
Rasanya Dilara tak betah berlama-lama dalam sebuah acara pagelaran meskipun itu hanyalah peresmian sebuah tempat yang akan menjadi gudang ilmu bagi banyak anak berkebutuhan khusus.
Semua nampak palsu yang tertangkap oleh mata. Hanya Shan, yang menjadi oase dirinya ditengah hiruk pikuk para pebisnis.
"Benar kata Abang, cincin ini menyelamatkan ku," gumam Dila. Beberapa pria paruh baya berupaya menarik perhatian nya, meskipun Kesih tegas melarang mereka mendekat.
Namun setelah Dila meletakkan tangannya diatas meja atau berpura membenarkan hijab dengan memperlihatkan cincin dijemari, mereka undur diri perlahan.
Dilara tak menanggalkan perhiasan saat meninggalkan rumah itu. Pesan Ezra agar tak melepaskan semua pemberiannya, ia kabulkan termasuk cincin couple hadiah anniversary pertama mereka yang terlambat. Juga sebuah cincin bermata berlian, dibeli Ezra saat mereka kencan pertama kali, sangat manis berpadu dengan satu untai gelang, lebih dulu menghiasi pergelangan tangan berkulit kuning langsat itu.
Istri kecil Ezra memandang perhiasan dari sang suami dengan rasa bahagia, ada kehangatan menyelinap kedalam relung jiwa karena setiap benda di tangannya itu, mempunyai kisahnya masing-masing.
"Kontrak mengajar hingga dua tahun, seraya membagikan ilmu pada para guru yang akan datang secara bertahap dari Indonesia. Huft ... nampaknya kesabaran ini akan panjang dilalui," Dila membaca sebuah draft susunan kerjasama antara Asyraf hamid juga Zayn.
Menjelang tengah malam rombongan iringan mobil saudagar kaya itu baru kembali.
Asyraf Hamid bahkan telah menyiapkan terapis untuk Shan juga dirinya agar malam ini mereka dapat beristirahat dengan lelap setelah acara di luar sehari penuh.
"Ku akui, Anda sangat baik padaku. Namun, aku sama sekali tidak mendapat akses untuk menghubungi siapapun di Indonesia termasuk Rengganis. Ada apa dengan nomer ponselnya?" keluh Dila sekaligus heran. Dia dapat dengan mudah menghubungi Winda namun sulit menjangkau sahabatnya itu.
Hari demi hari, minggu berganti bulan tak terasa kini memasuki awal bulan ke enam keduanya berada di timur tengah.
Dilara semakin sibuk dengan kegiatannya. Jika siang hari dia mengajar, maka malamnya wanita itu kerap mengerjakan naskah buku yang akan dia terjemahkan.
"Tabunganku cukup, untuk menyewa sebuah rumah. Namun mengingat negara ini tak ramah bagi single fighter seperti ku, mungkin hidup disini pilihan tepat." Putri almarhumah Ruhama jeli menghitung segala cost dan menimbang banyak hal malam itu.
"Besok, kita akan terbang ke Australia Shan, kamu siap kan? temani Bunda selama enam bulan disana jadi ketika kembali ke sini, usiamu sudah satu tahun. Lebaran nanti, kita pulang ke Surabaya yuk."
Ibu kandung Shan, meraih gawai di atas ranjang. Ia kini berani memasang foto Ezra di ponselnya, mengusap wallpaper bergambar foto pria yang masih sangat dia cinta.
"Abang, setengah tahun sudah ... aku rindu...."
Wanita yang penampilannya semakin ayu, juga terlihat ketegasan di matanya melempar pandang ke arah jendela yang tak tertutup gorden. Dilara bangkit, membuka pintu balkon kamar.
Sedikit bintang yang berpendar diangkasa luas malam ini. Langit malam nampak sepi, hanya bulan separuh menemani dirinya melepaskan pandang keatas sana.
"Ya Allah...."
__ADS_1
"A-ku ... rindu...."
Hiks.
"Rin-du...." ucapnya terbata diiringi isakan halus.
"Satu tahun pernikahan terlewati begitu saja dan kini harus terpisah jarak. Winda bilang, Abang juga terlihat kurus ... tolong, jangan buat hatiku makin bersalah...."
"Wahai Rabbku, jagalah dia, ayah putraku dari segala macam fitnah juga petaka. Aamiin...."
Mengira hati ini tegar, namun pada akhirnya luka menganga yang tak tertutup sempurna selalu terbuka, lagi dan lagi.
Hiks.
Dila menangis. Tergugu hingga bahunya bergetar, beginikah rasanya kehilangan. Tak ia hiraukan lagi suara tangis nan menggema, berharap seseorang disana yang dia rindukan merasa hal yang sama.
...***...
Tempat lainnya, dalam malam yang sama.
Sudah jelang dini hari, namun kelopak mata elang milik putra sulung Emery enggan menutup.
Semua kegiatan sang istri, kerap ia dapatkan rutin dari orang yang setia mendampinginya di sana. Besok, nyonya abegenya itu akan terbang ke Australia.
Dirinya berusaha menghubungi Asyraf Hamid dengan berbagai cara agar tak terendus pria gila. Hampir putus asa, namun harapan kembali terbit kala suatu malam.
"Sayang, kita akan jumpa meski sesaat. Semoga semua yang ingin kau ketahui dariku terjawab nanti. Andre mengatakan segalanya padaku ... tak sabar rasanya," gumam Ezra seraya menutup mata.
Ada getar yang berdesir merambat ke dalam kalbu. Rindu ini telah lama ia tahan. Semua foto kegiatan mereka menjadi booster tenaga setiap hari meski ia pun khawatir bahwa orang kepercayaannya selalu berada dalam bahaya.
Asyraf Hamid, tak kenal ampun dalam memberikan sanksi bagi penyusup. Jika mata-mata Ezra ketahuan maka Dila bisa jadi terancam.
...***...
Keesokan pagi.
Tuan muda mengamuk di pagi buta pada para asistennya.
__ADS_1
Kepalanya mendadak sakit, telinganya kembali berdengung hebat. Luka akibat kecelakaan yang membuatnya kehilangan pendengaran juga sang adik yang harus menghabiskan dua tahun usianya di atas kursi roda. Merasakan sakit berbagai macam terapi agar dapat kembali berjalan.
Dia harus terbang menuju USA untuk satu urusan penting. Sejatinya, hari ini adalah niat untuk menyambangi wanita muda beranak satu. Mengajak berkeliling gedung Museum miliknya yang berisi sains juga berbagai alat canggih kedokteran bilamana ada anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan serius, di rumah sakit yang baru diresmikan bersamaan dengan gedung pusat pelatihan tempo hari.
"Tak bisakah kalian yang mengerjakan? aku baru saja mendapatkan jalan untuk lebih dekat dengan gadis itu, f-uckk!" amuknya pada sang aspri.
"Mohon maaf, Tuan muda. Kali ini Nona Alyssa juga akan melakukan terapi lebih lama dari biasa. Kiranya Anda menyampingkan masalah hati lebih dulu," ujar sang asisten.
"Kau! beraninya mengatur ku!"
"Jika Anda bersedia kehilangan 30% asset. Maka silakan abaikan pendapat saya, Tuan Muda."
Asisten dengan setelan perlente kemudian meninggalkan CEO muda itu seorang diri dalam kamar super luxury sebuah Mansion di tepi pantai Sharjah.
*
Jika kedua pria yang terpaut hati tengah di landa gusar. Berbeda dengan Dilara.
Pagi ini wanita yang mulai memasuki usia awal dua puluh tahunan itu tegap langkah memasuki ruang tunggu Bandara.
"Shan, jangan rewel ya Nak. Ini salah satu upaya perjuangan kita untuk mendekat pada Ayah. Kuatkan Bunda ya Nak," Dila menciumi pipi putranya yang berusia enam bulan, gembil padat bagai tomat.
"Dia sangat mirip Abang, setidaknya Shan pengobat rindu untukku juga penguat tekad bahwa aku bisa," teguh hati Dila mengucapkan janji untuk dirinya.
Jika suatu saat nanti, pada akhirnya takdir tak memihak. Aku ikhlas, berusaha menghujani Shan dengan kasih sayang dan takkan menjauhkan dari mu. Setidaknya, apa yang ku lakukan ini akan membuat Shan bangga mempunyai Ibu seperti ku, bahwa dia lahir dari rahim wanita yang mempunyai kekurangan. Anakku akan menegakkan kepala, tanpa malu memandang dunia.
"Shan, sumber kekuatan Bunda dan Ayah...."
"Bye Sharjah, sampai jumpa lagi enam bulan ke depan...."
.
.
...__________________________...
...أَصْدَقُ الـحُزْنِ ، اِبْتِسَامَةٌ فِي عُيُوْنٍ دَامِعَةٍ...
__ADS_1
...Kesedihan yang paling jujur adalah senyuman pada mata yang bercucuran air mata....