SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 55. KEBAHAGIAAN


__ADS_3

"Dilaaaaaaaaaa.... " Mita berlari menghampiri kamar sang kakak ipar.


Tok. Tok.


Ermita berkali mengetuk pintu kamar Dila, ingin memeluk kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.


"Dila ... tolong buka, aku sudah tahu semuanya namun tak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian ... Aku cuma mau meluk, kangen kamu...."


Mita terus membujuk agar wanita itu berkenan membuka pintu untuknya. Bi Inah menghampiri gadis yang setia berdiri di depan pintu, memberikan sebuah kertas dan pulpen agar dia menulis maksudnya disana.


"Oh iya, lupa." Mita terkekeh geli, dia lupa iparnya memiliki keistimewaan.


Beberapa menit kemudian. Mita menyelipkan catatan dari bawah celah pintunya.


Sementara didalam kamar, Dilara baru memakai alat bantu dengar untuk telinganya kala melihat sebuah catatan masuk.


Tangan kirinya terulur mengambil lembaran kertas dilantai. Netra bulat itu mengikuti rentetan kalimat yang tertoreh di atas kertas warna pink.


"Mita," wajah tegangnya perlahan berubah hangat di hiasi sebaris senyuman manis dari pemilik bibir tipis nan sensual.


Tok. Tok.


"Assalamu'alaikum, Dila." Suara lembut Mita kembali mengetuk pintu.


Dila menyimpan catatan yang ia pegang dari tangan kirinya ke meja, lalu menekan tuas ke bawah. Pintu kamarnya perlahan terbuka.


"Dilaaaaaaa," Mita menghambur memeluk gadis yang tengah berbadan dua, erat.


"Wa'alaikumussalaam Mita ... Mita ... Mit-aaa," istri Ezra itu terharu, membalas erat pelukan Mita.


"Eh, adek bayi, ponakan aku kasihan kejepit. Maafin onty ya Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Mita mengurai pelukan mereka, jemari kanannya mengelus perut Dilara yang membuncit.


"Berapa bulan Kak?" tanya Mita mengubah panggilannya, masih mengusap perlahan perut Dila.


"Dila saja," ucap Dila pelan.


Mita tiba-tiba terdiam. Mencoba mencerna apakah telinganya tak salah mendengar. Suara tadi berasal dari kakak iparnya itu kan?


"Bii?" Mita melayangkan pandang meminta pembenaran dari sang pengasuh.


"Iya, Non Dila sebenarnya bisa bicara dan kini pelafalan katanya lebih tegas terdengar," tutur Bi Inah menjelaskan pada Mita.


"Benar, Kak?" Mita masih mencoba meyakinkan dirinya dengan menatap wajah sang kakak ipar.


"Iya, benar. Aku memakai alat bantu dengar, juga belajar di komunitas terapi AVT di Australia by online...." Dilara mengeja satu persatu kata agar Mita dapat mendengarnya lebih jelas. Sekaligus melatih beberapa huruf konsonan yang belum sempurna terlafal.


"Aaaaahhhh, aku happy. Aku happy, surprise....!" sorak Mita terlihat sangat bahagia.


"Ayo duduk, Non Dila gak boleh terlalu lama berdiri. Sambil Bibi siapin cemilan untuk kalian," Bi Inah menarik lengan kedua nona muda El Qavi agar mengikutinya duduk di kursi makan.

__ADS_1


Wanita cantik yang akan melepas rindu sudah tak sabar untuk saling bertukar cerita. Adik bungsu Ezra itu sangat antusias, mendengar kakak iparnya akan berkisah.


"Kak, gimana?" tanya Mita setelah lama memandang lekat wajah ceria di depannya.


"Apa?"


"Kak Ezra, sudah cinta donk ya? ada ini?" Mita menunjuk perut dibalik hijab.


Istri Ezra ini tak dapat menjawab pertanyaan sang adik ipar, karena ia sejujurnya tidak mengetahui isi hati Ezra.


"Belum tahu jelasnya gimana, Kak," ujar Dila menundukkan kepala.


"Loh," Gadis cantik dengan rambut coklat tua itu terheran. Meski ia berjanji tak mengungkit hubungan keduanya. Namun tetap saja, rasa penasaran itu kian kuat hadir saat dia bersama Dilara.


"Tanya Abang aja, takut salah. Tapi aku kini bersyukur." Menantu Emery hanya tersenyum manis.


"Berapa bulan ini? Kak Ezra kapan pulang? kata Bibi, dia gak tahu kakak hamil?"


"Lima bulan. Entah, gak bilang pasti kapan tanggal pulangnya. Sudah tahu kalau sekarang, Bibi ngasih tahu ke beliau dua bulan lalu. Saat gempa melanda China," jujur Dila.


Ermita, tak habis pikir dengan kesabaran Dila menghadapi sikap sang kakak.


"Keren Dila, sabar. Ini laki-laki atau perempuan?"


"Belum tahu, gak nanya sama dokternya. Aku pasrah saja, lillah, mau laki atau perempuan akan diterima dengan suka cita," ucap Dila lagi.


"Iya, yang penting kalian sehat selamat semuanya. Ini mau syukuran dimana? Papa juga belum tahu loh Kak," ujar Mita lagi.


Pembicaraan dua wanita yang semakin terdengar seru masih berlanjut hingga menjelang tengah malam.


Ermita melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa Dilara sangat menjaga kehamilannya. Mulai dari dzikir yang tak lepas dari mulut meski sesekali bicara. Sholat tepat waktu juga istiqomah mengaji, membuat Mita takjub.


"Kakak, jaga dia. Harta karun El Qavi, sumber kedamaian juga calon ibu sholihah yang akan melahirkan generasi El Qavi nan berakhlak mulia," ucap Mita dalam hati.


...***...


China.


Rolex dan Ezra hari ini melakukan test kesehatan akhir untuk keperluan medical kembali ke Indonesia. Mereka telah menunggu hampir dua jam untuk mengambil hasil.


Dua hari lagi. Kedua pria metro-sek-sual ini berencana akan pulang setelah lebih dari lima bulan berada di negeri tirai bambu.


Sejak sang putra mahkota El Qavi rutin melakukan panggilan dengan istrinya, senyuman di wajah tampannya tak pernah pudar.


"Ciye, yang mau ketemu."


"Ciye juga, mau ketemu." Balas Ezra dengan senyum menyebalkan.


Rolex tak menanggapi sindiran majikannya itu. Dia malah berpura dengan mengalahkan pandang ke sekeliling.

__ADS_1


Ezra lalu memanasi nya dengan menelpon Dila. Masih melalui ponsel Bibi, namun pengasuh masa kecilnya itu tak menjawab panggilan yang lumayan berlangsung lama.


"Bahkan Tuhan pun memihakku," cibir Rolex.


"Jangan salahkan Tuhan jika dia lepas dari genggaman tanpa memberi engkau kesempatan untuk berjuang." Ezra menohok Rolex tepat menghunus jantung asisten setianya itu.


Tuut. Tuut.


Hingga dering kelima, panggilan itu pun di di jawab oleh seseorang di ujung sana.


"Ya Den. Assalamu'alaikum, maaf tadi lagi mandi, kenapa?"


"Dila mana?"


"Ada, sebentar Bibi ke kamarnya ya."


Bi Inah bergegas menuju kamar Nyonya muda. Dia mengetuk pintu yang menutup, hingga tak lama pemiliknya membuka papan kayu bercat putih itu.


"Ya Bi?"


"Suami tercinta," ucap Bi Inah seraya menyodorkan ponselnya. Suara Ezra mulai terdengar.


"Sayang, lagi ngaji?" tanya Ezra dengan wajah sumringah seperti biasanya.


Dilara hanya mengangguk pelan, masih saja malu jika harus bertatap muka dengan suaminya.


"Say something baby, aku ingin dengar suaramu lagi," ucap sang pria tampan di ujung sana.


"Ada yang bilang, suaraku akan membuat telinga sakit." Dilara menulis kalimat diatas kertas.


Degh.


"Begini juga gak apa kan? sudah terbiasa." tulisnya lagi.


"Ya sudah. Aku gak akan memaksamu," jawab Ezra kecewa, meski ia juga merasa bahwa memang dulu dirinya yang berucap kalimat sarkas untuk wanita ini.


"Sayang, banyaknya kesalahanku padamu. Semoga Allah masih berkenan memberikan kesempatan bagiku untuk merubah itu semua...." tutur Ezra dengan nada lemah juga rona sendu tergambar di wajahnya.


Dilara huwaida hanya tersenyum. Senyum malu-malu yang ia berikan membuat Ezra tak henti memandang wajahnya.


"Sayang ... kamu gak ingin aku pulang kah? gak pernah nanya...." pancing Ezra ingin mengetahui isi hati gadis abege yang menjadi istrinya itu.


"Hmmmm...."


.


.


..._____________________...

__ADS_1


...Trouble saat perjalanan pulang, terpaksa pisah dari rombongan. Berusaha nulis sambil goyang-goyang... ...


...Thanks ya kesayangan sudah sabar... luv kalian ❤😘.. ...


__ADS_2