Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Botol kecil


__ADS_3

“ Kamu kenapa, hah?” bentak Papa Adrian sambil mendorong Zavian menjauh dari kakaknya. “ Kenapa kamu memukuli kakakmu sampai separah itu?” 


“ Si Badjingan ini mencoba melecehkan istriku !” jawan Zavian sambil menunjuk ke arah Fabian yang sudah lemah tak berdaya. 


“ Selesaikan dengan baik-baik tanpa harus pakai kekerasan !” hardik Papa Adrian lagi. 


“ Apa kamu tidak mengingat pesanku selama ini?” 


“ Aku bisa menyelesaikan semua hal dengan cara baik- baik, tapi jika istriku dilecehkan maka akan kubuat pelakunya babak belur, kalau bisa sampai mati di tanganku!” balas Zavian yang masih dikuasai emosi .


“ Vian, sadar kamu ! Fabian itu kakakmu!” hardik papa Adrian lagi.


“ Aku gak peduli, bahkan jika dia kakakku sekalipun. Aku tidak akan memaafkan tindakan pelecehan terhadap istriku!” sahut Zavian tanpa rasa takut meski yang berbicara padanya saat ini adalah sang Papa.


“ Fabian berdarah.” teriak mama Widya panik. Dipeluknya kepala Fabian yang terkulai lemah setelah dihajar sampai babak belur. 


Papa Adrian menyudahi perseteruannya dengan Zavian dan membantu Fabian berdiri. Mereka segera membawa anaknya yang babak belur dan berdarah-darah itu keluar dari kamar Zavian.


Darah di pelipis Fabian terus mengalir hingga membuat orang tuanya panik. Mama Widya berteriak memanggil sopir dan minta diantar ke klinik terdekat. 


Sedangkan di kamarnya, Zavian memeluk Nayara dengan erat. Diusapnya punggung wanita yang kini menangis di dalam pelukannya.


“ Sekarang tenang, ya. Ada aku di sini.” bisik Zavian . Suaranya bergetar dengan sisa kemarahan yang masih belum hilang. 


Nayara hanya mengangguk sambil tersedu di dalam pelukan Zavian. Dia tidak bisa berkata-kata setelah menyaksikan kekacauan barusan. 


Zavian meminta pelayan membereskan pecahan kaca dan meminta agar alas kasur diganti dengan yang baru. Setelah itu dia mengajak Nayara duduk di sofa ruang tengah. 

__ADS_1


“ Tanganmu juga luka.” ujar Nayara saat melihat punggung tangan Zavian terluka dan berdarah.


“ Cuma luka sedikit.” jawab Zavian. 


Meskipun cuma sedikit tapi Nayara tidak bisa mengabaikannya . Sepertinya tangan Zavian terluka karena goresan kaca yang tak sengaja tersentuh olehnya saat menghajar Fabian tadi. Dia memanggil pelayan agar dibawakan kotak obat. 


“ Untung aku pulang cepat dan datang tepat waktu.” ujar Zavian. “ Dia belum sempat menyentuhmu,kan?” 


Nayara hanya menggeleng pelan. Seingatnya, dia telah mengunci pintu kamar sebelum beranjak ke tempat tidur, tapi entah bagaimana caranya Fabian bisa masuk ke sana. Untung saja dia segera terbangun dalam keadaan yang begitu gelap dan sempat berteriak.


“ Kamu memukuli Zavian dengan brutal .” ujar Nayara.


“ Aku terlalu marah melihatnya hendak melecehkanmu. Seandainya aku telat pulang entah apa yang akan dilakukannya padamu.” ucap Zavian sambil menatap sendu Nayara, sangat terlihat jelas dari sorot mata pria itu yang menampakkan kekhawatiran luar biasa pada sang istri. 


Setelah Nayara selesai mengobati luka di tangan suaminya, pelayan yang bernama Ratmi datang menghadap Zavian. Pelayan itu menyerahkan dua benda yang ditemukannya di dalam kamar dan sukses membuat Zavian kembali mengumpat.


“ Sepertinya aku gak perlu meminta maaf pada badjingan itu.” gumam Zavian.


Saat Fabian tidak bisa menyelesaikan sebuah masalah atau membuat kesalahan, maka Zavian yang akan turun tangan membereskan kekacauan itu. Lalu Fabian akan tampil ke hadapan publik sebagai sosok sempurna dengan segala kelebihannya. Orang akan memuja Fabian sebagai pria bijaksana sekaligus sosok problem solver terbaik. Tidak ada yang tahu, bahwa dibalik citra sempurna Fabian, ada adiknya yang berdiri memberi bantuan tak kasat mata. Sayangnya, perbuatan Fabian kali ini membuat Zavian merasakan kemarahan yang luar biasa. Dia tidak ingin lagi berada dalam satu garis lurus bersama kakaknya itu. Zavian tidak ingin lagi menjadi pendukung agar Fabian terus terlihat sempurna. Sikap curang dan keji Fabian telah menghancurkan ikatan kuat dalam persaudaraan mereka.


Setengah jam kemudian , terdengar suara mobil memasuki carport dan tidak lama mama Widya masuk. Di belakang wanita itu ada Papa Adrian dan juga Fabian.


Pelipis Fabian diberi perban, sedangkan luka di sudut bibirnya dibiarkan terbuka setelah diberi obat oles. Ada bekas lebam kebiruan yang mulai terlihat di tulang pipi dan juga alisnya. Batang hidung Fabian yang seperti patah diberi plester. Mata Fabian menyipit dengan luka di sudutnya. Bisa dikatakan bahwa saat ini wajah Fabian benar-benar babak belur .


“ Duduk di sini, Bian ! Kita perlu bicara.” tegas papa Adrian saat melihat Fabian hendak berlalu masuk ke dalam kamar. “ Masalah ini juga harus selesai malam ini juga !”


Fabian menempati sofa paling ujung dengan malas, sedangkan mama Widya duduk di samping suaminya yang berhadapan dengan Zavian serta Nayara. Zavian menggenggam tangan Nayara yang terasa dingin .

__ADS_1


“ Papa ingin penjelasan darimu, Vian. Kenapa kamu sampai sebrutal ini memukuli kakakmu ?” tanya papa Adrian.


Zavian menunjukkan sebuah sapu tangan dan botol kecil yang ditemukan pelayan di kamarnya. Mata Zavian menatap sinis ke arah kakaknya. “ Benda laknatt ini tidak mungkin punyaku.” 


“ Ini apa?” tanya mama Widya penasaran sambil menunjuk pada botol kecil di atas meja. 


“ Itu obat bius yang jika dihirup akan mengakibatkan pingsan selama beberapa jam .”  jawab Zavian.


Mama menatap ke arah Fabian yang kini menunduk dalam-dalam .Wanita paruh baya itu tampak syok saat memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dilakukan oleh Fabian di kamar Nayara. 


“ Seharusnya papa bertanya kepada Fabian, kenapa dia nekat membobol kunci kamarku dan masuk sambil membawa benda ini. Dia bahkan mematikan lampu kamar sebelum menyekap istriku.” ucap Zavian dengan tegas.


“ Jelaskan apa maksud semua ini , Bian!” perintah  papa Adrian sambil menatap tajam putra sulungnya.


Fabian diam saja, dia melengos sambil menatap ke sembarang arah. Fabian sama sekali tidak mau memberikan jawaban atas perintah papanya. Terlalu banyak yang harus dijelaskannya.


Satu hal yang pasti , hati Fabian teramat sakit setiap kali mendengar Zavian menyebut Nayara sebagai istrinya.


“ Jawab brengssek !” hardik Zavian yang kehilangan kesabaran. “ Kenapa lo ngelakuin semua ini , hah ?” ingin sekali rasanya Zavian kembali menghajar Fabian. 


“ Sabar, Vian!” seru mama Widya sambil melotot. “ Jangan pakai emosi, kita selesaikan dengan cara baik-baik.” 


“ Sudah jelas niat busuknya ingin melecehkan istriku, Ma. Dan sekarang aku baru paham kenapa dia memintaku untuk mereview beberapa project dengan memberi catatan urgent. Dia sengaja bikin aku pulang telat biar bisa melancarkan aksi terkutuknya !” ungkap Zavian dengan amarah yang semakin berkobar.


“ Bian , cepat jawab !” desak papa dengan tak sabar. 


.

__ADS_1


...****************...


udh tiga bab hari ini, Insya Allah kalau ada waktu hari ini aku Up lebih dr 3 bab.. jgn lupa Like tiap bab nya yaa. saranghae 🫶🫰


__ADS_2