
Indonesia.
Hanya satu kali Ezra menjenguk mantan istrinya di rumah sakit. Setelah wanita itu pulih, suami Dilara tak lagi menampakkan diri di hadapannya.
Siang ini, dia mendapatkan kabar bahwa Cheryl, koma. Rolex menduga, ada seseorang yang ingin melenyapkan sang mantan istri pimpinannya itu.
"Bos, ini adalah pengakuan Cheryl terhadap racikan obat yang di beli oleh Anastasya, namun bukan seperti serum saat peristiwa Anda dan Ibu Nyonya Dila," ungkap Rolex suatu siang di ruangan sang arsitek. Menyodorkan satu rekaman video ke atas meja sang pimpinan.
"Jadi, didalam darah Cheryl juga ditemukan banyak zat asing ini? menyebabkan dirinya tidak dapat mengandung?" tanya Ezra memastikan.
"Benar, dan Anastasya membeli salah satunya. Akan dia gunakan pada siapa, Bos? Nyonya Dila?" tebak Rolex.
Ezra terdiam, dahinya berkerut memikirkan sesuatu, mencoba menarik benang merah setiap peristiwa.
"Awasi dia, Lex. Juga mata-mata itu, bisa jadi yang akan melenyapkan Cheryl adalah dirinya, " tebak Ezra atas analisa yang dia buat.
"Kapan kita menguliti gadis sialan itu? tak tahu terimakasih," geram Rolex.
"Simpan untuk senjata saat Dila kembali. Pokoknya setelah semua jelas, akan aku gelar gugatan tentang Akbar dan Anastasya supaya istriku dapat melihat pertunjukan bagus...."
"Dilara pantas melihat raut wajah ketakutan mereka atau bahkan merengek di kaki istriku memohon ampun ... Aku juga telah menyelidiki tentang Vega Gianina. Dia sekretaris Akbar Sanjaya dulu. Jika Dila mengatakan bahwa dirinya berbaik hati sedemikian rupa pada keluarga ku ... aku yakin, ada dosa yang dia perbuat. Lex bantu aku selesaikan semua kecurigaan ini." Ezra menyerahkan semua coretan juga beberapa bukti capture mengenai sosok Vega Gianina alias Asyraf Hamid.
Kedua pria berotak cerdas itu saling membagi informasi. Hanya Rolex yang bisa ia mintai tolong karena lelaki sebaya dirinya itu tumbuh bersama di keluarga Qavi.
"Bos, tentang Abdeen. Anda mencurigai sesuatu kah? keberadaan dirinya seakan menghilang dan aku melihat Roy, asisten sejak dia belia mengawal orang lain saat berpapasan di Koridor rumah sakit, tepat ketika aku menjenguk Cheryl," ungkap Rolex.
"Bukan orang lain. Dia Abdeen dalam bentuk berbeda...." ujar Ezra tenang.
"What!!!"
"Dilara cerita padaku, lihat rekaman ini Lex, dengarkan perkataan istriku tentang seorang pria," sambung Ezra memperlihatkan isi laptop rahasianya.
Rolex seketika tersenyum tipis, ia yakin Ezra tidak tinggal diam berjauhan dengan keluarga kecilnya. Terbukti, upaya yang ia lakukan dengan menjalin komunikasi rahasia terlaksana dengan baik.
"Ini rahasianya? Ckck, kupikir Anda diam saja." Sindir Rolex seraya mendengar pernyataan Nona mudanya.
__ADS_1
"Jadi?"
Pimpinan Qavi Building itu hanya tersenyum tipis menanggapi cibiran aspri nya.
"Yes benar dugaanmu. Aku meminta Dila juga mendekati seorang gadis. Hanya dia yang bisa meredam pria gila itu. Sekarang, yang ku takutkan adalah Shan yang luluh dengan kehadirannya," kesal Ezra. Rasa khawatir terlukis jelas di raut wajah tampan keturunan Klan Qavi itu.
"Shan, cerdas. Dia tahu tentang Anda bukan? lagipula, Nyonya Dila pasti tak akan tinggal diam ....disana, Sabrina selalu waspada kan Bos? adik Kevin, masih bekerja sebagai asisten Nyonya juga kan?" cecar Rolex menjadi terbawa suasana cemas yang sama.
Ezra menganggukkan kepala samar, seraya melempar pandangan pada foto Dila dan Shan yang menjadi wallpaper desktop laptopnya.
"Istriku cerdas Lex. Banyak hal yang kami lakukan meski tidak bersama dan itu rahasia kita ... Shan tahu, siapa ayahnya namun hatiku gamang. Anak sekecil Shan, mudah luluh," cemasnya kembali hadir.
"Tentang Sabrina ... bahkan driver Dila adalah orangnya, juga gadis itu, setia disisi keluargaku apabila ada yang mengusik, dia bertindak menghalangi. Caranya juga halus hingga Andre tak menaruh curiga," terang Ezra sedikit lega, keluarga kecilnya ada di sekitar orang yang loyal.
Keduanya kembali melanjutkan rencana. Banyak yang harus di selesaikan, identitas Vega Gianina, mata-mata, kasus kematian Ibu, juga keselamatan keluarga kecilnya.
Dua masalah selesai, spy dan kasus ibu, jika Ezra menyiapkan pembalasan pada Abdeen maka dia juga harus menyiapkan jalur keamanan untuk Dila saat genting nanti.
"Vega Gianina, kita mulai dari kamu."
...***...
Pria keturunan pangeran timur tengah itu kini sedang berada di ruang kerjanya, bersama sang adik tercinta.
"Alyssa, lekas sehat ya. Aku akan sering bawa Shan ke sini, agar kau tidak kesepian jika aku harus terbang mengunjungi beberapa negara dalam waktu yang lumayan lama," ujar sang kakak pada adik satu-satunya.
Gadis manis itu hanya diam menanggapi keinginan sang kakak. Bukan Shan yang dia mau.
"Kak Dila, pendiam tapi jika berbicara sangat lembut dan enak di dengar. Meski ada satu dua kata yang masih belum jelas dilafalkan dengan baik ... aku mau beliau saja, sekaligus mengajari aku, guru yang kesini, kadang menjelaskan materi tak sebaik kak Dilara," ungkap Alyssa memohon pada sang kakak.
"Wanita itu sulit diajak kerjasama, Sayang. Tapi akan aku coba, demi kamu ... kakimu akan sembuh Al, jangan pesimis lagi. Ok? lalu kejarlah cita-cita. Jika kau ingin Dilara jadi kakak iparmu, maka bantu aku...." ungkap Al Zayn mengucap satu permohonan agar sang adik membantunya.
"Tentu, akan aku usahakan mendekati keduanya," balas Alyssa dengan wajah berseri .
Pria tampan itu menatap nanar gadis yang duduk di kursi roda. Jika bukan karena sebuah kecelakaan nahas kala itu, mungkin ia tak kehilangan pendengaran dan harus melakukan operasi cangkok koklea dan operasi lainnya.
__ADS_1
Juga, Alyssa tak akan cedera tulang belakang parah hingga membutuhkan waktu pemulihan bertahun lamanya.
"Karena Emery. Ini semua karenanya, juga wanita itu."
Tangannya mengepal hingga buku jari berkulit pucat itu kian memutih. Wajah tampan pun berkerut akibat tarikan otot tegang di sekitarnya.
Sejenak ia lupa jika Alyssa masih bersama didalam ruangan. Sang Tuan Muda lalu mengajak adiknya keluar dari sana, mendorong kursi roda menyusuri taman bunga yang ia buat.
Dulu, ini adalah tempat favorit Alyssa melukis, namun kini menjadi tempat bagi mereka mengulas kenangan indah kala keluarga itu masih utuh dahulu.
...***...
Kamar Dilara. Malam hari.
Sudah lewat sehari, tanggal peringatan anniversary kedua mereka. Dila lupa. Semenjak dirinya tiba, ia langsung disibukkan dengan jadwal mengajar juga mengawasi Shan agar tak mudah terjamah oleh Al Zayn.
Malam ini, Nyonya muda Qavi membeli sebuah cake mini, sesuai permintaan Shan, bertema superhero. Keduanya telah siap duduk menghadap laptop di atas tempat tidur.
"Happy 2nd anniversary, Honey. Maaf kelewat ya." Panggilan sayang pertama yang Dila ucapkan untuk Ezra, kala layar gadget itu telah menyala.
"Happy eng happy ... happy apa moms?" tanya Shan sembari menatap lucu pada wajah Dilara karena tak bisa mengikuti perkataan sang Bunda.
"Anniversary ... susah?" tanya Dila seraya tersenyum simpul.
"Susah, ehm ... Daddy, love you. But Daddy's here," Shan bingung, kenapa mengucapkan selamat pada sang Ayah padahal ayahnya ada disini.
"Thats guy isn't your daddy. Your daddy's name is?"
"Ezra El Kahfi, and this is his picture, right moms?" tegasnya lagi.
Dilara mengangguk cepat. "El Qavi, pakai qof not kaf ... Qavi." Sang Bunda membisikkan selalu nama Ezra ditelinga putranya, menunjukkan foto terbaru Ayah, yang putranya rindukan.
.
.
__ADS_1
...____________________...
...Mau bongkar mana dulu sih, enaknya? spy, atau kasus atau Vega? 🙄...