SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 60. PERHATIAN


__ADS_3

"Bolehkah aku memanggilmu, Abang?" ucap Dilara dalam hati.


Sepanjang perjalanan menuju basement, walau tak terjadi percakapan apapun di antara mereka berdua, Ezra tak melepaskan genggamannya.


Basement.


Pria beristri dengan penampilan rapi itu menekan remote mobilnya. Masih dengan jemari saling bertaut, Ezra membawa Dilara menuju tempat dimana mobil sport nya berada.


Biip. Biip. Suara kunci kendaraan terbuka.


"Masuklah," Ezra membuka pintu sebelah kiri kemudi. Dia juga membantu menahan pinggang Dila saat akan masuk dan duduk di dalamnya.


"Ramping begini sih, padahal lagi hamil. Badannya bisa nyembunyiin ya ternyata," ucapnya dalam hati saat telapak tangan kanan itu merangkul pinggang istrinya.


"Sudah nyaman belum?" tanya suami Dila seraya berjongkok merapikan gamis wanitanya agar tak terjepit. Ezra lalu meraih seat belt, mengaturnya agar tak menyakiti kandungan Dilara.


Yang ditanya, hanya mengangguk pelan, Dila kikuk harus bagaimana menjawab saat tubuh wangi itu meraih seat belt, berada beberapa inci dari wajah. Sang suami juga kerap menatapnya tajam, membuat debaran jantung semakin tak terkontrol baik.


Merasa semua aman, Ezra menutup pintu bagian kiri, lalu memutari mobilnya dan masuk ke belakang kemudi.


"Bismillah." Ezra menarik tuas rem tangan, melajukan pelan Porsche Baxter silver miliknya, keluar basement.


"Subhanalladzi sakhorolana...." lirih dilara hampir tak terdengar.


Baru saja keluar basement, macet mengadang perjalanan pertama mereka. Ezra mendengus kesal.


"Sabar, nanti juga sampai. Tuan daftar ke dokter siapa? dokter yang biasa aku check up bulanan atau bukan?" Dilara menulis di buku catatannya, berusaha menetralkan suasana canggung yang membuatnya tak nyaman.


"Dokternya kamu, Sayang. Aku sekalian ingin dengar dari beliau perkembangan baby kita sejak awal karena aku gak dampingin kamu kan." Tulisnya di bawah kalimat Dila.


"Oh, ya kheir, masih ada satu jam sebelum dokternya datang. Semoga macetnya gak lama." Balas menantu Emery ini di kertas sebaliknya.


"Aamiin," ucap Ezra tak menulis lagi.


Karena perjalanan tersendat yang telah membuang waktu mereka lebih dari sepuluh menit, Ezra merasa haus. Jemarinya membuka dasboard didepan Dilara. Mengeluarkan satu botol air mineral dari sana.


"Untungnya Rolex gak pernah lupa simpan air di situ. Sayang, mau minum?" tanya suami Dila, melihat istrinya hanya diam sedari tadi.


"Nih," tangan kanan Ezra membuka segel, memutar tutupnya lalu menyodorkan pada wanita ayu di sisi kiri.


Dila menerima uluran air mineral itu. Dirinya memang haus, lupa membawa botol minum padahal Bi Inah sudah menyiapkan di atas meja makan. Ia terburu sebab tak ingin suami rasa majikannya itu menunggu lama.

__ADS_1


Bagai menemukan oase di padang pasir tandus. Kerongkongan yang kering, kini basah teraliri air sejuk dari sang pria tampan. Setelah hampir separuh Dila meneguk nya, botol itu pun kembali ia serahkan pada Ezra.


"Nanti sebelum pulang, beli lagi. Kamu memang butuh banyak minum," ujarnya saat melihat sisa air dalam botol.


Dilara menunduk, merasa malu sudah menghabiskan isinya.


Ezra membelai kepala istrinya sayang. Meraih pipi gembul itu agar menoleh padanya. "No, bukan maksudku begitu. Gak apa, Dila. Bagus kalau kamu suka minum."


Dila mengangguki samar perkataan suaminya. Dan tak terlintas dalam benaknya, Ezra meneguk habis sisa air yang baru saja dia sodorkan.


"Eh, bekas aku," gumam Dilara tak sengaja bicara karena terkejut dengan sikap Ezra.


"Bekas? kalau dari istri itu bukan bekas, Sayang. Namanya berbagi, sunnah, banyak pahalanya, bener gak?"


"Benar sunnah ... juga berkaitan dengan su'ru manusia itu suci, baik laki-laki atau wanita. Dalam riwayat Muslim. Sayyidah Aisyah berkata : Aku minum dalam keadaan haidh lalu aku sodorkan minumku itu kepada Rasulullah. Beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku."


"Juga dalam adabul mufrod disebutkan bahwa Sayyidah Aisyah biasa makan sejenis bubur (his) dengan Rosulullah."


"Tapi tadi aku gak nempelin mulutku di ujung botol nya." Tulis Dila kembali.


"Kenapa?" sahut Ezra kala ia selesai membaca semua penjelasan Dilara.


"Kedua, jika meminum langsung dan mulutnya menyentuh ujung botol. Apabila nafas ikut terhembus atau adanya sisa air ludah yang menempel, dapat mengakibatkan rasa jijik dan risih bagi orang lain yang akan meminumnya."


"Ketiga, biasanya orang yang menenggak air langsung dari mulut botolnya akan ketumpahan cairan yang akan menyebabkan bajunya basah. Rosulullah juga pernah melarang meneguk air langsung dari mulut botolnya, menurut Abu Hurairah."


"Jadi gak boleh ya?"


"Pendapat ini, jika ada orang lain yang akan minum dari botol yang sama, Tuan. Namun apabila hanya diri sendiri yang meminumnya ya boleh asal hati-hati." Dilara menulis panjang, jemarinya mulai kaku dan pegal memegang pulpen dalam waktu lama.


"Makasih Sayang, penjelasannya. Aku baru tahu, ternyata semua yang dilakukan Rosulullah itu baik ya." Ezra mengambil pulpen di jari Dila lalu menulis balasan untuk sang istri.


Dilara tersenyum samar, membaca balasan Ezra diatas catatan miliknya. Ia lalu menyandarkan kepalanya di ujung jok menempel jendela.


"Ngantuk? sini sama aku, Dila." Pria yang di minta oleh istrinya sabar menghadapi kemacetan mulai risau. Ia menarik kepala Dilara agar menempel dan bersandar pada bahu kirinya.


"Buat dirimu nyaman, macet parah ini," ucapnya seraya mengecup kening sang istri, yang perlahan menuruti permintaannya.


Perjalanan dari Apart menuju rumah sakit seharusnya memakan waktu hanya dua puluh menit, kini telah mereka habiskan hampir satu jam.


Rumah sakit.

__ADS_1


Hampir saja mereka datang terlambat saat nama Dilara huwaida disebut suster, kala keduanya baru saja duduk didepan poly Obgyn.


Setelah di dalam ruangan. Ezra banyak bicara, menanyakan semua yang ingin ia ketahui langsung dari dokter sekaligus meminta rujukan bagi istrinya karena akan pulang ke Surabaya menggunakan pesawat.


"Semua kondisinya baik, meski posisi bayinya miring. Semoga masih bisa berputar mengingat ini baru masuk ke trimester tiga," ujar dokter menerangkan saat dilakukan USG.


"Bahaya gak Dok? itu mendesak ke organ vital lainnya kah?" tanya Ezra cemas.


"Bu Dila, suka merasa sesak tidak? karena kadang jika dia menggeliat, sedikit menimbulkan rasa tak nyaman ketika bernafas." Pertanyaan dokter itu, di angguki Dila.


"Kalau malam, aku kadang tidur dalam posisi duduk, Dokter. Karena sesak di dada kiri, juga sering kram sebelah, apakah mungkin dia sedang mencari jalan agar posisi kepalanya ke bawah?" tanya Dilara memberikan tulisan pada dokter.


"Oblique sungsang. Sungsang itu posisi bayi dengan bokong di bawah, sedangkan oblique adalah posisi janin di rahim dalam keadaan miring atau melintang. Harapan saya, bisa kembali normal, posisi bayi di pintu rahim Ibu nanti jelang kelahiran," pungkas dokter.


Ezra tertegun. Selama ini Dila kerap tidur dalam posisi duduk? karena bayinya.


"Opsi akhir, Dok?" tanya Ezra mulai khawatir.


"SC Tuan, tapi banyak kisah kelahiran normal meski kondisi demikian. Berdoa saja," dokter terus memberi harapan.


Dilara tersenyum. Mengangguki wejangan dokter untuknya jika terjadi sesak ataupun kram.


Ezra mendapat banyak ilmu juga informasi yang tak ia dapatkan tentang kehamilan istrinya selama ini. Setelah keduanya keluar dari ruang dokter, lelaki itu tak henti menciumi telapak tangan Dilara.


"Sayang, makasih banyak. Makasih banyak, maafkan aku, baru tahu ini semua."


Dilara mendengar semua pengakuan pria yang telah masuk dalam relung hatinya itu. Pipinya seketika merona mendapatkan perlakuan manis dari sang calon ayah baby mereka.


"Sekarang ke poly THT ya," ajak Ezra menggamit lengan ibu hamil cantik miliknya.


Degh.


"Ketahuan donk, aku bisa mendengar."


.


.


...___________________________...


...Su'ru bentuk tunggal آسار artinya : sisa dari sesuatu, sedangkan menurut istilah : bekas sisa air minum yang tertinggal dalam wadah. Su'ru banyak macamnya, ada yang najis dan tidak. Namun su'ru manusia, bukan najis....

__ADS_1


__ADS_2