
"Sayang, bagaimana nanti kita ke depan?" Ezra ragu, ia bertanya pada sosok ayu disampingnya.
Dilara menoleh ke arah pria yang masih sangat dia cinta.
"Aku?"
"Could you go through it alone? bagaimana aku harus bersikap terhadapmu, apakah mengikrarkan ulang akad nikah di sini atau nanti?" (kau berniat menjalani ini sendiri?)
"Entahlah, aku juga bingung," jawab dila seraya menunduk. Inginnya segera kembali namun ada hal yang harus dia perjuangkan demi masa depan keluarganya.
Ezra menarik nafas panjang, dia mencoba membagi pemikirannya.
Beberapa menit terlewati. Shan dalam gendongan Ezra mulai tidak tenang, mungkin merasakan kegundahan kedua orang tuanya.
"Begini saja, bagaimana?" ujar Ezra seraya membelai lembut punggung putranya agar kembali tenang.
Putra Emery kembali bersuara, sementara Dilara bersiap mendengarkan apa yang akan Ezra utarakan.
"Sayang ... aku tetap menganggapmu sebagai istriku, meski tidak dapat memenuhi satu hal, nafkah batin. Sisanya biarlah berjalan seperti semestinya ... kalian tetap menjadi tanggungjawab ku. Aku membebaskan Dilara Huwaida dari tugas kewajiban seperti seorang istri pada umumnya. Istriku tengah menggantinya untuk memuliakan kedudukan ku dan berjuang disini ... kau akan kembali padaku kan, Dila?" Ezra mencoba mengajukan pertanyaan yang mengusik kalbu.
Tak ada jawaban, hanya sorot mata penuh harap yang Dila berikan.
"Aku tahu, terimakasih Dila. Pergilah, kejar apa yang kamu inginkan, lalu kembalilah padaku, ya."
Ezra menoleh ke arah wanita yang ia cinta, dengan pandangan sorot mata sendu. Inginnya memeluk, namun Dila pasti menolak. Ia merasa tak sanggup melihat ibu putranya itu menangis.
Tangisan Dila ke sekian kali menyayat gendang telinga hingga menusuk hati, namun jemarinya tak pernah sampai untuk menghapus setiap jejak buliran lava bening yang mengalir dari matanya.
"Ikhlas dan redho, aku hanya bisa memberimu itu, Dila. Maaf ya Sayang bila tempatku terlalu sulit hingga kamu harus seperti ini ... aku akan sama berjuang, hanya menjaga hati dan pandanganku untuk kalian berdua," tegas Ezra kembali, agar istrinya tegar kala ia lepaskan.
"A-ku, yang seharusnya min-ta ma-af. Memaksakan untuk te-rus ada di sisi Abang meski diri tak sepa-dan ... aku egois, mena-rik Shan agar kami pan-tas untuk-mu," ucap Dila terbata di sela isakan yang semakin jelas.
Air matanya kian deras mengucur menuruni lembah wajah ayu. Dila kira, tak sesulit dan sesakit ini. Anggapannya salah, tetapi diri tak dapat menarik kembali ucapan yang telah terlontar. Akan banyak dampak baik meski awalnya pedih.
__ADS_1
"Aku juga sama sesak, tapi ini perjuangan kita ... mungkin setelah ini aku sulit menjalin komunikasi denganmu, tapi yakinlah Dila, bahwa aku takkan melepaskan pengawasan dari kalian berdua. Temuilah Sabrina di police station centre Dubai jika kamu kesulitan di kemudian hari, dia sepupuku...."
Dila mengangguk. "A-bang jangan selingkuh...."
Ezra tertawa disela rasa pedih yang hadir menghimpit dada.
"Non sense, Sayang. Justru aku takut kamu berpaling, sainganku bule Dubai. Ckck, istriku sangat muda, cantik, cerdas dan mandiri sedangkan aku? tak ada di sisinya meski statusku suami." Akhirnya rasa takut Ezra terkuak.
Senyum yang Ezra damba akhirnya terbit di bibir tipis Dilara. Ia bahagia, dengan tegas istrinya itu meminta agar setia.
Di tatap intens, Dila menunduk. Jemarinya menyeka air mata yang masih saja menetes. "Hatiku penuh sesak oleh seseorang, sejak dia menjadi suamiku."
Degh. Ezra terpana, pengakuan pertama Dilara atas isi hatinya.
"Be-benarkah Dila?"
"Iya. Sejak aku halal bagimu, tidak ada lagi celah untuk yang lain."
Persetan dengan aturan, Ezra mendekap Dila begitu saja. Secepat kilat ayah Shan itu merengkuh tubuh mungil masuk dalam pelukannya, tak memberi kesempatan bagi Dilara untuk menghindar.
Puas menciumi semua bagian wajah sang istri, Ezra melepaskan perlahan, juga karena Shan menggeliat akibat sesak menghimpit tubuhnya.
"Abang, ish. Dosa loh," sungut Dila kesal, memukul lengan Ezra beberapa kali.
"Aku tahu. Gak lagi bisa nahan, aku happy banget sumpah, Sayang. Setiap kali melihatmu menangis, aku sakit. Tapi akan kucoba bersabar lagi agar jemari ini dapat menghapus sedih dari wajahmu ya Dila ... mari berjuang sama-sama," tekadnya agar kedua hati yang terpaut cinta itu kian kokoh, menguat meski digerus oleh masa.
Bayi mungil yang menggelayut di lengan kiri Ezra, mencium pipi sang ayah. Shan seakan mengerti dan setuju terhadap keputusan papanya itu.
"Baby, kamu cerdas ya. Kayak paham aja obrolan orang dewasa," ujar Ezra saat melihat wajah bulat nan tampan tersenyum padanya.
"Kalau aku kangen Abang, gimana?" Dila memberanikan diri.
"Call sayang, atau katakan saja bahwa kamu rindu. Aku tahu semua yang kamu kerjakan. Nanti ku kirimkan sesuatu, Ok?"
__ADS_1
"Harus begitu ya? gak bisa langsung?" Mata bulatnya mengerjap beberapa kali saat menoleh ke arah suaminya.
"Pria gila itu mengawasi semua gerak gerik ku dan kamu, Dila. Bahkan rumah kita gak aman, ada mata-mata menyusup. Juga aku belum tahu banyak tentang Asyraf Hamid ... sabar ya, pasti aku temukan cara aman untuk kita," pinta Ezra kemudian.
"Ok. Aku gak boleh mencari tahu siapa orang Abang disekitarku, hubungi Sabrina jika situasi gawat, waspada terhadap nyonya besar juga seorang pria ... eh, apakah tuan muda Zayn?" tebak Dila ingat sesuatu.
"Zayn? siapa Zayn? bukan Abdeen?" selidik Ezra menaruh curiga.
"Al Zayn Manaf ... itu namanya kalau gak salah."
Degh.
"Honey, jauhi dia sebisamu ya. Natural, jangan sampai terendus olehnya ... aku selidiki dan pastikan siapa dia, nanti ku kabari. Dila, kita harus bekerjasama agar semua baik dan kalian tetap aman, tegarlah Baby. Maaf menarikmu dalam kubangan kisah masa lalu," terang Ezra agar Dilara hati-hati dalam bersikap saat menghadapi pria itu.
"Ok. Ada lagi? abang jangan curigaan lagi sama aku. Kan tadi udah jujur tentang perasaanku," cicitnya masih meragu.
Ezra tersenyum mendengar kalimat istrinya itu. "In sya Allah. Meski aku tahu, pasti banyak menahan cemburu nanti. Aku percaya Bunda Shan ... oh iya, kamu gak mengganti namaku kan, Sayang?"
"Enggak. Di akte lahir Shan yang baru, Shareef Shan Qavi. Tolong Abang tanyakan pada Ustadz Zaky ya karena aku kesulitan menghubungi Rengganis, dokumen itu sudah jadi atau belum, lalu simpanlah," sambung Dila kembali.
"Ok, Sayang ... semua ini, Papa juga tahu. Beliau mengizinkan aku melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kita. Jadi, mari kita berjuang menyelesaikan segalanya ya Sayang." Ezra menatap sosok wanita yang kini duduk tak jauh darinya.
"Bismillah. Aku dan Shan pasti bisa melewati ini, jika nanti lupa arah pulang, Abang harus temukan kami ya," ucap Dila meyakinkan diri, ia menggantungkan harapan pada sosok tegap di sisinya.
Tanpa sadar, kepala Dilara bersandar pada bahu kiri Ezra. Sejenak, dia merasa lelah.
"Pasti Sayang ... pasti."
Shan nampaknya lebih tenang, dia tertidur pulas dalam gendongan sang ayah. Seakan obrolan kedua orang tuanya menjadi oase bagi batin bocah bertubuh gempal itu.
Keduanya masih menatap gulungan ombak sejauh pandangan. Luas, namun pasti akan ada ujung, seperti hubungan mereka.
.
__ADS_1
.
...________________...