampak begitu rapuh. Wanita itu menangis tersedu dalam pelukan anak bungsunya. Rasa kalut dan takut yang sejak tadi membayanginya kini berangsur lega saat mendapati kehadiran Zavian di sisinya. 


“ Kenapa Fabian bisa melakukan tindakan sebodoh ini ?” tanya Zavian yang tak habis pikir. 


“ Tante-tantemu membully Fabian,” ujar Mama Widya yang telah menyelesaikan tangisnya. 


“ Selama ini mereka memang sudah membenci Fabian, jadi saat tahu kalau Fabian positif HIV , mereka sengaja menjatuhkan mental Fabian yang sedang down ,” jelas Mama Widya. 


“ Seharusnya Fabian memang dibawa ke tempat rehabilitasi agar dia bisa mendapatkan penanganan yang tepat ,” ujar Zavian. 


Sebelum Fabian dibawa pulang, Zavian sudah menyarankan agar kakaknya itu dibawa ke tempat rehabilitasi karena dia masih kecanduan narkoba dan mentalnya belum stabil pasca putus obat . Tapi Mama Widya bersikukuh membawa Fabian pulang dan mengabaikan setiap saran yang diberikan padanya. 


“ Mama hanya ingin yang terbaik untuk Fabian ,” jawab Mama Widya sambil menghapus air matanya. 


“ Sejak dulu Mama memang mengusahakan yang terbaik untuk Fabian. Tapi kadang pilihan Mama bukanlah sesuatu yang akan memberikan Fabian kebaikan,” ujar Zavian. 


“ Kamu jangan ikut-ikut nyalahin Mama dong,” tukas Mama Widya . 


Zavian menghela napas panjang, kemudian dia berkata,” Ya udah, gak deh. Aku no comment aja kalau gitu.”


Zavian memilih duduk diam sambil membuka i-pad di tangannya. Dia memeriksa pekerjaannya dan memantau hasil rapat tadi. Sedangkan Mama Widya duduk di sisi ranjang Fabian dan berharap agar putranya itu segera bangun. 


Menjelang tengah malam, Fabian baru sadar setelah mendapat penanganan serius dari dokter. Dia kini terbaring lemah tanpa daya di ranjang rumah sakit setelah gagal bunuh diri dan beberapa botol cairan infus serta obat-obatan masuk ke dalam tubuhnya. 

__ADS_1


Mama Widya sempat memeluknya lama sambil menangis . Walaupun kelakuan Fabian tidak ada bagus -bagusnya, tapi sebagai seorang ibu, Mama Widya tetap tidak rela jika anaknya celakan. 


“ Aku pengen mati, Ma . Aku gak mau hidup lagi,” ujar Fabian sambil menangis. Dia tampak kecewa saat usaha bunuh dirinya digagalkan oleh Mama Widya yang segera membawanya ke rumah sakit. 


“ Jangan ngomong gitu, Bian. Kamu gak boleh gelap mata dan harus bertahan hidup dengan baik,” jelas Mama Widya. 


“ Lo tahu gak , kenapa Tuhan ngasih umur panjang untuk orang-orang jahat?” tanya Zavian sambil menatap kakaknya itu dengan muak.” Karena Tuhan ingin menunjukkan hasil dari perbuatan jahatnya selama hidup. Selain itu, Tuhan juga pengen ngasih kesempatan untuk mereka agar bertaubat.” 


Fabian diam saja, begitu juga dengan Mama Widya. Entah karena ucapan Zavian terasa benar hingga mereka meresapi dengan begitu dalam, atau mungkin karena tidak punya argumen untuk membantah. Tidak ada yang bisa mengartikan diamnya mereka.


“ Seandainya setelah ini lo gak tobat juga, gue gak ngerti lagi gimana caranya supaya bikin lo sadar. Mungkin jalan pintas adalah pilihan terbaik untuk lo agar cepat bertemu dengan Tuhan.” ucap Zavian lagi.


 Mama Widya melotot ngeri mendengar ucapan Zavian yang terlalu frontal. Dia tidak menyangka jika Zavian yang selama ini terlihat sabar akan mengucapkan kalimat seperti itu. 


Zavian sendiri tidak mau lagi bersikap manis dan berbasa-basi terhadap Fabian. Dia sudah cukup muak dengan segala persoalan yang timbul akibat kakaknya. Ada banyak urusan dan pekerjaan yang terbengkalai karenanya. Bukan tidak ikhlas, tapi Zavian telah sampai pada titik lelah. 


“ Mama pulang saja, biar aku yang menjaga Fabian di sini,” ujar Zavian . Dia kasihan melihat Mama Widya yang selalu kelelahan mengurus Fabian. Oleh karena itu, dia menepikan segala rasa muak dan bencinya terhadap Fabian  hanya demi Mamanya. 


Paginya Nayara menelepon dan mengatakan bahwa pakaian ganti Zavian akan segera diantarkan ke rumah sakit. Tapi Zavian terkejut saat melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok Nayara berjalan mendekatinya. 


Wanita itu mengenakan rok pensil selutut dengan blus biru polos. Rambutnya yang hitam panjang dibuat bergelombang dan dibiarkan tergerai. Di tangannya ada dua paper bag berisi pakaian ganti sekaligus sarapan untuk suaminya. 


“ Kenapa repot-repot datang ke sini ?” tanya Zavian. Dia melirik ke arah ranjang dimana Fabian masih tertidur pulas.


” Harusnya suruh kurir aja.”


“ Aku kangen,” ucap Nayara dengan ekspresi manjanya. 


Zavian terkekeh kecil. Tadi malam mereka menghabiskan waktu cukup lama di telepon dan Nayara sempat pura-pura merajuk karena Zavian tidur di rumah sakit menemani Fabian.


“ Sini cium dulu,” ujar Zavian. 


Nayara segera memeluk tubuh tinggi suaminya dan mereka berciuman cukup lama. Zavian selalu suka bagaimana cara Nayara mencecap seluruh sisi bibirnya dengan sapuan lembut. Terasa memabukkan dan juga candu.


Sementara itu, Fabian yang telah membuka matanya menatap pemandangan itu dengan rasa sakit yang tak terkira. Nayara pernah menjadi miliknya tapi disia-siakannya begitu saja. Setelah lepas dari genggamannya , dia hanya bisa menjadikan Nayara sebagai bayang-bayang yang mengisi fantasi liarnya. 


Kini, Fabian menatap Nayara yang berada di dalam dekapan Zavian. Wanita itu tampak bahagia dan sangat mencintai adik laki-lakinya itu. 


Air mata Fabian turun tanpa terkendali. Dia menangis dalam diam bersama seluruh penyesalan yang kini tak berarti lagi. Ucapan Zavian semalam terngiang lagi di telinganya. Dan Fabian sedikit membenarkan kalimat itu. Mungkin memang benar jika Tuhan memberinya umur panjang karena ingin menghukumnya dengan cara yang begitu menyakitkan. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2