SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 61. AKSI CINTA


__ADS_3

Sudah satu jam mereka menunggu dokter THT masuk ke ruangan konsul. Ezra mengelus punggung Dila yang duduk agak maju ke depan dibandingkan posisi sebelumnya.


Gestur wanita di sampingnya ini mengisyaratkan bahwa ia lelah duduk berlama disana, namun sungkan untuk berdiri sebab penuhnya ruang tunggu siang itu.


"Cape? atau pegal?" Ezra menulis di note ponselnya, lalu memperlihatkan pada Dila.


Wanita yang tengah cemas ketahuan telah dapat mendengar ini, hanya mengangguk.


"Sudah lapar? sebentar lagi kita masuk, sabar dulu ya." Ezra melanjutkan kalimatnya, masih dengan tangan kiri yang mengusap naik turun punggung Dila.


Kali ini, Dila membalas pertanyaan Ezra. "Haus, lapar dan pegal."


"Aku beli sesuatu di kantin. Tunggu di sini saja ya." Ezra bangkit, namun lengannya di cekal Dila. Ketika menoleh ke samping kiri, dia melihat wanitanya menggelengkan kepala.


"Ya sudah," ucapnya duduk kembali.


Suster memanggil nama pasien. "Nyonya Qavi," serunya.


"Nyonya Qavi?" gerakan bibir mungil itu mengucap demikian.


"Istriku, wajib di panggil Nyonya Qavi," bisik Ezra di telinga Dilara. Ia tahu, istrinya telah dapat mendengar.


Tangan kokoh itu membantu putri Ruhama bangkit, merangkul bahunya erat. Mengajaknya melangkah pelan masuk ke ruangan dokter.


"Halo Nona. Sudah lama gak ketemu, kali ini di temani suaminya ya?" tanya dokter sumringah saat melihat Dila masuk di peluk sang suami tampan.


Penghuni ruangan itu sempat terheran, perbedaan usia diantara keduanya terlihat jelas.


Seperti biasanya, Dilara hanya tersenyum manis. Namun kali ini Ezra menjawab lugas.


"Aku baru pulang dinas, Dokter. Istriku masih belia, aku minder sekaligus bangga dapetin dia sebenarnya," seloroh Ezra, membuat pemilik pipi tomat itu menoleh heran ke arahnya.


"Abang bangga atau bangga," cebik Dila menunduk saat Ezra menarik kursi untuknya di depan meja dokter.


"Nyonya Qavi cerdas, cepat tanggap, mandiri dan cantik. Saya mendapatkan laporan dari instruktur komunitas audio verbal, bahwa beliau aktif di kelas AVT. Kemajuan kemampuan verbal nya sangat meningkat signifikan dibanding saat awal konsul kesini. Selamat ya Tuan, Nyonya," tutur dokter panjang lebar.


"Duh, pake acara di jemberengin segala," batin Dila.


"Terimakasih banyak atas perhatian juga bantuan dokter untuk istriku," balas Ezra.


"Cek dulu yuk," ajak dokter pada Dila, di bantu oleh suster, wanita ini pun bangkit menuju kursi pemeriksaan.

__ADS_1


Sepuluh menit berlangsung.


Ezra memperhatikan seksama, dialog dan interaksi antara dokter dengan istrinya itu. Terpaksa, Dilara mengeluarkan suara saat wanita dengan jas putih meminta dirinya membaca sebaris kalimat panjang dengan beberapa huruf vokal.


"Sudah ku duga. Alat yang di pilih Nyonya lebih tinggi dari merk yang saya sarankan dulu ya, apakah di beri petunjuk oleh bagian farmasi?" tanya dokter kemudian.


"Iya, tapi tidak ada iritasi, dan aku nyaman," ucap Dilara pelan.


Ezra menyembunyikan senyumnya yang menawan. Ia menunduk, dalam hatinya bahagia sekaligus merasa lucu. Dilara sudah bisa mendengar namun ia kerap berpura bahwa wanita itu masih dengan kondisi semula.


"Semua Ok, jika ada keluhan telinga berdengung dalam waktu lama, konsul kembali ya, Tuan," pinta dokter pada Ezra.


"Baik," jawabnya singkat.


"Sehat selalu ya Nyonya. Jika sudah siap untuk pencangkokan koklea di rumah sakit dalam atau luar negeri. Saya sarankan untuk medical check up ke sini terlebih dahulu, nanti akan saya buatkan surat rujukan serta rekam medis Nyonya," ujar dokter menambahkan informasi.


"Terimakasih banyak, Dokter," balas pemilik gelar architect muda berbakat ini.


Setelah semua detail informasi kondisi Dilara telah Ezra dapatkan, mereka berdua pamit dan keluar dari ruangan.


Beberapa langkah dari poli THT. Ezra kembali menarik bahu wanita yang nampak enggan berjalan bersisian dengannya.


"Kenapa sih? malu jalan sama aku? takut di kira sugar baby ya?" celoteh kakak Ermita melihat Dila murung.


"Ada yang bilang...."


Sreg.


Ezra menghentikan langkah. Mata elang itu menatap tajam iris coklat tua wanita dalam rangkulannya.


"Apa? bilang bahwa suaramu membuat telingaku sakit?... kan itu dulu Dila. Sekarang aku bahkan mendamba suaramu, please sayang," Ezra memohon dengan wajah memelas.


"Katanya gak akan memaksa," lirih Dilara kemudian.


Huft.


Tarikan nafas berat, terhembus kasar oleh Ezra. Lagi, dia di serang oleh kalimatnya sendiri.


"Cerdasnya kamu itu mungkin Allah buat agar aku sadar, gak boleh sembarangan bicara. Terlebih pada Dilara Huwaida, istriku ... is-tri-ku," tegas Ezra dengan nada penekanan pada kalimatnya. Ia kesal, Dila selalu saja tepat menohok hati dengan membalikkan semua kata yang pernah ia utarakan.


Tanpa sengaja, Dilara mengulas sebaris senyuman manis melihat suaminya kesal. Sialnya, sikap malu-malu itu tertangkap ekor mata sang putra mahkota El Qavi.

__ADS_1


"Kan, malah diam-diam senyum." Ezra meninggalkan Dila, ia sengaja melanjutkan langkah panjangnya lebih dulu.


"Ah, lega. Jauh-jauh deh Abang. Nafasku sesak akibat dada bergemuruh sejak tadi," gumam Dila mengikuti langkah suaminya.


Saat berjalan pelan, indera penglihatan wanita berbadan dua ini menangkap seorang anak kecil tengah menjilat es krim. Seketika air liurnya menetes. Ia memendar pandangan ke sekitar untuk menemukan sang penjual es krim.


Tanpa sadar, lajur langkahnya terpisah dengan Ezra. Nyonya Qavi akhirnya menemukan sang penjual es krim di sisi kantin. Sementara Ezra kelimpungan mencari istri yang di tinggalkan tadi.


"Dila, Sayang...." seru putra Emery saat menyadari wanita itu tak mengikutinya. Ia berlari panik mencari kemana Dila pergi.


Setelah bertanya kesana kemari, berputar mengelilingi poli. Ia melihat wanita yang di cari tengah duduk di kursi panjang pintu masuk kantin. Lajur seberang yang ia lewati kala meninggalkan Dila tadi.


"Sayang!" Ezra berteriak, memanggil istrinya. Merasa dipanggil, Dilara menoleh ke arah suara.


"Allah, aku cari kemana-mana malah disini," ujar Ezra terengah-engah. Ia mengusap kepala yang justru tak ambil peduli pada dirinya.


"Hukuman buatku, redho ya Allah," ia masih kesal, entah dengan siapa harus melampiaskan rasa gemas yang tertahan.


"Sudah belum? kita ke taman bermain yuk," ajak Ezra, menarik jemari kanan istrinya agar mengikuti langkah keluar dari rumah sakit.


Setelah berada didalam mobil.


"Mau kemana? pilih ini atau ini?" tanya Ezra menyodorkan ponselnya pada Dila.


Wanita hamil itu enggan memilih, ia meraih benda pipih itu lalu mencari sesuatu di sana. Sorot mata bulat Dila bersinar, menunjuk pada gambar yang tertera dilayar gawai.


"Waffle? es krim? ke Mall? nonton?" tanya Ezra memastikan. Dilara mengangguk antusias.


"Pacaran ya? sama ibu hamil?" tawa Ezra lepas. Dilara menekuk muka, mengerucutkan bibir mengira lelaki itu tak akan mengabulkan permintaannya.


"Apa imbalan buatku?" dia gemas, melihat sikap Dilara yang malu-malu.


"Enggak usah deh. Aku ngantuk, pulang saja." Dila kesal, ia menulis asal pada catatan seraya memalingkan wajah dan menggeser posisi duduknya menempel pada pintu.


"Ish, gemeessss."


Ezra melepas seat belt nya, merengkuh tubuh nan berisi dalam pelukan. "Say something...."


"A-...."


.

__ADS_1


.


..._______________________...


__ADS_2