SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 75. KORBAN


__ADS_3

Sudah satu pekan Ruhama berada di Jakarta, kediaman Ezra. Menantunya juga sudah tak pergi ke kantor karena Dilara jelang masa kelahiran.


Biip.Biipp.


Inah melihat dari panel layar interkom di dinding dapur. Nampak sosok cantik tinggi semampai berdiri didepan pintu.


"Siapa? kalau klien kan gak mungkin sampai naik kesini, pasti Den Ezra meminta mereka menunggu di bawah. Ko dia? mana seksi pula. Jangan sampai Nona tahu lah," gumam Inah seraya menuju depan pintu ingin mencoba menelisik maksud kedatangannya.


Biiiiiiipppp.


"Ya?" Inah tak membuka pintu lebar, dia masih mengaitkan kunci pengaman pada panel.


"Ini, untuk wanita di dalam sana. Sebagai rasa terimakasih untuknya," ucap wanita muda dengan raut muka datar.


"Maaf, kami tak menerima sesuatu dari orang asing," jawab Bibi.


"Terserah sih, aku letakkan di sini. Namun jika dia tahu, aku gak akan tanggung jawab karena ini pesanannya," jawabnya lugas meninggalkan unit yang baru saja dia sambangi.


Bibi berada di persimpangan keputusan, apakah akan diambil atau di diamkan. Majikannya tengah tidur siang, memang sebelum tidur tadi sang Nona merengek meminta minuman yang sedang trend in saat ini namun tuan muda melarangnya.


"Ah, bawa aja dah. Mungkin karena di tangguhkan jadi Nona meminta kawannya belikan ini," gumam sang wanita berusia senja itu seraya membuka pintu lebar.


Inah meraih gelas minuman dingin nan menggoda dari lantai, membawanya ke atas meja. Cuaca Jakarta memang sangat terik hari itu. Saat Bibi menuju pantry, Ruhama baru saja keluar dari kamar saat ia melihat satu cup minuman dingin di atas meja.


"Mba, ini punya siapa?"


"Gak tahu, katanya buat Nona. Tapi minuman itu gak boleh buat wanita hamil, kata Den Ezra," terang Inah pada Ibu.


"Dila belum lihat kan? kalau kata Ezra gak boleh berarti jangan Mba. Pasti mantuku punya alasan, apalagi kandungan Dila bentar lagi masuk HPL dan harus SC sebab babynya masih aja melintang," jelas Ruhama.


"Belum. Iya juga ... minum aja deh Mba, lalu buang bekasnya," imbuh Inah lagi masih dari pantry.


"Bagi dua, yuk...." ajak Ibu antusias.


"Yuk, Yuk ... kebetulan panas bener ini meski ada AC," sambut Inah tak kalah semangat seraya mendekat ke meja makan membawa dua buah gelas.


Kedua wanita paruh baya meminum sebuah cairan yang akan menggiring nyawa mereka ke ujung tanduk.


Ba'da Ashar.


Dila keluar dari kamarnya menuju lantai dasar. Ezra urung pindah kamar karena ibu mertuanya berkunjung berniat menemani istrinya kala bersalin nanti.


"Sepi banget, kemana semua? Ibu?" Dila perlahan menuruni lantai yang berundak.


"Coba cek kamar Ibu dulu, siapa tahu tidur," ujar suami siaga yang menemani langkah demi langkah saat ibu hamil menjejakkan kaki meniti anak tangga.


Ezra melepas tautan jemari, saat Dila berhasil turun dengan baik dan berniat ke kamar ibu.


Betapa ia terkejut ketika baru membuka pintu kamar, melihat ibunya tergeletak di lantai tak berdaya dengan posisi memegangi perutnya.

__ADS_1


"IBUUUUUUU," teriak Dila.


"Sayang, kenapa?" Ezra berlari dari ruang keluarga menuju kamar yang di tempati mertuanya.


"Innalillahi, Bu ... Sayang, tepi, call rumah sakit dan ambulance." Ezra menyerahkan ponselnya.


Lelaki satu-satunya didalam hunian mewah itu memeriksa denyut nadi.


"Lemah banget," lirihnya seraya mengangkat Dilara agar memperbaiki posisi duduk yang tidak nyaman.


"Sayang, bangun yuk. Ibu pingsan, semoga gak apa. Sudah call?"


Putri Ruhama hanya mengangguk seraya masih memegangi tangan ibunya yang kian lemah.


Ezra meraih ponsel miliknya dari genggaman Dila. Menekan angka panggilan cepat pada Rolex.


Tak lama terdengar ketukan di pintu.


Tuan muda bergegas membuka pintu karena petugas keamanan gedung datang. Dia sempat memencet tombol darurat tadi.


"Tolong bantu aku," ujarnya menunjuk ke kamar.


"Sayang, duduk sini yuk." Ezra menarik Dila duduk di tepi tempat tidur.


Dua pria berseragam di susul Ezra, mengangkat tubuh Ruhama ke atas ranjang.


"Abang, Bibi." Dila teringat wanita paruh baya satunya.


Tok. Tok.


"Bii," panggil Ezra pelan seraya mengetuk pintu. Tak ada sahutan dari dalam, bahkan suara.


Senyap.


Anak asuh Inah, menekan tuas ke bawah, mendorong pintu kamar wanita itu ke dalam perlahan.


"Biiiiiii," serunya saat melihat ibu asuhnya tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan cairan.


"Angkat Pak," pinta Ezra kemudian. Dia sempat memeriksa denyut nadi yang sangat lemah, persis mertuanya.


Ponselnya berbunyi seiring ketukan di pintu tanda petugas ambulance tiba.


Ezra berpikir cepat, menyilakan petugas medis masuk sekaligus meminta Rolex menyiapkan kamar perawatan di rumah sakit. Saat ini ia hanya ingin fokus pada istrinya. Dilara shock, wajahnya pucat pasi. Meski dia mendekap erat, namun tubuhnya menggigil, bergetar samar.


"Honey, please stay with me. Dila ... Dila ... lihat aku, Sayang...." Ezra menepuk lembut pipi istrinya.


"A-bang ... I-bu," ucapnya terbata kala petugas medis membawa ibunya serta sang sahabat rasa pengasuh, ke atas brangkar beroda, lengkap dengan peralatan darurat menempel di tubuh keduanya.


"Sayang, kita ke rumah sakit. Kamu gimana? kuat?" bisiknya lembut. Menyerahkan satu botol air mineral kecil yang dia raih dari atas meja tamu.

__ADS_1


Dilara menerima uluran air dari Ezra. Dia hanya mengangguk, lalu meremas kemeja suaminya erat. Kekhawatiran yang hatinya rasa beberapa hari ke belakang terjadi.


Pasangan suami istri itu perlahan keluar hunian. Meski panik, Ezra sebisa mungkin tenang karena dalam dekapannya ada seorang yang sangat ia cinta dan jaga terlebih ini adalah detik-detik menyambut kelahiran putra mereka.


Rumah sakit.


Saat tuan muda Qavi tiba, ponselnya berbunyi. Papa calling, nama tertera dalam layar. Namun ia abaikan.


"Bos, sudah masuk observasi dan tindakan medis, sudah di ambil sample juga dari keduanya," Rolex yang datang lebih dulu darinya, memberikan laporan.


Pasangan majikannya masih duduk di bangku IGD, menanti penjelasan dokter.


"Keluarga Nyonya Ruhama dan Inah," panggil suster.


Rolex mewakili menjawab pertanyaan suster sembari menunggu Nyonya muda bangkit menuju satu ruangan.


"Dugaan sementara gangguan pencernaan akut, apakah pasien memakan sesuatu sebelumnya?" tanya dokter saat mereka memanggil keluarga.


"Makan apa Sayang? kamu ingat ga?"


"Engga, kan tidu-r. Ka-l-au akibat makan siang tadi, ha-r-usnya aku dan Abang kena," cicit Dila ragu.


"Iya juga. Kami istirahat setelah makan siang, Dok jadi gak tahu apa yang beliau makan berdua," jawab Ezra menegaskan kalimat Dila.


"Hasil lab keluar besok, Tuan. Malam ini observasi dulu namun sudah kami berikan penawar," pungkas Dokter.


Mereka berdua keluar ruangan dengan raut wajah sendu.


"Pulang ya, biar Rolex yang mengatur siapa menjaga di sini. Besok pagi, kita balik lagi," bujuk Ezra lembut.


"Ada adek, jaga kesehatan Sayang, kan mau SC pekan depan, ya, please."


Dilara terdiam, nampak ragu namun membenarkan ucapan suaminya.


"Iya, Ok."


Ezra lalu meminta Rolex mengatur semuanya sebelum dia pulang ke rumah.


...***...


Dalam kabin mobil mewah di basement Mall, wanita cantik tengah merasa bahagia atas kejahatan yang baru saja dia lakukan.


"Mampus, tahu rasa ... siapa suruh menghinaku tak laku, juga ini balasan akibat kamu membohongi ku, Ezra!" Anastasya kecewa bukan Ezra yang akan berangkat menemani di lokasi proyek selama satu bulan mendatang.


Kontrak dengan agency telah dia tandatangani, menyebabkan dia murka karena tak dapat mundur atau harus membayar wanprestasi dalam jumlah fantastis.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


...Maapin ya kawan, suka telat UP nya. Mommy lieur mikir akibat ulah sorangan... apalagi sekarang otak muter mulu mikirin Fayyadh 🤭...


__ADS_2