
"Dila, Sayang ... kamukah di sana?" suara Ezra terdengar putus-putus.
Hening menjeda beberapa saat. Ezra lalu menyadari bahwa yang melakukan panggilan bukan asisten rumah tangganya, tapi Dilara. Dia pun memaklumi jika gadis itu masih tak ingin bicara padanya.
"Assalamu'alaikum, Dila?... aku baik-baik saja, alhamdulillah. Rolex menyelamatkanku. Dia cedera namun sudah mendapatkan perawatan, do'akan dia segera pulih agar dapat membantuku menyelesaikan semua pekerjaan sehingga kepulangan kami tepat waktu." Ezra menulis barisan kalimat lalu menunjukkan pada kamera ponselnya.
"Jangan khawatir ya. Aku kangen kalian." Ezra menunjukkan kertas kedua.
Dilara melihat semuanya. Kamera depan ponsel milik Bi Inah dia tutup menggunakan jari, sehingga tak nampak wajah sembab sisa menangis tadi.
Istri Ezra itu lalu membalas dengan tulisan. Ia mendudukkan posisi gawai menggunakan stand holder. Namun tetap saja, wajahnya menghindari kamera.
"Wa'alaikumussalam ... allahumma ba'daha ... semoga lekas pulih. Dan, semoga pekerjaan Tuan lekas selesai."
Ezra membaca kertas yang berisi jawaban atas pernyataannya, terpampang di layar.
"Tuan? Dila, kamu...." ia gusar, apakah di hati wanita yang kerap ia rindukan, dirinya tak berarti? Dilara masih menganggapnya hanya seorang majikan?
Ada rasa sakit menyelinap dalam hati. Memang, salahnya. Semua ini adalah kesalahan Ezra sejak awal. Keinginan lekas kembali pulang begitu menggebu memicu semangat Ezra berkobar kembali. Kesalahpahaman di antara keduanya tak lagi dapat ditunda, butuh segera diselesaikan.
"Tuan itu bukan panggilan untuk suami, Sayang." Lelaki tampan yang masih bersabar menghadapi Dila, mencoba meyakinkan bahwa dia kini perlahan berubah.
"Kan minta dipanggil, Tuan." Balas Dila cepat.
"Ya sudah iya. Jaga kesehatan ya Sayang. Aku nanti call kamu lagi, boleh?" tulis Ezra di kertas yang ke empat.
"Boleh."
"Beri aku booster, Dila please."
"Apa?" balas Dila.
"Aku ingin melihat wajah Ibu dari anakku." Hatinya berdebar menunggu respon Dila sekaligus khawatir jika signal kembali hilang.
Karena apabila melakukan panggilan dengan Bi Inah biasanya maksimal hanya berlangsung sepuluh menit.
Dilara diam, menimbang permintaan Ezra. Sejujurnya dia malu, masih canggung bila berhadapan dengan pria itu.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim...." batin Dila mengucap doa.
Wanita milik Ezra, akhirnya memberanikan diri muncul. Hijab dusty pink yang menutup kepalanya membuat wajah berkulit kuning langsat itupun terlihat cerah merona.
"Alhamdulillah," ujar Ezra, tak lupa ia men-screenshoot tampilan gadis ayu dihadapannya. Wajah tampan itu mengulas sebaris senyum untuk sang istri.
Semburat rona merah, muncul di wajah Dilara. Dia tersipu malu saat melihat Ezra menghadiahkan seberkas senyum untuknya.
Keduanya saling pandang namun Dila lebih banyak menunduk. Dua menit terbuang hanya untuk melepas rindu dengan menatap wajah. Terlebih Ezra kini menopang dagu, kian intens menyimpan kecantikan Dilara dalam memorinya.
"Sudah ya, batre ponselnya mau habis." Tulis Dila kembali dan memperlihatkan pada kamera.
"Iya, Sayang. Terimakasih banyak. Assalamu'alaikum."
Ezra terkejut ketika sambungan percakapan mereka, Dilara putus begitu saja. Dia belum menjawab salam darinya.
"Gak apa Za, sabar. Pedekate dengan anak abege gak sama dengan wanita dewasa yang sudah paham maksud dan keinginan. Juga, dia hamil di usia belum genap dua puluh tahun, di saat Mita adikmu masih suka ngemall. Gadis itu malah terkurung di dalam rumah, hamil dari pria yang tak di cintainya pula," Ezra bermonolog. Wajahnya sendu meski tersirat sedikit bahagia disana karena berhasil mendapatkan foto terbaru Dilara.
Pettt.
"Wa'alaikumussalam ... jantungku...."
Nyonya muda menantu Emery itu mendekapkan kedua tangannya memeluk tubuh. Agar getaran jantung yang sangat kentara bagai drum yang ditabuh itu dapat mereda.
"Sesak...." Ia mengurai pelukan tangan. Lalu mengusap dadanya pelan.
"Non."
Suara Bibi yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu kamar yang tidak terkunci, mengagetkan dirinya.
"Bii," Dila menyerahkan ponsel milik wanita itu.
"Lagi apa? hayoloh, deg-degan ya? Ciye ciye.... " ejek Bibi melihat wajah majikan kecilnya bersemu merah merona.
Dilara meraih kertas tak jauh dari stand holder ponselnya lalu menulis. "Bibi, kapan masuk? aku gak dengar."
"Jangan ngeles, Non." Bibi tersenyum puas melihat Dila salah tingkah.
__ADS_1
"Makasih ya Bi, aku lega Abang dan Rolex baik saja dan sekarang mau tidur dulu." Putri Ruhama masih mencoba menghindari topik yang menyudutkan dirinya.
Gadis muda dengan hijab dusty pink serta daster batik berangsur bangkit dari duduk setelah merapikan semua peralatan miliknya di atas meja lalu berjalan menuju pembaringan.
Tak jauh dari posisi Dilara, Wanita sepuh yang pernah merasakan jatuh cinta pada masanya, hanya menanggapi kerikuhan sikap sang Nona kecil dengan senyum mengembang. Wajahnya sangat cerah menandakan betapa dia bahagia.
"Kalian itu saling suka, tapi masih aja alot buat mengakui perasaan. Non, tunggu dua bulan lagi ya. Sudah macam apa nanti itu kangennya ... istirahat gih, moga mimpi ketemu Abang tiap hari ya," ucap Bi Inah seraya mendekati Dilara ke sisi ranjang. Menarik selimut hingga dada agar majikannya tetap hangat.
"Musim hujan mulai datang, nanti jendela harus di tutup karena udara dingin juga agara percikan air hujan tidak masuk," imbuhnya lagi saat melihat jendela kecil di sudut kamar Dilara masih terbuka.
Tak ada lagi sahutan dari pemilik raga diatas pembaringan. Bi Inah pun keluar, setelah mematikan lampu kamar.
...***...
China.
Rolex melihat Ezra bagai kurang waras. Bicara sendiri, senyum gak jelas bahkan mulai mencari lagu cinta.
"Ya ampun, syndrome nampaknya mulai muncul. Ada yang terbit walau bukan matahari ya Bos," Rolex mencoba menggoda Bos nya sebagai penawar rasa bosan juga pengalihan atas ngilu sebab jahitan yang bergesekan dengan selimut.
"Bos...."
Ezra mengindahkan panggilan Rolex. Dirinya asik dengan dunianya yang berisikan Dila Dila dan Dila.
"Begitulah jatuh cinta, meski awalnya hanya sebagai alat untuk berbakti perlahan menjadi simpati karena rasa bersalah ... kini berubah menjadi peduli dan berkembang bagai bunga musim semi, cinta bermekaran," ucap Rolex mencoba menarik perhatian pimpinan El Qavi yang duduk tak jauh dari ranjangnya.
"Serah Lu mau bilang apa, Lex ... aku tidur disini," imbuhnya setelah berhasil mendownload beberapa lagu cinta yang menggambarkan perasaannya itu.
Lelaki putra Emery, menemani sang asisten yang terluka di kamar perawatan medis darurat. Meninggalkan pekerjaan yang sempat membuatnya jengah namun perlahan moodnya kembali membaik setelah mendapat asupan nutrisi vitamin penglihatan juga hati dari sang Istri.
"Kangen kalian, sangat... rasanya waktu berjalan begitu lama. Dilara Huwaida, aku gak tahu bagaimana nanti sikapku bila bertemu denganmu lagi ... inginku kita memulai semuanya dari nol, bagai pom bensin. Semua dimulai dari angka nol...." jemarinya mengusap layar pipih dengan wallpaper usg terbaru milik pujaan yang sosoknya perlahan masuk memberikan kehangatan dalam rongga hati yang terlanjur dingin.
.
.
...________________________...
__ADS_1
...Ngebut, mumpung sudah on train, nyampe Bandung, mommy usahakan UP lagi.. ...