SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 36. ANCAMAN BAGI EZRA


__ADS_3

"Dila, Dila ... maaf, Dila," Ezra mengejar istri kecilnya menuju kamar di belakang.


Tok. Tok.


"Dila, kita bicara," bujuk Ezra mengetuk pintu beberapa kali.


Hening.


Tak terdengar lagi suara ketukan ataupun bujukan suaminya seperti tadi.


Sejak masuk ke dalam kamar, Dila menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Mendekap dada, kepalanya menunduk, kelopak mata bulat itupun ikut memejam.


Kini, ia seketika luruh perlahan menyentuh lantai seiring langkah kaki Ezra yang terdengar samar menjauhi kamarnya.


Degh.


Degh.


Degh.


"Jantungku, sesaknya ... aah, jantungku," gumam Dila mengusap dada kiri berharap apa yang dia lakukan dapat meredam degup yang semakin kencang.


"Ciuman pertamaku, untuk Abang," lirih Dila, tak menyangka terlihat begitu bodoh di depan lelaki itu.


Tok. Tok.


Selembar kertas masuk melewati celah bawah pintu. Dila meraihnya meski semua rasa masih belum ternetralisir dengan baik.


"Dila, maaf ya. Aku kelepasan lagi. Inilah yang aku takutkan, akan merusakmu sehingga kamu terluka sebab aku belum berniat membuka hati kembali."


"Maaf jika kamu merasa dibodohi oleh segala sikapku. Aku yang salah, tak menginginkanmu namun perilaku menunjukkan sebaliknya. Bukan mengambil keuntungan tapi...."


"Dila," panggilan Ezra pada gadis itu, kini terdengar lembut.


Nyonya muda yang telah jatuh cinta pada pria di balik pintu, membaca pelan, senyumnya muncul namun redup seketika.


Gadis ayu dengan tangan kiri masih memegang dada, meraih pulpen diatas meja yang tak jauh dari tempatnya kini.


Ia membalas tulisan Ezra.


"Aku mengerti. Lupakan saja."


"Aku tak berhak menolak apa yang Anda inginkan, pun jika meminta lebih. Karena kewajibanku meski Tuan membebaskannya, namun tetap saja kodrat akan berkata lain," balas Dila tak kalah panjang.


Kertas balasan pun Dila selipkan kembali melalui celah yang sama.


Ezra memang masih menunggunya, penasaran akan jawaban Dila. Kertas yang ia tunggu pun tiba, menyentuh kakinya.


Sebaris senyum muncul di wajah tampan sang pria dengan jambang tipis dan bibir sensualnya.


Ia berulang kali membaca kalimat yang di torehkan gadis kecil miliknya itu.

__ADS_1


"Terimakasih banyak. Maaf aku merusak siangmu."


Ezra mengetuk pintu kembali setelah melayangkan balasan untuk Dilara dari celah yang mereka gunakan.


Sunyi.


Tuan muda El Qavi, meninggalkan lorong kamar belakang, kembali ke pantry dan membuat kopinya sendiri.


Saat Bi Inah datang, kopi yang ia buat pun siap. Ezra urung kembali ke ruang kerja, ia justru duduk di ruang makan.


"Loh, Den. Bikin kopi sendiri? Dila mana?" tanya Bibi sambil lalu menuju dapur.


"Di kamar," ketus Ezra.


Ezra menyesap kopi buatannya.


"Gak enak sih, apa kopinya lain ya?" gumam Ezra.


"Bi, tolong donk buatkan kopi untukku," seru Ezra.


"Bukannya tadi baru bikin, Den? sudah habis?"


"Belum, gak enak. Apa aku salah ambil kopi, Bi?"


"Yowes, sebentar Bibi buatkan," imbuh Bi Inah dari balik tembok pantry.


Kopi kedua hadir di hadapan tuan muda. Tangan kanan itupun kembali mengangkat cangkir, menyesap minuman pahit beraroma wangi.


"Ko begini, gak kayak biasanya. Bibi coba cek deh, barangkali sudah rusak serbuk kopinya. Buang saja," tegas Ezra kali ini.


"Den, ke ruang kerja lagi aja dulu. Nanti Bibi antar. Ini mau di cek dulu semua kopi yang masih ada di dapur," saran Bi Inah pada Ezra.


Lelaki jangkung itupun mengikuti perintah sang asisten rumah tangganya. Ezra kembali ke ruang kerja.


"Ya pasti beda, wong selama ini yang bikin kopi itu ya Non Dila...." Wanita paruh baya itu terburu menuju kamar sang Nona muda.


Tok. Tok.


"Non, suaminya minta kopi," bisik Bi Inah.


Dilara masih duduk dibalik pintu. Gadis itu belum menyingkirkan tangannya yang menyentuh bibir.


"Gimana ngilangin bekas Abang ya? wangi nafas mint-nya, masih menempel di sini," lirih Dila. Ia nampak bodoh melihat pantulan dirinya di depan cermin, senyam senyum seorang diri.


"Non," suara Bi Inah kembali terdengar membuyarkan lamunan. Dila bangkit, membuka pintu kamar. Menyembulkan kepalanya lebih dulu.


"Kenapa? Den Ezra udah balik ke ruang kerja," ucap Bibi seakan tahu, Dila menghindari pria tampan itu.


Dengan sisa keberanian, dirinya menuju dapur. Membereskan kekacauan yang masih belum terjamah oleh tangan tua Bi Inah.


Kedua wanita itu melakukan tugas masing-masing. Bibi merebus air, sedangkan Dila meracik kopi.

__ADS_1


"Tadi aku bikin minum, tumpah dan buru-buru masuk kamar lagi karena Abang datang," ujar Dila seraya membersihkan percikan noda dan tumpahan sirup di lantai.


"Nah, sudah. Silakan, Bi," Dila menyerahkan cangkir kopi baru agar Bibi mengantarnya.


Sementara Dila, mengulang keinginan yang tertunda. Membuat minuman es sirup apel kesukaan.


Siang yang mendebarkan berlalu cepat berganti malam, hingga pagi menjelang. Dan hari-hari pun beranjak pergi, berganti bulan.


...***...


Di sebuah hunian resort mewah. Satu bulan kemudian.


Malam dingin pemilik perusahaan resort ternama, nampak sedang menghangat akibat kehadiran partner sukarela yang menyuguhkan sesuatu sebagai pelampiasan hasrat kelelakiannya.


Intonasi berat seorang pria, menyatakan kepuasan atas layanan sang wanita. Menyeruak memenuhi ruang kamar mewah yang dilengkapi peredam.


Kedua tubuh berpeluh itupun masih terpaut, gencar melakukan ritme di puncak surga dunia menggapai kenikmatan yang ingin mereka rengkuh.


Sang wanita kelelahan, merebahkan tubuh sintal nan seksi diatas dada lelaki yang baru saja ia gagahi.


"Minggir," usir Sang pria pada partnernya.


"Jangan lupa, kerjakan tugasmu dengan benar kali ini. Kemarin gagal, ku harap esok tak akan lagi mendengar kebodohan darimu," ujarnya kasar, meraih jubah tidur lalu meninggalkan wanita itu di sana.


"Si-alan, selalu saja pergi setelah kau menikmati suguhan," keluh sang wanita, meraih selimut menutupi diri yang lelah.


Baru saja dia memejam, lengannya ditarik seseorang yang menyuntikkan sesuatu.


"Ah," pekiknya terkejut.


"Bisakah kau pelan? sakit!" sentaknya kasar pada maid wanita.


"Perintah tuan muda." Maid wanita, bergegas meninggalkan penghibur tuannya.


Kamar mewah pun kembali sunyi. Menyisakan seonggok daging bertubuh molek disana.


Ruang kerja.


"Baiknya jangan memporsir. Anda baru pulih, Tuan."


"Dia, yang memotivasi ku bangkit." Jemari kekarnya mengusap foto seorang gadis yang sedang tersenyum.


"Nona, tak akan kemana-mana. Esok Anda akan berangkat melakukan pengobatan lanjutan pasca operasi agar kondisi Anda sehat paripurna kembali. Mohon jangan di bantah, Tuan. Kami akan selalu mengawasi wanita Anda," ujar sang Asisten.


"Baik, aku ikuti keinginanmu kali ini. Aku juga ingin dia melihatku, pergilah. Awasi ***-*** itu, pastikan dia melakukan tugasnya dengan benar," perintah sang Tuan Muda.


"Akan aku pastikan, kamu melihatku, Sayang ... Ezra, tunggu sebentar lagi. Dia akan jadi milikku juga, namun kali ini sebagai Nyonya muda keluarga Abdeen."


.


.

__ADS_1


...___________________...


...Menghitung hari, detik demi detik. Awal bulan, lama amat ya 😏. Jangan lupa Rate dan vote ya kesayangan 🤭...


__ADS_2