
"Benarkah aku keturunan bangsawan?"
Menjelang ashar, semua informasi yang Ezra dan Mita sebar, mulai muncul satu persatu. Arthur mengatakan bahwa ukiran yang terdapat pada body liontin berhuruf D itu merupakan ciri khas dari jaman kerajaan Mataram.
Jika leluhur Dilara diizinkan mengutip gaya khas pada jaman itu, dapat disimpulkan bahwa silsilah keluarga istri Ezra berasal dari Jogjakarta. Karena peninggalan Kerajaan Mataram berpusat di sana dan sekitarnya.
"Yang di izinkan pakai beginian itu kalau gak adipati ya pasti bagian struktur pemerintahan juga dipastikan nenek moyangnya, ada trah darah biru," jelas Arthur pada pesan yang dikirimkan ke ponsel Ezra.
"Karena lekukannya, mencerminkan simbol salah satu kemegahan kerajaan, Za. Kalau para bangsawan tidak di berikan ciri khas, bagaimana membedakan dengan rakyat biasa pada masa itu," ungkap owner toko perhiasan keturunan Inggris itu.
Jika sang kakak berkutat dengan detail lengkungan liontin. Ermita menerima pesan yang sama dari karib prianya.
"Kak Dila, Mas Juna lagi tanya sama buyutnya yang masih aktif menjabat sebagai Tumenggung di Solo. Kata beliau sekilas tadi, motif dalam selendang emas itu mirip sebuah simbol keraton. Biasanya itu diberikan sebagai hadiah kepada para pengampu pemerintahan dengan predikat kinerja baik atau sebagai penghargaan ... ternyata buyut Tumenggungnya juga memiliki selendang emas serupa. Hanya saja berbeda motif ciri khas," terang Mita menjelaskan pesan Arjuna.
"Keraton mana?" sambung Ezra pada adiknya, karena Dilara hanya diam sedari tadi.
"Belum tahu, masih di tanyakan karena buyutnya mau sowan ke ahli kunci di Solo liat buku apa gitu atau sejarah mana, aku gak paham. Mas Juna cuma bilang tunggu aja," imbuh Mita.
Kriing. Dering ponsel Dilara berbunyi.
Muncul sebuah nama di layar gawai, membuat sang pemilik ponsel meragu menekan tuts hijau pada layar.
"Gak usah di angkat, kayaknya dia sudah tahu kamu gak di sana," ucap Ezra pada istrinya.
Dilara bingung, seketika semua hal berputar di kepala.
"Tidur gih Sayang, temenin Shan yang masih pules sejak dzuhur tadi. Lumayan kan satu jam," pinta Ezra.
Pria itu merasa, Asyraf hamid akan mengejar Dila kali ini. Juga laporan dari sang mata-mata di rumah janda kaya itu bahwa dirinya telah mengamankan jurnal penghubung komunikasi antar mereka.
"Jaga diri kamu, Katrin," lirih Ezra saat keluar dari kamar menuju ruang tamu, karena istrinya akan beristirahat sejenak.
Rolex juga mengatakan bahwa Cheryl baru saja menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan stroke ringan akibat reaksi obat.
Dia memindai cctv di kediaman Ezra juga bangsal rumah sakit tempat mantan istrinya di rawat. Rolex mengantongi identitas penyusup Abdeen yang selama ini memberikan informasi terkait sikon rumah tangga pimpinan El Qavi, sehingga pria gila itu seakan tahu kapan waktu tepat untuk menyusup dan memercikkan api kesalahpahaman di antara pasangan muda Qavi. Saat dengan Cheryl ataupun Dila.
"Bagus. Kemarilah kalian semua ... aku akan menuntut balas atas apa yang telah dilakukan pada Dilara," samar Ezra bermonolog di ruang tamu. Sementara Mita dan Mahira, berada di kamar satunya.
Putra Emery lalu menghubungi sang Papa juga aspri keluarganya, Leon. Mengkonfirmasi sebuah rencana apabila Abdeen muncul.
Hingga adzan maghrib berkumandang, mereka belum beranjak dari kediaman Ruhama. Menunggu Dilara dan Shan selesai mandi dan makan nanti.
Ba'da maghrib.
"Kak, kabar dari Mas Juna. Ciri khas dari Pakualaman, katanya. Menurut sejarah, Solo dan jogja itu terpisah menjadi dua kerajaan akibat perjanjian Giyanti oleh VOC dulu, namun kebiasaan, budaya mereka serumpun ... wah Maa Sya Allah, iparku ningrat ternyata," ujar Mita menghampiri sang kakak yang tengah berbaring di kursi panjang ruang tamu Ruhama, dengan sorot mata berbinar.
Kakak kandung Ermita menerima info demi info untuk dia simpulkan nanti.
Setelah Isya dan makan malam, keluarga Qavi ditemani Mahira juga santri melangkah menuju pondok pesantren As-salam tak jauh dari kediaman Ruhama.
__ADS_1
Sepuluh menit berjalan kaki di iringi celotehan Shan versus Mahira, menjadikan jarak yang ditempuh terkikis kilat.
Mahira bakal menjadi sahabat baru Shan disini, terlihat dari cara mereka berinteraksi juga karena Shan telah memberikan nama panggilan khusus. Onty Mam, kata Shan, karena Mahira suka ngemil tapi badan tetap ramping tak gemuk macam dirinya.
Gerbang As-salam telah terlihat, santri pria yang berjaga pun membuka pintu besi nan berat itu perlahan. Menyilakan masuk bagi para tamu Yai-nya.
Hampir pukul sepuluh malam ketika mereka akan pamit mengantongi banyak ulasan peristiwa masa lalu.
Diketahui dari Nyai, bahwa pengundang mereka saat di Jakarta itu telah meminta pihak berwenang menyelidiki plat nomor mobil yang di ingat Ruhama, namun seakan di tutupi tabir hingga rasanya sulit menembus pencarian titik terang.
"Mereka gak bilang apa-apa, sampai Yai waktu itu nyusul. Teman kami di sana menyampaikan, kemungkinan yang diselamatkan itu anak orang penting jadi dipersulit ... akhirnya ya kami putuskan pulang ... Yai bilang, jika takdir anak ini punya derajat yang tinggi, maka dia akan kembali ke posisinya kelak," ujar Nyai Syuria.
Dilara hanya terisak, di pelukan sang Nyai. Beliau mengatakan alasan Ruhama tak menyetujui pernikahan mereka karena takut di tinggalkan oleh Dilara, khawatir putri angkatnya akan pergi memilih pada keluarga kandung jika Ezra membantu mencari asal usulnya nanti.
"Karena Ruhama berpikir, Nak Ezra pasti membawa Dilara kemana-mana, dan suatu saat akan ada yang mengenali identitas aslinya," ungkap sang ibunda Mahira.
"Ikhlas ya, Ibumu merawat dengan penuh cinta. Dan menitipkan pada Ana. Allah mengabulkan do'anya untuk berpulang lebih dulu daripada sakit kehilangan kamu ... mpun, kalaupun ketemu dengan keluarga aslimu, jangan lupa do'ain ibu ya Nduk," pesan Nyai mengusap kepala Dilara yang ada dalam pangkuan.
"Pernikahan kalian di tunda dulu, kalau Dila masih punya Ayah, harus ada wali sahnya Nak Ezra, kecuali sang Ayah mewakilkan pada wali hakim," pungkas Yai.
"Baik. In sya Allah setelah dipastikan dari hasil test DNA nanti, do'akan ya Yai semoga semua berjalan lancar tidak ada hambatan apapun," ucap Ezra seraya pamit pada keduanya karena malam kian larut.
Mereka kembali pamit pulang ke kediaman Ruhama dengan Mahira yang masih setia menempel pada sahabatnya itu.
...***...
Dubai.
"Dila, Sayang ... Shan, Oma pulang," seru sang Nyonya antusias, dia rindu dengan kedua orang yang hampir dua tahun ini bersamanya.
Melihat Shan tumbuh mulai dari bayi, menyaksikan cara Dilara mendidiknya dengan banyak buku dan cerita inspiratif meski bocah itu masih usia dini, membuat Shan berkembang diluar kebiasaan anak seusianya.
Shan kecil, berjalan, tumbuh gigi juga bicara tepat di usia tiga belas bulan. Awalnya hanya kosakata biasa saja, namun Dilara menstimulasi dengan berbagai metode termasuk mengajarkan Shan mengaji sejak bayi membuat anak itu sangat mudah menghafal kalam Allah.
Seketika itu, Asyraf hamid menyadari kesalahannya. Juga keajaiban demi keajaiban yang Shan tunjukkan membuat dia jatuh cinta, ingin bertaubat.
"Shan ... oma pulang," serunya lagi seraya membuka pintu kamar Dila.
Zonk.
Mbak Mun menghampiri sang Nyonya yang terlihat kebingungan. Menjelaskan sebisanya.
"Nona ke Indonesia, Madam," ucap Andre tak lama setelah Mbak Mun bicara. Dia menarik lalu menghempaskan Katrin hingga gadis itu jatuh terduduk dengan keras dilantai.
"Appa!" seru Vega Gianina.
"WHAT!!" suara Al Zayn menggema, keturunan pangeran itu menjatuhkan semua mainan yang dia bawa untuk Shan.
Asyraf hamid panik, belum saatnya Dila tahu karena dia baru akan mencari ibu kandung gadis itu saat akan mengunjungi Indonesia bulan depan.
__ADS_1
"Jelaskan!" titah Andre pada Katrin.
Plakk. Andre menampar keras pipi gadis beliau hingga sudut bibirnya berdarah.
Hening. Katrin mengunci rapat mulutnya.
Plakk. Lagi, tamparan kedua di pipi yang sama. Katrin diam tak bergeming.
Kesih dan Mbak Mun menundukkan kepala dalam, ketakutan di hadapan Asyraf hamid yang berkacak pinggang dengan wajah merah padam.
"Ka-Katrin? gak mungkin, Dre." Vega terpana, dia kecolongan.
"Who's that, Katrin?" ulang Al Zayn.
"Aku menemukan ini, di laci kamarnya."
Andre menyerahkan buku jurnal Dilara yang dia rampas dari laci meja rias kamar Katrin. Dia mencurigai gadis itu yang tertangkap menyelipkan sesuatu dalam apron nya sebelum Andre pergi saat gadis itu hendak mengantar makan malam ke kamar Dila.
Asyraf hamid membaca semua jurnal Dilara. Dimulai sejak kepulangan dari Australia dulu, komunikasi dengan Ezra sangat lancar tanpa dia ketahui.
Seketika Vega lunglai. Bayangan akan di benci mati-matian oleh Shan menguar. Air matanya jatuh, dia tak memiliki sesiapa di dunia ini. Hanya Dila dan Shan harapan satu-satunya yang akan menemani di masa tua.
"Enggak, gak boleh. Dila harus mendengarkan versi ku dulu sebelum Akbar dan Devana, Enggak!!" teriak sang janda kaya seraya menampar Kesih akibat lalai mengawasi tamunya.
Plakk.
Kesih, gadis muda itu terhuyung, tangan kanannya memegangi pipi yang merah akibat tamparan keras sang majikan.
"Shi-ttt!" Al Zayn gusar.
"Pantas saja, Dila begitu percaya diri. Ternyata Ezra cerdik. Dia juga dibantu seseorang di sini, tak mungkin wanitaku bisa lolos dengan mudah jika tidak ada yang membantunya. Mereka telah merencanakan ini rupanya," batin Al Zayn.
"Andre ... Dre....!" seru Vega, meski tahu pria itu di sampingnya.
"Ya, Nyonya."
"Siapkan jet, aku ingin menyusul Dila. Kemana dia," tanya Vega masih dengan wajah merah padam karena marah.
"Surabaya," tegas Andre.
"Aku ikut," ucap Al Zayn.
"Mau apa kamu? ini urusanku!" cegah Vega tak ingin pria muda ini turut campur.
"Aku juga ... kau tak perlu tahu!" kedua netranya menatap tajam pada sang istri keturunan bangsawan Sharjah.
.
.
__ADS_1
..._____________________...
...Kan, perang.......