
“ Seharusnya aku menyetujui saran Zavian waktu dia menyarankan kebijakan seperti itu,” ujar Papa Adrian.
“ Jangan mulai deh, Pa!” seru Fabian dengan jengkel. Dia tidak terima melihat Papanya yang selalu saja mengagung-agungkan Zavian meski orangnya sudah tidak ada lagi di sini.
“ Lihat, karyawan mengundurkan diri karena merasa bahwa kebijakan perusahaan Zavian lebih baik dari pada perusahaan kita,” tukas Papa Adrian.
“ Perusahaan kita memang menuntut sikap profesional dari pegawainya. Tidak perlu memberi gaji buta selama berbulan-bulan untuk karyawan yang tidak produktif,” sahut Fabian mengemukakan pendapatnya.
“ Sepertinya kita harus merevisi kebijakan perusahaan ini jika tidak ingin karyawan resign satu persatu,” ucap Papa Adrian sambil berdiri.” Dan kamu harus menggagas kebijakan baru yang bisa membuat karyawan betah bekerja di sini.”
“ Iya, Pa,” sahut Fabian pelan .
“ Kalau kamu tidak sanggup menciptakan ruang kerja yang nyaman untuk para karyawan, kamu bisa mengajak Zavian bertemu dan minta bantuan padanya,” ucap Papa Adrian.
‘ Aku tidak akan sudi melakukan hal itu!’ batin Fabian tidak terima.
“ Belum terlambat untukmu belajar hal baru demi kebaikan perusahaan ini. Itu pun jika kamu masih mau menjadi bagian dari Raya Corp,” ucap Papa Adrian dengan sinis.
“ Iya Pa, iya.” sahut Fabian yang sudah muak .
Papa Adrian tampak tidak peduli dengan wajah penuh keberatan di raut wajah Fabian. Kemudian dia pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kecewa.
Sedangkan Fabian memilih untuk mengumpat keras-keras setelah sang Ayah keluar dari ruangannya. Dia tidak menyangka bahwa karyawannya akan begitu tergila-gila ingin bekerja di perusahaan milik Zavian. Sebuah tindakan yang kemudian memberi tekanan hebat untuk dirinya.
Sebagai bentuk pelampiasan kesalnya, Fabian menghubungi muciikari langganannya. Akhir-akhir ini Fabian senang sekali bermain perempuan untuk melepaskan rasa sakit hatinya. Dia berdalih ingin bersenang -senang memberi self reward dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Sepulang kerja, Fabian tidak langsung menuju kediamannya. Dia meluncur ke hotel langganannya karena di salah satu kamar yang ada di sana telah menunggu wanita bayaran untuk memuaskan hasratnya.
Saat membuka pintu kamar hotel, Fabian kembali terkejut mendapati Sarah yang menunggunya di sana. Sepertinya perempuan itu benar-benar tidak jera saat berhadapan dengan mantan suaminya. Bahkan sekarang Sarah tampak lebih siap dan berani menghadapi kelakuan buruk Fabian.
“ Sepertinya kamu ketagihan melayaniku,” cibir Fabian. Terdengar kekehan singkat setelah itu dan dia melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya.
“ Rasanya senang sekali bermain peran dengan pria yang masih belum move on dari mantan istrinya,” balas Sarah.
Fabian merasa tidak perlu tersinggung sama sekali dengan ucapan Sarah barusan. Karena kenyataannya memang begitu adanya.
“ Nayara selalu memakai parfum dengan wangi yang sangat enak,” ujar Fabian saat dia mengendus leher Sarah yang telah di semprot parfum.” Sedangkan kamu memakai parfum murahan yang membuat hidungku nyaris kebas karena baunya terlalu menyengat.”
“ Oh, ya ?” balas Sarah sambil mengulas senyum menggoda.” Kalau begitu kamu harus memberiku uang lebih agar bisa membeli parfum seperti yang dikenakan oleh mantan istrimu.”
“ Gak masalah,” sahut Sarah.
Mereka berciuman singkat, setelah itu langsung memulai pergumulan dengan Sarah yang beraksi dengan begitu liar. Sementara Fabian terus mendessahkan nama Nayara di setiap waktu. Dia lupa untuk mencari tahu kenapa Sarah bersikap begitu jinak terhadapnya. Padahal sebelumnya Sarah menolak untuk melayaninya dan merasa tersiksa setelahnya.
Fabian juga tidak menyadari bahwa di salah satu sudut ruangan yang sengaja ditutup menggunakan vas bunga ada kamera yang merekam kegiatan mereka berdua. Lampu indikator dari kamera digital itu berkedip-kedip seiring dengan waktu yang bergerak aktif.
Saat ini , bukan Fabian yang sedang memperdaya Sarah. Tapi Sarah yang sedang membuat Fabian jatuh ke dalam sebuah jebakan.
Sementara di tempat lain, Zavian baru saja membangun bonding dengan anak yang ada di dalam kandungan sang istri. Hal yang selalu dilakukan Zavian saat malam menjelang tidur adalah membaca buku dongeng di depan perut Nayara hingga sang istri ikut tertidur saat dia sedang berinteraksi dengan sang anak. Bukan hanya untuk membangun kedekatan emosional tapi juga merangsaang kecerdasan dan stimulus janin yang masih ada di dalam perut istrinya.
Setelah selesai melakukan kegiatan rutin itu Zavian kemudian menuju ruang kerjanya dan menghidupkan komputer. Ada beberapa email terkait pekerjaan dan juga progress proyek kerja sama yang sedang dijalaninya dengan beberapa perusahaan lain. Zavian juga menemukan penawaran kerja sama dari perusahaan Raya Corp.
__ADS_1
“ Sepertinya Papa yang mengirimkan ini tanpa sepengetahuan Fabian,” gumam Zavian.
Dia tahu persis seperti apa kebencian Fabian terhadap dirinya dan tidak mungkin kakaknya itu menawarkan kerja sama dengannya. Kecuali Fabian telah menganggap Zavian sebagai sosok adik, bukan lagi sebagai musuh yang harus dijatuhkan.
Tidak berselang lama , Zavian menerima telepon dari rekannya Yudha .
“ Za, kamu sudah menerima penawaran kerja sama dari Raya Corp ?” tanya Yudha dari seberang telepon.
“ Sudah,” jawab Zavian. Layar komputer di hadapannya sedang menampilkan penawaran itu dan dia terus membacanya.
“ Aku tahu kamu sudah berdamai dengan Papamu, tapi boleh gak kali ini kamu menolak usulan kerja sama dari mereka ?” tanya Yudha ragu-ragu.
“ Memangnya apa yang sedang kamu temukan tentang Papaku?”
“ Bukan Papamu, Za. Tapi ini tentang kakakmu, Fabian.” Ada jeda sejenak dan sepertinya Yudha sedang menyusun kalimat yang baik sebelum melontarkan ucapan. Sementara itu Zavian menunggu penjelasan Yudha dengan sabar. “ Aku baru saja diberitahu kalau video panas Fabian tersebar di sosial media. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa foto dan video. Kalau bisa tahan dulu penawaran mereka sebelum ada konfirmasi yang jelas.”
Zavian tercengang mendengar penuturan Yudha dan membuka pesan masuk dari ponselnya. Yudha mengirimkan link dimana video Fabian diunggah. Zavian langsung mengenali pemeran pria yang ada di sana sebagai Fabian, sedangkan wajah pemeran wanitanya sengaja di blur.
“ Astaga, Si Bodoh ini ngapain, sih ?” tanya Zavian yang kesal sendiri melihat kelakuan kakaknya yang suka sekali membuat masalah. Kini kakaknya itu malah membuat masalah di tengah kekacauan perusahaan Papanya.
Tidak cukup sampai di situ, Zavian juga menerima telepon dari Mama Widya. Wanita paruh baya itu berteriak histeris meminta tolong."
.
...****************...
__ADS_1