Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Memandang dirinya hina


__ADS_3

“ Diam !” giliran Mama Widya yang bersuara. Wanita itu berdiri di depan Fabian untuk memberi pembelaan.


” Fabian sudah berkali-kali bilang kalau dia gak ngapa-ngapain. Bukan dia yang nyakitin Zean sampai menangis. Harusnya kalian berhenti menuduh Fabian !” 


“ Wajar kalau kami curiga sama Fabian karena dia punya begitu banyak alasan untuk gak suka sama Zavian. Apalagi hari ini Zavian mengumumkan pemilihan CEO baru, sedangkan selama ini kita tahu kalau Fabian berambisi untuk mendapatkan posisi itu,” ujar Tante Tania. 


“ Benar itu. Ditambah pula saat ini Fabian sedang menderita HIV reaktif . Bisa jadi dia pengen nularin penyakitnya ke Zean karena merasa dendam sama Zavian,” timpal Tante Siska.


Mama Widya menggelengkan kepala dengan cepat, dia tidak percaya jika Fabian akan melakukan hal serendah itu. Sedangkan Fabian merasakan jantungnya teriris dengan begitu menyakitkan. Dia terpojok dan tertuduh telak meski tidak melakukan kesalahan apa-apa.


“ Fabian gak akan sejahat itu sama Zean.” gumam Mama Widya. Dia yakin sekali. 


“ Niat dalam hati siapa yang tahu mbak,” sahut Tante Siska dengan sinis.” Fabian aja bisa curang dan bersikap jahat sama Zavian yang notabene adik kandungnya sendiri. Apalagi sama Zean yang lahir dari rahim Nayara. “


Zavian paham semua orang mencemaskan keadaan anaknya tapi dia tidak ingin hal ini menimbulkan perseteruan sengit. Apalagi jika masalah ini sampai merembet kemana-mana dan membahas hal yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi. Ditambah pula, saat ini Zean sudah diam dan merasa nyaman di pelukan Nayara. 


“ Anakku baik-baik saja,” ujar Zavian menengahi suasana yang sedang panas.


 “ Tolong jangan berdebat apalagi sampai mengungkit-ungkit apa yang sudah berlalu.” 


“ Yakin anakmu baik-baik saja ?” tanya Tante Tania memastikan. 


“ Iya, Tante. Sudah ,ya. Ayo balik lagi ke ruang tengah ,” ujar Zavian dengan nada menenangkan. 


Sayangnya mereka tidak semudah itu untuk ditenangkan. Tatapan sinis itu masih tertuju pada Fabian yang kini sedang dilindungi oleh Mama Widya. 


“ Gue gak pernah memiliki niat sejahat itu,” ucap Fabian dengan suara bergetar penuh emosi.” Gue akan menahan penyakit ini sendirian sebagai bentuk hukuman atas kesalahan yang udah gue lakuin. Gue gak akan menularkan penyakit ini pada siapapun! Jadi , berhenti menuduh dan memandang gue serendah itu.”


Fabian merasakan dadanya sakit sekali. Air matanya mengambang hingga pandangannya terasa kabur. Dia sakit dan semua orang membencinya. Di titik ini Fabian sadar bahwa seharusnya dia tidak berada di tengah-tengah keluarga ini. 

__ADS_1


“ Brengssek kalian semua.” umpat Fabian sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Rasa sakit dan kecewa menyesaki dadanya hingga dia sulit menghirup udara. 


Kepergian Fabian disusul oleh Mama Widya yang memberikan tatapan kecewa terhadap semua orang. Setelah itu masing-masing membubarkan diri, begitu juga dengan Zavian dan Nayara. Mereka memutuskan untuk pulang karena acara malam ini tidak bisa dilanjutkan lagi. 


Di dalam kamarnya , Fabian mengamuk hingga membanting semua barang yang bisa dijangkaunya. Dia kecewa, sakit hati dan marah. Segala emosi memenuhi dada yang sesaknya tak kunjung hilang. Di antara kekacauan yang telah dibuatnya, Fabian jatuh duduk dan menangis sambil memeluk lututnya sendiri.


Dia pikir dunianya telah runtuh saat hasil tes menyatakan bahwa dia mengidap HIV tapi ternyata dunia masih jauh lebih kejam lagi. Hukumannya belum berhenti sampai di sana. Stigma negatif dan pandangan buruk akan terus mengiringi langkahnya kemanapun dia pergi. 


Setelah segala masalah dan juga penyakit yang dideritanya , Fabian merasa bahwa dirinya tidak layak untuk hidup lagi. Dia lelah menghadapi beban mental yang selama ini menumpuk di bahunya. Dia telah menjauh dan membatasi interaksi, tapi dia tidak bisa mengendalikan pandangan orang lain terhadapnya. 


Semua orang masih membencinya, menjauh darinya, dan memandang dirinya dengan begitu hina. Bahkan saat dia mendekati seorang bayi saja, seluruh tuduhan buruk langsung tertuju pada dirinya. Begitu hina sosok Fabian di mata orang-orang. 


Semua itu jauh lebih menyakitkan dibanding sayatan belati. Hingga akhirnya keinginan untuk bunuh diri kembali terlintas di benak Fabian. Penyakitnya ini pasti akan membuatnya mati dan Fabian tidak mau menunggu lama sembari menikmati rasa sakit yanh terus mendera.


Saat ini dia sedang berdiri di jembatan yang dibawahnya ada sungai besar. Fabian memandang aliran sungai dengan arus tenang di bawahnya. Cukup lama dia berkendara sendirian membelah malam hingga sampai ke tempat ini. 


 ‘ Waktu yang tepat untuk bunuh diri,’ gumam Fabian di dalam hati .


Tidak sama seperti usaha bunuh dirinya yang gagal waktu itu . Sekarang tidak ada yang akan mencegah atau pun menyelamatkannya. Fabian bisa membayangkan tubuhnya tenggelam di bawah sana dan hanyut terbawa arus ke tempat yang jauh . Dia bisa mati dengan tenang di sini.


Dunia akan baik-baik saja tanpa kehadiran dirinya. Hatinya mendadak beku dan dingin jika mengingat jalan rusak yang telah dilaluinya. Jalan itu tidak akan bisa lagi diperbaikinya. 


Fabian memanjat pagar pembatas dan menghela napas dalam-dalam . Dia sudah bersiap untuk melompat dan menemui kematian tapi dering ponselnya terdengar begitu mengganggu. 


Jam dua dini hari. Siapa yang meneleponnya di saat seperti ini?”


Fabian merogoh kantong celana dan mengambil ponsel. Nama Zavian tertera di sana dan Fabian mendecih sinis. Dia tidak berniat mengangkat panggilan itu dan dimatikannya dengan segera. Tapi panggilan kembali masuk, Zavian masih bersikukuh meneleponnya.


“ Mungkin dia akan menjadi satu-satunya orang yang akan kuucapkan selamat tinggal, “ ujar Fabian yang terdengar  miris. Lalu diangkatnya panggilan itu.

__ADS_1


“ Ada apa?” tanya Fabian dengan nada ketus, Dia menahan gigil karena terpaan angin malam yang begitu dingin. 


“ Lo sayang sama Mama, gak?” tanya Zavian dari seberang telepon.


Fabian mendecih jengkell,” Lo nelepon gue jam segini cuma untuk nanyain itu?”


“ Di saat semua orang menghujat dan mencela kelakuan buruk lo, Mama menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi lo. Mama rela ikut dibenci cuma karena keputusannya tidak sesuai dengan keinginan keluarga kita yang lain. Mama, dia rela melakukan apa saja buat anak kesayangannya.” suara Zavian terjeda sejenak dan Fabian mendengarkan sambil merenung.


“Kalau sekarang lo pikir hidup lo Harus berakhir, seenggaknya kasih tahu Mama . Minta mama supaya berhenti memikirkan lo. Bilang sama Mama kalau lo gak pernah sayang sama dia. Biar Mama gak ngerasa kehilangan…..”


Fabian menghela napas dalam, merasakan hidungnya perih karena terlalu lama menghirup udara dingin. Ucapan Zavian menyentuh sesuatu yang berada jauh di dalam dirinya. Dia merasa nuraninya dicubit oleh tangan tak kasat mata. 


“ Berhenti melakukan hal bodoh yang hanya akan membuat Mama menyesal dan terus menerus merasa sebagai sosok ibu yang gagal.” 


Fabian mematikan sambungan telepon, lalu menatap kembali permukaan sungai yang mengalir tenang. Jika dia mati sekarang mungkin urusan dunianya selesai. Tapi bagaimana dengan Mama Widya?


Oleh karena itu Fabian kembali melompati pagar pembatas jembatan dan berjalan menuju mobilnya. Keinginan untuk bunuh diri berhenti begitu saja. Di tengah-tengah perang batin dan beban mentalnya, dia masih ingin melihat senyum Mama Widya yang selama ini selalu menyayanginya. 


Di ujung jalan yang gelap tanpa penerangan apapun,  Zavian menghembuskan napas kasar. Ada kelegaan menyapa hatinya, meski perih masih mencoba untuk mencari tempat. Zavian mengingat kembali ucapan Mama Widya saat mereka menunggui Fabian di rumah sakit pasca melakukan upaya bunuh diri yang berujung kegagalan. 


‘ Mama sangat menyayangi Fabian sedalam Mama menyayangi Papamu. Jika Fabian tidak bisa selamat, maka Mama akan melakukan hal yang sama untuk menyusulnya. Mama tidak sanggup hidup lebih lama hanya untuk menangisi kepergian orang yang Mama sayangi.’


Zavian menghela napas lebih dalam untuk mengisi ruang di dadanya dengan udara dingin. Dia tidak pernah berpura-pura dalam hal apapun. Termasuk menyelamatkan Fabian di berbagai kesempatan dan berkali-kali menekan ego untuk menyingkirkan laki-laki itu.


Alasannya, karena Zavian sangat menyayangi mamanya meski takdir dalam hidup memang sesakit itu. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2