
"Heeiii." Rolex mengunci pintu apart lalu meraih salad Ezra yang masih utuh di meja dan bergegas ke ruang keluarga.
"Tepi tepi, gak boleh deket-deketan," ucap Rolex mendorong jauh Sonny dari samping Katrin.
Gubrak. Brukk. Sonny jatuh terjerembab dari sofa.
"Heh!! rese Lo," umpat Sonny kesal.
"Mas. Gak baik," protes Katrin pada Rolex yang berlaku kasar pada rekan kerjanya.
"Kamu belain dia? jelas-jelas bukan siapa-siapa kamu, ko ya dempetan gitu," cibir Rolex.
"Tapi gak gitu caranya, Mas."
"Mas?" Sonny menatap kedua orang dihadapannya.
Katrin hanya diam seraya melirik ke arah pria yang sedang dongkol.
"Mas? ... Lex, ikut aku." Suara Ezra dari lantai dua, menuruni anak tangga. Mengajak Rolex ke ruang kerja.
"Aku ikut juga Bos?" tanya Sonny.
"Pulang sana, Son. Jangan ganggu Katrin," titah Ezra pada Sonny seraya berlalu bersama aspri.
Katrin pun memilih pergi, masuk ke kamar Bi Inah. Dia ingin menyampaikan sesuatu perihal perasaannya.
"Kat, Katrin?" cegah Sonny pada sang gadis pujaan namun di abaikan olehnya. Merasa di tinggalkan seorang diri, akhirnya ia memilih pulang.
Ruang kerja.
Ezra membuka ruangan kerja yang temaram, duduk di sofa sebab ingin lebih dekat dengan Rolex saat bicara dari hati ke hati.
"Lex, sudah menyerah?"
"Gimana, aku tidak pernah terlihat ... dia begitu tinggi ku jangkau Bos, lagipula gak sepadan dengan kalian. Memilih realistis meski hatiku hancur namun tidak sampai berserakan karena cinta dalam diam," tutur Rolex tentang hatinya.
"Masih ada kesempatan," sambung Ezra.
"Closed Bos. Sejak tahu dia di jodohkan lalu menerima. Harapanku sudah pupus," elaknya lagi.
Ezra tahu, dia menyukai Mita sejak lama. Berkali di beri kesempatan mendekati adiknya namun Rolex seakan mengabaikan. Hingga sang Tuan Muda berkali memergoki lelaki itu melampiaskan dengan hura-hura di club meski tak pernah teler.
"Tapi, Lex...."
"Bos. Mita memanglah cinta pertama tapi aku berkali memangkas tunasnya hingga tak bertumbuh karena sadar diri. Mita tak mempermasalahkan status namun hati insecure ... sakit dan kecewa pada diri sendiri pasti, tapi Arjuna lebih pantas. Dia punya banyak waktu juga satu visi dengan Mita. Keturunan keluarga terpandang, sholeh, tak ketinggalan cerdas. Paket sempurna bahkan dari sisi pandang sesama pria," Rolex mencoba menjelaskan alasannya.
"Mita terlihat sangat bahagia. Dia telah jatuh cinta bahkan sebelum mereka bertemu. Bulan depan sudah mau lamaran, Bos. Tiada celah bagiku."
"Jika tak menemukan Kevin maka aku mungkin masih berkubang duka. Karena gagal cinta itulah awal mula sering ke club, punya beberapa orang yang bisa dipercaya dari sana hingga menemukan Katrin pun menjadi lebih mudah. Saat melihat dia pertama kali, hatiku sakit ingin melindunginya."
"Dia setengah na-ked saat itu, tubuh penuh lebam. Aku merasa telah melihat auratnya maka seketika hatiku bertekad ingin menjaga dalam arti berbeda. Anda membawa Katrin lebih dekat denganku pada masa-masa itu, menumbuhkan rasa hangat di hati yang sedang kelu," ungkap Rolex.
"Katrin, jiwa rapuh meski fisiknya kuat. Aku trenyuh sekaligus terpana karena pesona gadis itu yang tak biasa. Girly, kekanak-kanakan namun sangat dewasa dalam waktu bersamaan. Bos, bolehkan jika aku melanjutkan hubungan dengannya?" pinta Rolex.
Ezra terdiam. Nampak kesungguhan terpancar dari sorot mata lelaki yang tumbuh bersamanya.
"Kamu yakin, Katrin memilihmu Lex? bujang lapuk?" Ezra terkekeh.
Rolex mencebik kesal. "Mulai deh. Yakin lah. Dia manggil aku Mas kok, beda dengan Sonny."
"Ke GR-an, pastikan dulu ... dan asal bukan sebagai pelampiasan atas rasa sakit akibat Mita," Ezra mewanti Rolex, diangguki pria itu.
"Cari wali nasab Katrin sebelum nikah. Jangan banyakin dosa, kamu sudah mapan dan jatuh hukum wajib menikah bagimu, Lex. Seperti aku, takut terjerumus zina," pungkas Ezra.
Rolex mengangguki semua wejangan sang pimpinan sekaligus sahabat kecilnya itu. Pembicaraan berlangsung untuk menghadapi sidang putusan esok juga lanjutan proses hukum Zayn nanti.
__ADS_1
Keduanya berbincang hingga lewat tengah malam seiring ketukan di pintu menghentikan obrolan serius itu.
Tok. Tok.
"Tuan." Suara Katrin.
"Masuk saja," suara Ezra dari dalam.
Pintu pun terbuka lebar, sang gadis yang sudah terlihat mengantuk masuk dengan membawa ponselnya.
"Nona, mencari Anda tapi ponsel Tuan tertinggal di kamar hingga beliau call padaku," ujarnya menyerahkan ponsel pada Ezra.
Pemilik hunian mewah itu mendengar permintaan nyonya muda yang merajuk. Tak lama, ponsel canggih telah berpindah tangan kembali.
Saat Katrin akan pamit, Rolex mencegahnya.
"Baby." Panggil Rolex agar Katrin urung pergi.
Gadis itu pun menoleh ke arah sumber suara. "Ya?"
"Sini sebentar, duduk dulu. Aku mau bilang sesuatu mumpung ada saksi," pinta Rolex.
Bagai kerbau di cocok hidung, adik almarhum Kevin pun mendekat. Duduk tak jauh dari sana, di sofa single.
"Katrin Avnar, mau kan jadi istri aku?" sebut Rolex tanpa tedeng aling-aling.
Gadis yang setengah mengantuk itu terjengit, mata sipit sukses membola. Mengerjap beberapa kali saat menatap manik mata lawan bicaranya.
"Jawab jujur," imbuh Rolex lagi.
Ezra ingin tertawa melihat kedua ekspresi dua orang di hadapan. Mengingat dirinya tak pernah menyatakan cinta dengan cara demikian.
"Hmm, aku ... aku gimana ya? kan lagi cari kerja, Mas."
"Bantu Dila saja karena ada rencana dengan Asyraf Hamid agar ilmu mu tersalurkan, atau jika ingin mengejar gelar specialis gizi, bisa lanjutkan study sembari tetap di dekat Dila. Aku gak mudah percaya pada orang lain, Katrin," Ezra menyela obrolan mereka.
"Ok."
Katrin bingung, baru saja dirinya curhat pada Bibi akan perasaan asing yang menjalar jika Rolex disekitar. Dia memang menemukan kenyamanan juga rasa aman jika bersama Rolex. Namun melihat pria dingin itu, rasa hati meragu hingga hanya dapat berdo'a agar mendapat petunjuk dari Tuhan, akan tetapi ia tak mengira permohonannya langsung dikabulkan.
"Ok untuk yang mana, Baby?" tanya Rolex tak sabar.
"Hmm, keduanya. Mas," cicitnya malu seraya menundukkan kepala.
"Eh, istri? bukan pa-car?" Katrin baru menyadari pertanyaan Rolex, ia mengangkat wajah kembali.
"Iya, istri. Masa gak mau sih?" keluh Rolex, setengah lesu, namun berujung sorak bahagia karena Katrin mengangguk samar.
Ezra tertawa melihat betapa konyol cara Rolex melamar Katrin.
Juga mengucapkan selamat untuk kedua orang terdekat kini. Tak lama, dia bangkit keluar ruang kerja menarik lengan Rolex agar masuk ke kamar tamu, beristirahat. Juga meminta Katrin kembali ke biliknya.
Lantai dua.
Dilara menungu suaminya tiba setelah menelpon melalui ponsel Katrin. Ia rindu bau lelaki itu, mata ini tak dapat memejam sejak tadi.
Suara pintu kamar terbuka. Lelaki yang ia tunggu pun tiba.
"Sayang, maaf lama ya. Lihat Shan dulu takut kebangun."
Malam ini terasa lelah bahkan sekedar bicara, namun teringat akan ucapan Ezra sebelum turun tadi mengenai Asyraf Hamid. Dila membuka suara.
"Oma Shan mau bicara apa?"
"Rahasia tapi minta kamu segera ke Malaysia untuk ambil pendidikan advanced trainer AVT. Makanya bedrest total ya Sayang. Aku rela puasa dulu deh biar semua rencana kita berjalan lancar ... dua bulan lagi Mita lamaran, juga pekan depan aku sibuk dengan Zayn ... fokus satu-satu. Saat Shan masuk Asrama, kita pergi ke Malaysia, Ok?" jelas Ezra, menyibak selimut lalu memeluk Bunda Shan.
__ADS_1
Dilara tersenyum memandang wajah kekasih hati. Membelai lembut di sana, masih tak mengira jika sosok seram dahulu, berlaku sangat mesra kini.
"Abang atur ya, naskah aku masih sepuluh lagi jika ingin cuti."
"Pelan saja Sayang, kamu bisa kok. Masih keluar flek?" usapnya pada perut bagian bawah Dila.
"Enggak sejak hari itu. Semoga kuat dibawa puasa juga lainnya."
"Alhamdulillah ... jika Zayn di tahan, aku harus mengambil tanggungjawab terhadap Alyssa, kamu keberatan gak Dila?"
"Dia adik Abang, tentu saja tidak. Di ajak ke Surabaya atau sini?"
"Surabaya, nemenin Mita juga Papa ... Kamu wangi banget sih Sayang, kalau gini gimana nasib aku menahan puasa, berat banget."
"Ini parfum Abang loh, masa gak kenal?" elak Dila, geli karena Ezra mulai usil.
"Wanginya beda di badan ka-mu ... Di-la," suara parau mulai menguar.
"Puasa ... katanya puasa," Dila menepis jauh wajah suaminya.
"Besok aja...."
Lagi, malam panas kembali on dalam peraduan meski Ezra berlaku sangat lembut, tetap saja Dilara merasa kewalahan.
...***...
Keesokan Pagi.
Ezra membiarkan istrinya terlelap kembali ba'da subuh. Bahkan saat sarapan pun Dila tak dibangunkan, ia merasa bersalah membuat Bunda Shan kembali kelelahan.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Putusan sidang hari ini, do'akan semua lancar."
Putra sulung Emery, mengecupi semua bagian tubuh seksi istrinya. "Makin berisi jadi kian seksi."
Langkah mengendap hingga memutar handle pintu sangat pelan, ia lakukan demi agar Dilara tak bangun.
Sementara di lantai dasar.
Rolex sudah menunggu. Setelah pamit dan menitipkan pesan pada penghuni rumah, kedua pria perlente itu pamit. Tujuan mereka menuju pengadilan.
Satu jam kemudian.
Sidang digelar majelis. Hari ini pembacaan tuntutan juga pembelaan tersangka. Hingga tibalah penetapan hukuman bagi Anastasya juga beberapa anak buah Akbar.
Duk. Duk. Duk.
Ketukan palu terdengar. Anastasya menghambur ke pelukan Akbar yang nampak lemas setelah mendengar putusan hakim.
Hukuman kurungan penjara selama lima tahun dan denda dua ratus lima puluh juta disematkan pada putri Sanjaya.
Ezra tahu, ini tidak adil baginya namun teringat pesan Dila, dia berusaha teguh. Banding pun pasti memakan waktu juga hasil yang belum tentu akan berubah signifikan.
Maka Ezra mewakili Dila menyetujui keputusan tersebut.
Saat akan keluar ruangan sidang. Pengacara Akbar Sanjaya menyerahkan dua buah surat padanya. "Tuan Qavi, tolong sampaikan pada Nyonya Dilara juga Devana."
Ezra menerima dua pucuk surat yang di sodorkan padanya, seraya melepas pandang pada dua orang disana, masih berpelukan.
"Ok."
"Apa isinya Bos? aku buka dulu bagaimana? takut kertasnya beracun," saran Rolex.
"Hmm, nanti setelah mereka pergi."
.
__ADS_1
.
...____________________...