SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 93. SISIPAN


__ADS_3

Malam panjang dimulai, Ezra masih setia berdiam diri di dalam kamar hotelnya. Dia menunggu sang sepupu pukul delapan nanti, sekedar berbincang setelah lama tak bersua.


Tok. Tok. Pintu kamarnya diketuk seseorang.


Lelaki berusia awal tiga puluh tahun itu masuk kembali ke dalam kamar, menuju pintu guna menilik si penghasil suara ketukan tadi.


"San, come in," ajak Ezra masuk saat melihat sang sepupu berdiri bersedekap di depan pintu masih mengenakan uniform.


"Lama amat, galau ya?"


"Kawin makanya biar paham, jomblo mulu. Bimbang tepatnya, gue sanggup gak ya?" keluh Ezra mendaratkan bo-kongnya di sisi ranjang.


"Ck, kawin ... nikah gitu, tapi gak ada niat ... Lah sih, Lo jalaninnya kuat gak? kalau gak kuat ya hadapi dia langsung ... ketakutan terbesar itu memang berasal dari masa lalu sih, Za," ujar Sandrina seraya duduk di sofa single dalam kamar.


"Betul, tapi aku sedang gak bisa menjangkau keluargaku. Masih belum tahu mereka aman atau tidak, ada pada tangan yang tepat apa mungkin sebaliknya?"


"Kan gue dah kasih Lo clue tadi. Police gak mau terlibat urusan dengan para saudagar, berabe. Kita jalur lempeng aja dah ... but, kalau bini Lo kenapa-kenapa, gue bantu Za. Tenang aja, gue kasih satu orang intel, mau?"


"Serah Lo, dah. Yang penting, Dilara aman selama ku tinggal disini," gumam Ezra masih diliputi kekhawatiran.


Mereka berdua membahas banyak hal, terkait letak beberapa rumah yang kemungkinan di tinggali oleh Asyraf hamid.


"Kalau udah tahu di hunian mana mereka berada, aku kirim seseorang itu ya. Sorry, gak bisa lama, kudu balik lagi. Semoga semua lekas usai. Aku khawatir dengan Paman Emer, kapan kalian mudik ke Turki? keluarga besar menunggu loh," imbuhnya sebelum pergi.


"Jika keluarga ku utuh kembali, in sya Allah akan aku ajak Dila mengenal leluhur kita," balas Ezra ikut bangkit mengantar Sandrina keluar dari kamarnya.


Selepas kepergian sepupu wanita yang tak lagi muda itu, Ezra memutuskan untuk memesan makan malam seraya mengukuhkan mapping rencana.


"Satu, dua, tiga ... ok, ku harap ini cukup," dia bermonolog memandang coretan di atas kertas yang ia gunakan.


Dua hari kemudian.


Seseorang datang mengetuk pintu kamar sang penerus Klan Qavi tepat pukul tujuh pagi. Ezra menyilakan dirinya masuk.


Dia kemudian memberikan sebuah pouch yang Rolex titipkan padanya.


"Microcam, ponsel ini untuk kau gunakan nanti. Semua alat ini, kau bisa menggunakannya?"


"Bisa, Tuan. Aku sedikit belajar tentang itu semua tadi, jadi apa tugasku?"


Ezra memejamkan mata, menarik nafas panjang sebelum ia bicara. Esok hari ia harus sudah keluar dari negara ini terkait masa visa yang habis.

__ADS_1


Tak banyak waktu, dengan gamblang suami Dilara menjelaskan kewajibannya. Dan dia harus mengikuti seseorang setelah ini. Entah apa rencananya yang pasti semua tugas harus dilakukan dengan hati-hati, terlebih pada Andre, sang asisten Asyraf hamid. Jangan sampai penyamaran terbongkar.


Utusan itu mengerti, sesaat kemudian ruangan deluxe yang Ezra huni kembali sepi.


"Sayang, keadaan ini hanya sementara. Do'akan aku sanggup bertahan tanpa kalian lebih lama," ucapnya mengusap layar benda pipih bercasing hitam yang ia genggam.


...***...


Sharjah.


Pagi ini Asyraf hamid akan keluar kota dengan Andre, sang asisten kepercayaan nomer wahid peninggalan suami kayanya itu. Sebelum saudagar wanita itu pergi, dirinya menyambangi kamar Dilara yang tak kalah luas seperti miliknya.


"Shan, Oma kerja dulu ya Sayang," Asyraf hamid, meraih Shan dari dekapan Dilara yang baru saja selesai menyusu.


"Dila, kalau bosan boleh pergi ya dengan Mba Mun, belanja atau sekedar jajan di Mall depan. Tetap ditemani Kesih atau Marini juga lainnya, Ok?" ujarnya masih sambil menggendong Shan.


"Iya Nyonya, terimakasih banyak. Aku memang ingin izin tadi karena kebetulan diapers Shan limit," balas Dila.


"Salarymu sudah aku transfer ya Dila. Dan ini, untuk kebutuhan Shan, aku siapkan card. Dre," panggil Asyraf hamid pada asistennya.


"Silakan, Nona." Lelaki paruh baya itu menyodorkan satu buah black card Amex padanya.


"Too much, berlebihan Nyonya. Maaf, aku gak bisa terima. Bahkan belum bekerja pun sudah di beri salary, itu menyalahi hukum tata kerja, Nyonya. Membuka pintu hasad bagi yang lainnya," imbuh Dila, sungkan.


"Maaf, aku gak bisa menerima," cicit Dila takut sekaligus segan.


Asyraf hamid kemudian duduk di sebelah Dilara, masih menggendong Shan.


"Dila, anggap saja itu hadiah karena sudah jadi teman ngobrolku, Ok? Shan, sudah ku anggap cucu, kamu datang ke sini satu paket dengannya bukan? jika sudah fit, boleh langsung kerja ko," tuturnya lagi seraya mengembalikan Shan pada sang ibu.


Putri Ruhama menimbang, sebelum kepalanya mengangguk samar.


"Good Girl, aku pergi hingga esok hari ya, Dila. Lakukan apa yang kau mau, buatlah dirimu nyaman," ucapnya bangkit dan melangkah keluar kamar sang tamu.


Beberapa saat setelah kepergian Asyraf hamid. Dila memutuskan keluar hunian mengikuti saran sang Nyonya besar.


Siang itu, gadis udik takjub melihat pemandangan selama perjalanan singkat mereka. Di temani Kesih, Dila paham sedikit demi sedikit tentang budaya, bahasa juga arah jika keluar hunian.


Karena asik dan terlalu antusias melihat koleksi baju lucu untuk bayinya, tanpa sadar Dila menjauh dari jangkauan Kesih yang juga sibuk memilah belanjaan sang Nona muda.


"Nona? nona?" Kesih bingung mencari, juga dua bodyguard mereka pun ikut luput pandang mengawasi kemana sang Nona pergi.

__ADS_1


"Kalian gimana sih?" seru Kesih pada dua wanita yang bersamanya.


"Aku ke toilet sebentar tadi, maaf."


"A-aku kan ikut Nona tapi beliau menghilang di balik kerumunan. Sudah ku cari by information centre tadi," sanggah salah satunya.


"Cari, sampai dapat. Bubar," titah sang asisten.


Sementara itu.


Dila terbawa arus kekaguman akan nuansa dalam Mall yang megah, samar menguar menusuk indera penciuman. Aroma wangi yang dia rindukan berasal dari salah satu kedai makanan di sana. "Indonesian cuisine," ejanya pada sebuah papan nama di depan food court.


"Nona," seru salah satu bodyguard, menghampiri Dila yang bersiap masuk ke dalam outlet.


"Ya? eh maaf, aku mencar ya? ini, karena tertarik dengan bau ini ... makan dulu boleh gak?" tanya Dila perlahan seraya menunjuk ke arah outlet, agar sang bodyguard mengerti.


"Tunggu Kesih ya Nona, dia akan segera datang."


Tak lama kemudian, asisten untuk bayinya itu tiba. Mereka berdiskusi hingga keputusan mencicipi hidangan itu, Dilara dapatkan.


"Aku kira gak ada menu hidangan Indo disini," ujar Dila sumringah, dia memesan Bakso Malang lengkap dengan pangsit kering.


"Kangen Bakso ya, Nona?"


"Iya, makanan sejuta umat, selama di Jakarta aku belum pernah makan kudapan ini lagi, ini mengobati kangenku," ujar Dila dengan sorot mata berbinar.


"Best seller selain Bakso Malang, ada banyak menu, Nona. Silakan," sambut salah satu karyawan dengan uniform cook.


"Anda bisa Bahasa? chefnya kah?" tanya Dila antusias kala beliau menjelaskan detail menu best seller mereka.


"Benar, aku CDP Nona," jawabnya.


"Apa itu?" tanya Kesih.


"Chef de partie, station chef ... spesialis handle menu terutama soup and salad, dan Bakso inilah salah satu produknya," jelasnya yang di sambut gerakan bibir yang sama mengeluarkan kata Oh, dari kedua wanita muda yang duduk manis di table outlet mereka.


Kesih menimbang sesuatu, dalam benaknya.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2