
Hotel.
Setelah kepulangan ustadz Zaky, Ezra melanjutkan rencana dengan Rolex. Dia mendengarkan seksama ide pria itu. Hingga akhirnya setelah banyak mempertimbangkan sesuatu berkenaan dengan apa yang Arthur tawarkan, Ezra memutuskan satu hal.
Menantu almarhumah Ruhama, keluar dari ruangan menuju balkon. Dia menyalakan sebatang rokok, yang telah lama tak pernah di sentuh meski ia kerap membawa benda itu kemana-mana didalam mini pouchnya.
Asap pun mengepul, membumbung tinggi membaur bersama udara siang hari kota Dubai. Menyapa gedung tinggi yang seakan berlomba menyentuh langit.
Huft.
Bahu tegap itu terlihat begerak turun naik mengikuti helaan nafas kasar yang terhembus. Dirinya bimbang, menimbang banyak kemungkinan, sebisa mungkin langkah yang akan ia ambil nanti tak membahayakan keluarga kecil yang ia rindukan.
"Aku gak tahu, apa yang kau cari dan rebut dariku lagi. Dilara mungkin Allah gariskan menjadi milikku. Aku melepaskan Cheryl setelah kau rusak dia ... memang satu dua denganmu sih. Benar perkataan Papa, hanya aku yang dapat menyelesaikan ini ... kamu salah paham padaku, lagi," gumam Ezra melihat sebuah foto dalam ponselnya.
"Abdeen, entah kenapa, kita memiliki selera yang sama terhadap wanita. Meski awalnya aku enggan bersama dia, namun setelah mengetahui semua tentang Dila dari jurnalnya itu ... kini aku berkali lipat jatuh cinta padanya, istriku. Yang terlambat di sadari."
"Jika kejadian ini membuatmu senang. Silakan nikmati sejenak, akan aku pastikan kondisi berbalik padamu, akan ku buat kamu merasakan hal yang sama ... kehilangan, setelah menduga telah menggenggam."
"Sayang, aku rindu kalian...."
Ezra, mengusap wallpaper ponsel yang telah berganti dengan wajah istri dan anaknya. Foto yang dia ambil secara candid saat Dila menciumi El, sesudah bayi mungil itu mandi, masih terbalut handuk berwarna biru.
"Sudah seberat apa kamu, El? ayah rindu tangisan dan wangi bayi didalam kamar," gumamnya lagi masih memandang layar gawai.
Ia membiarkan lintingan tembakau yang diletakkan pada tembok balkon itu, habis termakan hembusan angin.
"Baru kali ini, aku merasa sangat kehilangan seseorang, Dila...."
Tanpa sadar, satu tetes bulir bening menyembul dari ekor mata elang pemilik nama Ezra El Qavi.
"Baiklah, lets play the game ... Sayang, aku mengawasimu dari jauh. Bertahan untukku ya, kita akan jumpa lagi," pria yang hatinya remuk, karena sebuah keputusan yang ia ambil, harus puas dengan keadaan yang akan menerpanya.
Setelah meminta izin pada sang ayah, dia pun melakukan panggilan pada Arthur kembali.
__ADS_1
"Tolong kami, Art ... titip ya. Situasinya sulit, jika aku ketahuan masuk, habis sudah Dila. Kau tahu siapa dia bukan?... thanks ya, aku percayakan padamu ... mungkin sudah jalannya kini, aku membuka tentang privasiku padamu," ujar Ezra.
"Aku gak minta imbalan, Za. Hanya demi Michelle, agar dia punya kawan. Kau tahu, aku sama denganmu. Menyimpan istri dan keluargaku rapat dari publik. Lagian, nikah gak bilang ... tega amat sih, jika kamu gak mampir ke outlet ku memesan perhiasan custom, mana aku tahu kamu menikah lagi. Kali ini aku pun kagum dengan gadis muda itu, ko mau sama duda macam kamu," tawa Arthur menggema di ujung sana.
"Si-alan kau ... aku masih tampan lah, buktinya Dila mau sama aku," kilah Ezra.
"Dia bukan type yang melihat fisik atau harta, persis Michelle sepertinya ... pokoknya aku mau tanya sama Dilara nanti, pakai pelet apa? seorang Ezra sampai begini, bahkan dengan Cheryl pun kau tak pernah memesan perhiasan padaku," Arthur tak kalah mengeluh akibat sikap sahabatnya. (bab 62)
"Ok Ok, king Arthur Julian ... kapan bisa masuk?"
"Asyraf terkenal diktator pada para pekerjanya, berbeda dengan si istri yang terlihat sedikit ramah. Identitasnya tak pernah diungkap kecuali padaku, karena Asyraf memesan perhiasan untuk kado ulang tahun sang wanita. Vega Gianina, nama asli Nyonya Asyraf Hamid. Sang janda, mewarisi semua kekayaan duda tanpa anak itu lalu memulai banting stir menjadi pengusaha properti, waralaba juga lainnya."
"Datang saja dulu ke Dubai, akan aku masukkan dengan halus. In sya Allah dia gak akan tahu," sambung Arthur lagi.
"Lusa, sebelum aku kembali. Karena harus menghadiri sidang gugatan Dila," ungkap Ezra kemudian.
"Ok, serahkan padaku. Ya ampun, demi Michelle aku kembali ke jalur abu-abu," selorohnya seakan menyesal.
"Kau menyesal membantuku?" tuduh Ezra.
Keduanya sepakat, berharap apa yang akan mereka lakukan itu dapat menjembatani terhubungnya informasi harian atau bahkan komunikasi di antara mereka meski secara rahasia.
Sementara menunggu seseorang datang, besok rencananya pria tampan itu akan tetap melakukan sesuatu dengan Sandrina, sang sepupu. Tetap tak akan keluar dari hotel, agar rival bak ular jantan itu tak dapat mengendus keberadaannya.
Malam nanti pasti akan sangat panjang terlewati. Perjuangan cinta, mungkin memerih, akan Ezra jalani mulai detik ini demi sang pujaan hati.
...***...
UK.
Prince Abdeen akan bersiap take off menuju Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman, Dubai. Pagi ini dia akan melakukan pemeriksaan akhir terhadap kondisinya.
"Apakah dia aman?" tanya sang pangeran keluarga bangsawan timur tengah, King Abdeen Manaf.
__ADS_1
"Aman Bos. Bersama Asyraf Hamid, relasi Anda," ujar Roy.
"Ezra?"
"Tak terlihat tanda keberadaan dirinya di sana, ia mungkin sedang down karena Nona kabur, juga melayangkan gugatan cerai atas status pernikahan mereka," sahut asisten pribadinya.
Seulas senyum sinis tercetak di wajah sang pria muda nan tampan. "Ditinggalkan kedua kalinya, apa enak?" cibirnya pada kehidupan asmara Ezra.
"Misiku berhasil bukan? serangan tepat menusuk jantung kali ini. Aku puas, kini kau tahu bagaimana rasanya kehilangan yang sesungguhnya ... bila Cheryl tak membekas, maka aku yakin, jika Dila akan menghancurkan hatimu perlahan," Abdeen bermonolog didepan sang sekretaris yang tak kalah dingin.
"Anda akan masuk?"
"Kita lihat nanti saja, Roy. Asyraf Hamid bukan orang yang mudah. Aku bahkan tak bisa menembus wall pertahanan miliknya," Abdeen berujar.
"Semoga keinginan Anda tercapai, Bos."
"Kali ini, akan aku pastikan, dia banyak kehilangan ... sama seperti ku. Wahai Emery, lihat akibat ulahmu," lirihnya.
"Sanjaya Grup, bagaimana? akankah kita menariknya satu kubu?"
"Tak perlu ... cari Cheryl, aku membutuhkan wanita itu, kali ini dia kabur kemana? hingga si tua Smith, memakiku akibat ulahnya?"
"Kabur? bukannya Cheryl bersama Mr. Smith?" tanya Roy.
"Tak terlihat sejak tiga hari lalu. Cari sampai dapat. Jangan sampai mulut besarnya itu membocorkan rahasia kita menjebak dirinya dengan si pria yang kau bunuh," titah sang majikan, pada Roy.
"Kita bereskan?"
"Terserah kamu, bila tak berguna lagi, hempaskan saja," imbuhnya perlahan keluar kamar menuju ruangan medical check up.
.
.
__ADS_1
..._____________________...
...Mommy baca pendapat banyak othor pemes di sebuah grup menulis, sedikit banyak mempengaruhi mood beberapa hari ini. "Tulisan yang bagus pasti banyak komen, like, gift bahkan vote. Jika gak ada itu semua, maka tulisanmu tidak dapat menggugah mereka buat tinggalkan sesuatu disana."... and i insecure now, really. Tapi salah satu othor di sana bilang, follow your heart... dan itu booster mommy hari ini, meski jempol sakit, dipaksakan UP untuk Dilara. Thanks ya guys....