
Pria yang baru saja tiba di hunian, mengharapkan situasi membaik akibat pertengkaran lalu, kini duduk termenung memandangi banyaknya kertas di atas meja.
Satu lembaran paling atas, diraih tangan kekar yang perlahan lunglai.
"Assalamu'alaikum, Abang. Seharusnya kita bicara dan duduk dalam kondisi yang tenang. Tapi sepertinya kita berada dalam zona waktu yang berbeda, sulit untuk bertemu."
"Semoga lembaran ini, menjelaskan sedikit yang aku pendam."
"Aku bukan wanita yang mudah membagi rasa namun belajar mempercayai Abang selama ini. Apalagi setelah kejadian Ibu makin membuatku ilfeel terhadap suamiku sendiri. Abang pasti merasakan bukan?"
"Banyak yang terjadi sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini lebih dari satu tahun lalu. Semua perlahan berubah ketika Abang tahu bahwa aku hamil bukan? dan kita berjanji untuk mencoba lebih terbuka, satu visi menjalani hubungan ini."
"Namun tanpa sadar setiap aku melihat Cheryl atau wanita cantik di sekitar Abang, ingatan tentang malam itu menguak sakit di hati yang terdalam. Abang mungkin tak akan pernah ingat bahwa kejadian nahas malam itu, kita ... dan saat puncak, Abang menyebut nama Cheryl di telingaku. Jika kala itu aku belum dapat mendengar, mungkin luka ini takkan tertoreh menyayat hati. Sayangnya, suara engkau membisikkan namanya, sangat jelas juga mesra." (bab 38)
"Abaikanlah segala sakitku, jiwa dan raga. Bukan, bukan menyesal. Hanya saja, aku merasa tidak terlihat."
"Berusaha mengacuhkan sakitnya hingga perlahan rasa percaya ku mulai tumbuh ketika ikrar cinta yang Abang katakan di tepi pantai malam itu. Sebagai obat atas cibiran Anastasya terhadapku." (bab 72)
"Sadar, diriku tidak sepadan di sisimu. Namun, perkataan Bibi saat dirumah sakit semakin membuatku membencinya. Bi Inah mengatakan bahwa beliau menerima sesuatu dari seorang wanita berambut panjang, cantik nan seksi, mata sipit juga bibir sensual ... mengatakan bahwa minuman yang dia bawa adalah pesanan ku. Padahal aku tak mengenalnya bahkan tak memesan sesuatu siang itu."
"Inginku tak berprasangka, namun semua ciri itu mengarah padanya. Ditambah ucapan Anastasya bahwa akan menjagamu, kembali mengusik kalbu dan otakku. Katakanlah aku naif, tak apa."
"Semua bukti meninggalnya Ibu sudah ada, tapi Abang menahan opini Rolex yang mengutarakan bahwa wanita itu adalah kemungkinan terbesar tersangka insiden Ibu jika di tilik dari bukti cctv yang berhasil dia himpun, serupa dengan ciri yang disebut Bibi."
"Abang tertarik padanya kah? hingga menutupi kejahatan dia? atau hanya demi uang?"
"Semua ku pendam sendiri karena aku tahu, tidak memiliki kekuatan untuk melawan demi mendapatkan keadilan bagi Ibu karena satu-satunya harapan justru musnah. Jika perkataan Rolex saja tak Abang anggap, apalagi aku si gadis udik tak tahu apapun urusan bisnis dan rivalnya. Aku pasrah, lukaku bertumpuk hingga disiram air garam oleh ucapan Abang pagi itu."
"Sadarkah? kalimat menyuruhku pulang ke Surabaya adalah sebagai bentuk talak kinayah? talak kiasan?... Aku meminta waktumu sejenak untuk menanyakan perihal niat terbersit kala pelafalan itu, namun kau bilang sibuk lalu mengabaikan. Oh mungkin memang ini yang Abang inginkan bukan? mengusir ku secara halus."
__ADS_1
"Rasanya masih ingin menepis apa yang baru saja terjadi, namun justru tekad ku makin kuat untuk pergi, kala melihat kemesraan kalian berdua."
"Juga, rekaman itu menjelaskan segalanya...."
"Sudahlah, percuma bertahan. Cheryl akan selamanya ada di hatimu. Selamat atas pernikahan kalian, harusnya Abang bilang padaku jika ingin rujuk kembali dengannya. Tak perlu menggunakan semua cara ini."
(Kelakuan Cheryl di Bab.11 dan 74, di jadikan satu video dalam email yang dikirim ke Dila, ditambah video baru adegan syur mereka.)
"Aku memilih mundur, demi kesehatan jiwa ragaku. Jikalau perkataan kiasan yang Abang lontarkan itu tak berniat menceraikan aku. Berarti aku berdosa meninggalkan rumah. Namun jika sebaliknya, maka iddahku menunggu sampai aku haid kembali, lalu baru dimulai hingga tiga kali suci karena aku tengah menyusui El."
"Hatiku belum mampu di madu maka memutuskan pergi, demi El satu-satunya putraku, agar otak tetap waras. Aku, El dan Ibu tak membenci Abang. Semoga berbahagia dengan pernikahan kalian."
"Tolong tanda tangani gugatanku ya. Jika ucapan Abang saat kita bertengkar itu tak nyata dari hati. Maka giliranku meminta cerai karena Abang menikah kembali tanpa izin dan aku enggan di poligami."
"Wassalamu'alaikum."
"Tentang Cheryl, aku lupa, belum menjelaskan ke kamu perihal itu ternyata. Aku ingat malam pertama kita, dan kepingan memory yang kau sebut itu baru berangsur utuh dalam ingatanku ... bukan sebagai flashback kala bersamanya, Dila."
"Aku menahan Rolex karena buktinya kurang kuat. Anastasya pasti punya alibi, aku ingin mengumpulkan bukti lebih banyak bukan mengabaikan keadilan Ibu."
"Rekaman apa ini? menikah lagi, poligami dengan siapa? Cheryl? aku tak ada niat sedikitpun rujuk dengannya ... sungguh, aku gak ngerti semua ini."
Degh.
"Dila, berarti sudah jatuh talak kah dariku? innalillahi, Sayang...."
Matanya memanas, kali ini bulir bening jatuh. Bahu tegap itu bergetar menyesali semuanya. Dirinya sadar, Dila mungkin terkena syndrome baby blues karena support darinya memang minim saat ini. Kehamilan ini terjadi karena terpaksa, masa menjalani juga sedikit sulit pun kala kelahiran yang tak semestinya.
Begadang untuk menyusui disertai luka pasca melahirkan. Stres mungkin melanda wanitanya. Tapi ia terlalu sibuk hingga menunda apa yang seharusnya sudah disampaikan dan lakukan di masa transisi pembiasaan aktivitas.
__ADS_1
"Aku gak peka ya Sayang? ... kini bukan kau meninggalkan, tapi akulah yang mengabaikanmu...."
"El, Dilara, masih bisakah kalian ku jangkau kembali?"
Putra Emery melemah, tubuhnya memang letih. Kini di suguhi pengakuan sang istri yang menohok juga kesalahan fatal akibatnya ucapannya pagi itu, membuat Ezra kehilangan dua orang tercinta. Dia terisak pilu.
Velma yang sejak melaporkan perihal kepergian sang Nyonya pada tuan mudanya, tak beranjak dari tempat itu. Dia bersandar pada dinding kamar Dilara, kini tubuhnya ikut melorot mendengar samar semua penuturan majikan prianya itu.
Jarum jam menunjukkan angka sepuluh pagi, namun pimpinan El Qavi itu belum keluar dari kamar Dilara. Ezra tak sengaja tertidur setelah netranya deras mengucurkan butiran sebening kristal.
Biarlah dikatakan cengeng, tapi hatinya memang perih bagai tersayat ribuan sembilu. Ingin tetap terjaga lalu mencari istrinya, namun tak dapat dipungkiri, raga itu lelah meminta haknya agar merebahkan diri.
*
Pagi ini, Bi Inah kian berangsur membaik, ia mulai bisa berjalan meski masih menggunakan bantuan tongkat.
Keadaan jua memaksa tubuh ringkih itu bangkit. Banyak tugas yang harus ia selesaikan akibat kelalaiannya.
"Velma, Den Ezra masih di kamar?" tanya wanita itu pelan.
"Masih Bi, biarkan dulu. Beliau sangat lelah," balas Velma agar Bibi tak mengusiknya.
"Iya. Den, Non. Balikan ya...."
.
.
..._____________________...
__ADS_1