
"Say something...."
"A-bang."
Hening.
Andai Dilara dapat melihat raut wajah Ezra saat ia mengucapkan kata panggilan baginya. Mungkin Dila akan tersipu.
Pria tampan yang masih memeluk dan menyandarkan wajah pada bahu kanannya itu melukiskan senyum menawan, senyum yang hanya dia berikan pada istrinya.
"Lagi, please...." suara berat kian mendominasi udara didalam mobil yang masih diam tak beranjak dari basement rumah sakit.
"Abang, lepas. Aku sesak," akhirnya Dilara menyerah. Ia mengeluarkan suaranya dengan kalimat permohonan.
"Lagi, aku ingin dengerin kamu bicara banyak," pintanya masih tak memedulikan tubuh mungil yang mulai memberontak.
Bukannya bicara kembali, Dilara justru diam. Tubuhnya akan merasa lelah jika terus menerus menggeliat dalam pelukan lelakinya.
Jeda.
Jeda.
"Ck, susahnya."
C-up. Ezra mengecup pipi gembil yang sedari tadi ingin dia gigit.
"Mall, nonton," ucap Dila cepat.
"Yang sopan donk, Sayang ... Abang, aku mau ke Mall dan nonton. Gitu, ulangi gih," Ezra masih menggodanya.
Menantu Ruhama, urung menurunkan tuas rem, menunggu Dila mengulangi kalimatnya.
Tik Tok Tik Tok.
"Ya ampun ... iya Nyonya, siap laksanakan."
"Pakai Argo, ya Tuan. Biar gak nyasar," cebiknya kesal, terlalu lama di basement.
"Tau Argo juga. Kayak pernah naik taksi aja, gak akan ada supir ganteng kayak aku loh," sahut Ezra mencoba mengajak dia bicara banyak.
Porsche Baxter silver milik CEO El Qavi meninggalkan basement rumah sakit menuju Mall.
"Enak aja, aku kalau habis ambil sa-lar-y pu-langnya naik taksi. Kan punya uang, nonton du-lu, be-l-i buku di gr-amedia te-rus pu-la-ng," jawab Dilara tanpa sadar terpancing obrolan Ezra.
"Gak kelayapan dulu? pacaran?" imbuh lelaki dengan senyum tak pernah surut dari wajahnya. Ia bahagia, mendengar Dilara mau berbicara sedikit lebih lama dengannya.
"Gak punya paca-r, gak bo-leh sama Ibu, bisa di go-rok nanti," balasnya lagi.
"Aku yang pertama donk? alhamdulillah...." Ezra makin sumringah.
"Gak ng-rasa apa? padaha-l kan dah pe-rnah ... eh," Gadis manis dengan perut membuncit ini baru sadar, saat ia menoleh ke arah kanannya. Ezra tak henti tersenyum. Ternyata dirinya sudah terlalu banyak bicara.
"Baru sadar?" suaminya tertawa lepas. Mengusap kepalanya pelan.
"Susah ya? mengucapkan beberapa huruf?" tanya Ezra lagi ketika melihat Dila menunduk.
"Iya, ka-rena te-r-lambat be-r-la-tih."
__ADS_1
"Terapi mau gak, Sayang? aku udah minta referensi teman tapi belum di balas," tawar Ezra kemudian.
"Hmmm, ke-r-jaanku."
"Di rumah kan? aku masih izinkan kamu melakukan semua kebiasaan semula. Jika adek lahir nanti, stop ya," pinta Ezra serius. Ia tak ingin Dilara kelelahan. Dirinya masih mampu memberikan jaminan kehidupan lebih dari sekedar layak bagi keluarganya.
"Janjinya gak maksa," cicit Dila takut.
"Ampun, salah lagi. Ck kenapa juga aku bilang gitu kemarin ya? kamu sih, susah banget di ajak bicara," Ezra menyesali keputusannya.
"Sa-lah aku l-agi."
"Buuuuu, anaknya pinter ngeles, senewen pula, duh. Tapi terlanjur sayang, gimana donk?" keluh Ezra kembali menggoda istrinya.
Jika dengan orang lain, Dila cuek meski pelafalannya tetap kurang tegas untuk beberapa huruf tertentu. Entah mengapa, berinteraksi dengan Ezra justru menggugah keinginannya agar dapat berbicara sempurna. Sekuat tenaga dia mencoba menegaskan suku kata, walhasil tenaganya habis.
"Jangan dipaksakan, jika memang belum bisa. Aku paham apa yang kamu sampaikan, Dila," suara lelaki itu kian melembut.
"Suara yang aku damba, setelah sekian lama akhirnya ku dapatkan."
Perlahan kendaraan yang membawa pasangan beda usia ini masuk ke parking area dilantai dua.
"Sampai, mau jajan dulu atau langsung nonton?" tanya Ezra ketika akan bersiap turun.
"L-iat nanti," sahut Dila cepat, ia membuka seat belt nya.
Ezra mendiamkan, mengamati semua yang dilakukan istrinya itu. Ia melihat jemari kedua tangan Dila polos, hanya gelang pemberiannya dulu yang masih dipakai pada pergelangan tangannya.
Dilara mendahului langkah sang suami. Ia berjalan pelan saat melintasi stand juice.
"Sini, mau juice apa?" Ezra meraih pinggang Dila, menarik mendekati stand.
"Enggak, mau mangga je-ruk, bo-leh?"
"Boleh, aku minta ya."
Ibu hamil dalam balutan gamis warna khaki, duduk di meja yang disediakan oleh stand tersebut. Jemarinya mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
Ia memeriksa hasil pekerjaan yang sudah dikirimkan pagi tadi. Apakah ada yang harus di revisi atau sebaliknya, melanjutkan hingga bab akhir.
"Minum dulu," Ezra mengangkat gelas juice yang baru saja tiba, memegangi sedotannya lalu mendekatkan ke bibir sang istri.
"Dila."
Banyak pasang mata melihat mereka berdua. Bagi sebagian orang, apa yang Ezra lakukan sebagai bentuk perhatian juga keromantisan. Namun bagi Dilara, semua itu hanya dia anggap wujud mencari perhatian.
"Habiskan ya, lalu kita dzuhur dulu."
Dilara menggeser duduknya membelakangi Ezra, menyembunyikan apa yang sedang ia kerjakan. Pria itu tak ingin memaksanya meski ia amat penasaran.
"Sayang, kalau abege pacaran kayak gitu ya?" Ezra berbisik, mendekat kala melihat sepasang muda mudi didepannya berlaku mesra, bermanja.
"Gak tahu Abang, kan gak pe-rnah paca-ran," ujarnya lirih seraya bangkit, ingin membayar minumannya lalu segera sholat.
"Sudah di bayar, ayo." Mereka berjalan bersisian menuju mushola.
Semenjak mengetahui detail kondisi kehamilannya, putra sulung Emery ini seakan diliputi rasa cemas berlebihan.
__ADS_1
Di Mall, banyak gadis seusia Dilara masih bebas menikmati hidup masa belianya. Sedangkan istrinya itu, malah tengah hamil.
Pemilik EQ building selesai lebih dulu. Lumayan lama dirinya menunggu Dilara selesai sholat, ia merenung, jika bukan berkatnya mungkin kini Ezra Qavi hanya tinggal nama.
"Sudah?" tanya Ezra yang hanya diangguki pelan. Dilara kini terlihat lebih segar oleh tetesan jejak air wudhu.
Setelah beberapa puluh meter mereka kembali berjalan, saat akan mencapai escalator, Ezra menarik tautan jari mereka masuk ke sebuah toko perhiasan.
Pintu kaca terbuka, sapaan ramah pegawai terdengar.
"Aku minta cincin, untuk istriku. Simple namun elegan," pinta Ezra saat sang manager menyambutnya.
Putra Emery lalu membawa istrinya duduk di sofa menunggu beberapa pilihan perhiasan yang akan ditawarkan.
"Gak usah."
"Perlu, jari Nyonya Qavi gak boleh polos."
Jika menantu Emery ini kurang memahami tentang perhiasan, lain halnya dengan Ezra, suaminya amat jeli. Hingga satu buah cincin kini sudah menghiasi jemari lentik Dilara.
"Yang dua tadi, minta di kemas, juga design susulan nanti aku send by email ya. Semua pesananku tolong kirimkan ke rumah ... sampaikan pada Arthur, aku memesan khusus," ujar Ezra pada manager toko yang menemani mereka sejak tadi. Dirinya merangkul pinggang Dilara agar bangkit perlahan.
"Baik, Tuan muda Qavi. Kami akan sampaikan kepada Tuan Arthur Julian," cakap sang manager.
Setelah urusan transaksi selesai, keduanya keluar dari toko.
"Teman?"
"Klien, Sayang. Ok, kemon sekarang kita nonton." Lengan kekar itu kini sudah mendarat di bahu kiri Dila, mendekap erat seakan tak rela bila pandangan pria lain menatap miliknya.
"Cantik, te-rimakasih," ucap Dilara pelan, hanya didengar oleh telinga suaminya, saat melihat jarinya kini tersemat benda berkilau.
"Imbalannya, jangan lupa," bisik Ezra tak kalah lirih.
"Apa?" mata bulat Dilara mengerjap.
"Hmmm, ini." Ezra tak tahan. Wangi apel segar sedari tadi menggoda indera penciumannya.
Dia mendorong pelan tubuh istrinya ke sudut celah ruang sepi antara tembok dan tangga dekat rest room.
C-up.
Perlahan dia mendekatkan wajahnya, memagut bibir mungil nan sensual.
"Hmppt...." Dilara menahan dada suaminya, perutnya tertekan.
"Pak, Pak.... "
.
.
..._______________________...
...😪 mesum tahu tempat, tolong......
...Dilara Huwaida, sebelum terpoles....
__ADS_1