
Setelah puas mencicipi berbagai menu best seller di cafe Indonesian cuisine salah satu Mall, mereka kembali pulang ke kediaman mewah sang saudagar.
Beberapa hari setelahnya.
Dila sangat menikmati berbagai menu sajian hasil olahan sang CDP yang pernah dia temui. Hingga tanpa sadar, putri Ruhama itu hampir setiap hari memesan aneka cemilan dari resto tersebut.
Meskipun istri almarhum Asyraf Hamid terlihat tenang di hadapan Dilara, namun banyak pasang mata yang mengawasi pergerakan gadis itu. Tak akan sedikitpun luput dari pengawasan sang Nyonya.
Kesih memberikan laporan detail terkait tamu sang Nyonya pada Andre agar diteruskan pada juragan besar mereka.
Sang asisten pun mengetuk pintu ruang kebesaran majikannya, di sebuah gedung peninggalan suami kaya rayanya itu. AH Corp.
Tok. Tok.
"Nyonya."
"Masuk, Dre," balas suara lembut wanita dari dalam ruangan. Wajah yang masih sangat ayu itu mendongakkan kepala kala sang asisten pribadi telah berada di hadapannya.
"Nyonya, Nona nampaknya memang menyukai hasil masakan dari salah satu resto yang tempo hari mereka kunjungi," Andre melaporkan kebiasaan baru sang tamu dan tengah menarik perhatian juragannya.
Asyraf Hamid mendengar detail penjelasan lelaki paruh baya namun masih sangat tampan di hadapannya itu.
"Cari tahu siapa namanya, ajukan kontrak kerjasama dengan dia. Jika nafsu makan anak itu bagus berkat masakannya jadikan dia chef khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi Dilara dan cucuku," ujar sang Nyonya besar pada Andre.
"Baik, segera dilakukan, Nyonya."
Andre undur diri dari ruang kerja janda kaya Asyraf Hamid.
Sang aspri, langsung menghubungi Kepala Pelayan kediaman juragan besar.
Sementara itu.
Vega Gianina, melepas kacamata baca yang bertengger di wajah ayu dominan Jawa. Mengusap lembut pada kening dengan anak rambut semu memutih, menjadi satu gelungan elegan nan tertata apik.
Lambat laun, bulir bening perlahan menyembul dari sudut mata dengan garis halus samar disekitar kelopaknya.
"Dilara...."
"Semua ini bagai sebuah cermin, memantulkan kembali bayangan masa lalu. Seakan masa menampar ku hingga ketika membalik wajah, kejadian silam memaksa leher ini tegak agar kuat menopang kepala saat ingatan itu kembali memunculkan detik demi detik yang ku toreh dahulu."
"Bodohnya aku ... maaf Dilara, maafkan aku ... janjiku dulu sebelum Asyraf berpulang, aku akan menjadi ahli warisnya yang akan berjuang di jalan kebaikan, agar hidup suamiku, hidupku kelak, Allah ampuni."
__ADS_1
Beberapa hari lalu, dia sempat meminta pada sang sekretaris, Andre, agar mencari tahu sesuatu. Kini semua yang dia inginkan telah tersaji diatas meja.
Laporan berlembar yang Andre dapatkan sukses membuat mata Vega membola. Lelaki kharismatik dalam pandangannya itu selalu melakukan pekerjaan dengan rapi, detail juga apik. Entah mengapa demikian, bahkan sang suami dulu mengatakan, kinerja Andre semakin baik setelah Asyraf menikah dengannya.
"Semoga nanti, engkau memaafkanku ya Nak, aku juga tak akan menghalangi Ezra jika ingin mendekatimu asalkan dia memiliki niatan baik ... Dila, mulai kini, takkan aku biarkan orang lain memandang remeh pada kalian berdua."
"Juga, suatu saat aku akan mengajakmu. Membuat pengakuan di hadapannya juga permohonan maaf. Setelah itu, apabila kalian membenciku, aku akan menerima sebagai konsekuensi atas perlakuanku dulu."
Tanpa terasa saat Vega bermonolog, lava bening itu telah mengalir membuat satu garis basah di wajah yang terpoles make-up.
Ting. Notifikasi pesan masuk.
"Nyonya, done. Aku meminta Kesih, membuat janji dengan beliau sore nanti sekaligus menawarkan draft rencana kerjasama. Jika dia setuju, aku akan mendatanginya langsung keesokan pagi." Vega membaca pesan yang Andre kirimkan ke ponselnya.
"Baik, terimakasih, Dre."
Wanita elegan nan menawan itu meletakkan kembali benda pipih diatas meja. Ia memutar kursi kebesaran menghadap jendela, membuka gorden seputih tulang agar jumantara terlihat jelas di netranya.
Hembusan nafas berat nampak masih menghinggapi hati yang diliputi rasa penyesalan akibat kenaifan masa muda. Hingga ia hampir melewatkan jam makan siang, apabila sang sekretaris tak setia mengingatkan agar hidangan yang tersaji segera ia jamah.
...***...
Belahan bumi lainnya.
Ezra baru saja mendarat di Soetta setelah memastikan bahwa Arthur juga sepupunya telah menjalankan rencana yang ia mau.
Ada kehampaan hadir kala Mita mengetahui apa yang ia lakukan. Masih ingat jelas dalam benak Ezra bahwa menurut Mita, bukan begini cara yang seharusnya ia lakukan. Namun, setelah menjelaskan semua kemungkinan buruk, dia pun mengerti. Situasinya memang sulit bagi ia kini.
"Hanya Arthur harapanku. Semoga ya Allah, aku kuat."
Lunglai tubuh tak ia hiraukan. Akan dirinya halau demi sebuah perjuangan untuk menanti waktu perjumpaan dengan kedua pujaan hatinya.
"Jaga kesehatan, Za. Jangan sampai Dila menyebutmu tua saat jumpa lagi dengannya. Juga, kiranya El tak memanggilmu kakek," selorohnya menghibur diri sembari meneguhkan langkah menuju parkiran dimana Rolex menunggu.
...***...
Nampaknya semua orang yang terkoneksi dengan wanita penyandang disabilitas bernama Dilara Huwaida, sedang dilanda gelombang rasa. Entah itu marah, penyesalan atau bahkan kebingungan.
Lelaki seumuran rivalnya, Emery. Tengah membuka beberapa lembar kertas yang baru saja sekretarisnya serahkan.
Tentang permintaannya beberapa pekan lalu untuk mencari tahu sesuatu yang berasal dari masa silam, ketakutan terbesarnya.
__ADS_1
"Apa ini? gak mungkin. Mana berani dia." Sepasang mata di balik retina yang menua, nampak tercengang.
"Kemana dia pergi? jika memang benar, mengapa tak bersamanya? dengan identitas apa dia lari dari ku? ataukah benar dia meninggal? seperti yang dilaporkan?" Akbar berulang kali membolak balik kertas berisi data yang ia genggam.
"Arabella, kenapa melanggar janji? Aku memang kejam, tapi tidak pada darah dagingku," lelaki itu menggenggam erat pulpen yang sedari tadi ia mainkan, mematahkannya menjadi dua, sebagai pelampiasan kemarahan namun tak dapat tersalurkan sebab istrinya telah berpulang pun tak dapat bertanya sebab musabab semua kekalutan ini.
Banyak rasa ingin tahu tercipta atas berkas yang dia baca. Namun ia kini harus memastikan sesuatu. Status seseorang masih abu-abu hingga dirinya mendapatkan suatu petunjuk valid kelak.
Saat sang ayah berkutat dengan pikirannya. Anastasya memasuki ruang kerja Akbar begitu saja langsung menuju meja kerja.
"Pa, kenapa dengan Mama?" Anastasya meraih satu lembar dari atas meja, disaat lelaki itu masih terdiam.
"Mamamu kembali membuka luka Papa, Nak."
"Mama bilang, dulu Papa adalah orang yang romantis meski kalian berdua di jodohkan oleh sesepuh Pakualaman. Akbar Sanjaya Budiharso dengan Arabella Gendhis, hingga lahirlah aku, Anastasya Budiharso," kenang Ana. Putri tunggal keduanya.
"Banyak kisah diantara kami sebelum kamu lahir juga sesudahnya. Namun yang pasti, Papa sayang kalian," ujar Akbar seraya merapikan semua berkas tercecer di atas meja sebelum sang putri membacanya lagi.
"Kalian?" tanya Anastasya bingung.
"Iya, kalian. Kamu punya seorang adik, Ana," ungkap Akbar.
"Jangan bercanda, Pa."
"Tidak, adikmu juga perempuan namun ia meninggal saat baru saja dilahirkan."
"Kenapa Mama gak pernah cerita?" cecar Ana.
"Karena...."
Hening.
Hening.
Lama menjeda. Anastasya mulai tak sabar.
"Kenapa, Pa?" serunya pada sang Ayah yang justru hanya diam, memandang nanar pada dirinya.
.
.
__ADS_1
...__________________________...
...Do you know the fight, to keep you by my side.. this love will never chance but i just might go insane... 😌...