
Sudah satu pekan Dilara berada Sydney, Australia. Misi kali ini adalah untuk menjadi trainer intermediate hingga advance auditory verbal training, agar ketika ia kembali ke tanah air dapat memberikan stimulasi bahkan semangat, memunculkan harapan bagi para penyandang disabilitas sepertinya.
Weekend pun tiba, saatnya bagi Dila mengajak Shan berkeliling kota tanpa di temani oleh sang asisten, Kesih.
"Shan, you're ready to go now baby?" tanya Dila pada putra bertubuh gempal yang telah berganti baju, seraya menciumi pipinya gemas.
Baby itu hanya tertawa, dia seakan tahu bahwa akan menghabiskan waktu hanya berdua dengan sang Mama.
"I know you so exited, come on, lets go to the beach, we're have some fun today," ujar Dila mengangkat bayinya dari atas ranjang, lalu mulai menggendong ala kura-kura dibagian depan tubuhnya.
"Nona, beneran gak ingin ditemani? Balmoral beach ke arah utara, jaraknya lumayan dari sini. Apa gak repot? kenapa gak ke Bondi saja?" tawar Kesih khawatir.
Sang asisten terus membujuk agar Dilara bersedia di temani. Berbeda dengan Katrin. Gadis itu justru mendukung Nona mudanya menikmati waktu sendiri.
"Kesih, biarkan Nona sejenak. Beliau butuh ruang untuk bernafas. Sejak tiba disini keseharian Nona padat," ujarnya saat melihat Dila keluar dari kamar.
"Nah, tuh Katrin paham," sambung Dila agar aspri wanita itu tak lagi risau.
"Baiklah, hati-hati." Kesih pasrah mengikuti keinginan majikan mudanya, padahal Asyraf Hamid berpesan agar tak melepaskan pandang pada Dila.
"Aku siapkan bekal untuk Anda, juga Mpasi bagi Shan, my little prince ... hai Shan, so happy today? onty gak ikut, tapi bawain Shan banyak kueh, nih nih," ujar Katrin, sang juru masak khusus keduanya. Menunjukkan kotak bekal pada Shan.
Bayi laki-laki dalam gendongan Dila, antusias melihat aneka wadah warna warni berisi makanan untuknya. Tangannya menggapai-gapai jinjingan yang Katrin tunjukkan tepat di hadapan wajah imut itu.
"Kamu menggemaskan sekali, my baby bolo bolo," Katrin menggigit gemas telapak tangan montok Shan.
"Thanks ya kalian. Bondi terlalu ramai, aku ingin lebih private. Janji ko akan pulang awal, selalu berkabar dan juga hati-hati. Langsung jalan ya, taksi sudah nunggu," balas Dila cepat untuk kedua asistennya.
Mereka telah terbiasa dengan gaya bicara sang Nona, terkadang terdengar tegas tak jarang samar. Namun keduanya mengerti karena pelafalan Dilara kian mendekati sempurna.
Setelah melambai pada taksi yang membawa ibu muda. Kesih melanjutkan pekerjaannya sementara Katrin, menghubungi seseorang.
"Aku jadi ikutan melow...." ujar koki special, setelah memberikan lima menit laporan untuk sosok diujung sana, dari gawainya.
Sepanjang perjalanan, entah mengapa hatinya kembali dirundung murung. Melihat Shan semakin besar apakah nanti dia sanggup menjelaskan dimana ayahnya berada? mampukah menjabarkan perihal kondisi rumah tangga ini.
"Ah, Shan, daddy should be with us now," bisik Dilara di telinga putranya yang tengah asik menghisap jempol.
Dua puluh menit berselang. Balmoral beach.
Putri Ruhama turun perlahan dari taksi. Menyusuri dermaga pantai dengan gelombang ombak, lokasi ini sedikit private, cocok untuk liburan keluarga.
__ADS_1
Dila lalu menghampiri sebuah bangunan khas ikon pantai, menyewa sebuah tikar dan meminta petugas agar memasang tenda ke sisi kanan, agar tak terlalu ramai.
"Kita sampai, turun ya Shan. Bunda izinkan kamu main pasir."
Putra semata wayang terlihat antusias kala bundanya meletakkan dirinya melantai beralaskan tikar ditemani berbagai mainan di dekatnya.
Shan berusaha tengkurap, mengambil mainan yang bertebaran di sekitar tubuhnya. Karena gemuk, dia kesulitan bergerak maju untuk meraih satu mainan baby feed.
Menantu Emery, sesekali tertawa melihat tingkah lucu sang putra. Shan seakan tahu bahwa kelakuannya itu dapat memberikan kebahagiaan bagi Bunda, dia mengulangi gerakan yang sama beberapa kali.
Keduanya asik bermain hingga tak menyadari seseorang perlahan mendekat ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum, Sayang."
Degh.
Dila terkejut mendengar suara tak asing baginya. Yang sangat dia rindukan. Wajah ayu itu perlahan menengadah, melihat pada sosok tinggi menjulang di samping kiri.
"Wa-wa'alaikumussaalaam."
"Boleh aku duduk, Dila?" tanyanya lembut, masih belum melepas kacamata hitam yang bertengger diwajah.
Dila tak dapat berucap apapun. Dia meraih Shan yang hampir menyentuh pasir. Lalu menggeser duduknya ke ujung tikar.
"Alhamdulillah kalian sehat, aku tenang juga lega melihatnya." Ezra melepaskan kacamata dan sepatu, perlahan duduk di tikar yang sama.
Dilara berpura mengindahkan kehadiran lelaki yang menatap lekat padanya. Ia sedang gigih berusaha menahan agar air mata tak jatuh segera. Hati ibu Shan mulai teriris, kala sekilas pandang tadi, suami tampan itu terlihat kurus tak terawat seperti dulu.
"Dila ... banyak yang ingin aku bicarakan, Sayang." Ezra membuka percakapan.
"Aku tidak menyalahkan mu, semua adalah salahku. Terimakasih sudah menyadarkan lebih dini bahwa aku bukan seorang suami yang baik. Sangat kurang menerapkan rasa tanggungjawab dalam memperlakukan istri juga menjalin hubungan harmonis."
Hening.
Hening.
Ezra mulai gugup melihat Dilara hanya diam menunduk seraya memeluk Shan erat, seakan takut ia mengambilnya.
"Sayang ... aku berhasil mematahkan gugatan yang kamu ajukan. Status kita masih baik saja kan? kamu akan kembali padaku?"
Dilara masih diam, hatinya sakit. Shan yang meronta pun ia lepaskan.
__ADS_1
Mungkin naluri, yang membawa Shan bergerak maju mendekat pada sosok pria tak jauh darinya.
"H-hai Nak, a-khir-nya kita jumpa lagi," suaranya parau, tercekat di pangkal tenggorokan.
Ezra tak berani menyentuh bayi gempal itu, takut Dila akan meraih paksa hingga melukai sang putra. Namun beberapa detik melihat sang istri hanya diam, juga Shan yang semakin menempel ke tubuhnya. Ezra memberanikan diri mengangkat putra yang dia rindukan.
Tangan kekar itu terulur, bergerak, sedikit bergetar kala menyentuh punggung Shareef Shan. Ezra mengusapnya pelan.
"S-shan ... i-ini Ayah."
"I-ni A-yah." Ezra terharu. Dia tak kuasa lagi menahan rasa bahagianya.
"Mammhhhhh," suara Shan terdengar.
Lelaki tegap itu memeluk tubuh yang baru saja dia raih, mendekap erat. Menciumi semua bagian wajahnya.
"A-yah, Shan ... Ayah bahagia ketemu Shan," suara maskulin nan berat itu luntur. Berganti dengan isakan halus disertai lirih sumbang kala ia berucap.
Hiks. Dila hanya diam menunduk, air matanya sedari tadi sudah luruh menyentuh tikar.
Seakan mengerti bahwa yang mendekap adalah sang Ayah. Shan sangat tenang berada dalam pelukan Ezra.
"Miss you Shan, so much."
Masih tak puas, mungkin ini terasa bagai mimpi bagi Ezra. Dia terus menciumi semua bagian tubuh putra semata wayangnya, menghidu wangi bayi yang ia rindukan hingga tawa Shan terdengar.
"Lagi, kau suka Nak?" ujar Ezra kala menggigit gemas pipi bulat itu, reaksi Shan justru tertawa.
"Sekian lama, ayah akhirnya bisa memelukmu, Shareef Shan Qavi ... kau tak menghilangkan namaku kan, Sayang?"
Dila menyeka wajahnya yang basah karena air mata haru, melihat interaksi kedua pria yang mengisi hatinya.
Wanita yang kian ayu itu menatap lekat pada kedua manik mata elang.
"Dila, please...."
.
.
..._________________________...
__ADS_1
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...