SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 10. RESAH


__ADS_3

Ezra termenung, tak segera bangkit dari duduk nyamannya. Netra elang itu justru memejam, ia mengingat kembali semua kenangan masa kecilnya.


Benar kata Mita, dirinya pun belum cukup berbakti pada sang Papa. Semua keinginan sejak masa remaja, selalu Papa penuhi meski tak segera terwujud di hari yang sama saat ia memintanya.


Dan kejadian terakhir, kala Ezra memaksa Papa agar merestui hubungannya dengan Cheryl Patricia si uler derik nan cantik.


Dia juga mengabaikan anjuran Papa yang melarang mendekatinya karena kepopuleran wanita itu. Takut jika sang anak hanya dimanfaatkan oleh wanita itu.


Namun karena melihat keduanya bersungguh-sungguh, Emery pun memberikan restu. Mereka menikah meski pada akhirnya Ezra dikhianati.


"Kak, ko bengong, kan dipanggil Papa tadi kata Rolex," tegur Mita yang juga masih berdiam diri ditempat yang sama.


"Iya," ujarnya bangkit melangkahkan kaki menuju kamar sang Papa.


Tok. Tok.


"Silakan masuk Tuan Muda," Leon membuka pintu menyilakan Ezra memasuki kamar. Handle pintu pun ditarik Leon hingga menutup sempurna seraya dirinya meninggalkan ruangan setelah tuan mudanya masuk.


"Hai Pa, merasa lebih baik?" tanya Ezra mendekati ranjang sang ayah.


Papa hanya menganggukkan kepala samar, wajahnya memang jauh lebih segar dari siang tadi.


"Duduk sini, Za," lirih Emery seraya menepuk sisi ranjang sebelah kanannya.


"Istirahat Pa, jangan terlalu banyak bicara dulu...."


"Papa sudah tidak apa-apa, jangan khawatir berlebihan. Za, Papa boleh minta sesuatu?" pinta Papa dengan nada hati-hati takut anak sulungnya merasa terpaksa.


"Boleh Pa, katakan saja," jawab Ezra memandang wajah teduh sang ayah dan meraih tangan keriput itu untuk diciumnya.

__ADS_1


Emery terharu melihat anak sulung yang ia besarkan seorang diri telah menjelma menjadi sosok pria yang berhati lembut, meski penampilannya terkesan angkuh.


"Cuma mau bilang, titip Dilara, terserah dengan cara apa kamu menjaganya." Emery menatap wajah putranya.


"Maksud papa gimana? menjaga dengan caraku? menjaga yang bagaimana?" tanya ezra bingung.


"Terserah kamu, apakah dengan menjamin masa depan anak itu dengan membiayai kuliahnya. Memberikan teman baginya yang tak hanya sekedar bisa menjaga agar dilara aman dari gangguan para pelaku perundungan ataukah menikahinya," ujar Emery memberikan opsi.


"What Pa, ga salah? Dia masih dibawah umur loh, aku nanti dikira seorang pedo-fil. Lagian, maaf ya Pa, dia tidak termasuk seleraku," kilahnya atas saran sang ayah.


"Memangnya gadis itu terlihat seperti mie instan? seleraku? ada-ada saja kau ini. Dilara beberapa bulan lagi berusia 19 tahun sesuai laporan rolex, sudah bukan abege labil. Selisih dua belas tahun denganmu tak masalah bukan?"


"Aku bagai sugar daddy bila menikahinya, Pa," imbuh Ezra berusaha menyingkirkan pilihan yang sepertinya sang Papa menghendaki namun merasa segan untuk mengucapkan langsung padanya.


"Pikirkan saja dulu Za, Papa menerima apapun keputusanmu. Karena jika menikah niatnya sudah tidak baik, kelanjutannya juga tak akan baik. Jangan seperti Papa mu ini," sesal Emery tak bisa memberikan gambaran kehidupan rumah tangga yang harmonis bagi kedua anaknya.


"Papa hanya meminta kamu menjaganya, tidak memaksamu menikahinya," sambungnya menatap sang putra kebanggaan.


"Papa tenang saja, aku tak akan memberikan kesempatan bagi Sanjaya Grup menguasai real estate di wilayah kita dengan cara kotornya," tekad Ezra.


"Papa harap jika kamu menikah lagi, itu akan menjadi pernikahan terakhirmu ya Za, jangan salah langkah kembali," pesan sang ayah lembut menepuk telapak tangan Ezra yang berada di samping tubuhnya.


"Pastikan juga hatimu tak tersisa sayang bahkan cinta untuk mantan istrimu, masa lalumu dengan Cheryl harus sudah usai agar tak mengganggu rumah tangga kalian dimasa depan ... itu saja pesan papa untukmu, doakan papa mu ini panjang umur ya Za, agar bisa melihat kalian bahagia."


"Pa ... Papa akan selalu sehat dan ada untuk kami," Ezra menatap sang ayah dengan sorot mata sendu, mengingat jelas perjuangan saat ayahnya terpuruk dulu.


"Maafkan papa tidak memberikan kebahagian lengkap padamu sejak belia, Ezra El Qavi. Maafkan ibumu ya Nak, jangan menyimpan dendam padanya. Papa akan berusaha mengantarkan kalian menuju bahagia setelah masa kecil yang suram dan tidak banyak kenangan manis disana," ujar Emery dengan suara parau.


Masih saja tidak bisa mengendalikan perasaannya jika mengingat dia meski telah banyak luka yang wanita itu torehkan di hati Emery. Mungkin inilah definisi tentang cinta sejati atau mungkin ia yang terlalu mudah dibodohi oleh wanita masa lalunya itu.

__ADS_1


"Aku sayang Papa, hanya Papa orang tuaku. Sudah, lupakan dia. Ada aku dan Mita, yang akan menjaga Papa selalu, ya Pa," Ezra memeluk ayahnya, menyalurkan kehangatan cinta darinya agar kesedihan tak terlalu lama singgah dalam hati. Meski Ezra kerap merasakan sesak yang sama jika mengingat wanita itu, ibu kandungnya.


"Maafkan aku yang telah mengecewakan Papa, aku belum bisa menorehkan bahagia diwajah senjamu, Pa," sesal Ezra.


...***...


Sementara di tempat lainnya, Kediaman Dilara, malam hari.


Ruhama memandang dengan sorot mata haru pada anak gadisnya yang telah lelap di ranjang kamar bernuansa merah itu.


Dilara Huwaida, menyukai semua benda yang berwarna merah. Merah adalah warna pertama yang menarik perhatiannya sejak ia bayi. Tak ayal, kamarnya dipenuhi semua barang berwarna serupa, mulai dari merah marun hingga merah darah ataupun kombinasi warna merah.


Termasuk cover komputer jinjing usang yang kerap ia gunakan untuk membantu anak para tetangga yang kesulitan saat menyusun naskah, baik untuk skripsi, pidato, proposal atau naskah lainnya. Dari sinilah, Dilara mendapatkan upah sebagai imbalan baginya untuk membeli semua pernak-pernik tadi.


Anak ini selalu mandiri, jarang meminta padanya. Ruhama tak pernah merasa bosan bila berada dikamar Dila, rasanya seakan mendapatkan suntikan energi jika berlama disini. Merah, lambang pemberani dan pemicu semangat, persis Dilara.


Ingatannya kembali pada siang tadi saat cibiran warga ditujukan padanya. Rasa malu teramat sangat tak dapat ia sembunyikan kala massa menggiring mereka, hujatan sosial memang senjata ampuh dalam meruntuhkan mental dan kewarasan seseorang dijaman sekarang.


"Untunglah, Allah membuatmu tidak bisa mendengar sempurna Dila, aku tak dapat membayangkan apabila indera pendengaranmu normal, mendengar suara tembakan, perkelahian mungkin akan membuatmu trauma dan histeris. Kamu kuat, Dila," ucap Ruhama dibarengi usapan lembut dipunggung gadis yang tidur meringkuk menghadapnya.


Ia terkejut saat membaca kertas yang berisi kronologi peristiwa itu.


"Entah nasib apa yang akan membawamu nanti, yang jelas Ibu bahagia bisa merawatmu hingga saat ini. Ibu harap, kamu akan tetap menyayangiku jika telah sukses nanti. Maafkan segala keterbatasanku dalam mendidikmu sayang. Maafkan aku wahai wanita yang telah melahirkan Dila ke dunia, aku belum mampu mengukir senyum merekah diwajah putrimu."


Ruhama menangis, lalu menutup mulut dengan telapak tangan kanannya. Menikmati kubangan sedihnya seorang diri dalam malam yang mulai beranjak sunyi.


Tuhan, jagalah Dilara ... jika umurku tak lama lagi, pertemukanlah ia dengan seorang yang tulus menjaganya." Doa Ruhama tulus dari hati.


.

__ADS_1


.


...________________________...


__ADS_2