SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 130. SKAK MATCH


__ADS_3

"Bismillah Abang, semoga gak apa," ucap Dilara meski dalam hati meragu.


Devana tiba-tiba datang dan mengambil gelas dalam genggaman Dila.


"Lepas Nduk," ujarnya lembut.


"Ma." Dila terkejut mendapati sang Mama yang melarang, namun Ezra menepuk telapak tangan menenangkan.


Ibu kandung Dilara berbalik badan menghadap Anastasya juga anggota keluarga lain.


"Anastasya, jika kamu mengatakan pada putriku bahwa dia naif, juga menuduh berburuk sangka padamu, takut minuman itu kau bubuhi racun ... maka untuk mematahkan argumen itu, seharusnya kamu pun ikut minum dari gelas yang sama bukan?" tantang Deva pada putri Arabella.


Glekk.


Ezra tersenyum tipis melihat mertuanya memukul telak gadis licik itu.


"Devanagari tidak gila, mama mertuaku hanya limbung namun harus tetap di lakukan konseling jika nanti beliau bersedia ikut dengan kami," batin Ezra.


"Budhe, sadar bilang gitu?" cibir Dewa pada Deva.


"Heh, Mamaku sehat. Bukan macam kamu, benalu," sentak Dila tak terima ibunya dilabeli dengan sebutan kurang waras.


Terjadi ketegangan antara Dila dan Dewa setelah aksi pembelaan sang Mama, sejenak melupakan pembahasan minuman dari Anastasya.


"Sudah cukup ... Dewa, diam!" Davina melerai putra sulung untuk adu argumen dengan sepupu yang baru di temui.


"Kak, maafkan Dewa ya. Aku memang gagal mendidiknya menjadi pria santun," sesal Vina. Dia malu atas kelakuan sang putra.


Ada seberkas haru menyelimuti hati Devana karena pembelaan Dila dan Ezra untuk seorang ibu yang baru mereka temui.


"Ayo minum," tantang Deva lagi pada Ana.


"Deva, jangan paksa anakku!"


"Cih, kau masih membela dia? sedangkan tadi ketika Ana memaksa Dila-ku, kamu diam saja? apa itu yang dinamakan adil sebagai ayah? mulai sekarang, jangan pernah lagi mengakui Dilara sebagai putrimu!" sergah Devana geram pada Akbar.


Kembali, pandangannya menatap tajam pada putri Arabella.


"Berani gak? ... enggan bukan? tidak berani ... ya wajar sih, wong minuman ini di racun ko," ungkap Deva. Tangan kanannya mengeluarkan satu botol kecil bekas pakai dari kantong baju, yang dia pungut dari halaman ketika gadis itu melempar barang bukti ke sembarangan arah.


Seketika wajah Anastasya pias, terlebih Ezra memerintahkan pada Leon untuk mengambil botol dari Devana juga sampel cairan dalam gelas yang akan Dilara minum.

__ADS_1


"Deva, jangan mengada-ada!" seru Akbar tidak terima putrinya itu dipermalukan.


Ibunda Dilara mendelik tajam pada mantan suami. "Kau! lihat saja nanti, bagaimana menantuku membuktikan kejahatan anak kesayanganmu," tegasnya tak mau kalah.


Devana membelai kepala Dila sayang, menarik lengannya masuk ke hunian diikuti keluarga Qavi.


Mereka kemudian membicarakan masalah krusial mengenai rencana tempat tinggal ke depan.


"Ikut dengan kami ya Ma, temani Dila juga Shan," pinta Ezra pada mertuanya.


"Tapi nanti Mama takut ganggu kalian," Deva segan merecoki kehidupan anak satu-satunya.


"Justru karena Kak Dila putri Mama satu-satunya, mereka berdua ingin berbakti betul-betul," tambah Mita mencoba membantu meyakinkan ibu mertua kakaknya.


Devana menimbang langkah yang mungkin akan dia ambil dalam waktu dekat. "Beneran?"


Pasangan Qavi mengangguk membenarkan keinginan mereka.


"Eyang ikut Shan, Mommy?" tanya Shan pada Dila yang duduk disampingnya.


"Shan bujuk Eyang donk," pinta sang Bunda.


Bocah kecil itu menoleh ke arah belakang tubuh bundanya, dimana sang ayah berada.


Bocah kecil itu bangun dari duduknya, perlahan menghampiri Devana yang tersenyum ke arah Shan.


"Eyang, Shan ingin ditemani Eyang dirumah Daddy nanti ... mendongeng, mengaji, juga berenang ... kalau Bunda pergi ngajar kan Shan gak ada teman, jika ada Eyang, pasti asik," ucap bocah gempal dengan wajah memohon.


Netra senja putri sulung Danuarta berkaca-kaca. "Iya, in sya Allah ikut dengan Shan," jawab Deva mengangguk cepat, gemas ingin mencium pipi tomat itu.


"Yeaaaayyy, Eyang," sorak Shan melompat girang, memeluk sang nenek.


"Alhamdulillah. Kita packing kapan?" tanya Dila, menoleh ke arah belakang pada suaminya.


"Besok aja ya, kita balik homestay dulu," pungkas Ezra mengakhiri obrolan mereka.


Perbincangan hangat keluarga kecilnya berakhir ketika Shan merengek ingin tidur dengan Eyang.


Mita kesepian tidak ada teman sehingga gadis itu pun meminta izin untuk bermalam di kamar Devana. Dila pun pamit lebih dulu masuk dalam kamar setelah memastikan putranya aman bersama sang Mama, meninggalkan kedua pria di ruang keluarga.


Entah bagaimana situasi di pendopo depan setelah kepergian mereka. Saat Ezra akan menyusul Dila ke kamar tamu, Leon mencegahnya.

__ADS_1


"Tuan. Sebenarnya ada kejadian penting semenjak kita tiba di sini," ungkap sang Aspri. Leon mendapatkan laporan dari Jhonson bahwa tuan besar Emery di sandera oleh Prince Al Zayn.


"Aku tahu. Dia membawa Papa agar memancing ku keluar. Tenang, ini sudah aku prediksi dan bicarakan dengan beliau. Tidak ada signal dari Jhonson juga Papa jika dalam bahaya. Dia gak akan melukai Papaku," ujar Ezra.


"Besok kita ke homestay lalu bersiap pulang ke Surabaya. Istirahatlah Leon agar esok lebih segar," imbuhnya seraya membuka pintu kamar.


Leon pun lega, tak lama sang ajudan meninggalkan majikannya menuju Paviliun dimana kamar berada.


Setelah Leon pergi, Ezra membuka handle pintu kamar. Dia tidak melihat Dila di ranjang mereka, namun terdengar suara gemericik air dari dalam bathroom.


"Sayang? mandi kok gak ngajak aku?" seru Ezra dari balik pintu.


"Mau Isya, kan belum sholat tadi. Sekalian berjama'ah," balas Dilara, tak lama ia keluar dari sana.


Wanita cantik yang terlihat lebih segar setelah keluar dari kamar mandi, menghantarkan wangi semerbak apel tak menyadari tatapan lapar sang suami padanya.


"Honey." Ezra ingin mendekat, berharap dapat memeluk sekejap sebelum dia pergi mandi


"Stop. Aku sudah punya wudhu. Lekas Abang, isya dulu. Aku demam lagi kayaknya ni," keluh Dila seraya meraih mukena dari dalam tas.


Setengah jam berlalu.


Kini kedua insan yang berstatus suami istri itu masih duduk di atas sajadah mereka. Dilara mengamini semua lantunan doa yang Ezra ucapkan bagi rumah tangga mereka.


"Abang, kontrak kerjaku belum selesai. Bagaimana? aku gak mungkin meninggalkan tanggungjawab begitu saja," keluh Dila sambil merapikan peralatan sholat lalu naik ke atas ranjang. Kepalanya sangat pening, ia memilih segera berbaring tanpa melepas hijabnya, mengabaikan Ezra.


"Di lepas dulu, Sayang. Kamu demam lagi, bawa obat gak?" Ezra menghampiri, dan menempelkan telapak tangan di kening Dilara, merasakan suhu tubuh wanitanya lebih tinggi dari biasa, kemudian membantu melepas hijab yang menutup kepala.


"Gak usah dulu deh, dibawa tidur mungkin akan lebih baik nanti," ujarnya menutup kelopak mata yang mulai berat.


Ezra menarik selimut, lalu bergabung naik ke ranjang dengan istrinya. Meletakkan lengan kanan sebagai bantalan Dilara, tak lupa, menempelkan rapat tubuh mereka.


"Ku temani ke Dubai, bertemu Asyraf hamid setelah urusan di sini selesai. Sayang, aku gak mau terpisah jarak lagi sama kamu terlebih Shan juga bakal ada calon adiknya," bisik Ezra, telapak tangannya menyelinap kedalam gaun tidur Dila, mengusap lembut perlahan perut rata sang istri.


"Hemm. Ok." Merasakan hangat tubuh Ezra, Dilara merasa nyaman, dia berbalik badan, menyusupkan kepala pada dada bidang pria maskulin miliknya.


"Love you, Sayang."


.


.

__ADS_1


...___________________________...


...Mommy lagi nengok sulung, jadi selow up, maapin ya 🙏🏾...


__ADS_2