
Malam panjang bagi Dila terasa sulit di lewati. Dia dilanda rindu.
"Abang, sedang apa ya? apa dia menjaga pola makannya? Mita pernah bilang, dulu Abang sempat sakit parah karena membantu Papa berjuang agar El Qavi tetap tegak berdiri. Kerja, kuliah juga mencari proyek besar, bersaing dengan banyak perusahaan serupa padahal dia di masa itu seharusnya menikmati masa muda," lirih Dila, memandang sebuah foto rahasia.
"Aku dapat foto ini dari Mita, gak nyuri loh. Di rumah gak ada foto pernikahan yang terpasang. Biarkan aku menyimpan ini, satu-satunya yang ku punya sebagai pengobat rindu."
Ini adalah keputusannya, namun mengapa seakan menjadi bumerang bagi hati. Perlahan melihat perkembangan juga pertumbuhan Shan yang semakin mirip dengan sang suami, sedikit banyak mempengaruhi suasana kalbu.
Suka, duka, bangga, rindu, juga kesepian melebur menjadi satu. Sepanjang hari Dila habiskan untuk berkutat dengan pekerjaan juga training kelas AVT. Tekadnya bulat, jika ia sudah mendapatkan cukup penghasilan. Kiranya terbang menuju Australia atau Canada dan menekuni profesi sebagai trainer AVT adalah pilihan tepat.
"Tahan Dila, kuatlah. Buat dirimu pantas dan berguna bagi banyak orang. Mungkin Abang tak akan tinggal diam, dia pasti menjagaku dari jauh sebisanya."
"Winda, thanks. Sudah ku duga, Abang berhasil membatalkan gugatan ku meski alasannya tak ku ketahui pasti."
Dilara bermonolog seraya memandang wajah putra semata wayang yang terlelap tidur disampingnya. Bayangan pernikahan kedua juga kegiatan intim mereka yang tak kenal tempat kembali berkelebat dalam benak dan sukses membuat dirinya menangis.
"Aku benci tapi juga rindu. Sesakit ini rasanya patah hati," isak putri Ruhama di tengah malam. Hingga ia lelah, menyisakan bulir bening sebagai bekal perjalanan mengarungi mimpi sendu.
...***...
Setelah malam perjumpaan dengan tuan muda Al Zayn, juga penjelasan detail siapa dirinya oleh sang Nyonya Asyraf Hamid. Dila meremang.
Mana mungkin beliau yang berkedudukan tinggi melirik wanita sepertinya. Seperti saat ini, pria muda itu rutin mengirimi berbagai buket bunga untuknya.
"Mba, sampaikan pada Nyonya Asyraf bahwa aku keberatan. Mungkin jika beliau yang mengatakan ini, akan didengar oleh sang tuan muda," mintanya pada Kesih.
"Sudah Non. Bahkan Nyonya melarang namun tetap saja beliau bebal. Nampaknya Nona menarik perhatiannya," balas Kesih saat membantu dirinya mandi.
"Aku masih istri Abang secara hukum. Gak bisa di miliki siapapun dan meski statusku bebas. Aku enggan menjalin hubungan kembali ... hatiku, masih milik Ezra Qavi, hanya dia penghuninya." Balasnya pada Kesih seraya menyingkirkan berbagai rangkaian bunga segar dari hadapannya.
Memasuki bulan ke empat.
Dilara mulai merajuk pada sang Nyonya, mengajukan diri untuk mengajar para anak didik di Asrama yang sama dengan para guru lainnya. Namun dengan alotnya, Vega tak mengizinkan dia tinggal di sana.
"Dila, kamu boleh mengajar tapi diantar jemput oleh driver untuk tetap tinggal denganku. Aku gak mau pisah dengan Shan. Titik," ujarnya setelah makan malam tempo hari saat putri Ruhama memberanikan diri meminta sesuatu hal padanya.
__ADS_1
Keputusan berat namun harus, ia tak ingin di labeli sebagai benalu atau bahkan parasit. Meski bisikan sesama trainer santer terdengar, sebisa mungkin ia tepis.
Niatnya hanya membagi ilmu apa yang dia mampu. Tehnik pembelajaran AVT perlahan Dila praktekan pada anak-anak berkebutuhan khusus disana.
Sudah satu pekan, Dilara pergi pulang di antar driver.
Tanpa dia sadari, Al Zayn hari ini melihat semua yang Dila lakukan sepanjang hari di pusat pelatihan belajar bernama Learning with A.
Pria muda itu kagum atas kemampuan tersembunyi milik sang gadis. Dia menyapa wanita cantik dalam balutan gamis serba hitam, saat Dila baru saja keluar dari ruangan setelah ia selesai mengajar.
"Assalamu'alaikum."
Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara dari belakang tubuhnya. Dila membalikkan badan, menghadap sang pemilik raga.
"Selamat siang." Zayn melakukan gerakan bahas isyarat.
Jemari pria muda itu mengepal lalu menempelkan pada dahi, untuk ucapan salam. Disambung dengan menautkan kedua telapak tangan persis gerakan menepuk lalu kedua lengannya dibentuk menyerupai huruf L, sebagai ucapan siang.
"Wa'alaikumussalaam. Siang."
Wanita cantik, yang melepas niqab dan mengganti dengan masker, menjawab dengan gerakan serupa sebagai penghormatan lawan bicara.
"Dila, putra? anakmu?"
"Iya. Permisi," lanjut langkahnya lagi.
"Nona Dilara, tunggu sebentar." Zayn mengejar trainer baru yayasan milik Asyraf.
"Boleh aku minta waktu Anda? kapan? ada yang ingin aku bicarakan berdua," ujarnya.
"Maaf, Tuan Muda, lain kali saja. Atau sampaikan pada Nyonya apabila berkenaan dengan pekerjaan karena aku sedang ... ku mohon, semoga Anda mengerti, permisi." Dila bingung, antara ingin mengatakan bahwa ia menjaga iddahnya atau sebaliknya.
Menantu Emery memberi salam, menangkupkan kedua tangan didepan dada lalu meninggalkan sosok maskulin yang masih terlihat kebingungan, begitu saja.
"Ya Robb, inginku tetap berada dalam ruangan tertutup hingga masa iddah berakhir, tanpa terlihat selain mahram. Namun, saat ini aku baru saja haid dan masih menunggu tiga kali suci agar sempurna atas kinayah. Tapi, kebutuhan Shan juga hidup di sini tak selamanya menggantungkan dari Nyonya Asyraf. Juga banyak mudhorot yang akan terjadi apabila aku terlalu dimanjakan beliau sedangkan statusku sama, pengajar. Lindungi aku," batin Dila.
__ADS_1
Dalam hatinya gundah, akankah sikap tidak sopannya ini akan berpengaruh pada hubungan sang Nyonya besar mengingat Al Zayn adalah orang dengan kedudukan tinggi.
Sementara Zayn, melihat kepergian Dila begitu saja.
"Pelan Zayn, pelan. Dia pasti jadi milikmu. Sabar menunggu iddahnya selesai. Jangan tergesa-gesa," lirihnya bermonolog masih menatap bayang wanita yang semakin masuk dalam relung hatinya.
"Alyssa, do'akan kakak, dia sosok tepat untukmu, menggantikan Mama."
Merasa urusannya telah selesai, pria tampan itu meninggalkan lokasi, menaiki mobil mewah menuju kediamannya.
Tak lama kemudian, masih di perjalanan dalam sebuah kabin mewah. Terdengar percakapan antara dirinya dengan seseorang.
"Baik, aku minta Dila sebagai trainer utama. Kanada, pilihan tepat baginya untuk mendalami tehnik audio visual untuk anak-anak di sana, juga proyek amal kita. Baiknya segera dilakukan dalam waktu dekat," pinta sang tuan muda, masih berbincang dengan sosok di ujung gawai.
Pembicaraan singkat nyatanya membuahkan hasil seperti yang ia mau. Asyraf Hamid terdengar mengiyakan permintaannya.
Hari-hari selanjutnya.
Berbekal alasan sebuah proyek amal, Zayn gencar mendekati Dilara dengan banyak cara romantis. Lambat laun Dila menyesuaikan diri dengan kehadiran pria itu, meski ia sekuat tenaga menghindar.
Asyraf Hamid mengerti posisi sang tamu, dirinya membantu Dilara sebisa yang ia mampu. Agar Al Zayn tidak tersinggung. Namun kali ini, mereka tersudut. Mau tidak mau, Dila harus pergi bersama mereka untuk acara peresmian sebuah gedung.
"Nona Dila, aku jinak. Mendekatlah. Dan buka masker Anda, aku hampir tak pernah melihat wajah ayu dibalik alkes itu sementara kita sudah sering jumpa," ucapnya di hadapan Asyraf Hamid saat perjalanan mereka dalam satu kabin kendaraan mewah.
"Ralat, Tuan muda. Hanya tiga kali jumpa, di rumah, sekolah dan saat ini. Kurasa tak ada beda jika aku disana dan duduk di sini bukan? lebih baik tidak menebar bibit gosip yang pada akhirnya merugikan Anda. Maaf bila aku tidak sopan, Nyonya, Tuan Muda." Dila dengan tegas menolak, ia justru sangat mendekap erat Shan.
"Nyonya, putri Anda sulit, sama seperti ibunya."
"Mohon mengerti kedudukannya, Tuan Muda. Dan masalah pekerjaan hendaknya tidak di pautkan dengan kondisi lainnya. Anda terkenal dengan keprofesionalan bukan?"
Pernyataan Asyraf Hamid tepat menohok sang Tuan Muda. Dia hanya mengangguk pelan dengan sebaris senyum sinis terlukis diwajah terawat, kala menatap janda kaya itu.
"Dila sayang. Aku akan sekuat tenaga menjagamu darinya. Jangan khawatir."
.
__ADS_1
.
..._____________________...