
Rolex menyadari kebodohannya. Dia lalu mengejar gadis itu yang sudah menjauh dalam sekejap.
"Buset, kenceng amat ya ... apa dia trauma?" gumam Rolex mengejar dengan motor maticnya.
"Jikalau saja Tuan besar tak memintaku menjaga gadis itu, aku tak ada disini sepagi ini di akhir pekan," keluh Rolex.
Tin. Tin.
Rolex berkali membunyikan klakson motornya berharap Dilara mendengar. Namun harapannya sia-sia, gadis itu tetap tak memedulikan siapapun yang berada di belakangnya. Malah semakin cepat mengayuh.
Saat akan berbelok, Rolex terpaksa mencegat laju sepeda itu hingga Dilara hampir jatuh kembali.
"Nona, tunggu," seru Rolex bergegas menurunkan standar untuk menyanggah motornya.
Grep.
Tangan Rolex menahan sepeda Dilara.
Dengan kesabaran yang masih melimpah, dirinya perlahan mengisyaratkan bahwa dia bukanlah salah satu penjahat.
"Aku ... bukan ... penjahat, dengarkan ... aku... dulu," ujar asisten pribadi Ezra itu, menatap tajam manik mata Dilara.
Dilara yang ditatap lelaki dengan look rapi dan wangi, wajah bersih dan rambut klimis, hidung mancung dengan mata sipit, mengerjapkan bola mata bulatnya beberapa kali sembari menganggukkan kepala meski ia ragu.
"Ok, kamu Dilara bukan?" tanya Rolex lagi.
Dilara diam memperhatikan tangan pria itu seperti akan menulis sesuatu, namun ia tak menemukan kertas disana.
"Sh-itt, kemana notes kecil itu berada," umpat Rolex masih terus mencari disaku celana bagian belakang.
"Ini." Dilara menyerahkan buku catatan kecil miliknya yang selalu dia bawa tak lupa jemarinya yang lentik memeragakan bahasa isyarat agar Rolex mengerti.
"Oh, terimakasih." Sambut Rolex pada tangan Dilara yang terjulur memegang notes untuknya.
Rolex menuliskan banyak kalimat disana, menjelaskan siapa dirinya dan maksud kedatangannya sepagi ini menemui seorang gadis.
Setelah beberapa menit berselang. Rolex menahan nafas, meregangkan jemarinya yang pegal akibat menulis banyak kata dalam satu waktu.
Ck, gimana kalau marah ya? ga sanggup gue jika harus menuliskan kemarahan, Rolex membatin.
__ADS_1
Wajah tampannya menampilkan sebaris senyuman atas pemikirannya barusan. Lalu Rolex menyerahkan kumpulan kalimat yang telah dia goreskan dalam buku catatan itu pada Dilara.
Gadis yang lama kelamaan terlihat ayu dalam pandangan Rolex, menerima uluran tangannya. Membaca semua deretan kalimat disana perlahan hingga tuntas.
"Gimana, mau?" tanya Rolex lagi setelah dia yakin bahwa Dilara telah mengerti maksudnya.
Gadis itu tidak membalas pertanyaan Rolex untuknya, melainkan menulis sesuatu disana yang menyatakan bahwa dirinya ingat siapa Rolex namun ia harus tetap pergi mengaji dahulu. Setelah itu barulah dia akan kembali pulang untuk mengembalikan semua barang titipan pria paruh baya yang ditolongnya.
Rolex membaca tulisan yang Dilara sodorkan padanya.
"Ok, aku antar jika begitu," pungkasnya setelah Rolex membaca.
Dilara memutar kembali sepeda ungu miliknya, menyusuri jalan yang tadi dia lewati. Perasaanya sedikit was-was namun Dila meyakini bahwa sosok pria ini memang utusan pria pemilik gelang giok yang dipakai dibalik bajunya.
Setelah beberapa kayuhan yang membuat Dila kelelahan dan sedikit nyeri pada tungkai kakinya, akhirnya gerbang hijau belakang pesantren itu terlihat.
Dilara turun menuntun sepedanya, lalu menulis sesuatu untuk Rolex. Sebelum mengetuk pintu agar santri yang berjaga membukanya.
"Tunggu disini, pria dilarang masuk, aku akan kembali satu jam kemudian." Dilara menuliskan sebaris kalimat dan menyerahkan pada Rolex.
"Ok, aku tunggu disana," tunjuk sang pria pada pohon rindang di tepi jalan masuk tadi.
Dilara tersenyum mengangguk lalu mengetuk pintu dan menghilang di balik pintu.
Dalam kesunyian waktu menunggu Dilara, ponselnya berdering. Satu nama muncul disana membuat Rolex sigap meski sosok itu tak nampak dihadapannya.
"Pagi, Tuan besar, aku sedang menemani Dilara sesuai perintah Anda. Ada insiden kecil namun sudah aku bereskan ... nampaknya rival Anda tahu tentang gadis itu." Lapornya pada sang Tuan besar.
"Ajak Dilara kemari, aku kesepian. Mita sedang mengurus semua dokumen miliknya serta mengambil bagasi yang masih tertinggal di Bandara," ujar Emery meminta agar Rolex membawa Dilara serta.
"Aku tidak yakin dia mau, tapi akan aku usahakan, Tuan," jawab Rolex.
"Ajak serta ibunya, jika berkenan, aku akan siapkan makan malam sebagai rasa terimakasih untuknya," sambung Emery lagi.
"Baik, Tuan."
Satu jam berlalu.
Rolex melihat gerbang hijau itu perlahan terbuka, ujung roda sepeda ungu itu akhirnya pun terlihat sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Dilara kemudian menghampiri dimana Rolex berdiri, sembari membungkukkan badan dan menggerakkan tangannya mengisyaratkan agar dia mengikutinya.
Dua puluh menit berikutnya, mereka berdua telah tiba di kediaman Dilara.
Rumah dengan halaman yang ditumbuhi beberapa rumpun tanaman obat dan bunga. Dinding bercat putih yang sudah banyak mengelupas disana sini, tegel hitam serta pintu kayu jati usang yang telah kehilangan kilaunya akibat tergerus masa dan tak tersentuh perawatan dari sang empunya rumah, menyambut kedatangan mereka.
Rolex menjejakkan kakinya diteras. Dia dilarang masuk karena bunda telah pergi bekerja.
"Tunggu disini Tuan, Anda bukan mahramku jadi dilarang masuk," tulis Dila lagi, dibuku catatan yang diperlihatkan tepat diwajah Rolex.
Pria perlente itu hanya mengangguk menuruti keinginan sang gadis. Matanya berpendar menyisir sekeliling, Rolex teringat akan rumah lama yang hampir sama kondisinya seperti ini.
Hanya saja, bagian dalam rumah Dilara masih sangat terawat meski dari luar terlihat rusak. Lantainya licin, perabotan kuno didalam pun terlihat bersih tak ada sebulir debu menempel disana. Langit-langit rumah ini juga masih terlihat baru, mungkin plafon anyaman itu belum lama diganti.
"Rumah yang nyaman, aku jadi kangen rumah. Jika Tuan besar melihat ini, pasti beliau juga akan betah," lirihnya menghirup nafas memasok udara khas pedesaan yang masih sejuk.
"Ini." kedatangan Dilara mengagetkan Rolex yang masih hanyut dalam kenyamanan menikmati semilir angin diteras.
Tangan yang terbalut lengan panjang gamis berwarna biru muda itu mengulurkan dua buah benda yang dicari Rolex.
"Kamu ... ikut ... juga," ucap Rolex pelan agar Dilara dapat mengerti ucapannya. Ia menerima batu giok hijau serta tabung hitam milik tuannya dari tangan Dilara.
"Ibu tidak ada." Dilara lelah menulis karena sebagian tenaganya habis saat melawan pria jahat tadi pagi, ia menggerakkan jemarinya.
"Sebentar saja, nanti aku antarkan kamu kembali," tulis Rolex.
Sejenak gadis itu berpikir, akhirnya dia menulis.
"Tunggu dulu, aku izin ke tetangga agar ibu tak khawatir, tuliskan alamatnya saja dan aku akan kesana sendiri. Aku tidak boleh membonceng pada Anda, Tuan."
Rolex membaca pesan dari Dila.
"Aku siapkan mobil, Anda hanya perlu bersiap saja," balas Rolex serius bangkit dan membenarkan pakaiannya yang kusut, maklum dia adalah type lelaki metro sek-sual yang klimis.
Dilara lalu mengangguk dan pergi memutari rumah menuju samping kanan kediamannya. Meminta izin pada tetangga agar Ibu tak mengkhawatirkan dirinya. Tak lama setelahnya, mereka berdua beranjak dari rumah itu menuju mobil yang sudah Rolex siapkan diujung jalan.
"Siapa itu yang berjalan dengan Dilara? mereka keluar dari rumah berdua disaat ibunya tidak ada. Mana yang pria membereskan bajunya pula, habis ngapain mereka ya?" gumam seseorang dari balik pohon.
.
__ADS_1
.
...______________________...