SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 89. SHAN


__ADS_3

Satu hari yang menenangkan bagi Dilara ia lewati begitu saja. Dirinya dan El, lelap di atas peraduan baru mereka. Perjalanan jauh tak memungkiri fisiknya kian lemah, dan tidur panjang lumayan mengembalikan stamina Dilara pada malam hari.


Pintu kamarnya diketuk oleh maid yang memintanya menuju ruang makan karena Nyonya Asyraf telah menunggu.


"Baik, sebentar. Aku dan El ganti baju dahulu," sahutnya pada maid.


Namun.


"Eh, koperku kan di kirim via kargo ke asrama Rengganis. Bajuku di sana, bagaimana ini? baju El juga," Ibu muda itu panik.


Dalam kebingungan, pikirannya mengarahkan tubuh yang masih belum sepenuhnya fit itu untuk membuka lemari baju.


"Eh, ini ada baju?" Meski ragu, dia meraih satu potong homy dress berwarna coklat tua dengan motif abstrak.


Tok. Tok.


"Ya?" Dila meletakkan baju yang baru ia pegang di atas ranjang. Lalu membuka pintu kamar.


"Nona, baju Anda disana dan Tuan Muda El, di rak sebelahnya. Mari saya bantu," ucap Kesih seraya masuk ke dalam kamar nan luas itu.


Dila terpaku sejenak sebelum menanyakan perihal ini semua.


"Nyonya menyiapkan untuk Anda sejak kemarin. Dan ini memang milik Anda berdua," jelasnya lagi.


Kesih dan Marini menjelaskan secara bergantian mengenai status Nyonya, rumah ini juga beberapa usaha milik beliau. Apa yang disuka dan tidak.


Dilara akhirnya mengerti, juga sikap apa yang harus ia terapkan dan jaga, ketika bersua dengan beliau. Tak lama, berkat bantuan dua orang maid, keduanya siap lebih cepat untuk bergabung dengan sang tuan rumah.


Dining Room.


"Cantiknya ... sini Dila, duduk di sebelah ku saja, kita lupakan etiket dulu. Aku ingin ngobrol santai sama kamu. Nah, menu jowo, tahu tek dan rawon, suka gak? minumnya ini, tipis, timun jeruk nipis ... seger." Asyraf Hamid antusias melihat tamunya bersedia menemani santap malam hari ini.


Dilara hanya tersenyum, menarik kursi di samping kiri Nyonya besar seraya menggendong El dalam pelukan.


"Cucu Oma, ganteng banget ... namanya El siapa?" tanya Asyraf Hamid kala melihat bayi laki-laki itu lebih jelas tanpa selimut yang menutupi wajahnya seperti tadi siang.


"El Shareef, tapi berganti menjadi Shareef Shan."


"Dipanggilnya?"

__ADS_1


"Shan, semoga diberkahi, ada yang bilang, bersuara merdu. Karena aku ingin Shan menjadi hafiz," ungkap Dila untuk satu arti kata nama putranya.


"Indahnya ... Kesih, stroller Shan, mana? tolong bawa sini," Nyonya besar memanggil maid yang bertugas melayani Shan.


"Nyonya. Maaf," ujar sang asisten saat mendorong box bayi beroda ke sisi tempat duduk Dila.


"Boleh aku gendong sebentar, Dila?" pinta wanita cantik di sampingnya itu.


"Boleh ... Shan, ikut Nyonya Asyraf ya Nak, mau di doain," bisik Dila di telinga putranya.


"Oma, Oma saja." Pemilik nama asli Vega Gianina menerima dengan hati-hati, bayi laki-laki tampan putra tamu jauhnya itu.


"Shan, semoga kelak menjadi sumber bahagia Ibu dan wanita yang menjadi Istrimu nanti. Menyayangi kedua wanita yang akan berjuang di sisimu kelak, Ibu dan Istrimu. Angkat derajat orang tua, menjadi obat segala duka juga banyak di limpahi kemudahan urusan, didekatkan dengan orang baik nan sholeh, aamiin."


Bagai bertemu oase. Dilara, terharu melihat Nyonya yang baru saja dikenalnya sangat menyayangi putra semata wayang. Melantunkan banyak barisan doa yang tak dapat Ibu asuhnya berikan, karena Ruhama berpulang lebih dulu.


"Kenapa, Dila?" tanya beliau saat meletakkan bayi mungil dalam stroller.


"Aku ingat Ibu," jelas Dila.


"Doakan, kau boleh anggap aku ibumu juga. Ok? kita makan yuk sebelum dokter kalian tiba. Aku gak ingin, El kenapa-kenapa akibat terbang jauh di usia yang masih sangat riskan," ajaknya mengaburkan kesedihan gadis muda di sampingnya itu.


Dini hari, Bandara.


Ezra baru saja tiba di Dubai. Ia telah di tunggu seorang bell boy hotel yang membawa papan namanya di gate kedatangan internasional. Setelah beberapa menit berbincang, mereka pun meninggalkan Bandara menuju Hotel tempat Ezra menginap.


Standar fasilitas hotel di negara ini memang ajib, meski dirinya hanya mendapatkan kamar Deluxe. Namun interiornya tak kalah apik.


Setelah konfirmasi check-in, Ezra diantar menuju kamar di lantai 12 gedung megah menjulang diantara bangunan serupa di kanan kirinya.


"Sayang, aku kini di negara yang sama dengan mu, andai kita pun berada di ruangan yang sama."


Lelaki itu mengusap tengkuknya yang terasa pegal. Membuka beberapa kancing kemeja bagian atas lalu menggeser pintu balkon menghirup udara dini hari negara seribu gedung pencakar langit.


"Meski kebersamaan kita sesaat, kamu meninggalkan kerinduan mendalam. Dila ku bukan seorang pendiam, tapi aku yang membuatnya begitu."


Ponselnya dia aktifkan, lalu menghubungi ustadz Zaky dan Rolex, mengatakan bahwa dirinya telah sampai.


"Semoga semua belum terlambat."

__ADS_1


Ezra kembali masuk kamar, menutup pintu balkon lalu memutuskan beristirahat sejenak sebelum menemui sang ustadz.


*


Keesokan pagi.


Setelah mendengarkan keterangan dokter semalam, kedua wanita cantik keluar dari hunian mewah menuju rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut pada Shan juga luka pasca melahirkan bagi Dila.


Sementara di tempat lainnya.


Sang ustadz meminta bertemu di kamar pemilik EQ building, Hotel tempat Ezra menginap. Alasannya karena lebih privasi dan terjaga rahasia mereka dari khalayak umum.


Mereka berdua pun bertemu tepat pukul sepuluh pagi. Keduanya memilih berbincang di balkon.


"Apa kabar Tuan Ezra?"


"Gak baik karena hatiku resah," ucap Ezra saat telah duduk berhadapan dengan Zaky.


Zaky tersenyum tipis, memaklumi perasaan pria di depannya ini.


"Aku kaget ketika Dilara mengutarakan maksud ikut dengan kami ke sini. Dia tidak menjelaskan secara detail apa masalahnya. Hanya waktu itu Rengganis, istri saya mengatakan bahwa dirinya telah di jatuhi talak kinayah ... berupaya bertanya, namun Anda mengelak. Akhirnya Dila mengambil keputusan menjaga jarak dahulu," jelas Zaky.


"Benar. Aku mengabaikannya, karena gak paham waktu itu ustadz."


"Inginnya menahan agar kalian dapat bertemu dahulu, namun dia bersikukuh karena alasan lain, dan akhirnya Dila menggugat cerai Anda. Betul begitu?" tanya Zaky mencari tahu duduk perkara yang sesungguhnya.


"Betul. Tapi semua bisa aku patahkan, untuk mediasi nanti di majelis mengenai gugatan Dila. Yang ingin aku tanyakan adalah perihal status ucapan dan hukum talak ku bagaimana pada Dila, Ustadz?" Ezra mulai cemas. Hatinya berdebar, takut akan penjelasan sang ustadz jika semua yang telah ia lakukan, terbukti melanggar syariah hingga status Dilara sebagai istrinya, lepas.


"Sesungguhnya saya bukan orang yang berhak tahu. Apalagi wali hakim yang memutuskan perkara. Namun, karena Dilara dan Anda datang padaku, maka wajib hukumnya untuk menjelaskan sependek pengetahuan yang saya mampu. Apabila perkataan dalam masa ini membuat Anda ragu, silakan boleh bertanya pada yang lebih 'alim dan fahim. Bisa dipahami, Tuan?" tutur Zaky panjang sebelum mendengarkan kisah versi Ezra.


"Paham, Ustadz. Panggil Ezra saja," pintanya.


"Alhamdulillah ... silakan...."


Ezra menarik nafas panjang, sebelum memulai cerita. "Aku...."


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2