Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Waktu yang telah terlewati


__ADS_3

Switzerland , Lima tahun kemudian. 


Saat ini Zavian dan Nayara sedang berada di salah satu penginapan yang ada di Interlaken, Swiss. Pemandangan dari kamarnya menghadap ke pegunungan Alpen yang puncaknya masih ditutupi salju di awal musim semi. Zavian berdiri bersandar di bingkai jendela sambil menunggu sang istri menelepon Mama Widya yang mereka tinggalkan di Amerika bersama Zean dan Zia. 


“ Mommy dan Daddy baru tiba di penginapan sekitar setengah jam yang lalu. Hmm…. Mommy juga sudah kangen sama kalian,” ucap Nayara. Wanita itu melirik ke arah Zavian kemudian berkata,” Daddy juga kangen kalian…..”


Suara anak-anaknya bersahutan dari seberang dan Nayara tertawa mendengarnya. Tidak lama kemudian sambungan telepon diputus dan senyum itu masih tersisa di bibirnya. 


“ Lain kali kita harus bawa anak-anak ke sini,” ujar Nayara. 


“ Tentu saja,” sahut Zavian. 


Saat ini Zean sudah berusia delapan tahun dan bersekolah di salah satu elementary school. Sedangkan Zia berusia lima tahun dan baru memulai kelas pre-school pertamanya dengan kegiatan yang cukup menyenangkan. Sebenarnya mereka tidak merencanakan perjalanan ke Swiss di saat anak-anak sedang sekolah. 


Hanya saja, seminggu yang lalu Yudha berkata ingin berkunjung ke Amerika untuk bertemu dengan Zavian, tapi istrinya malah mengajak berlibur ke Swiss. Sekalian bulan madu katanya. Sebagai suami yang mencintai istrinya maka Yudha menyetujui rencana itu. 


Akhirnya Zavian mengalah dan memilih untuk menyusul temannya itu ke Swiss bersama sang istri. Mama Widya tampak senang saat diminta menjaga kedua cucunya dan meminta Zavian agar tidak buru-buru pulang. Keduanya butuh waktu untuk liburan setelah sekian lama menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. 


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mama Widya menjamin bahwa semuanya akan baik-baik saja , kecuali rasa rindu yang meledak-ledak padahal belum lama berpisah. 


Pertemuan Zavian dengan Yudha membahas tentang bisnis yang telah mereka bangun selama ini. Perusahaan yang awalnya hanya sebatas perseroan terbatas kini telah berubah menjadi perusahaan korporasi dengan beberapa naungan usaha di bawahnya. 


Walaupun jauh, Zavian tetap berperan penting mengendalikan perusahaannya dan menciptakan inovasi baru. Terbukti, dua anak perusahaan berdiri hanya setahun setelah kepergiannya ke Amerika. Dan sekarang mereka telah selesai mendirikan perusahaan ketiga yang bernaung di bawah kepemimpinannya. 


“ Setelah ini gue memutuskan untuk mundur dari jabatan CEO dan fokus membantu perusahaan mertua,” ucap Yudha. Rencana inilah yang membuat Zavian harus menemui Yudha secara langsung. 


Sebulan yang lalu, Yudha di usia yang sudah hampir kadaluwarsa itu menikah dengan putri tunggal seorang konglomerat ternama dan sudah dijanjikan akan menjadi pewaris satu-satunya. Itulah kenapa Yudha memilih mundur dari jabatannya dan meminta Zavian mengambil alih kepemimpinan. Dia tidak mungkin melakukan rangkap jabatan yang nantinya akan berakhir dengan kinerja tidak efektif. 


“ Kita pilih CEO baru saja, soalnya gue belum berniat untuk pulang ke Indonesia,” sahut Zavian. 


“ Gue tahu lo punya kehidupan yang baik di Amerika, tapi sampai kapan lo mau tinggal di sana ?” tanya Yudha.” Lo serius gak kangen Jakarta ?”


Zavian termenung sebentar, dia menoleh ke arah Nayar yang juga menatapnya.


” Entahlah ..”

__ADS_1


Segala permasalahan tentang keluarga mereka sudah selesai sejak lama. Perusahaan Rayyansyah kembali berkembang di bawah kepemimpinan Om Farhan. Hubungan antara Mama Widya dan Tante Tania mulai menghangat selama satu tahun belakangan ini. Mereka bertukar kabar melalui telepon dan saling mengucap maaf. 


Tidak ada lagi masalah yang harus Zavian hindari. Tapi entah kenapa, dia belum berniat untuk kembali pulang ke Indonesia. Mungkin karena selama ini mereka hidup dengan nyaman dan tidak ada satu orang pun yang mengingatkan agar pulang. 


“ Bukannya gue meragukan kemampuan lo, Za.Tapi akan lebih baik kalau lo pulang dan mengurus sendiri perusahaan kita secara langsung,” ujar Yudha lagi. 


“ Nanti, gue pertimbangkan dulu,” sahut Zavian. 


Lalu obrolan mereka mengalir membahas banyak hal. Ada beberapa rencana yang harus mereka realisasikan dalam waktu dekat ini. Karena Yudha memilih untuk mundur , maka kini saatnya Zavian mempertimbangkan kepulangannya ke Indonesia.


Malamnya , Zavian memutuskan untuk berendam di jacuzzi. Sementara itu Nayara menelepon Mama Widya dan memastikan keadaan anak-anaknya baik-baik saja seharian ini. Dia berkali-kali berkata bahwa Zean dan Zia harus bersikap baik selama seminggu ke depan. 


Kekhawatirannya memiliki alasan yang jelas. Karena si bungsu Zianna yang cantik dan manis itu memiliki sikap bar-bar yang tidak bisa ditebak. Dua hari yang lalu, Zia memukul teman sekelasnya sampai berdarah karena dia dihina stupid asian. Padahal Nayara selalu berkata bahwa anaknya harus menjaga sikap, tapi ucapan rasis malah membuat Zia naik darah. 


Selesai menelepon, Nayara kemudian berjalan menuju bathroom. Dia menemukan Zavian yang telah berendam lebih dulu dan pria itu merentangkan tangan, meminta agar sang istri ikut bergabung dengannya. 


“ Sini, Sayang,” ucap Zavian. 


Nayara melepaskan simpul robe yang dikenakannya hingga tubuhnya polos tanpa pelindung apapun. Zavian langsung memeluk istrinya dan Nayara merebahkan kepala di dada suaminya. 


“ Tentang apa ?” tanya Zavian . 


“ Pulang ke Indonesia,” jawab Nayara. Dia menengadah, lalu mengelus pipi Zavian sambil menatap kedua mata suaminya dengan lekat.” Aku tahu kamu sedang memikirkan hal itu sejak tadi siang.” 


Bagi Nayara, Zavian adalah belahan jiwanya . Dia hafal sekali bagaimana gestur wajah pria itu jika sedang memikirkan sesuatu dan terkadang bisa menebaknya dengan mudah. Zavian di hadapan Nayara bagaikan lembaran buku terbuka yang telah dipahaminya. 


“ Bagaimana menurutmu ?” tanya Zavian . Seperti biasa, dia butuh pendapat istrinya tentang jalan hidup yang akan ditempuhnya nanti.


“ Aku mendukung keputusanmu,” ujar Nayara. Dan, seperti perannya selama ini, Nayara akan selalu menjadi support system terbaik untuk suaminya.” Aku tahu kamu ingin pulang dan aku setuju denganmu. Sudah saatnya kita kembali untuk menjalani hidup di Indonesia bersama Mama dan anak-anak.” 


“ Kalau begitu, kita harus mencari sekolah yang bagus untuk anak-anak,” ujar Zavian, 


“ Mama pasti senang mendengar ini,” sahut Nayara


Zavian hanya bergumam pelan. Selama ini Mama Widya tampak senang dan baik-baik saja hidup bersama anak dan cucunya. Dia tidak mengeluh sama sekali. Tapi Mama Widya sering mengajak teman-teman sesama imigran Indonesia untuk berkumpul bersama. Zavian tahu persis bahwa wanita paruh baya itu merindukan suasana hangat seperti di Jakarta. 

__ADS_1


“ Membayangkan kembali pulang ke tanah air rasanya menyenangkan,” ucap Nayara. 


“ Aku selalu berterima kasih padamu, Nay. Karena kamu sudah mau menemani perjalananku sampai sejauh ini,” ucap Zavian dengan tulus. 


“ Ya, gimana , soalnya kebahagiaanku ada padamu,” sahut Nayara sambil terkekeh kecil. Kini Nayara mengubah posisinya jadi berhadapan dengan Zavian. “ Aku juga selalu ingin berterima kasih padamu. Terima kasiih karena telah menjadi suamiku dan juga Ayah yang baik untuk anak-anak kita.” 


Zavian mengecup sudut bibir istrinya sekilas, kemudian dia berkata,” Aku ingin selalu ada untukmu dalam berbagai kondisi. Entah itu senang atau susah, aku ingin kita tetap bersama. Walaupun kadang kamu bilang kalau aku ini menyebalkan, sibuk, cuek dan……. Wah, kalau dipikir-pikir ternyata sifatku jelek juga ya.” 


Nayara tertawa kencang, dia menggelengkan kepala cepat.” Siapa yang bilang begitu?” 


“ Aku takutnya jadi suami toxic yang manipulatif , selalu minta kamu untuk begini begitu, membatasi ruang gerakmu, dan gak bisa melakukan hal-hal yang membahagiakanmu,” sahut Zavian lagi. 


“ No……” ucap Nayara cepat.” Kamu gak kayak gitu, kok By. Banyak hal yang telah kamu lakukan untuk membahagiakanku dan sampai saat ini aku benar-benar bersyukur ada kamu di dalam hidupku.”


Zavian memilih diam dan selanjutnya dia menyusur wajah Nayara dengan jemarinya . Alis, mata, hidung, hingga bibir. Cantik sekali. Zavian mendekat lalu mengecup bibir istrinya. Kemudian Zavian melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Tatapannya masih memuja dan keinginannya tak pernah pudar. Nayara telah melahirkan dua orang anak tapi tubuhnya masih terjaga dan tetap indah seperti dulu. Atau mungkin, Zavian memang tidak pernah memusingkan perubahan fisik istrinya. Karena di matanya , Nayara selalu mengagumkan. 


...----------------...


Rencana kepulangan ke Indonesia disambut dengan senang hati oleh Mama Widya. Bukan berarti tidak menyukai tempat tinggalnya saat ini, tapi Mama Widya  lebih merasa nyaman jika dia tinggal di Indonesia.


Butuh waktu sekitar satu bulan bagi Zavian dan Nayara menyiapkan kepulangan mereka ke Indonesia karena banyak hal yang harus mereka urus sebelum pergi. Terutama mengenai kepindahan sekolah anak-anaknya. 


Setelah semuanya selesai, barulah mereka pulang ke Indonesia. Mereka berterima kasih untuk waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan karena negara bagian Amerika itu telah menjadi tempat nyaman dalam menyembuhkan segala rasa sakit di dalam dada. 


Sekarang saatnya kembali ke tanah air dengan perasaan yang jauh lebih lega dan lapang. Mama Widya sadar bahwa dirinya sangat angkuh, tapi dia perlu bersikap demikian untuk bertahan di dalam keluarga Rayyansyah. Tapi kini, setelah beberapa tahun terlewati, keangkuhan itu mencair begitu saja dari dalam dirinya. 


Bersama Zavian dan Nayara, dia menyadari bahwa ternyata yang dibutuhkannya bukanlah harta melimpah dan kekuasaan tinggi. Tapi sebuah keluarga yang dipenuhi dengan cinta dan ketulusan. 


Di masa tuanya, Mama Widya hanya butuh tempat dimana dia diterima dengan baik, karena saat ini dia adalah seorang ibu sekaligus nenek dari dua orang cucu. 


“ Kita pulang,Ma,” bisik Zavian saat mereka telah duduk di pesawat. 


“ Kamu tahu, selama lima tahun di sini adalah waktu terbaik dalam hidup Mama ,” bisiknya tak kalah haru. Dia telah belajar memaafkan, menerima dan berlapang dada. “ Terima kasih sudah membawa Mama ke sini, Za.” 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2