SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 145. SIDANG ANA


__ADS_3

Keesokan pagi.


Sejak sebelum subuh Ezra sudah sibuk membantu Dila melakukan ini dan itu termasuk sarapan dikamar menggunakan satu sendok, pinggan hingga gelas minum bahkan kini Dila sangat suka kopi, semuanya harus ada jejak bibir sang suami.


Devanagari sampai heran dengan perubahan sikap anak semata wayang, hingga mengundang tawa Shan, kala Dila menginginkan sereal si bocah gempal yang sedang dia santap.


"Bunda mau itu, bagi Shan, ayo."


Dengan wajah tak rela, Shan memberikan breakfast yang sedang dia nikmati. "Mommy, untuk adek bayi kan? kenapa mommy makan?" celoteh Shan membuat Dila mendelik.


"Adek masih kecil, belum bisa makan sendiri, maka Bunda yang bantu mengunyahkan untuknya," jelas Dila, disusul penjelasan Ezra sehingga batita menggemaskan itu mengangguk riang.


Sesi sarapan pindah ke lantai dua di kamar Ezra. Mama, Shan juga Bibi berkumpul di sana. Suasana pagi pun berlangsung hangat.


Satu jam kedepan.


Shan, sudah bisa di ajak komunikasi dua arah dengan sangat baik. Hafalannya berkembang pesat. Ibu dan anak itu hanya akur saat muroja'ah hingga tiba waktu bagi Ezra pergi untuk menghadiri sidang, mewakili istrinya.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Surat kuasa juga penangguhan kehadiran karena kamu gak bisa pergi, sudah Rolex bawa barusan. Doakan lancar," ujar Ezra duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Dila.


"Aamiin. Dengarkan dia jika ingin bicara, jangan diabaikan agar kewajiban Abang menyediakan waktu mediasi, gugur. Apapun hasilnya aku menutup mata, karena hanya pengadilan Allah yang Maha Adil. Terpenting adalah kita sudah berusaha," balas Dila membelai wajah tampan suaminya.


"Ok ... hati-hati ya, jangan banyak gerak kecuali jika ingin ke bathroom. Aku minta tolong Katrin ke sini biar kamu dan Shan ada teman, Mama cukup ngawasin aja. Call me ya Dila, jangan di pendam sendiri semua yang kamu inginkan, love you Sayang," Ezra mengecup semua bagian wajah Dila sebelum ia keluar kamar.


"Cinta mati, pokoknya," balas Dila mesra.


Ingin hati menahan langkah suaminya, kehamilan kali ini entah mengapa sangat bergantung pada Ezra.


Saat menuruni anak tangga, Katrin bersiap akan naik ke lantai dua. Lelaki tampan dalam setelan serba hitam itu melanjutkan langkah hingga menyentuh lantai dasar.


"Tuan. Selamat Pagi, metode pembelajaran yang Nona berikan untuk tuan kecil akankah di lanjutkan? juga menu bagi keduanya? maaf aku lupa menanyakan ini semalam," ujar sang asisten mantan mata-mata Ezra saat di Dubai.


"Boleh, bantu Dila ya ... kamu sudah baikan? buat menu snack ringan dulu satu bulan ini. Koordinasi dengan Bibi dan Mama ya, Katrin. Untuk selanjutnya, bisa improve atau tanya langsung pada istriku," balas Ezra setelah menjabarkan tugasnya, menghampiri Mama juga Shan.


Katrin mengangguk lalu melanjutkan langkah menemui sang Nyonya muda di kamar.


"Ma, Shan, pergi dulu ya. Doakan yang terbaik dan sidang lancar hari ini ... Biiii, ayo ... Ma, maaf aku titip Dila. Setelah gugatan ini selesai, aku cuti hingga kandungan Dila kuat," pinta Ezra sungkan pada mertuanya.


"Sudah gak usah mikirin begitu, masih ada kewajiban Mama buat jagain kalian. Semua yang disini, termasuk Katrin, jadwal Mama konseling lusa kan ya, Za?" sahut Devana seraya mengusap mulut cucunya yang belepotan sereal coklat.


"Nanti diantar Sonny ya Ma, atau aku jika searah ... bye Shan, jaga Bunda dan Eyang ... Ok? jangan gendong pada selain Ayah karena Shan berat, anak baik gak boleh manja," sambung Ezra seraya mengusap kepala dan menciumi pipi tomat putra sulungnya.


"Bye Daddy, take care. I'm gonna miss you," sahut Shan membalas ciuman ayahnya, lalu melambaikan tangan.


Devana yang kurang paham apa yang cucu nya ucapkan seringkali kewalahan menjawab kalau Shan bertanya sesuatu.


"Shan, mbok ngomong basa indonesa jangan enggres, Eyang gak ngerti. Boso Jowo kui malah luwih apik loh Shan?"

__ADS_1


"Eyang, what are you talking about? Boso itu apa? its like Bakso or wet, basah? atau balasan jika nakal, bad boy supposed to do? seperti mommy suka bilang," Shan mengerjap, kepalanya meneleng ke samping tanda dia tak paham.


"Duh, ngomong apa ini? ... itu dosa Shan, Boso itu Bahasa macam Indonesia, enggres gitu," jelas Deva sekenanya.


Percakapan antara cucu dan nenek yang kerap mengundang tawa jika Dila mendengarnya, masih berlangsung hingga waktu duha.


...***...


Pengadilan.


Rolex sudah tiba lebih dulu disana, disusul Ezra tepat saat pintu ruangan pesakitan itu di buka.


Pengacara Sanjaya tengah mengutarakan alibi sang tersangka. Dia mengatakan bahwa di saat yang bersamaan kliennya tengah menghadiri sebuah pertemuan dengan petinggi perusahaan.


Saat di hadirkan keterangan para saksi, semuanya tidak sinkron. Terlebih kala lawyer Ezra mengajukan pertanyaan.


"Baju apa yang Nona kalian kenakan saat itu? bagaimana tata rambutnya?" mengingat pengakuan awal Anastasya memakai blazer. Jawaban kedua saksi itu bertolak belakang.


Hingga tiba saatnya, Bi Inah memberikan kesaksian juga bukti screenshot layar interkom, hasil visum dan kandungan serum pada minuman, sesuai dengan laporan laboratorium. Diperkuat hasil penelitian dari Sabrina.


Akbar sanjaya terkejut. Tak menyangka Ezra mendapatkan semua bukti itu, padahal dia sudah melenyapkan segalanya.


Lirikan sinis, Ezra sematkan di wajah tampan kala semua bukti ada pada Yang Mulia Hakim.


"Sengaja, aku hadirkan Bibi juga screenshot itu sebagai senjata akhir. Semua file aman tersimpan di tempat yang tak bisa kau jangkau, Papa mertua ... Ini perjuanganku untuk Dila juga Ibu, yang telah merawat istriku hingga punya hati lembut juga sifat mulia," Ezra mengirimkan pesan ke ponsel Akbar.


"Sidang di tunda hingga lusa, untuk pembacaan putusan. Terimakasih."


Duk. Duk. Duk. Suara ketok palu tanda sidang yang berlangsung alot hingga lewat siang hari, berakhir.


Bi Inah, langsung Rolex amankan. Tubuh wanita sepuh itu gemetar hebat apalagi saat di bolak balik dengan pertanyaan yang sama. Namun berkat latihan sebelum sidang tadi, Bibi teguh hati.


"Biiiiii, makasih banyak," Ezra memeluk tubuh wanita renta yang menangis.


"Den, Bibi takut gagal? gak salah ngomong kan tadi?" tanyanya kalut disertai isakan.


"Enggak. Kita pulang sekarang, Bibi ikut aku, biar aman. Lex, plan B."


Ezra lalu melangkah ke parkiran, sengaja melewati kerumunan agar dirinya tersamarkan.


Dia menggunakan mobil berbeda, sebuah mobil box sewaan. Untuk menghindari kejadian tak diinginkan.


Tepat saat mobil box dengan Banner stiker sebuah produk sikat gigi keluar dari pengadilan, persis akan masuk tol dalam kota. Dugaan Ezra terjadi.


Kriiing. Ponselnya berdering.


"Ya, Lex?"

__ADS_1


"Bos, sorry mobil Anda menabrak marka jalan. Laka lantas tunggal dan ringsek. Driver dan aku selamat karena sempat menghindari kendaraan di depan kami agar tak terjadi tabrakan beruntun ... kita dalam perjalanan ke rumah sakit. Dugaan Anda tepat," Rolex melaporkan.


"Astaghfirullah innalillahi, kamu gimana? parah Lex?"


"Enggak, hanya pusing akibat benturan dan akan CT Scan, Bos. Jaga Bibi, karena saksi kunci sampai putusan turun. Aku mendesak lawyer agar melakukan OTT apabila terindikasi suap terhadap Hakim ... Bos, maaf itu dulu ya, aku gak kuat, mual dan pening hebat."


Rolex mengakhiri panggilan setelah informasi yang dia ungkap.


"Den, Rolex kenapa?" tanya Bibi.


Ezra menghembus nafas kasar, menjelaskan kondisi yang baru saja terjadi. Untung dia mengantisipasi cara ini meski Rolex juga driver kantor menjadi korban.


Perjalanan kembali dari sidang yang mendebarkan hingga mereka selamat tiba di kediaman menjelang sore.


Biiiip. Pintu apart terbuka.


"Bi, jangan kemana-mana, jangan respon panggilan apapun ya. Semua makanan dimasak oleh Katrin juga di uji coba lebih dulu. Keadaan genting ini hanya berlangsung hingga sidang keputusan nanti. Ok?" pinta Ezra kala memasuki ruang tamu.


Pengasuh kecilnya itu mengangguk lalu pamit menuju kamar. Sungguh sang majikan sangat perhitungan, jika tidak, mungkin nyawanya sudah amblas akibat sabotase.


Putra Emery menaiki belasan tangga menuju kamarnya. Ketika dia membuka pintu, Dila juga Shan sedang muraja'ah surat Al a'la. Ezra memilih mengganti pakaian sebelum bergabung dengan mereka.


"Kurang panjang Shan, wa muu saa. Coba Bunda mau dengar penjelasan Shan, hukum apa itu?"


"Keduanya ... eungg, mad asli karena huruf mim berharokat dhomah bertemu wau sukun ... juga huruf sin berharokat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak ada hamzah, huruf bersukun, yang diwaqaf, dan ber-tasydid ... euhmm, Mommy, benar tidak?" jawab Shan ragu.


"Lalu, dibaca bagaimana?"


"Harusnya dua harokat, Shan buru-buru karena Daddy sudah pulang," senyumnya malu-malu.


"Ckckckck, sudah Bunda bilang jangan buru-buru. Lagipula Ayah itu punya Bunda ... Shan dengan Onty Katrin saja, sana main," cegah Dila saat Shan akan turun mengejar Ezra ke bathroom.


Shan mulai berkaca-kaca, saat Ezra mendekati keduanya. "Boleh main sama Ayah disini," kecup Ezra di pipi chubby Shan hingga bocah itu urung menangis.


Dilara tak suka. Dia berbalik badan mengabaikan keduanya.


"Dila, sabar donk Sayang. Shan juga butuh aku," elusnya pada punggung berbalut homy dress. Namun usaha itu tak membuahkan hasil, Bunda Shan bergeming.


"Shan, mau bobok gak? Ayah capek, susul Bunda tidur bentar yuk."


Melihat Tuan besar telah kembali, Katrin keluar kamar. Menunggu penjelasan dari majikannya di lantai dasar, tentang kemajuan gugatan milik sang kakak.


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2