
Kericuhan dini hari di salah satu ruas tol dalam kota berangsur lengang setelah tenaga medis juga petugas kepolisian mengamankan area laka lantas.
Dilansir dari laman berita online paling update kala itu, notifikasi baru saja masuk ke ponsel pria lajang yang tengah insomnia. Rolex segera meraih gawai canggih di atas meja, ingin mengkonfirmasi seseorang yang ia sekap di sebuah kamar hotel.
Benar saja, dugaannya tepat. Cheryl menjadi korban kecelakaan nahas yang baru saja dia lihat di situs tadi karena ciri mobil wanita itu mudah dikenali. Ingin menghubungi Ezra namun tak kuasa. Biarlah dia dan Sonny yang membereskan hal ini.
"Bang, dia sepertinya mendapat balasan atas apa yang di lakukan terhadapmu. Ku rasa, Cheryl memang berniat tidak baik sedari awal. Perusahaan ayahnya kolaps, menikah denganmu agar mendapat dana angin segar juga kredibilitas karena pamor dan records bisnis mereka kurang baik ... hingga akhirnya Tuhan, meletakkan semua kembali pada posisinya."
"Aku hanya ingin Abang bahagia, dengan Dilara. Semoga apa yang sedang aku upayakan, bisa mempermudah kalian dalam menjalin komunikasi selama berjauhan ... ck, dendam, kalian sebenarnya sama terluka," Rolex membuka dompetnya, melihat satu buah foto disana. Kenangan masa silam mereka bertiga.
Keesokan siang.
Rolex mengunjungi rumah sakit dimana Cheryl mendapatkan perawatan. Nampak kedua orang tua nya mendampingi tubuh putri sulung mereka yang di penuhi luka serius.
Sang Nyonya Chedi, melihat ke arah pintu dimana Rolex berdiri.
"Lex, kemarilah." Nyonya Chedi melambai padanya.
"Maaf Nyonya, aku hanya mampir. Tuan muda akan segera ku kabari perihal ini," ujar Rolex.
"Ya harus, gimana sih dia itu. Suami ko gak peduli istrinya kecelakaan," murka sang Tuan besar.
Rolex tercengang, apakah Cheryl tak mengabarkan pada kedua orang tuanya tentang status pernikahan mereka.
"Maaf. Mereka sudah bercerai lebih dari satu tahun yang lalu, dengan sejumlah bukti dan majelis mengabulkan." Rolex tak habis pikir, orang tua nya tak pernah bertanya kah kabar sang anak? wajar jika Cheryl berlaku barbar dan seenaknya.
"Apa!" seru Ibundanya.
"Jangan bercanda, Lex!!!" sentak Patrick Chedi tak kalah garang.
"Silakan tanyakan padanya jika siuman atau menghubungi lawyer kami. Semoga Nona lekas pulih. Aku, permisi."
Rolex membungkukkan badannya sebelum berbalik arah meninggalkan ruangan sang mantan istri Ezra.
Dalam perjalanan menuju basemen rumah sakit, dirinya menangkap sosok tak asing meski hati meragu. Rolex memilih segera menghindar, mencari tempat untuk bersembunyi.
"Dia Roy kan, bukannya asisten setia Abdeen? kenapa mengawal orang yang berbeda? ... jangan-jangan, apa iya? jika dugaanku tak salah, apakah ini jawaban keberadaan dia tak terdeteksi? karena ... oh Tuhan," Rolex menepuk dahinya.
__ADS_1
"Bang, kamu harus tahu. Nona dalam bahaya."
Setelah rombongan itu melintas, Rolex pun segera meninggalkan tempat itu.
...***...
PoV.
Saat diminta menikahinya dulu, hatiku sama sekali tak menduga jika akan berujung seperti ini. Merasakan sakit teramat karena cinta yang terlambat di sadari.
Iya, aku menyesal namun percuma. Wanitaku menjauh meski masih aku genggam, membawa serta buah hati kami.
Mungkin ini ganjaran atas segala sikap ku padanya dulu. Mencaci, cemooh, kasar bahkan dingin. Padahal aku telah mengikrarkan janji di hadapan Tuhan untuk menjaganya, memberikan segenap hak dengan baik namun tidak aku tunaikan.
Malam itu, salah satu dari sekian banyak signal yang Allah beri. Jika bukan karenanya, mungkin aku hanya tinggal nama atau bahkan terpuruk karena kondisi yang memprihatinkan.
Dilara huwaida. Hatiku menyerah padamu, Sayang.
Dua tahun, kiranya waktu yang singkat bila di bandingkan dengan Nabi Adam untuk berjumpa lagi dengan Siti Hawa. Aku akan berusaha berjuang untuk menjaga kalian dari jauh.
Shan, tumbuhlah meski tanpa Ayah disisimu ya. Bunda adalah ibu hebat, jangan kau menyalahkannya ketika tahu tentang keputusan ini. Bundamu ingin kamu bangga padanya kelak, Nak.
Sampai jumpa dua tahun lagi, ya Shan. Selama masa itu, Ayah akan terus berupaya memantaskan diri untuk Bundamu, wanita dengan segudang ilmu dan cinta.
Ayah akan banyak belajar bagaimana menjadi suami juga ayah yang baik untuk kalian. Akan menyiapkan tempat tinggal bukan hanya layak huni namun teduh dan nyaman karena sentiasa mengagungkan kalam Allah didalamnya.
Doakan kami ya Shan. Agar pantas menjadi orang tua, bukan hanya mengayomi namun juga dapat membawa keluarga kita berkumpul di jannahNya Allah. Aamiin.
Ezra memandang berbagai macam foto yang dia abadikan selama dua hari lalu. Air matanya tanpa sengaja kembali menyembul di ujung netra.
"Shan, love you Nak. Belum satu hari namun Ayah sudah kangen wangi kamu dan Bunda. Untung saja, Dila menyerahkan semua perlengkapan milik mu untuk Ayah bawa."
"Dila, percaya padaku ya. Bismillah, kita bisa."
Ezra mengusap ekor mata yang telah basah. Ia lalu membuka jendela, melihat pada tumpukan putih bagai kapas di luar sana.
Hatinya sesak mengingat moment akhir di Bandara tadi. Semua sudah terjadi, dia yang mengizinkan Dila memenuhi mimpinya.
__ADS_1
Ezra berkali menarik nafas dalam, tak jua meredakan rasa yang menghimpit dada. Ia tahu, Dila mungkin juga sama sepertinya.
Sebelum pergi tadi, Ezra menyerahkan sebuah laptop yang sudah ia modifikasi dengan kamera depan juga record suara jernih.
Berharap ketika Dila online mengerjakan sesuatu disana, dirinya dapat memandang wajah istri tercinta tanpa ada yang mengetahui. Dapat mendengar suara kedua pujaan hatinya.
Mereka juga sepakat membuat satu akun medsos untuk membagi aktivitas keseharian, sebagai pengobat rindu. Ezra menduga ponsel mereka di sadap, untuk itu keduanya akan menggunakan email berbeda dengan IP address yang sudah Rolex dan Sabrina siapkan.
"Usaha kami, tanpa batas, Abdeen. Kejar Dila, jika kau mampu, cinta kami akan menguat meski tak bersama."
"Alhamdulillah Dila mau diajak kerjasama menghadapimu. Aku baru tahu, cintanya sebesar itu padaku, bodohnya Ezra."
Penerbangan panjang kali ini menoreh luka namun sekaligus membawa kekuatan bagi keduanya.
...***...
Dubai.
Didalam ruangan kerja. Terjadi ketegangan antara Asyraf Hamid juga Tuan Muda Zayn. Mereka berdebat di udara, melalui sambungan telepon.
"Sudah aku bilang, urusan hati jangan di campurkan dengan pekerjaan, Tuan Muda. Biarkan anakku tenang belajar di suatu tempat, dia akan kembali memenuhi janjinya," ujar sang Nyonya.
"Aku hanya ingin tahu, dimana dia berada. Tak akan mengusik lebih jauh. Hanya ingin mengawasinya agar aman," kilah Zayn.
"Maksud Anda, aku tak becus menjaga putriku? bahkan keselamatannya saja harus dijamin oleh orang lain?" sergah janda kaya sedikit tersinggung.
"Proyek ini adalah gagasan ku, juga para trainer yang kau datangkan itu sebagian atas izin ku bukan? sudah sewajarnya aku tahu perkembangan kemampuan mereka." Zayn tak ingin mundur.
"Dilara datang sebelum proyek yang kita sepakati, dia tidak termasuk dalam perjanjian kita. Dila, milikku." Asyraf Hamid menggebrak meja.
"Yakin? apakah Dila akan tetap memilihmu, setelah tahu siapa kau sesungguhnya? apa yang telah kau lakukan terhadapnya dulu," ancam sang Tuan muda.
"Kau...!!"
"Kooperatif atau ku buat Dila, membencimu!!" Al Zayn sukses mengintimidasi Asyraf Hamid.
.
__ADS_1
.
...________________________...