
Mita bangkit dari duduknya dan menemani Dila mengambil semua dokumen yang diperlukan untuk melengkapi persyaratan pernikahannya dengan Ezra.
Saat Mita memasuki bilik yang luasnya hanya seukuran ruang wardrobe kamar di mansion El Qavi, ia terkesiap.
Netra sipit dengan iris coklat itu memendar ruangan sekeliling, kagum atas penataan aksesoris yang menggantung disalah satu dinding. Point of view yang memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
"Dila, rapi banget ... juga nyaman, kamu seperti mengerti ilmu cocokologi warna, sinkron dong dengan Kak Ezra yang architect," seloroh Mita perlahan agar Dila mengerti ucapannya tatkala gadis itu menepuk lengan Dila agar dia melihat gerakan bibir Mita.
"Makasih Kak," tulis Dila lalu mengalihkan pandang dan mendekati laci dibawah lemarinya.
Jemarinya terulur menarik tuas laci dimana semua dokumen penting miliknya disimpan. Mita menghampiri Dila dan duduk bersimpuh disebelahnya.
"Nah ini dan ini, cukup Dila," sentuh Mita pada lengan Dila dan menunjukkan lembar identitas yang dia maksud.
"Surat adopsi keputusan pengadilan ... jadi kamu sudah resmi diadopsi oleh Ibu ya? makanya aktenya hanya ada nama Ibu ... keren, Ibu paham hukum Dila, pasti prosesnya panjang sebab Ibu tidak menikah, pasti diminta keterangan penghasilan agar masa depanmu terjamin, lingkungan tempatmu dididik juga syarat lainnya ... aku baru paham sekarang, mengapa Ibu setengah mati membelamu juga sangat marah tadi, perjuangan beliau luar biasa Dila." Mita kagum pada Ibu.
Mita berbicara perlahan saling berbagi tatapan antara dirinya dan Dila.
"Maka dari itu, aku ingin membalas semua jasa Ibu. Kak Mita." Dila membatin
Dila terisak, menundukkan wajah di depan lemari masih duduk bersila. Isakan Dila begitu lirih seakan pedih kembali menyayat hatinya yang ringkih.
"Dila, ada aku, bagilah sedihmu denganku, Ok? kita sahabat...." ujar Mita menenangkan.
Mita meraih wajah ayu itu agar menengadah, menghapus pelan jejak lelehan lava bening dari kelenjar air mata dalam semayam netra teduhnya.
"Jangan menangis lagi Dila, kamu gadis tegar kan? tunjukkan bakti pada Ibu jika memang ini adalah niatan mu, seperti Kak Ezra ... ayo semua sudah menunggu kita," ajak Mita bangkit meraih lengan Dila agar ikut berdiri dengannya lalu keluar kamar.
"Kak, sudah ... yuk pamit," ujar Mita dengan gerakan bibir samar saat Ezra melihatnya.
"Kami pamit Yai, Ibu," Ezra bangkit dari duduknya lalu menyalami Yai sebelum ia meninggalkan kediaman Dila.
Kyai Sa'id pun mengikuti Ezra, pamit undur diri kembali ke pondokan untuk mempersiapkan segala kebutuhan Dila saat ijab dan walimah nanti. Siapa lagi yang dapat menggerakkan nurani orang-orang diluar sana jika bukan karena pamor atau pengaruh baik seseorang, semua regulasi tak akan berjalan mudah.
"Allah mudahkan langkah salah satu hambaMu ini untuk meraih ridhoMu ... aamiin," doa Yai Sa'id saat meninggalkan kediaman Ruhama. Dila telah dia anggap bak anak kandungnya sendiri, usianya seumuran dengan Mahira, putri bungsunya.
Selepas kepergian tamunya, Ruhama kembali diam dan masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Brakk. Suara pintu dibanting keras.
Dila yang hendak merapikan ruang tamu terjingkat kaget sebab getaran dari kusen kayu mampu menerbangkan kertas yang penuh tulisan tadi dari atas meja.
"Ya Allah," Dila mengusap dadanya perlahan.
Sabar Dila, sabar, ibu pasti bakal mengerti apa yang kamu lakukan ini demi kebaikannya.
Gadis yang masih menggunakan gamis navy itu terus menyapu ruangan hingga kembali bersih kemudian melanjutkan rutinitas sore hari dan bersiap memuroja'ah beberapa hafalannya.
Ruhama tidak akan pernah mengira, diamnya dia kali ini melukai Dilara, perkataan tentang kebenciannya pada gadis itu sedikit banyak menorehkan luka dalam hatinya meski Dila tahu, dia tak bersungguh-sungguh saat melontarkan kalimat sakti penyayat hati.
...***...
Perjalanan ke mansion El Qavi.
"Kak, sayangin Dila ya nanti, jangan menyakitinya jika kalian tinggal terpisah dengan kami...." pinta Mita saat didalam mobil.
"Hem," Ezra hanya menjawab singkat.
Sesungguhnya dia tidak tega saat melihat gadis itu dipukuli oleh ibunya, juga saat gamisnya basah hingga mulai mengering dengan sendirinya dibadan.
Terlebih sorot matanya yang polos, seakan banyak menyiratkan kesedihan disana.
"Dan semoga saja langkahku benar." Masih dalam lamunan Ezra.
Ezra meraup wajah dengan tangan kiri sebelum suara beratnya kembali terdengar.
"Lex, keputusan lelang bagaimana? apakah Leon sudah memberimu kabar?" Tanya sang bos pada Rolex yang berada di belakang kemudi.
"Belum ada notif pesan masuk dari Leon, Bos ... mungkin memang belum selesai agendanya." Rolex menjawab lugas seraya berkonsentrasi menatap jalanan ke depan saat mengemudi.
Karena terlalu fokus pada Dila, Ezra mengalihkan beberapa pekerjaannya pada Leon juga Jhonson.
Bahkan kini Eldo mendapat tambahan tugas baru, memantau Cheryl sebab beberapa hari ini si ular derik itu tak mengusiknya. Sangat aneh bagi seorang Cheryl yang melepaskan mangsanya begitu saja. Jika bukan karena sudah mendapatkan incaran baru, mungkin dia sedang mengatur strategi untuk menyerang balik.
Mansion.
__ADS_1
Mercedes-benz C-Class mewah itu memasuki pelataran mewah kediaman El Qavi. Ezra melangkahkan kaki panjangnya melewati beberapa undakan anak tangga sebelum mencapai pintu utama.
Maid yang berpapasan dan menyapanya tak ia hiraukan. Niatnya hanya ingin segera menjumpai sang ayah yang berada didalam kamarnya.
Tok. Tok.
"Pa?" Ezra memutar handle pintu kamar Ayahnya pelan, menilik kedalam ruangan apakah Papanya sedang beristirahat atau justru tengah menanti kedatangannya.
"Za, masuk ... Papa nungguin kamu, gimana hasil keputusan lelang juga Dila?" Emery mengatakan semua dengan jeda tarikan nafas pendeknya.
"Leon belum kembali Pa ... tentang Dila, aku sudah melamarnya dan tanggal sudah ditetapkan ... minggu depan, Papa bisa hadir kan?" tanya Ezra cemas.
"In sya Allah, inginnya hadir ... fokus kan pada Dila dulu, lelang proyeknya menyusul, pekerjaan yang lainnya bagaimana?" sambung Emery.
"Lancar Pa, aku sudah menyelesaikan beberapa case design mewah dan telah mereka setujui," imbuh Ezra lagi.
"Cheryl?"
"Semoga tidak ada gangguan lagi darinya, do'akan Pa," pinta Ezra seraya menggenggam tangan Emery erat.
"Jangan jadikan Dila pelampiasan ya Za, anak itu ga salah apa-apa ... Papa harap, kamu melakukan ini tidak setengah hati, sayangi Dila karena sesungguhnya dia tak pernah berhutang pada kita, mengabdikan dirinya padamu yang bukan pria dambaannya sudah cukup membuat hati dan harinya berat ... Dila hanya punya kamu, ingat itu Ezra," tutur Emery memberi wejangan pada Ezra.
Lelaki paruh baya ini paham, Ezra pun mungkin belum bisa move on dari Cheryl. Namun langkah yang putranya ambil cukup berani, semoga saja Dila dapat menyembuhkan lara Ezra, luka hati akibat dua orang wanita yang sama-sama meninggalkannya demi pria lain.
...***...
Gedung lelang.
Sanjaya Grup didapuk oleh Kementerian Pariwisata sebagai perusahaan jasa konstruksi yang akan menjalankan mega proyek pulau buatan dengan menggunakan design landscape dari perusahaan jasa architect kenamaan, El Qavi.
Penandatanganan kerjasama ini akan dilakukan esok hari saat kedua pimpinan perusahaan dapat hadir bersama para pihak terkait yang terlibat.
"El Qavi, lihat saja kejadian apa yang akan menimpa kalian nanti," lirih Akbar sanjaya saat menyesap segelas wine di tangannya.
.
.
__ADS_1
...___________________...