SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 127. ON GOING


__ADS_3

"Mamaku, mama."


Dilara berulang kali mengatakan kalimat serupa. Davina bergabung dengan para wanita yang masih duduk dilantai, merangkul dengan kedua tangannya. Meneteskan jua air mata dari netra bulat nan menganak sungai.


"Kak ... Dila mau nikah ulang dengan suaminya, restui ya. Akbar juga ada disini. Masih ingat dia kan?" Davina berhati-hati saat dia mengatakan tentang lelaki yang pernah hadir dalam hidup sang kakak.


Devana terdiam, seperti berusaha mengingat nama yang baru saja disebut oleh adiknya.


"Akbar?"


"Iya, Raden Akbar Budiharsa putra Raden Budiharsa Sanjaya. Su-suamimu dulu, ayah Dilara," terang Vina.


"Su-amiku?"


Davina memang tidak pernah lagi menyebut nama pria yang telah menoreh banyak luka di keluarganya. Terlebih Deva juga seakan menutup rapat kenangan bersama lelaki itu. dia menyimpulkan sang kakak bahkan mungkin sudah lupa dengan sosok itu sebab terlalu sakit dirasa.


"Mas Akbar ya? aku ingat tapi enggak tahu, rasanya segan. Dia memiliki istri lain Vina, lebih cantik dari ku. Aku tahu semua saat menyusul ke Jakarta ... sangat cantik, pantas saja dia mengabaikanku," Deva perlahan membuka luka hatinya.


"Lanjutkan Ma, keluarkan apa yang membuat Mama sakit," ucap Dila, mengusap lengan sang Bunda.


Devana menatap manik mata bulat putrinya, lalu beralih pandang pada Davina. Anggukan sang adik membuat sosok cantik itu, menghela nafas panjang. Meski matanya memejam namun air mata tak pernah surut dari sana. Dila, kembali menghapus lelehan lava bening itu dari wajah ibunda.


"Aku tahu semua sejak lama, sebelum mengandung Dila. Entah, tapi firasat istri bahwa suaminya mendua tak bisa ku tepis. Ayah sadar aku terluka maka beliau melarang Akbar menemuiku ... namun, ketika suamimu pulang, akankah kau mengabaikan kehadirannya? tentu diri ini ingin berbakti dengan baik, melayani sepenuh hati dan cinta pada pemilik raga, separuh nyawa yang di rindukan. Dan itu, yang Mama lakukan, tetap menghormati Papamu, Nak," ungkap Devanagari masih dengan isakan halus.


Davina sungguh tak mengira, sikap diam sang kakak ternyata untuk meredam emosi agar dapat terus berbakti pada Akbar.


"Ya Allah Kak, mulianya," Vina haru, justru ia menangis tersedu saat ini.


Degh.


"Maaaa," Dila merasa tertampar atas sikapnya pada Ezra.


"Ibu bilang, tak peduli Akbar diluaran sana punya istri berapa ... jika dia pulang dan tetap berlaku lembut padaku juga menunaikan kewajiban sebagai suami maka sudah menjadi tugas istri untuk berbakti. Mas Akbar, memberikan semua hakku kecuali nafkah batin secara adil, aku memaklumi karena kami terpisah jarak ... dan tidak menyalahkannya," terang Devana.


"Mama tak pernah lagi menyebut nama Papamu karena tahu, Davina telah mengurus surat cerai untukku. Aku tak lagi berhak atas sosoknya meski dalam ingatan. Dia sudah menjadi milik orang lain sepenuhnya," Devana tersenyum miris pada Dila dan Vina lalu wajah ayunya menunduk.


Mendengar alasan sang kakak, Davina terkejut.


"Innalillahi ... maafkan aku, Kak. Maafkan aku," sesal Davina.


Ia tak sadar bahwa telah menoreh luka dalam, mengekang cinta sang kakak yang masih bersemi. Mengambil keputusan sepihak sebatas yang dia saksikan tanpa bertanya pada Devana.


Putri kedua Danuarta menangisi kebodohannya. Mengira bahwa apa yang dia lakukan adalah jalan terbaik, namun justru sebaliknya. Dia menebas habis cinta dan harapan, mengubur dalam liang kebencian dan dendam.

__ADS_1


Devana bukan hanya korban kejahatan keluarga Sanjaya namun dirinya. Vina berkali memohon ampun pada sang kakak.


"Sudah, lupakan. Kita semua terluka ... Dila, Mama belum sehat, maukah Dila menerima Mama?" ucap Devana ragu, melihat sang putri.


"Mama sehat, jiwa raga. In sya Allah, kita bisa sama-sama menghabiskan waktu kala senja. Mama mau kan, ikut Dila?" pinta putri angkat Ruhama.


Devanagari menilik kedalam manik mata Dilara.


"Entahlah Sayang. Tanya suamimu dulu Nak ... eh itu siapa?" Deva mengalihkan pandang pada sosok gadis yang masih berdiri di pintu.


Kedua wanita sontak menoleh ke arah yang Devana tunjukkan.


"Kak Mita, sini ... kenalin Mamaku ... Kak Mita, aku punya Mama," ajak Dila melambaikan tangan agar Mita mendekat.


Adik bungsu Ezra mengikuti kemauan sang ipar, berjalan mendekat bergabung dengan mereka, duduk dilantai.


"Halo Mama Deva, aku Ermita adik Kak Ezra, suami putri Anda," Mita menjulurkan tangan meminta salim pada sosok ayu di hadapannya.


Devana menerima uluran tangannya. "Alhamdulillah, terimakasih sudah jaga Dila ya Nak," ia mengusap kepala Mita.


Ermita berkaca-kaca, dirinya pun tidak memiliki Ibu yang lembut sepertinya. Putri bungsu Emery lalu berbisik ditelinga Dila.


"Boleh gak, panggil Mama juga seterusnya? Aku kangen Mama, Kak. Mita juga gak punya Mama," kali ini isakan Mita kian jelas terdengar.


Devana tahu apa yang diinginkan gadis muda nan ayu keturunan blasteran itu. "Sini Nak Mita, Mama adalah ibu mu juga," ia membuka lengan lebar menyambut adik ipar Dilara.


Tok. Tok.


Suara ketukan di pintu, membuyarkan rasa sedih. Para wanita ayu pun mengurai pelukan mereka.


Davina bangkit, menuju pintu dan memutar handlenya pelan sehingga lempengan kayu itu terbuka.


"Mommy? where is my mommy?" tanya suara lucu anak laki-laki.


Dila menoleh ke sumber suara. "Over here, baby. Come on, give your Eyang, big hug and kis-s," ajaknya pada bocah imut tampan nan menggemaskan.


Shan mengenali suara sang Bunda. Sontak ia berlari melepaskan diri dari gandengan tangan Ezra, berlari ke arah Dila meninggalkan Ayahnya.


"Mommy!" Shan memeluk erat Bunda. Mencium pipi Dila.


"Shan?" ucap Deva penasaran pada bocah tampan ini.


"Ini putra Dila, Ma. Dan yang disana, Ayah Shan, Ezra El Qavi," tutur Dila mengenalkan kedua pria miliknya.

__ADS_1


"Shan, ini Eyang." Dilara mengajak Shan agar mendekat ke Devana, memandu lengan kanan bocah itu untuk salim pada ibunya.


Kakak sulung Davina takjub, bocah gemuk dengan sorot mata sama seperti miliknya, bersikap sangat manis. "Cucuku," ucapnya haru, mencium telapak tangan Shan.


"Eyang? mommy, Eyang itu apa?" tanya Shan, dengan wajah khas jika ia bingung. Mengerjapkan mata beberapa kali dalam tempo cepat.


"Its like Oma, if Shan called Oma to Nyonya Asyraf, Eyang for Mama Deva ... she's name is Mama Deva," Ibunda Shan berusaha menjelaskan, akan tetapi justru bocah itu bingung.


"Confused? gini aja ... Oma panggilan untuk yang di Dubai and than Eyang panggilan buat beliau, paham?" papar Dila lagi.


Kali ini Shan mengangguk. "Eyang," ucapnya seraya menoleh pada Devana.


Eyang Shan meraih wajah gemas cucunya. Dari ekor mata, dia pun melihat seorang pria masih berdiri di depan pintu kamar.


"Nak Ezra? gak mau masuk?" tanya Deva dari kejauhan kala melihat pria tampan itu melihat mereka.


"Nanti saja ba'da maghrib. Kalau Dila sudah halal lagi bagiku, Ma. Mohon restu Mama," ujar Ezra, membungkuk sopan masih didepan pintu.


Devana hanya tersenyum melihat pria tampan didepan sana. Beralih pandang pada keduanya.


"Mama gak paham situasi kalian. Tapi jika Dila bersedia kembali padamu, Mama merestui. Semoga pernikahan ini hingga ke Surga, aamiin," doanya meluncur mudah.


Ezra kini hanya mengharapkan jawaban istrinya. "Sayang," lirih melayangkan isyarat pada Dilara.


Hanya anggukan samar disertai senyum tipis terlukis di wajah ayu cucu Danuarta. Membuat bibir sensual menawan Ezra melengkungkan sebaris tanda kebahagiaan.


"Aku sekalian permisi untuk keluar sebentar untuk menemui seseorang?" izin Ezra pada semua wanita di sana.


"Kak, jadi nemuin owner Pawon Ratu?" tanya Mita masih di posisinya.


"Iya, yuk ikut." ajak Ezra pada adiknya.


Davina tercengang, tamu yang akan dia temui adalah Ezra. "Loh, Pak Ezra mau ketemu Owner Pawon Ratu?" tanyanya dari balik pintu kamar.


Ezra mengangguk.


"Itu aku," Davina tertawa tak menyangka bahwa mereka adalah orang yang sama. Ezra pun terkejut sekaligus lega, semua urusan ini seakan dimudahkan oleh yang Maha Kuasa.


Akhirnya pertemuan itu batal, sisa waktu yang ada digunakan keluarga Danuarta untuk mempersiapkan acara ba'da maghrib nanti.


.


.

__ADS_1


...____________________...


...Mommy pesan, buat reader kesayangannya Mommy. Jangan pernah Boomlike di karya manapun & siapapun. Gak elok. Karena Merugikan author. Akan di nilai kecurangan oleh sistem, mengakibatkan pop kualitas karya menurun. Nulis itu perjuangan, tolong hargai kami. 🥺🥺...


__ADS_2