
"... aku juga ingin meminta maaf pada beliau," suara seorang wanita.
Semua mata menoleh ke arah dua orang yang sedang berjalan pelan menaiki beberapa undakan anak tangga.
Wanita anggun mengenakan setelan blazer dan pants hitam senada dengan heels juga hand bag yang ia genggam di tangan kirinya, menyita perhatian banyak pasang mata di Joglo milik almarhum Danuarta.
Davina bingung, mengapa begitu banyak orang datang di siang bolong. Semuanya berkaitan dengan masa lalu.
"Maaf, Anda siapa?" tanya sang pemilik rumah saat wanita itu telah masuk bergabung dengan mereka di Joglo.
Asyraf hamid masih diam berdiri di tempatnya. Dia melepas kacamata yang bertengger di hidung mancung seraya menundukkan wajah. "Aku Vega Gianina, sekretaris Akbar sanjaya, dulu."
Ezra melipat tangan di depan dada. Pertunjukan menarik akan segera berlangsung, tepat seperti keinginannya. Pria pemilik netra elang itu memberikan kode pada Leon.
Aspri istimewa milik keluarga Qavi sigap, ia tanggap menerima semua isyarat sang pimpinan. Saat hendak beranjak dari sana, sebuah suara menghentikan pergerakan Leon.
"Tidak ada yang boleh keluar dari sini, sebelum semua jelas dan berakhir," suara lantang dan tegas Davina, menahan laju Leon.
"Silakan duduk, Nyonya Vega. Entah apa keperluanmu dan kaitannya dengan ini semua ... apakah baik atau buruk, aku berusaha menahan diri hingga kau selesai menyampaikan sesuatu," tegas putri Danuarta.
"Ternyata benar, kamu yang menyembunyikan putriku," geram Akbar. Tangannya mengepal dan berayun bersiap menghajar Vega.
Tapp. Andre menangkis pukulan Akbar.
"Mau dilanjutkan atau adu jotos dulu? jika ingin saling baku hantam, aku persilakan," ujar sang Nyonya lagi.
Mereka pun diam tak lagi bersuara.
"Ok baik. Aku jelaskan ... namaku Vega Gianina, sekretaris Akbar sanjaya sekaligus sahabat Arabella saat kuliah di Bandung dulu sebelum dia pindah kampus ke Australia," ujar Asyraf hamid membuka suara.
"Apaa!" Akbar dan Anastasya, serempak menanggapi pengakuan sang sekretaris. Kedua Sanjaya tak mengira bahwa para wanita itu mempunyai hubungan dekat karena Arabella tak pernah mengatakan sesuatu.
Saat dirinya menerima Vega sebagai sekretaris pun, bukan atas permintaan Arabella. Namun gadis itu lolos test dengan nilai cemerlang.
"Apa Arabella yang mendukung saat Vega masuk dulu?" batin Akbar.
Ezra dan Leon, menikmati tontonan siaran live. Duduk manis berpangku kaki, menampilkan senyuman miris.
Asyraf hamid menautkan jemarinya, sekilas melayangkan pandang pada Andre, sang asisten kesayangan. Pria itu mengangguk samar seakan menguatkan mental sang Nyonya.
Huft. Vega menarik nafas dan terhembus kasar.
"Sekilas mendengar pernyataan Akbar tadi tentang surat yang tak sampai, itu karena aku menahannya agar beliau tidak membaca pesan Nyonya Devana," terang Vega, melirik pada Akbar yang duduk di kursi sampingnya.
"Kau!!!" pekik Akbar mulai emosi kembali.
__ADS_1
Asyraf hamid tak menghiraukan ocehan dan makian Akbar terhadapnya, ia hendak melanjutkan kisah namun terjegal pertanyaan Ezra.
"Apa yang mendasari Anda melakukan itu?" Putra Emery ikut bicara kali ini.
Asyraf hamid, menoleh tegas pada Ezra yang duduk di kursi panjang samping kirinya.
"Uang Arabella. Aku datang dari luar kota berniat menyusul suami yang kabur ke Jakarta karena terlilit hutang."
Vega Gianina, memejamkan mata sejenak. Mungkin hatinya berkecamuk mengingat peristiwa kelam. Dengan suara sumbang, seakan menahan isak tangis, dia melanjutkan kisah.
"Berjalan terlunta-lunta karena sudah tidak mampu membayar uang sewa kamar kost hingga di usir ... kedua telapak kaki pun terluka kemudian aku memilih beristirahat sejenak duduk di pinggiran ruko supermarket ... mungkin saat itu terpikir bahwa Tuhan tahu apa yang hambaNya butuhkan. Dia mendatangkan Arabella, aku tak sengaja melihatnya kala dia tengah memasukkan belanjaan dalam bagasi."
"Rasa hati tak percaya namun benar ia adalah sahabatku. Singkat cerita, dirinya bersedia menolongku dengan imbalan mengerjakan sesuatu. Arabella mencurigai bahwa sang suami berselingkuh. Tugasku memastikan itu semua dan melaporkan apa yang Akbar kerjakan, padanya."
"Hingga suatu ketika, dugaan Arabella terbukti. Ternyata istri pertama sang suami tengah hamil besar dan mengancam posisi Anastasya sebagai pewaris tunggal. Kakek Akbar mengatakan bahwa anak yang lahir dari istri pertama lebih berhak menyandang predikat tersebut. Arabella stress hingga...."
Tik tok tik tok.
Jeda beberapa saat.
Hening.
Seakan tak ada yang berani menarik dan hembuskan nafas, menunggu kelanjutan kisah.
Vega Gianina menundukkan wajah ayunya, semakin berat melanjutkan pengakuan dosa masa lampau.
"Aku kalap, takut dibunuh oleh sang sepuh juga Arabella. Namun, juga cemas anak yang ku buang akan bernasib buruk padahal dia putri dari keluarga terpandang...."
Asyraf hamid menangis pilu. "Maafkan aku."
Dengan suara parau serta nafas tersenggal menahan isak tangis, ia melanjutkan bicara.
"A-ku men-ulis su-rat sebisaku, meraih apa yang ada da-lam tubuh bayi itu seba-gai bekal penge-nal dia untuk mencari as-al usulnya kemu-dian ha-ri...."
Andre bangkit meraih kotak tisu dari meja samping lalu berjalan menghampiri dan meletakkan benda itu diatas pangkuan Vega.
Jeda. Asyraf hamid menyeka air mata yang menganak sungai di wajah, juga cairan yang menetes dari hidungnya.
"Ara-bella me-minta agar aku menggunakan mobil milik tuan besar supaya tidak ada yang curiga. Namun setelah membuang putri kecil itu, aku meminta supir berhenti ... lalu urun sejenak, berlari kecil ke tempat semula, memastikan bahwa bayi itu aman dan telah diselamatkan seseorang...."
"Aku tahu ... hiks hiks ... aku tahu ... wanita itu menangis saat melihat bayi yang ku buang, wajah sendu itu masih terbayang dalam ingatan," airmata Vega kian deras.
Davina tertegun mendengar pengakuan Vega, wajahnya merah padam, melunturkan gurat halus nan bersahaja. Sorot mata bulat bagai Dilara itu mendelik murka pada wanita di hadapannya. Bahunya naik turun cepat, hembusan nafas pendek dan kasar mulai mendominasi wanita anggun.
Vega masih melanjutkan kisah.
__ADS_1
"Karena merasa nyawaku terancam. Juga mendengar kabar dari art bahwa Arabella tak luput di hajar sang Sepuh. Aku melarikan diri ke Singapura dengan bekal tabungan selama ini, menjalani hidup baru namun dibayangi ketakutan."
"Asyraf Hamid, menarikku setelah perkenalan kami dalam satu jamuan yang tak sengaja di hadiri. Berkatnya lah, aku menemukan suami sialan itu, menggugat cerai padanya lalu melakukan operasi plastik di wajah juga menerima pinangan Asyraf. Tujuanku satu, agar Akbar dan keluarganya sulit menemukan jejakku," ungkap Vega Gianina.
"Makilah aku. Semua ini terpaksa ku lakukan sebagai balas budi pada Arabella."
Davina bangkit dari duduknya. "Lihat aku, Nyonya Asyraf atau siapapun kau," ujar pemilik hunian.
Vega Gianina menengadahkan wajah ayu yang telah bersimbah air mata.
Plakk. Plaakk.
"Nyonya!" Andre gusar, tak terima Vega diperlakukan kasar.
"Diam di tempat!" geram asisten pribadi Davina pada Andre.
"Dua tamparan pun tak cukup untukmu. Kau sadar apa yang kau katakan, balas budi? tapi kau memutus nasab seorang anak!! menghancurkan masa depan mereka!!" Davina murka, tangannya masih mengepal.
"Istrimu, Arabella pelaku saudaraku menderita!?" tunjuk Davina pada Akbar dan Anastasya.
Akbar lemas, tubuh tegap itu lunglai bagai tiada tulang penyangga. Betapa bodoh ia selama ini. Bahkan Anastasya, histeris mendengar pengakuan sang sekretaris ayahnya.
"Enggak. Kamu dusta, dasar ja-la-ng!!" teriak putri Arabella pada Vega.
Vega mengabaikan makian Anastasya. Dia tertarik pada benda berkilau di atas meja.
"E, ini pin milik kakekmu, Akbar. Elang Budiraga ... dia yang memfitnah Emery agar kau tak mencurigai Arabella karena mertuamu itu mengancam akan menarik dana bantuan pada perusahaan kalian," pungkas Vega.
Ezra tersenyum sinis pada rival sekaligus mertuanya. Semua argumen debat dengan Akbar terpatahkan oleh Vega.
"Ayah, kakek, Arabella. Semua terlibat dalam aksi Vega yang membuang putriku," ucap lelaki paruh baya bernama Akbar.
Ia berdiri, limbung. Wajah senja itu kian pucat pasi, otaknya membeku, hati yang rapuh hancur berkeping-keping di khianati oleh orang-orang terdekat.
"Akbar, berilah restu mu dan jadilah wali nikah Dilara agar kembali pada suaminya." Asyraf hamid meminta pada mantan bosnya dulu.
"Dilara ... putriku, Dila, dimana dia...." gumam Akbar hendak menghampiri Ezra.
"Enggak, Papa gak boleh, Ezra milikku. Milikku," pekik Anastasya mengguncang lengan sang ayah yang dilanda gamang.
"Jadi begini ... kisahnya?"
.
.
__ADS_1
..._______________________...